Rujuknya Blue Bird dan Gojek: “Welcome Sharing Economic”

Ada yang berbeda ketika kemarin saya membuka aplikasi gojek, di bagian banner yang biasanya memuat iklan promo, sekarang ada penambahan ornamen biru, sekilas saya kira iklan pil KB, eh tapi saya sadar ini kan bukan lagi orde baru yang terkenal dengan hastag #DuaAnakCukup. Saya buang jauh-jauh pikiran itu.

gojekbluebird

Ternyata itu gambar seragam supir Blue Bird, oladalah, ngapain mereka mejeng di aplikasinya Gojek? Bukannya mereka berdua ibarat Tom and Jerry, ibarat Ahok dan Bib Riziek?

Mereka telah bersatu kawan, Gojek dan Blue Bird telah mengucap janji suci transportasi, mereka berpartner, menjadi sinergi yang menguntungkan semua pihak, menguntungkan gojek, masyarakat dan terutama Blue Bird itu sendiri. Satu hal lagi, sinergi ini mengajarkan kita soal rule of business.

Aturan yang paling mendasar, jangan menutup diri. Bayangkan setahun yang lalu ketika supir blue bird berdemonstrasi besar-besaran, bahkan merusak. Blue Bird seakan anti-social, mereka menutup diri dari kemajuan zaman, dan apa yang terjadi? Masyarakat yang sudah beralih ke aplikasi ride-hailing serta merta menolak kelakuan Blue Bird.

Pada waktu itu saya berpikir, nih klo kayak gini terus Blue Bird bakal mati. Pikiran saya hampir jadi kenyataan, saham Blue Bird anjlok dan terus tidur hingga sekarang, labanya merosot tajam. Satu-satunya jalan adalah ikuti arus. Blue bird diujung tanduk.

Sampai sekitar November 2016 lalu saya mendengar berita bahwa Blue Bird mulai bersinergi dengan Gojek, dan kemudian terealisasi. Lega, Blue bird mampu berdamai dengan kebesaran namanya. Nama besar, bukan berarti nasib pun selalu besar.

Ini diikuti juga dengan bersinerginya Express taksi dengan Uber, lalu Putera dan Silver yang sudah berkolaborasi lebih dulu dengan Grab. Kolaborasi yang harusnya di inisiasi oleh Kemenhub sedari awal, toh Presiden Jokowi sudah mengindikasi pro online yang luwes dan lincah ketimbang nama besar yang limbung.

Well done, Konsep sharing economic terbuka lebar di Indonesia.

Tapi ada yang bilang, dengan begini maka revenue Blue Bird dari tarif akan merosot tajam, karena ketika bersinergi dengan Gojek maka ongkos taksi di diskon 30%, belum lagi perjanjian ini itu dengan manajemen Gojek. Sekilas ini merugikan.

Saya hanya jelaskan bahwa ya, revenue akan turun, laba juga akan turun, tapi sampai berapa lama? Kelemahan Blue Bird adalah harganya yang premium, maksudnya? Begini..ketika berbicara transportasi massal, maka harus ada yang signifikan untuk membedakan.

Signifikan? Ya, contoh Garuda Indonesia, tarif memang premium tapi apa yang anda dapatkan didalamnya? Ontime, makanan yang rasanya berkelas, jenis minuman dari kopi hingga jus jeruk ada dan tentunya inflight entertainment yang film & musiknya selalu di update.

Sedangkan Blue Bird? Gak signifikan kawan, mobil bersih? Ya seharusnya. Supir sopan? Ya harus lah, wong namanya juga raksasa taksi. Supir jujur? Kalo gak jujur ya dilaporin polisi, nama korporat akan hancur. Mobil bau rokok? Masih ada tuh, masi untung gak ada yang bau tembakau gorilla.

Tidak ada service yang signifikan dari Blue Bird, taksi sekelas Gamya dan Express pun mobilnya wangi dan bagus-bagus, dengan tarif bawah, inilah yang disasar masyarakat. Jika nilai Blue Bird 18 dari 20 dengan harga 2x di atas, masyarakat akan beralih kepada taksi lain yang nilainya 16 dari 20 dengan harga bawah.

Nah, dengan kolaborasi ini, Blue Bird sudah menjawab tantangan zaman.Setidaknya tantangan mengalahkan egoisme diri sudah dilewati, tinggal tantangan selanjutnya. Apa itu?

Terlalu jauh jika kita berbicara Tesla yang akan memasuki sistem transportasi massal, karena infrastruktur MRT dan LRT saja kita baru buat. Yang paling masuk akal adalah transportasi extreme sharing economic.

Pernah denger Nebengers kan? Pasti pernah, apalagi buat yang kerjanya di Simatupang trus rumahnya di Bekasi, bisa jomblo sampai hujan salju. Nah, kedepan, sistem nebeng ini yang bakal di genjot sama transportasi online. Jadi, mobil si uber / Gojek bukan lagi sedan, tapi khusus SUV 8 seat atau lebih.

Kalo sekarang kita pesen Go-Car atau Uber hanya buat sendiri atau paling banter sama temen kita, maka nantinya si mobil aplikasi ini akan menerima order dari orang lain juga, selama si pengguna klik menu nebeng dan tujuan masih satu kawasan. Ongkosnya dijamin jadi lebih murah, karena di tanggung bersama.

Kelemahannya ya keamanan, tapi itu bisa di verifikasi lebih lanjut dengan pengajuan KTP atau sejenisnya, toh selama ini pengguna transport online fine-fine aja, masi lebih menakutkan memakai jasa taksi konvensional bukan?

Jakarta sudah semakin muacet coeg, saya gak mau berandai-andai janji paslon gubernur yang membuat Jakarta tidak macet hanya dalam waktu singkat, mbah mu ngisep lem aibon?

Jalan satu-satunya adalah memajukan sharing economic dan tentunya..transportasi massal.

Advertisements

4 thoughts on “Rujuknya Blue Bird dan Gojek: “Welcome Sharing Economic”

  1. Open economic sharing, moda sharing ekonomi yang sdh terbuka di negara2 lain, bahkan bolivia yg notabenenya adalah negara berkmbang, sama dgn Indo. Telat sbtulnya blue bird trima konsep sharing ini sharusnya sbelum laba merosot sdh bisa diprediksi..

    Like

  2. Pingback: Transportasi Online vs Konvensional, Siapa Pecundang? | Ryo Kusumo

  3. Pingback: Mengapa Bisnis Startup Di Indonesia Bisa Gagal? | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s