Politics Enterpreneurs

Menarik apa yang dibahas Cherian George di dalam bukunya “Hate Spin: the manufacture of religious offense and its threat to democracy”. Salah satunya yang saya kutip:

… it became clear that hate spin agents, like leaders of social movements, try to get people thinking about a situation in ways that produce solidarity and support for their cause. To achieve this, they engage in cultural framing work and cognitive interventions. As the sociologist William Gamson has argued, “injustice frames” can be particularly effective for mobilizing supporters. Injustice frames create narratives that persuade an in-group that powerful outsiders are violating its interests and values. Anchoring injustice frames on powerful symbols may be enduring, as in the case with the Holocaust for Jews, but many have a shorter shelf life, requiring activists to constantly on the lookout for fresh ones. This can explain the enthusiasm with which hate spin agents declare a book or video to be intolerably offensive to their community.

Cocok untuk kondisi Indonesia saat ini, dimana “..try to get people thinking about a situation in ways that produce solidarity and support for their cause”. Yaitu membuat orang berpikir tentang sebuah situasi yang didasari solidaritas dan dukungan untuk masalah mereka sendiri dan untuk tujuan mereka sendiri.

So, hate spin agents selalu membuat produk yang berupa masyarakat untuk bisa digiring untuk beropini/berpolitik sesuai dengan tujuannya dengan membawa pesan kebencian, membuat ketakutan yang masif agar masyarakat bergerak sesuai arah tujuan si penggiring.

Contohnya: Isu komunis di Indonesia, isu China dan isu agama. Indonesia merupakan mass product dimana terdapat berjuta isi kepala yang tidak semuanya paham apa itu “isu”, bahkan tidak paham bahwa mereka sedang digiring, pokoknya solidaritas berkelompok, satu makan semua makan, satu maju semua maju. Apalagi mayoritas masih dipengaruhi oleh primordial yang berkarak.

Inilah kenapa Indonesia sangat mudah diguncang isu. Indonesia adalah ladang empuk bagi para hate spin agent.

Politik itu tidak harus diketahui, tapi perlu. So..mari kita belajar..dan membaca..

Advertisements

Why I Run?

Sebetulnya tulisan ini bisa menjadi panjang dan mendetail mirip seperti novel Haruki Murakami, Why I run? Mengapa saya berlari? Pertanyaan yang bagi saya sangat penting, pertanyaan yang juga ditujukan untuk anda sebelum memulai berlari. Mengapa anda berlari?

running-quotes-7

Bagi saya, jujur awalnya saya berlari karena saya merasa tidak berbakat untuk gabung di olahraga tim yang saling berhadapan seperti sepakbola, basket atau  badminton, dan sialnya, di Indonesia jenis olahraga itulah yang populer. Bisa ditebak, dimasa SD dulu saya sering di bully dengan tidak diajak main. Hampir frustasi, akhirnya saya pun beralih ke olahraga individual dan ternyata cocok.

Tuhan memang menciptakan manusia dengan ciri khas dan kemampuan masing-masing. Berbeda dengan olahraga tim, olahraga individual segalanya berasal dari diri sendiri, seperti lari, bersepeda atau berenang.

Kita menggunakan kaki kita, tangan kita dan seluruh tubuh kita sendiri untuk mencapai tujuan olahraga, tapi bukan berarti bahwa seorang yang bisa dalam olahraga individual berarti dia tipe individual lho, buktinya banyak pelari pun punya komunitas yang ramai.

Pertama kali saya lari adalah ketika SMA, ketika itu di dekat rumah sedang dibangun jalan tol yang sekarang menjadi sangat terkenal, JORR. JORR yang ketika itu masih dalam tahap penyambungan dan memiliki bagian-bagian yang sudah semi siap pakai, setiap hari minggu dijadikan warga sebagai sarana Car Free Day dadakan.

Saya mencoba berlari iseng, hanya karena ingin lihat  banyak orang yang berolahraga. Coba-coba, awalnya 500 meter, lalu lanjut 1 km, hingga akhirnya nyaris setiap hari minggu saya berlari 1-3 km. Awalnya ngos-ngosan sampai akhirnya terbiasa.

Ketika lari, ada “sesuatu” yang keluar dari tubuh bersama keringat, tubuh saya terasa segar, pikiran menjadi enteng dan mungkin karena lari itu olahraga yang konstan maka tubuh saya menjadi betul-betul merasakan efeknya.

Kemudian berlanjut ke race, jika dulu lari ya tinggal lari, tapi tidak untuk race. Saya melakukan persiapan untuk race pertama saya di 10 km, dari mulai persiapan, berlatih nafas, kecepatan dan tentunya daya tahan (endurance).

Pertama kali ikut race rasanya luar biasa, saya nyaris “mati” di Km 6, tapi..that’s why I am run, di tengah berlari saya sadar, bahwa saya harus sampai finish. Saya pun sadar, bahwa tujuan saya berlari adalah mencapai garis finish.

I don’t stop when i’m tired, I stop when I’m done.

Di Km 8, saya merasa nyawa saya melambung meninggalkan raga, tapi di tengah kepayahan itu muncul di benak, I stop when I’am done adalah filosofi hidup itu sendiri. Saya harus mencapai finish, apapun itu.

Ketika kita melangkah untuk berlari, disitulah titik awal perjuangan. Di tengah jalan pilihanmu tinggal dua: Menyerah dan kalah, atau tetap melaju meskipun dengan arah dan cara yang berbeda.

Saya memilih yang kedua, saya gunakan cara race with your own. Saya tidak lagi memaksa pace dan harus masuk 30 besar, saya pelankan lari senyaman saya biasa lari dan mulai mengatur nafas, hasilnya saya bisa finish meskipun di peringkat 127.

“Ya, itulah lari, segalanya bukan soal hasil akhir, segalanya tentang bagaimana perjuangan dan daya tahan kita untuk bisa mencapai garis finish. That’s why I run”. – Ryo Kusumo

“Pain is inevitable. Suffering is optional.”
Haruki Murakami

Kisah Sahabat dan Domba Gemuk

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang sahabat yang baik hatinya namun sangat lugu. Pada suatu hari sahabat tersebut berhasil mendapatkan hadiah seekor domba gemuk dari Bupati karena memenangkan sayembara, sahabat tersebut sangat senang menggendong domba tersebut kembali ke rumahnya.

Diperjalanan, sahabat yang baik hatinya tersebut bertemu dengan seorang kawan, dengan wajah cerah si sahabat memamerkan domba gemuknya.

sheperd

“Hey lihat lah domba gemuk ku ini, hadiah dari Bupati, kau pasti iri kan?..hehehe”

“Domba apanya wahai kawan ku yang lugu?, kau telah ditipu Bupati itu, lihatlah, kau membawa seekor anjing buduk” Ujar kawan tadi.

“Ah, kau, bilang saja kau iri..sudah lah aku ingin pulang dan memasak domba ini untuk makan malam” Balas si sahabat sambil berlalu menuju rumahnya.

Sampai di perempatan jalan, si sahabat bertemu lagi dengan tetangganya, si tetangga tiba-tiba berkata.

“Apa yang kau bawa itu kawan? Mengapa kau menggendong anjing, itu haram!”

Sahabat pun terkejut, dan membantah,

“Bukan, ini adalah domba pemberian Bupati, lihatlah bulu lebatnya ini”

“Ah, dasar mabok kau, percaya padaku, itu anjing, kau di bohongi” Ujar si tetangga sambil berlalu.

Sahabat pun bingung, dua orang sudah berkata hal yang sama. Jangan-jangan memang dia yang sedang mabuk. Ah, tapi dia merasa tidak meminum apapun tadi malam. Sambil bingung, sahabat tersebut melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

Hingga tinggal 10 langkah menuju rumahnya, sahabat tadi berpapasan dengan seorang tukang potong hewan. Dari jauh tukang hewan tersebut sudah menunjukkan wajah kaget, dan begitu berpapasan dia berteriak..

“Hey!! Untuk apa anjing buduk kau gendong seperti itu, ih aku saja jijik melihatnya, lihatlah itu anjing!”

“Hah, bukan! ini domba kawan, aku ingin memasa..”

“Domba dari mana? Kau gila ya, ah tentu kau sedang banyak pikiran, atau kau mabuk? Hey aku puluhan tahun bekerja dengan binatang, tak mungkin aku salah. Jelas kau sedang mabuk kawan ku yang baik”

“Aku hanya ingin mengingatkan, jika anjing itu kau masak, tentulah kau akan mendapat dosa, sudah ya, aku banyak urusan” Sambung si tukang potong hewan tadi sambil berlalu.

Mendapati tiga orang berkata bahwa binatang itu anjing, si sahabat mulai terasa sangat bimbang, dia pun berpikir.

“Ah mungkin saja aku memang mabuk, mana ada orang mabuk sadar bahwa dia mabuk dan ingat kapan ia minum? Tak mungkin seorang tukang potong hewan salah melihat hewan, apalagi antara domba dan anjing” Pikirnya.

Sang sahabat pun bingung dan melihat kembali domba yang digendongnya, domba..anjing…domba…anjing..dom…anjing, otaknya pun berputar dan akhirnya..

“Ya, tak mungkin tiga orang tadi mabuk semua, mereka tidak bersamaan dan aku bertemu di jalan..mungkin aku memang salah, bupati tadi yang menipuku”

Dengan lesu, dilepaslah domba tadi dari gendongannya, domba pun meloncat dengan lincah dan langsung berlari menjauh, masuk ke semak-semak dan menghilang dari pandangan si sahabat.

Sahabat pun berjalan lunglai ke rumahnya, sambil menahan emosi kepada sang Bupati yang dikira telah menipunya. Sampai dirumah si sahabat pun tertidur dengan perut lapar.

***

Dilain tempat,  tiga orang sedang tertidur kekenyangan di depan perapian, tepat di depannya tergantung tulang belulang domba gemuk yang habis di santap, domba bakar yang nikmat. Ketiga orang itu adalah si kawan, tetangga dan tukang potong hewan lengkap dengan pisau dagingnya..

***

Moral:

Kebohongan, konspirasi dan isu yang disampaikan berulang-ulang pada akhirnya menjadi kebenaran dan dipercaya. Begitulah cara hoax menyebar..dan menang..

“Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran.”

Joseph Goebbelz