Alasan Bangkitnya Ideologi Konservatif

cropped-cityscapes-indonesia-cities-skyline-jakarta-3100x1300-wallpaper-13.jpg

Tulisan ini sebagai bagian jawaban saya di Selasar.com.

Bangkitnya ideologi konservatif bsia dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, ini tak lepas dari sejarah.

Ambil contoh di Inggris, kelas menengah kebawah adalah kelas yang paling banyak ambil bagian pada saat revolusi Industri yang menarik revolusi itu keseluruh dunia, yang mana sebelum itu mereka lah yang paling getol untuk meneriakkan “gold, gospel and glory” sebagai simbol Imperialis Eropa pada abad ke XIX, mereka teramat bangga menjadi The British, sang pionir.

Itupun terjadi pada Erdogan di Turki, dimana Turki yang dulunya sebagai pusat kebudayaan Islam, Turki sebagai simbol kemenangan Islam ketika Sultan Mehmet II, pemuda 21 tahun berhasil memimpin pasukan Turki menguasai Konstantinopel. Yang mana ini sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadi kebanggaan Turki yang menjadi latar belakang kenapa saat ini menginginkan Islam yang Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti Erdogan, tidak memiliki oposisi.

Para kelas menengah ini sadar, bahwa gerakan progresif dimana Eropa mulai mengendalikan Inggris dan juga Turki dimana negaranya dibagi dua sehingga budaya mereka pun tercampur antara Islam dan Non Islam ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan, gerakan demokratis yang dianggap sebagai simbol modernitas ternyata tidak bisa membawa negara mereka kepada kebanggaan dan kejayaan seperti masa lalu.

Di Inggris, ketika Margareth Tatcher berkuasa pernah berkata. “….we believe in a free Europe, not a standardized Europe,” ujarnya. Sudah jelas, Inggris tidak mau diatur.

Selengkapnya https://ryokusumo.com/2016/06/24/dag-dig-dug-brexit-sejarah-dan-efeknya-pada-dunia/

Pun dengan USA, Di sini Trump merupakan hasil didikan konservatif tulen. Dalam sistem konservatif, ayah adalah segalanya, tumbuh dalam kedisplinan. Sisi konservatif mengambil budaya Amerika yang tembak langsung, sama seperti olahraga populernya: American Football ataupun filmnya yang selalu mengandalkan gaya Silvester Stallone. Jika kalah, dipastikan dia tidak akan populer.

Disini Trump didukung kaum konservatif yang merindukan hegemoni kulit putih dan Amerika asli, tanpa campuran. Trumph menginginkan ekonomi eksklusif untuk Amerika, pokoknya Amerika untuk Amerika, Trumph tidak peduli soal imigran, Trumph tidak peduli siapa yang akan mengais sampah kalau sudah tidak ada imigran disana.

Selengkapnya : Donald Trump dan Ahok, Dua “Kegilaan” yang Fenomenal

Kedua, ini tidak lepas dari “kebosanan” para kelas menengah yang (menjadi pilar utama negara) terhadap gerakan progresif yang booming pada 20 tahun terakhir ini. Ideologi progresif terbukti tidak membawa kejayaan bagi negara mereka.

Di Inggris, kenapa Inggris tergabung di Euro adalah karena keterpaksaan akibat perang dunia II, Euro dalam banyak hal tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi Inggris. Inggris selalu berambisi menjadikan Poundsterling sebagai mata uang terkuat di dunia, terbukti Euro tidak memberikan keuntungan apapun terhadap Inggris.

Di Turki, pecahnya zona Islam dan Non Islam hanya menjadi bom waktu. Kaum menengah sadar bahwa Turki harus kembali ke awal, toh apa yang dilakukan sekarang tidak membuat Turki menjadi negara maju.

Dari sini, kaum konservatif pun bangkit, kaum progresif tidak bisa meyakinkan bahwa demokrasi menjadi jawaban untuk semua. Di USA, demokrasi tentang munculnya kulit berwarna menjadi pemimpin ternyata tidak menggembirakan kaum konservatif. Obama tetap punya musuh,

Di Indonesia sendiri? Era kejatuhan Soeharto, demokrasi begitu menggembirakan, tapi makin kesini, demokrasi yang diharapkan ternyata tidak juga membawa perubahan, justru korupsi semakin tampak ke permukaan, baru pada pemerintahan Joko Widodo ini saja aktifitas fisik infrastruktur menggeliat.

Tapi meskipun begitu, Indonesia tidak bisa dibilang kembali ke masa konservatif, karena saat ini Indonesia baru keluar dari masa konservatif dan baru menikmati alam demokrasi.

Start-up semakin berkembang, munculnya pengusaha semakin banyak, pola hidup life-good semakin digemari dan runtuhnya primordialisme, meskipun seimbang dengan irama konservatif yang mengejar karir dan berpedoman pada agama dan budaya. Indonesia masih bisa dibilang seimbang.

Tapi, gerakan konservatif sudah muncul ketika Pemilu 2014 lalu, dimana Prabowo meneriakkan skema dalam negeri, untuk negeri sendiri, konservatif nasionalis. Sedangkan Joko Widodo lebih realistis dengan menggandeng negara lain untuk berinvestasi di Indonesia, karena Indonesia sudah terlalu banyak hutang masa lalu padahal Infrastruktur harus digenjot. Dua-duanya sama-sama baik, tinggal ideologi mana yang lebih menarik rakyat.

Pertanyaan kemudian, mengapa gerakan konservatif ini muncul bersamaan?

Jawabannya adalah waktu, ideologi progresif pun munculnya nyaris bersamaan, sehingga apa yang dirasakan rakyat negara-negara tersebut pun nyaris bersamaan, apalagi terjadi gejolak politik global (munculnya ISIS, sentimen Korea Utara dan Selatan, gejolak Timur Tengah yang semakin membara, dsb) sehingga menjadi pemicu bangkitnya ideologi konservatif ini.

Ideologi pun seperti penyakit menular.

Advertisements

Mengapa sebagian masyarakat Jakarta gemar melanggar rambu-rambu lalu lintas? Dan Apa Solusinya?

Pertama, karena pihak penegak hukum angin-anginan, kadang mobil/motor yang melanggar di depan ditilang, tapi yanng dibelakangnya tidak. Kadang ada, kadang tidak. Ya karena jumlah personil polantasnya yang kurang.

Kedua, karena mental pengguna jalan kita tidak terdidik secara permanen untuk menaati peraturan, ini ciri khas negara berkembang. Jika bisa shortcut, kenapa harus ribet pakai antri lampu merah, gitulah kira2.

Ketiga, harusnya solusinya apa? Sudah, jangan andalkan personil polantas, jumlah masyarakat kita itu saingannya cuma India dan China, mau polantas berapa orang? Solusinya adalah sistem otomatis.

Saya contohkan di Qatar, dimana disetiap sudut jalan/lampu merah terpasang alat pendeteksi otomatis pelanggar. Jika lampu sudah merah dan ada mobil/motor yang melintas, maka otomatis kendaraan tersebut akan direkam dan difoto nomor polisinya.

Polisi tinggal melacak no pol tsb dan melakukan pengecekan kedalam sistem. Setelah itu, akan dikirim surat tilang ke alamat/email/no tlp pemilik kendaraan. Tugas Polantas di lapangan tetap harus ada kehadiran fisik, terutama mengawasi para bikers yang tanpa helm.

Untuk sistem itu, perlu data yang terintegrasi. Untuk itulah e-ktp dan kemudian e-stnk menjadi diperlukan.

Semangat.

***

Ini merupakan jawaban saya pada Selasar.com, selengkapnya: https://www.selasar.com/question/6718/Mengapa-sebagian-masyarakat-Jakarta-gemar-melanggar-rambu-rambu-lalu-lintas

DP Nol Persen dan Subprime Mortgage Crisis

mortgage-bubble-bursting-by-the-sub-prime-mortgage-meltdown

Debat ketiga kemarin ini menarik, apalagi kalau bukan daya tarik dari sisi investor, menyangkut rencana cagub nomor 3 untuk menyediakan program kredit rumah rakyat tanpa down payment (DP). Dijelaskan pada debat ketiga (final), hari Jumat lalu.

Yang saya tangkap dari pernyataan cagub no 3 itu begini:
Rakyat kecil bisa membeli rumah murah, tanpa dp dengan cicilan hingga 30 tahun. Mekanismenya di atur antara pemda DKI dengan Bank DKI. Semua orang bisa punya rumah, target keadilan tercapai.

Ide yang menarik bagi saya, tapi beresiko. Yang ada dipikiran saya ketika menyimak debat ketiga itu ialah kasus subprime mortagage di AS. Efeknya luar biasa, terjadi bubble properti hingga harga properti anjlok, Lehmann Brothers raksasa perbankan AS sampai bangkrut dan menyeret pihak-pihak terkait di seluruh dunia ikut kena imbas.

Jika anda pernah nonton film The Big Short, nah itulah cerita nyata tentang subprime mortgage.

Apa itu subprime mortagage? Sebelumnya, saya pernah membahas tentang bubble investasi disini, atau disebut juga bust money. Subprime mortagage adalah kasus dimana kaum kelas menengah bawah (berpendapatan rendah atau subprime) di AS mendapat kemudahan dalam hal kepemilikan rumah.

Subprime mortgage sendiri merupakan kredit jangka panjang yang bisa berkisar antara 10-20 tahun, bahkan lebih, sehingga mengakibatkan terjadi mismatch credit. Apalagi latar belakang krisis adalah “bermainnya” bank kredit perumahan (KPR) terbesar di AS, Lehmann Brothers yang menjual kembali KPR-nya ke Bank Investasi.

Dengan asumsi harga properti yang selalu naik, maka Bank Investasi membeli ribuan KPR-KPR dari masyarakat golongan rendah tadi dan menaruhnya di dalam “kotak” yang disebut Collateralized Debt Obligation atau CDOTidak sampai disitu, CDO tadi dijual kembali kepada para investor dengan tiga tingkat resiko: Resiko aman dengan low return, resiko medium dengan mid return dan beresiko tinggi tapi high return.

Apa pengamannya? Mereka menciptakan asuransi murah, yang disebut Credit Default Swap (CDS), atau asuransi atas gagal bayar. CDS hanya berperan sebagai pemanis disini supaya bank bisa mendapat peringkat AAA. Dengan peringkat itu, maka konsumen dan investor menjadi yakin dengan predikatnya, bank lebih mudah menjaring konsumen.

Investor senang, mereka mendapat potensi return yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah yang hanya 1%, maka diboronglah KPR-KPR tadi dengan cara meningkatkan penjualan properti. Cara apapun dilakukan makelar/developer, termasuk menghilangkan down payment. Syarat dipermudah, tidak perlu ini itu, tidak perlu izin, bunga flat bla bla. Pokoknya tinggal datang, dan tanda tangan.

Semudah itu? Ya semudah itu. Ini menyebabkan harga terus melonjak naik, demand meningkat dengan bunga cicilan yang membengkak. Karena sejatinya, bunga yang dipatok flat hanya sampai tahun tertentu, setelah itu tetap mengikuti pola pasar, sama seperti di Indonesia.

Investor berpesta, hingga masa pelunasan down payment itu tiba. Lho kok? Ya karena sejatinya down payment tadi adalah tetap berupa down payment, tetapi polanya dirubah menjadi cicilan. Wajar jika bunganya membengkak, karena dp yang dicicil tadi pun berbunga plus bunga cicilan itu sendiri.

Terjadilah gagal bayar, masyarakat subprime (kelas berpenghasilan rendah) tadi tidak mampu melunasi hutangnya. Terjadilah penyitaan aset. Dilain pihak, banyak rumah-rumah mewah yang tidak ada penghuninya alias diborong oleh spekulator untuk menaikkan harga properti. Kenaikan harga yang menipu. Investor berlaku irrational.

Tingkat gagal bayar meluas, bank-bank KPR sudah tidak lagi menerima pendapatan dalam bentuk uang cash, tapi dalam bentuk aset hasil sita yang tidak likuid. Mau dijual kemana, wong seluruh masyarakat AS tidak ada yang tertarik lagi beli properti, selain karena hutang, juga mereka mulai sadar bahwa harga jual properti sangat jauh melampaui nilai wajarnya. Harga jual $300.o00 yang sebetulnya seharga $90.000 saja.

Harga anjlok secara dramatis, bank-bank Investasi mencoba untuk menjual lagi CDO, CDO yang bikin rusak itu sudah tidak ada yang mau beli, bank-bank pun terlilit hutang. Welcome to kredit macet, saham anjlok, Lehman Brothers bangkrut, AIG bangkrut, Citigroup dan Merrill Lynch menderita kerugian 24,1 dan 22,5 milyar dollar AS. Tahun 2008 memasuki masa krisis. Kelam.

So, apakah jika ide cagub no 3 itu diterapkan lantas bisa menjadi demikian heboh? Bisa jadi, tapi menurut teman saya yang di perbankan, para bankir Indonesia pun bukan orang bodoh yang bisa begitu saja setuju skema properti mudah, tanpa dp dan lain-lain, tidak. Saya rasa kasus 2008 di atas menjadi pelajaran berharga bagaimana keuangan di seluruh dunia sudah terintegrasi.

Apalagi di Indonesia sudah ada Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/10/PBI/2015 yang diubah terakhir bulan Agustus 2016, BI mengharuskan setiap orang yang ingin mengambil rumah harus membayar uang DP sebesar 15 persen.

Simulasinya begini dengan DP 15% dan cicilan 30 tahun:

Harga jual 300,000,000.00
Bunga 8.75%  Basis rata-rata
DP 15% 45,000,000.00
Lama cicilan 30.00 tahun
Tahun Cicilan biasa Cicilan+bunga Cummulative
1 708,333.33 770,312.50 770,312.50
2 708,333.33 770,312.50 1,540,625.00
3 708,333.33 770,312.50 2,310,937.50

Dari data di atas, minimal pemasukan/gaji pengambil KPR sebesar Rp 770.312 x 3 (sesuai himbauan pakar keuangan) = 2,310 juta. Jika dikurangi cicilan maka biaya hidup sebesar 1,54 juta. Apakah biaya segitu layak?

Oke, sekarang skema tanpa dp, asumsi bunga bank tetap 8,75% flat 30 tahun.

Harga jual    300,000,000.00
Bunga 8.75%
DP 0%                            –
Lama cicilan                       30.00  tahun
   300,000,000.00
Tahun Cicilan biasa Cicilan+bunga Cummulative
1            833,333.33          906,250.00        906,250.00
2            708,333.33          770,312.50    1,676,562.50
3            708,333.33          770,312.50    2,446,875.00

Cicilan minimal menjadi Rp. 906,250, artinya minimal gaji/penghasilan sebesar 2,7 juta. Syarat yang justru jauh lebih berat kan?

Kalo begini, ngapain capek-capek, BTN dari pemerintah sudah menyediakan bunga flat 5% sepanjang masa cicilan, dengan uang muka yang minimal 1%. Bahkan dibatasi maksimal penghasilan sebesar 5 juta, tentu kebijakan ini menyasar kelas menengah. Kenapa harus berpikir yang ribet kalau yang dituju sama?

Yang dituju sebenarnya adalah masyarakat berpenghasilan rendah, sekitar 1-2 juta per bulan, dan kelas ini sebenarnya adalah kelas subprime di Indonesia, memiliki resiko tinggi dan rentan dimainkan oleh pemain besar. So, solusinya? Ya ikut KPR BTN saja, beres.

Lalu bagaimana dengan skema syariah? Sama saja, di dalam syariah yang berbeda adalah akadnya. Ketika di awal, sudah disebutkan harga total rumah ini sekian, dicicil sekian dengan jumlah tetap setiap bulan tanpa embel2 kalimat bunga. Down payment tetap ada.

Nah, jika ada iklan rumah tanpa dp itu, biasanya angka dp di lebur di dalam cicilan. Sehingga angka cicilan anda menjadi lebih besar, itu lagi-lagi strategi marketing. Yang penting tetap dilakukan penyaringan kemampuan finansial pembeli oleh bank penyelenggara KPR. Bukan asal janji manis.

Sumber-sumber:

http://www.federalreservehistory.org/Events/DetailView/55

Board of Governors of the Federal Reserve Board. “Federal Financial Regulatory Agencies Issue Final Statement on Subprime Mortgage Lending.” June 29, 2007

https://id.wikipedia.org/wiki/Kredit_subprima

http://dapur-uang.com/penjelasan-mudah-subprime-mortgage-crisis-penyebab-kehancuran-harga-properti-amerika-dan-perekonomian-dunia-di-tahun-2008/

Jadilah Mantan Yang Terhormat

11b54d

Jadi gini gaes, beberapa mingu lalu kami baru mengadakan reuni SMA, yang datang lumayan banyak, mungkin ada sekitar 120 orang, dan salah satu bahan gosip adalah seorang teman saya yang mungkin saat ini bisa dibilang dialah sesepuh jomblo, semenjak orok hingga saat ini umur berkepala tiga, asyiknya berkasih-kasih hanyalah sebatas angan.

Oke, sebut saja namanya Asun, bukan Asu ya..Asun.

Bukan dia tak pernah pacaran, bukan. Pacaran pernah dilaluinya ketika SMA dengan seorang calon model yang saat ini sudah resmi jadi model majalah dewasa, sebut saja bunga si cantik. Dulu sih ya agak culun penampilannya, tirus meskipun cantik. Dan kecantikan ini sudah meluluhlantakan logika teman saya Asun, Asun mabok kepayang.

Tapi Asun sungguhlah seorang pejuang sejati, seorang militan cinta sejak dalam pikiran, dengan mobil pinjaman Datsun 510 klasik milik sang paman, Asun sangat rajin mengantar jemput sang pujaan hati casting iklan sabun, eh iklan parfum.

Dan sialnya sebelum menjemput rumah sang incaran di daerah Bintaro, Asun selalu silaturahmi kerumah saya dulu, pinjam parfum, saya tak punya parfum, pinjam punya ibu saya. Pokoknya Asun harus wangi, gak mau kalah sama parfumnya itu sendiri. Sambil mengangkat ketek Asun pun sesumbar ala Don Corleone: “Si cantik itu milikku jon, sang pria sejati!”

Dan tibalah hari penembakan, pagi hari sekolah tampak biasa saja, tapi selepas istirahat, kami dihebohkan adegan Asun yang berdiri di pinggir jendela lantai 3. Asun mau bunuh diri! Ya Allah, Tuhan YME, kenapa jadi begini?

Semua orang panik, termasuk guru, wajah Asun merah padam. Asun mungkin tidak tahu ganasnya api neraka bagi orang yang bunuh diri, mungkin dia kurang ikut kajian ustad (maklum belum ada sosmed), mungkin saja. Di atas list jendela Asun berteriak, “mendingan gue mati daripada ditolak cinta!!”. Oladalah, ternyata Asun baru saja di tolak!

Alhasil sebagian besar mata memandang saya, karena saya yang (dianggap) tahu likuk perjalanan cinta si Asun, padahal ya enggak tahu-tahu banget, wong kerumah cuma pinjem parfum trus habis itu ya cabut.

Tapi dengan diplomatis saya menjawab ke kawan-kawan demi terbukanya kasus ini, bahwa ditolaknya Asun adalah hal yang wajar, dan alami. Ya jelas, cewek mana yang tahan bau menyengat parfum di tubuh laki-laki, wanginya feminim lagi! itu kan tolol.

Semuanya pun tertawa, tapi Asun semakin berontak. Untunglah persis ketika malaikat ingin menarik nyawa Asun dari ubun-ubun, si cantik datang dan menyatakan setuju menerima cinta Asun. Tak terkira bahagianya si Asun, termasuk malaikat. Semua lega, semua bahagia.

Singkat kata, mereka pun jadian, Asun punya pacar. Hampir setahun kemudian mereka pun putus, tapi Asun justru tumbuh cita-citanya, ingin menikahi si cantik, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Gila.

Selepas itu saya kurang tahu lagi kelanjutan kisah mereka, karena kami lulus SMA dan sibuk kuliah masing-masing, hingga setahun yang lalu, Asun mengapdet status facebooknya dengan “in relationship”.

Penasaran saya pun membuka facebook Asun, tampaklah foto-foto Asun dengan seorang wanita yang sangat cantik saling berasyik masyuk. Wanita yang tak lain adalah si cantik SMA kami. Alhamdulillah, ucap ku syukur. Allah memang Yang Paling Tahu.

Tapi eh tapi, ketika reuni kemarin, terbongkarlah bahwa foto-foto di facebook Asun adalah editan. Asun menjadi seorang design grafis dan edit foto adalah salah satu keahliannya. Asun tidak pernah jadian lagi atau bahkan lamaran dengan si cantik seperti foto itu. Si cantik hadir di reuni dan membawa serta suami dan anaknya. Terbukti, Asun memang asu.

Si cantik mengeluh bahwa selama ini, Asun sering menelponnya, mengajak balikan, walaupun sudah dijelaskan bahwa si cantik telah bersuami dan beranak. Asun sepertinya tetap keukeuh. Asun gak bisa move on, Asun selalu ingin terlibat di dalam kehidupan si cantik. Cuma satu kelebihan Asun, Asun tidak pernah konferensi pers, paling mentok ya fesbukan.

Ternyata gaes, menghadapi mantan yang gak bisa move on itu memang menyebalkan, selalu mengusik dan ingin terlibat. Meskipun berkomentar dan kepo adalah hak segala mantan, tapi hambok ya jadi mantan yang cool gitu lho..terhormat.

Hingga akhirnya si cantik meminta bantuan untuk menasehati Asun. Demi kawan, jadilah saya bertemu dengan Asun di bilangan Ciputat. Pertemuan yang rahasia dan penuh intrik drama nasehat panjang lebar soal asmara. Sampai akhirnya..

“Sun, udahlah, terima kenyataan, saatnya kamu punya hidup yang normal, si cantik pasti akan lebih bahagia” Kataku di akhir episode, klasik.

Asun terdiam, matanya melirik ku sekilas sebelum menghirup kreteknya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan membentuk huruf O, dia tahu dia telah diujung. Dengan wajah kaku dan mata yang nanar, Asun berkata..

“Setidaknya saya telah berjuang, menjadi mantan yang sebaik-baiknya..sehormat-hormatnya..”

Gundulmu.

Rujuknya Blue Bird dan Gojek: “Welcome Sharing Economic”

Ada yang berbeda ketika kemarin saya membuka aplikasi gojek, di bagian banner yang biasanya memuat iklan promo, sekarang ada penambahan ornamen biru, sekilas saya kira iklan pil KB, eh tapi saya sadar ini kan bukan lagi orde baru yang terkenal dengan hastag #DuaAnakCukup. Saya buang jauh-jauh pikiran itu.

gojekbluebird

Ternyata itu gambar seragam supir Blue Bird, oladalah, ngapain mereka mejeng di aplikasinya Gojek? Bukannya mereka berdua ibarat Tom and Jerry, ibarat Ahok dan Bib Riziek?

Mereka telah bersatu kawan, Gojek dan Blue Bird telah mengucap janji suci transportasi, mereka berpartner, menjadi sinergi yang menguntungkan semua pihak, menguntungkan gojek, masyarakat dan terutama Blue Bird itu sendiri. Satu hal lagi, sinergi ini mengajarkan kita soal rule of business.

Aturan yang paling mendasar, jangan menutup diri. Bayangkan setahun yang lalu ketika supir blue bird berdemonstrasi besar-besaran, bahkan merusak. Blue Bird seakan anti-social, mereka menutup diri dari kemajuan zaman, dan apa yang terjadi? Masyarakat yang sudah beralih ke aplikasi ride-hailing serta merta menolak kelakuan Blue Bird.

Pada waktu itu saya berpikir, nih klo kayak gini terus Blue Bird bakal mati. Pikiran saya hampir jadi kenyataan, saham Blue Bird anjlok dan terus tidur hingga sekarang, labanya merosot tajam. Satu-satunya jalan adalah ikuti arus. Blue bird diujung tanduk.

Sampai sekitar November 2016 lalu saya mendengar berita bahwa Blue Bird mulai bersinergi dengan Gojek, dan kemudian terealisasi. Lega, Blue bird mampu berdamai dengan kebesaran namanya. Nama besar, bukan berarti nasib pun selalu besar.

Ini diikuti juga dengan bersinerginya Express taksi dengan Uber, lalu Putera dan Silver yang sudah berkolaborasi lebih dulu dengan Grab. Kolaborasi yang harusnya di inisiasi oleh Kemenhub sedari awal, toh Presiden Jokowi sudah mengindikasi pro online yang luwes dan lincah ketimbang nama besar yang limbung.

Well done, Konsep sharing economic terbuka lebar di Indonesia.

Tapi ada yang bilang, dengan begini maka revenue Blue Bird dari tarif akan merosot tajam, karena ketika bersinergi dengan Gojek maka ongkos taksi di diskon 30%, belum lagi perjanjian ini itu dengan manajemen Gojek. Sekilas ini merugikan.

Saya hanya jelaskan bahwa ya, revenue akan turun, laba juga akan turun, tapi sampai berapa lama? Kelemahan Blue Bird adalah harganya yang premium, maksudnya? Begini..ketika berbicara transportasi massal, maka harus ada yang signifikan untuk membedakan.

Signifikan? Ya, contoh Garuda Indonesia, tarif memang premium tapi apa yang anda dapatkan didalamnya? Ontime, makanan yang rasanya berkelas, jenis minuman dari kopi hingga jus jeruk ada dan tentunya inflight entertainment yang film & musiknya selalu di update.

Sedangkan Blue Bird? Gak signifikan kawan, mobil bersih? Ya seharusnya. Supir sopan? Ya harus lah, wong namanya juga raksasa taksi. Supir jujur? Kalo gak jujur ya dilaporin polisi, nama korporat akan hancur. Mobil bau rokok? Masih ada tuh, masi untung gak ada yang bau tembakau gorilla.

Tidak ada service yang signifikan dari Blue Bird, taksi sekelas Gamya dan Express pun mobilnya wangi dan bagus-bagus, dengan tarif bawah, inilah yang disasar masyarakat. Jika nilai Blue Bird 18 dari 20 dengan harga 2x di atas, masyarakat akan beralih kepada taksi lain yang nilainya 16 dari 20 dengan harga bawah.

Nah, dengan kolaborasi ini, Blue Bird sudah menjawab tantangan zaman.Setidaknya tantangan mengalahkan egoisme diri sudah dilewati, tinggal tantangan selanjutnya. Apa itu?

Terlalu jauh jika kita berbicara Tesla yang akan memasuki sistem transportasi massal, karena infrastruktur MRT dan LRT saja kita baru buat. Yang paling masuk akal adalah transportasi extreme sharing economic.

Pernah denger Nebengers kan? Pasti pernah, apalagi buat yang kerjanya di Simatupang trus rumahnya di Bekasi, bisa jomblo sampai hujan salju. Nah, kedepan, sistem nebeng ini yang bakal di genjot sama transportasi online. Jadi, mobil si uber / Gojek bukan lagi sedan, tapi khusus SUV 8 seat atau lebih.

Kalo sekarang kita pesen Go-Car atau Uber hanya buat sendiri atau paling banter sama temen kita, maka nantinya si mobil aplikasi ini akan menerima order dari orang lain juga, selama si pengguna klik menu nebeng dan tujuan masih satu kawasan. Ongkosnya dijamin jadi lebih murah, karena di tanggung bersama.

Kelemahannya ya keamanan, tapi itu bisa di verifikasi lebih lanjut dengan pengajuan KTP atau sejenisnya, toh selama ini pengguna transport online fine-fine aja, masi lebih menakutkan memakai jasa taksi konvensional bukan?

Jakarta sudah semakin muacet coeg, saya gak mau berandai-andai janji paslon gubernur yang membuat Jakarta tidak macet hanya dalam waktu singkat, mbah mu ngisep lem aibon?

Jalan satu-satunya adalah memajukan sharing economic dan tentunya..transportasi massal.