Tebar Buku, Selamatkan Indonesia Dari Darurat Baca!

2017_0326_08291200“Aku rela dipenjara asal bersama BUKU” – Bung Hatta

Tercengang saya ketika pertama kali menyimak kalimat Bung Hatta di atas, begitu cintanya beliau dengan buku, bahkan rela di penjara asalkan bersama buku. Tak sedikit ulasan unik soal Hatta dan buku, bahkan jika membaca lagi sejarah itu, Hatta sudah menganggap buku seperti istri pertamanya. Siapa dari kita yang pernah kasih maskawin seperangkat alat buku? Di jamin pasti tidak ada, kecuali Bung Hatta yang memberikan buku tulisannya sebagai maskawin pernikahannya dengan Rahmi Hatta, istrinya.

Buku terlampau istimewa untuk dibahas, bagi saya pribadi tidak ada satu alatpun yang bisa menambah ilmu pengetahuan tentang segala hal seluas buku. Dulu, ketika ingin masuk kuliah teknik, beragam buku teknik saya baca, dari mulai permesinan, listrik hingga manajemen industri, apalagi ketika kuliah.

Selepas kuliah, saya mulai membaca buku “cara cepat diterima kerja”, hehe. Ketika ingin menikah saya diberi buku bagaimana menjalin rumah tangga yang baik dsb. Lalu untuk pengembangan diri, saya pun membaca “Master Key System” dari Charles F. Haanel dan “Rahasia Inovasi Steve Jobs” karangan Carmine Gallo dan ketika saya tertarik investasi, saya pun banyak membaca tentang Warren Buffet dan Benjamin Graham dalam hal analisa fundamental.

Plus buku-buku lainnya yang nyaris tidak ada yang percuma. Ya, tidak ada yang percuma, trust me!. Buku tidak pernah ada yang percuma, bahkan buku yang tampak tidak laku pun pernah memberikan inspirasi kepada saya tentang keluarga. Tidak pernah percuma. Buku bisa membentuk karakter dan pola pikir.

Lalu ketika sebulan lalu saya melewati sebuah sekolah di daerah Serpong, saya hampir terkejut karena nyaris tidak ada satupun buku di rak ruang kelasnya. Saya menuju keruang perpustakaan yang tampak kumuh, sama saja, buku yang tersedia hanya lima hingga tujuh buku saja dalam kondisi kumal.

Saya pun bergegas menemui guru yang kebetulan ada disitu dan saya bertanya kenapa sekolah ini miskin buku, dijawab dengan enteng “Yah, sekolahnya aja miskin, apalagi mikirin buku”. Jleb, ngena banget jawaban bu guru itu, jawaban yang terkesan cuek dan abal-abal, tapi ya itu dia, apa adanya. Sekolahnya aja miskin, apalagi mikirin buku, apalagi mikirin minat baca. Coba.

Saya sendiri pernah mengikuti kegiatan Gerakan Indonesia Gemar Membaca, dan beberapa aktifitas perpustakaan terbuka di beberapa daerah di Banten. Jujur, cukup sulit untuk mengajak anak-anak dan bahkan orang dewasa untuk terlibat dalam aktifitas membaca. Tak heran jika survey menyatakan 90% lebih warga Indonesia hobinya nonton, terbanyak adalah nonton sinetron, dan sisanya kurang dari 20% adalah membaca.

Lho memang apa salahnya? Ya cukup saya tanyakan saja ke anda, berapa persen pelajaran yang bisa anda ambil dari aktifitas menonton? Hanya 10%, selebihnya adalah hiburan. Sedangkan membaca, hingga titik komanya bisa anda serap sebagai ilmu. Bahkan Andrea Hirata sangat sukses meramu hiburan dan pelajaran dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Apakah minat baca yang tidak ada? Tidak juga, buktinya novel-novel Andrea Hirata sukses ludes di pasar, tulisan Pramoedya Ananta Toer masih laris hingga saat ini, juga Dewi Lestari. Lalu apa? Masalahnya, larisnya buku tersebut hanya di daerah perkotaan dan justru sangat sedikit di pedesaan.

Kenapa? Masalah pertama apalagi kalau bukan harga buku yang cenderung mahal. Untuk buku berkualitas (best seller, favorit dsb) satu buku harganya dalam range 50 ribu hingga 150 ribu, untuk kalangan menengah bawah, itu adalah harga yang mahal.

Kedua, adalah budaya (maaf) dangdut dan sinetron yang lebih menguasai pasar daerah, meskipun mereka kaum berada sekalipun, sehingga orangtua cenderung cuek soal buku dan membaca. Pola pikir mereka, “halah buku kan bisa disekolah”. Ketika orangtua nonton sinetron, ya ikutlah anak-anak tadi, termasuk saya..dulu.

Jadi wajar saja jika beberapa rekan didaerah mengeluhkan informasi dan pola pikir anak-anak itu yang lebih condong dengan budaya “sinetron”, ya jelas karena informasi pendidikan semacam buku tidak pernah sampai ke mereka.

Lebih miris lagi jika melihat beberapa artikel hoax dan menghasut dengan mudahnya di share dari artikel di sosial media. Satu penyebabnya, masyarakat tidak mampu lagi untuk membaca dengan jernih isi/konten beritanya. Sosial media yang serba cepat telah merubah fungsi kognitif otak kita. Kita tidak lagi mendalami isi dari bacaan, itu salah satu akibat dari menurunnya budaya baca dari diri kita. Indonesia darurat baca gaes!

Untuk itu, saya excited sekali ketika menghadiri acara #BukuUntukIndonesia yang diinisiasi oleh PT Bank Central Asia (BCA), apalagi acara itu tepat sekali diadakan pada hari Minggu 26 Maret 2017 lalu dimana sedang diadakan Car Free Day (CFD) di depan Menara BCA. Tepat karena disana tentu banyak keluarga dari beragam umur yang bisa menikmati perpustakaan gratis yang disediakan oleh BCA sendiri.

2017_0326_08295200

Masyarakat sedang memilih buku di Perpustakaan Keliling, Gratis

Dari pihak BCA ada Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono dan Direktur BCA Santoso dan hadir pula Andy F Noya sebagai duta baca, Giring “Nidji” Ganesha sebagai perwakilan pemuda yang hobi membaca dan juga Sandra Dewi.

Giring sendiri, kurang lebih sama dengan saya, menyatakan kalau dari membacalah dia bisa seperti sekarang, banyak lagu-lagunya yang terinspirasi dari membaca. Tak heran kan kalau musik Nidji banyak bercerita soal semangat menuju cita-cita, mirip novel-novel Tetralogi Laskar Pelangi.

Acara ini sangat positif karena mengajak kita untuk bisa berdonasi buku sebesar 100 ribu rupiah yang bisa kalian akses di BukuUntukIndonesia. Dan ternyata enggak cuma donasi, kita juga bisa mendapatkan kaos olahraga keren dari BCA. Saya sendiri dapat kaos keren (kaos lari) dan juga voucher SOGO 50 ribu rupiah plus buah pisang. Lumayan untuk dipakai acara lari kece nanti. Keren banget lah pokoknya.

2017_0326_07485700

Giring “Nidji”, Sandra Dewi, Armand W. Hartono, Santoso, MC dan Andy F Noya

 

“Buku adalah sumber pengetahuan dan inspirasi. Dengan berbagi buku berarti membuka lebih besar kesempatan bagi anak Indonesia untuk memiliki pengetahuan yang #LebihBaik lagi. Bersama BCA, mari ciptakan perubahan yang lebih baik dengan menjadi bagian dari gerakan #BukuUntukIndonesia,” Ujar Armand W. Hartono, Wakil Presiden Direktur BCA yang tampil sangat enerjik.

Setuju banget, sudah saatnya kita berkontribusi untuk memperkaya buku di Indonesia, agar sekolah-sekolah seperti yang saya temui diatas sudah tidak ada lagi. Buku bisa hadir disetiap elemen masyarakat, elemen pendidikan, elemen hiburan dan bahkan elemen rohani kita semua. Perkenalkan dan perkaya anak-anak kita di seluruh Indonesia dengan buku, mari berdonasi, untuk buku.

2017_0326_08050700

Bpk Santoso, Direktur BCA dengan Andy F Noya, live di MetroTV

2017_0326_07381100

Sandra Dewi, sengaja saya close up. Special hihi

“Membacalah, supaya kamu tidak bersumbu pendek” – Penulis

Salam Aksara!

Transportasi Online vs Konvensional, Siapa Pecundang?

ojek2bonline

Transportasi online di demo lagi, bentrok lagi, gak terima lagi para pengusaha (saya katakan disini para pengusaha) jasa transportasi konvensional yang ranah rezekinya “di caplok” oleh transportasi online.

Kenapa saya sebut pengusaha? Tentu karena langkah demo dan rusuh ini di inisiasi oleh para pengusahanya, bukan dari supirnya sendiri. Secara ruhiyah para supir konvensional punya perasaan yang dinamakan “sama-sama cari makan”, tidak semudah itu mereka bertindak rusuh ataupun demo tiada henti.

Bagi supir, demo artinya setoran mereka justru berkurang di hari itu, mana mau? Kecuali ada penggantinya, demo gapapa, yang penting setoran ke istri tetap. Itulah kenapa saya menenkankan para pengusaha tadi sebagai poros kerusuhan ini.

Secara revenue tentu jamak jika pendapatan transportasi konvensional menurun bahkan drastis dibanding ketika mereka berkuasa dulu. Sudah jangan beragumen bahwa transport online harus di atur undang-undangnya, masalahnya bukan pada undang-undang, tapi nasib dari pengusaha transportasi konvensional yang diujung tanduk, sekarat.

aksi-mogok-massal-sopir-angkot-dan-ojek-online-bentrok-di-bogor-1kv-thumb

Siapa para pengusaha konvensional tadi? Mereka adalah para pemain lama yang puluhan tahun menikmati hasil dari usaha mereka dibidang angkot, bus, taksi dsb. Mereka adalah generasi X atau Y yang sudah tidak mampu lagi beragumen, berimprovisasi bahkan sekedar mempelajari zaman.

Siapa para pemilik angkot? Mungkin disitu ada Haji X, Engkoh, ada si Abah ini, Abah itu, Babe ini, Babe itu, Engkong, dsb. Ada pensiunan TNI, ada pensiunan Polisi dsb yang notabenenya merintis usaha transportasi itu dengan gigih dalam jangka waktu lama, mengorbankan uang pensiun, uang bonus lima tahunan bahkan uang terima kasih.

Bandingkan dengan Nadiem Makarim yang merintis usaha transportasi online tak lebih dari lima tahun sudah bisa menggoyang para sesepuh diatas. Nadiem gak usah gaya-gayaan lah, siapa loh?

Tentu kita harus memaklumi perasaan para sesepuh itu. Melihat Nadiem dengan kasual tampil di televisi dan ujug-ujug berkata bahwa Gojek bisa meraup dana segar 7,2 Trilyun dari investor. Eh gila lu, Engkong aja puluhan tahun jalanin angkot paling banter ratusan juta, gak pernah nyampe em, apalagi te..itu udah dibelain jual kebon jengkol. Nah, coba kalian diposisi itu, apa gak kesel? Saya sih kesel.

Terus sekarang netizen dengan congkaknya berkata bahwa para pengusaha transportasi itu harus beradaptasi, adaptasi nenek lu!. Umur para sesepuh tadi saja sudah diukur dengan penggaris anak TK, terus kalian bilang mereka harus improvisasi? Memang kalian ini..tak berperikeangkotan!

Jadi, menurut saya mereka akan bertarung hingga titik darah penghabisan, hanya pandangan kita saja berbeda, netizen berharap agar pertarungan itu fair, dengan adu strategi, dengan adu akal dan improvisasi.

Tapi seperti kata diatas, nenek lu! Otak mereka sudah lelah diajak bertarung, masa-masa itu telah lewat, sekarang harapannya ya tinggal duduk manis dan pegang duit pensiun, gitu lho. Terus gimana? Ya cari jalan pintas, peraturan lah yang mereka tuju.

Tak sulit, peraturan dipegang pemerintah yang notabenenya ‘dekat’ dengan mereka sejak puluhan tahun. Sudah bukan rahasia umum di zaman Orba, jika mau sukses ya dekatlah dengan pemerintah, apalagi soal trayek. Apakah itu sudah berubah di zaman ini? Soal kedekatan saya rasa tak banyak berubah, namanya pengusaha, siapapun yang berkuasa mereka pasti mendekat. Itu aturan tak tertulis.

Jadi saya tak heran jika akhirnya tarif online berbasis jaringan (daring) yang disesuaikan mendekati tarif konvensional, bukan sebaliknya. Harapannya, konsumen akan berpikir ulang soal tarif, dan beralih ke armada konvensional. Point kedua ini yang jujur harus saya katakan “mustahil” untuk di capai. Sekali lagi..Mustahil.

Transportasi online sudah berdampak cukup personal dalam hal kepraktisan, kecepatan dan bahkan keamanan. Suatu hal yang sulit didapat ketika zaman konvensional. Solusi terbaik adalah bersinergi, seperti yang pernah saya tulis soal Blue Bird dan Gojek disini.

Ketauhilah para pengusaha, bahwa ketika kalian memulai bisnis angkot, bus atau taksi, berapa ratus pekerja becak dan delman yang tergusur?

Kenapa? Karena kendaraan bermotor menjanjikan hal yang diimpikan ketika itu: Kecepatan dan kepraktisan. Sekarang transport online menjanjikan hal yang sama, pengembangan impian masa awal bisnis Engkong dan Babe dulu. Lebih cepat, lebih praktis, dan lebih aman.

Jadi meskipun tarif secara kalkulasi lebih mahal atau beda tipis, konsumen tidak akan banyak berubah, sistem online akan survive. Konsumen adalah raja, mereka menentukan segalanya, konsumen ialah penentu pasar, siapa pemenang, siapa pecundang.

Sama halnya dengan toko offline yang terganggu oleh menjamurnya toko online, seperti yang diungkap oleh Sekretaris Jenderal Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Haryanto Pratantara, bahwa konsep toko online awalnya hanya soal kemudahan konsumen dalam belanja, bukan soal harga murah.

Beliau lupa bahwa konsep online mampu memotong segala tetek bengek direct cost, diantaranya transportasi, sewa lapak dan tentunya “bagi hasil” preman setempat. Konsumen pun diuntungkan, harga lebih murah, praktis dan cepat.

Jadi Beh, Ngkong, mending bisnis angkot sama lapak toko mulai diserahin deh tuh langsung ke anak cucu, mereka adalah generasi Z atau milenial, generasi yang otaknya sanggup untuk berpikir rumit, masih anget soal improvisasi dan tentunya mau bergerak dan bekerja. Kita ngerti Engkong dan Babe dah capek ngurus ginian..

Sekedar sharing, kami pun punya toko offline dan kebetulan sering beli barang di sebuah toko di Mangga Dua, si pemilik toko itu ternyata juga membuka lapak online di instagram, demikian juga kami. Bahkan pemilik pijat refleksi di depan perumahan kami pun mengaku kalau sudah bekerja sama dengan Gojek di servis Go-Massage, dengan alasan semata-mata untuk pengembangan bisnis. Jadi apa masalahnya?

Berulang kali saya katakan..This is not about technology, that is about you..

10 Lagu Indie Lokal Versi Saya

pandai-besi-cassette-store-day-2013-irockumentary-music-photography-00

Musik Indie itu seperti pinggiran roti pizza yang kadang tak dimakan, di acuhkan meskipun akhirnya dimakan juga karena sudah gak kebagian pizza intinya yang mengandung daging dan keju nan menawan. Ataupun justru seperti teman saya yang hobi makan pinggiran roti karena bosan sama dagingnya.

Itulah indie, terlewatkan oleh hingar bingar musik mainstream seperti NOAH ataupun lagu dadakan ala Kangen Band plus Cita Citata (Ya Allah, kenapa musik indonesia jadi begini?? -sb* ), tetapi seperti jengkol, musik Indie selalu ada di hati penggemarnya, karena warna musik, eksyen dan style yang ngindie banget. Kalo kata entah siapa, Indie itu bukan soal kelas, tapi soal rasa. Hayah, dengerin musik aja kok repot.

Bukannya sok-sokan mau hipster dan anti-mainsteram, tapi kadang-kadang memanjakan telinga tanpa bayar itu perlu. Yup inilah 10 lagu Indie pilihan saya, dan beberapa alasannya.

1. Lagu Rantau ( Sambat Omah) – Silampukau, 2015

Kenapa Lagi Rantau dari Silampukau saya taruh di posisi pertama? Simple, karena liriknya yang “guweh banget”. Jelek-jelek begini saya pun pernah (dan masih..) mengeluh karena hutang, tagihan dan dompet yang kembang kempis ketika merantau. Padahal cita-cita setinggi tangga jembatan busway di Sudirman, kurang apa coba?

2. Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku, 2017

Musik yang sederhana, nyantai khas Indie, pokoknya Indie banget lah kalau dengerin ini. Salah satu liriknya yang saya suka..

“Tentang rumahku, Tak kan goyah walau badai mengamuk”

Hyperrealistik but i like it..ah..

3. Anjing Jalanan – Kelompok Penerbang Roket, 2015

Apalagi yang lebih menarik daripada kata-kata bangs*t yang ada di liriknya..ha ha ha..

4. Erika – Tigapagi

Tigapagi, bagi yang tahu band ini pasti sudah gak asing dengan campuran musik pentatonik sundanya yang dikolaborasi dengan aransemen chamber pop, tapi kalau ditelisik lebih jauh sebenarnya bukan hanya sunda, tapi juga sedikit aransemen gamelan jawa dan bali, hasilnya? Ciamik dengan nuansa mistik hehe..

Apalagi adanya kolaborasi dengan si cewek vokalis Ida Ayu Made Paramita Saraswati yang mengingatkan saya pada ciri khas vokal Dolores The Cranberries. You must hear!

*Oya, lirik-lirik di Tigapagi ini banyak yang berkaitan dengan orde baru lho..

5. Mokelé – Polka Wars, 2015

Kalau mau disebut hipster milenial ibukota, maka dengarkanlah Polka Wars, saya sendiri sebetulnya gak suka-suka amat kecuali mengingatkan saya sama Fleet Foxes di kecupuan karirnya. Dan Polka Wars is so much better.

6. Ada Disana – Danilla

Salah satu kenapa musik Indie disukai adalah kesantaiannya, enak didengerin sambil minum wedang jahe ataupun ngulek sambel. Suer. Dan Danilla mengkombinasikan itu semua, yang pasti dengerinnya sore-sore, mau hujan dan pacarmu batal jemput karena lagi bokek.

*Note: musik ini tidak direkomendasikan bagi para jomblo.

7. Pekerja – Bangkutaman

Saya pernah mendapat inspirasi dari seorang teman asal India di Qatar, saya bertanya mengapa dia selalu masuk kantor jam 6.30 pagi. Jawabannya asik banget. Gini..

“Saya lahir bukan dari keluarga kaya, saya bukan lahir dari negara kaya ataupun keturunan yang bisa bikin saya kaya, bukan. Kami di India tidak punya apapun selain semangat kami bekerja, hanya inilah yang bisa kami lakukan, maka kami akan selalu melakukannya dengan bersyukur dan semangat”.

Wow, ini sesuai banget dengan moto #KerjaKerjaKerja, kita bukan dari keluarga kaya, saya pun hanya bisa bekerja dengan baik, semangat dan penuh rasa syukur. Mari kita bekerja!

8. Homeless – Southguns

Siapa bilang Depok cuma si Ayu Ting Ting aja yang terkenal, anak Depok juga punya band yang ciamik, minimal jadi dewa penolong kota Depok dalam dunia persilatan musik Indonesia, itulah Southguns.

Band rock semi-punk yang sekilas mengingatkan saya dengan Killing Me Inside, terutama single Homeless-nya, sedap..nikmatin aja gaes, hidupmu gak serumit fanpagenya Jonru kok..

https://open.spotify.com/track/4GK05rOQJzZfKzqiplmlay

9. Worth It – Stars And Rabbit, 2015

Sebenernya ni lagu Indie yang paling gak lakik sih di top ten playlist Indie saya, hehe..tapi ya gimana lagi, ciri khas vokal Elda Suryani yang unik dan bikin gemes emang sayang banget untuk di lewatkan.

 

10. Hujan Jangan Marah – Pandai Besi

Akhirnya saya tega juga naroh Pandai Besi di posisi 10, bukan lantaran dari 9 lainnya Pandai Besi lebih jelek, tetapi justru nomor buncit ini adalah pamungkas. Jawara kadangkala munculnya belakangan, baik versi Holywood maupun Bolywood, ya kan?

Hampir semua lagunya saya suka, dan pusing banget milihnya, meskipun pas pertama dengerin (album Daur Baur) saya sudah keburu underestimate dengan band ini, ya karena mereka mengaransemen ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca, maklum karena Pandai Besi merupakan alter ego dari ERK (ya termasuk Cholid Mahmud sang vokalis).

Saya hampir (jarang banget..) ketemu band aransemen ulang yang bisa membawa efek emosi pada musiknya, kebanyakan hanya mentok di satu kata: bagus, udah.

Tapi ternyata Pandai Besi beda, coba dengarkan lagu pilihan saya ini, Hujan Jangan Marah, aransemen yang beda banget sama versinya ERK. lagu ini cukup di dengarkan sambil makan kuaci dan gak perlu status in relationship untuk bisa menikmati lagu ini, apalagi nyanyi bareng, gak!

Pokoke ciamik lah. Nonton video yang satu ini, sambil merem.

Lalu kenapa justru saya tidakan memasukkan musik-musik Indie kelas wahid semacam Burger Kill, Endah & Rhesa, Efek Rumah Kaca sendiri, ataupun Indie band yang lagi naik daun Payung Teduh? Jawaban saya panjang, dan jauh dari simple.

Karena Indie itu selera, dan terkenal itu nasib, jadi cukup saya milih yang Indie saja, sekalipun bliyo pernah manggung ciamik di acara Music Everywhere-nya NET.

Sekian.