Apa Esensi Debat?

Secara bahasa, debat dapat diartikan sebagai kegiatan adu argumentasi antar dua kelompok yang berseberangan secara pemikiran, data dan kepentingan. Jika di wikipedia definisi debat termasuk didalamnya adalah memutuskan sesuatu, maka bagi saya justru tidak ada yang diputuskan dalam debat.

Saya mengikuti kegiatan debat semenjak SMA ketika ada kegiatan bahasa, topiknya ringan, hanya masalah mengalokasikan kegiatan anak muda dari budaya nongkrong. Debat berikutnya lebih berat topiknya, tentang tata kota kotamadya. Debat berikutnya malah tentang persoalan tata keuangan yang akhirnya saya di diskualifikasi karena menyinggung tata keuangan sekolah yang cenderung korup.

Pun begitu ketika kuliah, saya tergabung di SKI (Sie Kerohaniawan Islam) yang salah satu “mentor” saya kala itu ikut bertarung dalam pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan juga mentor satunya lagi yang bertarung juga di tingkat fakultas. Keduanya dari PKS, dari situ saya baru menyadari target dari PKS itu apa.

debat-72dpi

Saya dan tim bertugas merancang strategi jawaban debat, dan point apa saja yang kira-kira di keluarkan. Tingkat kesulitan jangan ditanya, kami berbenturan dengan kepentingan kampus atau yang lain yang mendukung calon oposisi kami.

Saya pun bertanya-tanya, mengapa harus ada debat, segitu pentingkah debat? Jawabannya adalah penting! Debat menjadi penting ketika para yang bertarung adalah sosok yang memiliki kepentingan, kepentingan apa? Kepentingan untuk menang.

Debat sama sekali tidak memberikan suatu solusi apapun untuk diputuskan. Jika saling memberi solusi dan mengoreksi namanya bukan debat, tapi diskusi, meeting atau musyawarah. Saya tidak mau membawa-bawa teori komunikasi atau kutipan filsuf disini, lebih enak apa aktual di lapangan saja.

Jika arti penting debat seperti itu saja, lalu apa esensinya? Apa perlunya ada debat? Begini, debat itu adalah adu argumen, siapa yang lebih baik argumennya dialah yang menang, dan yang jelek argumennya dialah pecundang. Jadi debat hanya soal mengukuhkan posisi terkuat saat itu. Itulah esensi debat.

Esensi berikutnya, apakah hasil debat bisa mempengaruhi pemirsanya? Jawabannya adalah bisa, tapi tidak banyak. Yang bakal terpengaruh menjadi swing voters adalah para abg galau, putus cinta dan habis ditolak. Lho iya, karena mayoritas para voters sudah memiliki jagoan masing-masing, punya alasan sendiri kenapa pilih si A atau si B. Sudah memiliki kekuatan yang bisa dibaca petanya.

Debat akan menjadi seru apabila lawan yang bertarung sama-sama baru didunianya, contohnya debat capres 2014 antara Joko Widodo dengan Prabowo. Itu luar biasa karena keduanya memiliki massa yang fanatik, keduanya memiliki program yang sama-sama belum terbukti.

So, keduanya sama-sama berkhayal. Tapi apakah debat itu merupakan titik balik Joko Widodo menjadi Presiden? Ternyata bukan. Hanya sekian persen swing voters yang balik arah, sisanya sudah menentukan pilihan sebelum debat berlangsung.

Contoh debat tak seru adalah debat Barack Obama dengan Mitt Romney, tentu karena Obama banyak menyinggung tentang hasil kerjanya, sedangkan Romney masih berkutat pada ide. Itu pula yang terjadi pada debat Pilkada DKI kemarin, live reportnya bisa ditebak, tidak seru. Petahana berbicara soal apa yang sudah dikerjakan dan oposisi berkutat pada “akan”.

Jadi jika ada yang berkata bahwa debat menentukan hasil, kok ya saya kurang setuju, karena pemilih yang tidak galau pasti sudah memiliki jagoan sendiri, “iman” pendiriannya sudah teguh, debat hanya ajang untuk menjatuhkan pihak lawan.

Kata siapa debat itu pertanyaannya random, lalu untuk apa ada tim sukses, memangnya mereka kerjaannya pijet? Mereka itu gerilya boi, untuk tingkat mahasiswa saja gerilya minta ampun, apalagi tingkat nasional gini.

Jadi jangan baper dengan hasil debat, itu ada skenarionya, yang perlu di cermati dari debat justru adalah hal-hal non teknis, seperti gesture, tata bahasa, cara menyerang lawan, cara bertahan taktis, cara beraudiensi dan tentunya pandangan mata para calon. Mata tidak pernah menipu.

Jadi debat itu perlu, supaya semarak.

About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Sosial
8 comments on “Apa Esensi Debat?
  1. Noura Hilmi says:

    Jadi menurut mas ryo debat ahok anies kemarin gimana? eh maap tojepoin hahaha

    Like

  2. Hastira says:

    debat itu kalau apa yg diomongin di awang2 bikin org berimajianasi, ebat itu yg realistis ya

    Like

  3. Yuhu says:

    Kurang paham apa yang di sampaikan

    Like

  4. Anonymous says:

    Nice post!!

    Like

  5. […] jika saling beradu argumen, beradu tulisan, bolak balik ide dan menggodok pemikiran, dalam diskusi ataupun debat, tidak dicari sebuah pembenaran dari kalah atau menang. Toh dua pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu […]

    Like

  6. […] sebuah niscaya jika saling adu argumen, adu tulisan, bolak balik ide dan godok pemikiran, dalam diskusi ataupun debat, tidak dicari siapa kalah atau menang. Toh dua pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd keduanya […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories