Budaya Resiko dan Komitmen

win875-040-0002-620x350Ada tiga parameter primer yang harus diperhatikan sebelum menjalankan sebuah project yaitu Model, Budget dan Risk.

Kriteria Model; bisa dilihat, bisa di hitung, bisa di design, bisa di tolak ataupun di terima. Budget; bisa dihitung, bisa di ukur, bisa dimanipulasi (dengan hutang) bahkan bisa dihilangkan sama sekali (angel investor).

Sedangkan terakhir, yaitu Risk atau resiko adalah unik, tidak ada kriteria spesifik yang bisa di raba ataupun dihitung. Hanya bisa dimitigasi dan direncanakan. Jika pun sudah dilakukan mitigasi, apakah resiko tersebut hilang? Tidak. Karena bicara resiko adalah bicara probabilitas. Itulah guna manajemen resiko.

400px-risk_management_elements

Pendekatan semodern Montecarlo yang menggantikan model AHP pun hanya bisa sebatas melihat mana item yang paling beresiko dengan variable frekuensi. Sederhananya, jika kita mau membuat nasi goreng, maka hal yang paling beresiko adalah; nasinya gosong, kurang garam, kurang bumbu atau kompor mbleduk.

Setelah dilakukan simulasi Montecarlo, kita mendapat bahwa item paling beresiko adalah nasinya gosong, mitigasi penyebab adalah pada saat memasak, nasi goreng sering kita tinggal nonton Uttaran.

Lalu apa cara meminimalkan resiko selanjutnya? Mudah, matikan televisi ketika memasak. Tapi apa betul action itu sudah kita lakukan? Tidak juga.

Nah sama seperti masak nasi goreng, hampir 80% perusahaan yang pernah saya singgahi jarang melakukan action terhadap resiko.

Kenapa? Alasan klise, karena “dari dulu sudah begitu, atau tidak ada cost”, alias budaya. Resiko hanya dianggap sebagai “yah, semua kan ada resikonya mas”. Gitu.

Misal adanya resiko telat bayar vendor, apakah akan terus lanjut diperbaiki sistem keuangan? Kan gak juga, karena terkait aturan perusahaan dalam hal pembayaran alias budaya akutansi perusahaan.

Lho, terus bagaimana? Ya tim proyek berusaha saja semaksimal mungkin supaya vendor mau kirim barang. Tim proyek lagi-lagi harus babak belur.

Belum ada monitoring resiko yang terintegrasi seperti SAP, dimana setiap pihak yang terkait risk, wajib diberi notifikasi di dalam sistem itu, di beri target tanggal. Jika tanggal sudah terlewat dan belum ada action, maka pihak yang dituju akan di reminder dari sistem dan mau gak mau harus membuka filenya.

Jika masih berlarut-larut dan mengakibatkan resiko tadi menjadi fakta, maka pihak yang bersangkutan di beri surat peringatan.

Nah, kalau sudah ada sistem kayak di atas sih enak, kalau belum ada? Artinya bergantung lagi pada action dan komitmen top management.

Sama seperti Jakarta, sudah terbaca resiko APBD adalah pejabat yang korup, susahnya pembahasan rancangan APBD dengan DPRD dan juga masyarakat non KTP yang tidak mau di relokasi sehingga timbul konflik.

Sehingga, di Jakarta yang paling ditekankan untuk meminimalkan resiko adalah komitmen dan kesungguhan kinerja para pemegang kebijakan, termasuk pemerintah.

Begitu pentingnya manajemen resiko. So, jangan salah pilih.

Advertisements

One thought on “Budaya Resiko dan Komitmen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s