Road To 21K #KRB200 Bogor Marathon (Part 1)

Saya merasa berada di roller coaster ketika mendapati diri saya berkutat pada kantor, rumah dan kantor lagi. Meskipun masih bisa menyisihkan sedikitnya 30% dari 24 jam sebagai waktu untuk keluarga per hari, tapi apa yang ada di tubuh saya ini sepertinya ingin loncat keluar, . Hampir dua tahun lalu ketika berhasil finish 10K di Doha Marathon, dan sudah seharusnya jika pencapaian itu berlanjut. Terkesan ambisius memang, haha..

Awalnya saya diajak seorang kawan dimana kami tergabung di klub lari IE Running Club, klub lari yang anggotanya terdiri dari teman kuliah satu jurusan. Targetnya ultra marathon 50K di event Bogor Marathon atau #KRB200. Dimana ini adalah event long marathon untuk memperingati 200 tahun Kebun Raya Bogor. Event yang cukup jarang diadakan di Indonesia dimana target utamanya adalah pelari 200 km yang jalurnya semua mengitari Kebun Raya Bogor.

krb200

Terus terang saya tipe yang “tahu diri” dan mengukur kinerja diri sendiri, terutama endurance tubuh untuk berkompetisi atau mengikuti event olahraga, terutama lari yang mutlak diperlukan kinerja tubuh yang prima, berstamina dan terbiasa, bukan hanya teknik. Dan bagi saya pencapaian yang paling masuk akal saat ini ialah mengikuti half marathon dengan jarak tempuh 21 Km.

Persiapan half marathon saya termasuk simple, tidak memakai coach ataupun event training khusus, cukup bermodalkan gadget dengan aplikasi Nike+ Run, bukan bermaksud iklan, tapi kenapa saya memakai Nike+ Run? Karena tampilannya yang simple, lengkap dan paling mudah digunakan.

Di Nike+ Run, kita bisa setting program apa yang mau kita ikuti, apakah 5K, 10K, Half Marathon atau Full Marathon, aplikasi langsung mengatur kebutuhan training kita secara cepat, bahkan bisa kita edit schedulenya. So, saya coba rekap hasil training pada minggu pertama dan kedua.

Di minggu pertama, karena saya create di hari Jumat maka 1st training adalah di hari Sabtu. Training yang disarankan adalah warming up dengan easy pace dalam waktu 10 menit, hasilnya saya warming up di 19:14 menit.

Di hari kedua, disarankan rehat tapi justru saya pakai untuk berlatih tempo. Berlari 2.69 km pace saya masih payah, masih diatas 7′. Target saya minimal bisa konsisten di pace 6’5″ saja.

Hari ketiga atau minggu ke 2, adalah saatnya benchmark. Benchmark dibutuhkan untuk melihat pola beban training yang cocok untuk kita, apakah kita cukup cepat sehingga traning di tingkatkan, atau masih payah sehingga perlu bertahap.

Benchmark terdiri dari 7 menit warming up, bisa lari di pace sekitar 7′-7’5″, masih bisa ngobrol lah. Lalu setelah itu, lari ditingkatkan hingga pace maksimum yang kita bisa selama 3 menit dan dilanjutkan dengan 5 menit pendinginan dengan slow run/nyaris jalan. Schedule latihan saya atur menyesuaikan dengan kondisi tubuh saya, kalau lagi capek ya jangan dipaksakan. Akhir minggu pagi, time to long run!

Dari benchmark, akan terlihat berapa rata-rata pace kita, dari situ maka aplikasi akan mengkalkulasi pola beban latihan kita selanjutnya, benchmark ini akan dilakukan setiap dua minggu sekali, sehingga bisa dijadikan acuan, sampai sejauh mana kita sudah berkembang.

Oya, jam berapa saja seharusnya kita lari? Tidak ada yang baku, inilah enaknya lari, kita bisa lari kapanpun, semaumu, yang penting kita siap dan enggak kekenyangan. Saya sendiri biasa training ini di pagi hari selepas Subuh, jadi langsung mandi dan berangkat ke kantor. Kalau malam biasanya badan sudah capek dan segera pengen ketemu anak.

Salam sehat!

Advertisements

2 thoughts on “Road To 21K #KRB200 Bogor Marathon (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s