Mencari Langkah Konkrit Sang Gubernur Kreatif

Sebelum menghadiri acara “Kumpul Masyarakat Kreatif, Digital dan Perfilman” kemarin (14/1/17) di pikiran saya cuma satu, para calon gubernur DKI yang diundang akan berdebat tentang hal yang sebetulnya sudah jelas, sudah semestinya, tinggal bagaimana aplikasinya. Jadi ini debat tentang siapa yang paling siap untuk mengaplikasi. Bukan lagi bicara soal ide yang retorik.

Jakarta menjadi smart city, ya sudah seharusnya. Jakarta memiliki sistem yang terintegrasi, ya sudah jelas harus donk. Jakarta punya infrastruktur digital yang top sekelas Singapura, ya ini ide lama. Jakarta sebagai kiblat fashion Asia, punya major tourist attraction seperti Merlion Park ataupun Champ De Mars sih seharusnya sudah bukan wacana.

Jadi semua itu sudah bukan ide lagi, sudah tidak seharusnya membahas ide, tapi membahas sejauh mana tingkat kesiapan aplikasi dari ide tersebut. Ini yang saya harus lihat dari ketiga pasangan calon.

Kebetulan calon no 2, Pak Basuki atau Ahok mendapat giliran pertama. Seperti biasa dengan gayanya yang khas, Ahok menjelaskan visi misi Jakarta dalam 5 tahun kedepan. Secara teknis dan dengan penguasaan data yang baik, Ahok seperti biasa selalu menguasai panggung.

dscf2813

Ahok membaca puisi di akhir pemaparan, puisi berjudul “Negeriku” karya Mustofa Bisri

Intinya, kata Ahok, Jakarta harus membenahi infrastruktur pendukung, Jakarta punya misi 4G bahkan 4.5G di 2018 seperti di Singapura bekerjasama dengan Menkominfo, dan untuk itu sudah disiapkan dengan pemasangan shaft dudukan equipment di beberapa trotoar.

Ahok juga menyoroti aplikasi Qlue, dimana dengan aplikasi itu sebetulnya ide Jakarta Smart City sudah berjalan. Kendalanya ya tentu saja para pimpinan daerah RT/RW dan Kecamatan yang masih gaptek dan ogah untuk berhijrah ke arah digital.

Misi Ahok-Djarot kedepan adalah rencana penggunaan kota tua ataupun balaikota sebagai pusat pemutaran film-film Indie dan juga film Indonesia lainnya dan bahkan bisa dipakai untuk pembuatan film itu sendiri. Riilnya bagaimana? Kantor balaikota sudah dibuka untuk itu semua, with no cost.

Bahkan ide kedepannya lebih gila lagi, Ahok menantang PFN (Produksi Film Negara) bisa enggak memakai tanah PFN sebesar 2.4 hektar di Otista sebagai pusat kreatif dan perfilman dimana ada bioskop-bioskop kecil disana dengan dana pembangunannya dari Pemda DKI? Wow.

Yang menarik adalah ketika Ahok ditantang oleh Diajeng, CEO hijup.com untuk mengaplikasikan ide Jakarta memiliki distrik fashion dan hijab muslimah. Termasuk juga menjadikan co-working space tadi sebagai tourist attraction.

Disini saya penasaran apa jawaban Ahok dan ternyata, belio pun sudah menjalankan proyek itu dengan menggandeng Dekranasda dan Jakarta Fashion Week dimana Waduk Kebon Melati akan di jadikan sebagai pusat turis nantinya, memanfaatkan Tanahabang sebagai pusat hijab Indonesia, plus ditambah akses bus tingkat gratis yang berputar dari Bundaran HI hingga Museum Tekstil yang 6-7 bulan lagi di perkirakan selesai proyeknya.

antisipasi-banjir-jakarta_01

Waduk Kebon Melati Tanahabang saat ini. Sumber: artikel.rumah123.com

Artinya disini, Ahok sudah cukup paten dalam menjawab tantangan, dan sepertinya justru Ahok lah yang menantang kaum kreatif ini, ditantang mana proposalnya, mana idenya, mana masukannya, berani gak lu? Kira-kira kan begitu.

Masuk sesi kedua adalah sesinya Anies Baswedan, belio tampil dengan pasangannya, Sandiaga Uno. Tampil tenang, percaya diri dan tanpa teks tentunya, sosok Anies yang kalem dan matang seakan menyatakan belio siap menerima tantangan.

dscf2821

Point yang bisa diambil dari Anies untuk memajukan industri digital dan kreatif  adalah dengan program movement based leadership. Intinya begini, program ini mengajak semua insan kreatif, digital dan (mungkin) investor untuk bersama-sama berpikir dan berkonsep. Pemda tugasnya memfasilitasi dan eksekusi tetapi list konsep datang dari insan kreatif dan pengusaha itu sendiri.

Ide ini sebetulnya sama dengan yang lakukan Ahok di pemerintahan sekarang, karena tidak mungkin Pemda bergerak dalam bidang kreatif tanpa masukan dari pelaku industri itu sendiri, karena industri ini unik, tidak semua orang punya sense of art yang baik. Sehingga apapun ide Ahok dan Anies ya sama saja, memang seharusnya begitu.

Juga ide Anies untuk menggunakan gedung-gedung milik Pemda sebagai media yang bisa dipakai untuk produksi film, theater dan kesenian lainnya, seperti Esplanade di Singapura. Ini pun sebetulnya sudah di ungkapkan Ahok di pemaparan awal.

Termasuk penggunaan APBD di dalam realisasi, disini Anies tidak mau kalah dengan Ahok, cukup seru melihat bagaimana Anies berusaha sedemikian keras memaparkan rencana realisasi dengan detail sedemikian rupa, bahkan secara spontan Anies menyinggung sistem akustik di gedung Soehanna Hall (tempat acara) adalah sistem akustik terbaik, dan berencana membawa para engineer dan pekerja Soehanna Hall ke Gd Kemendikbud lt 6 yang akan digunakan sebagai “Esplanade”nya Jakarta.

sohanna-hall

Soehanna Hall, The Energy Building, sumber: LITAC Consultant

Sebetulnya saya jadi ingat Gd Kesenian Jakarta di Jl. Pasar Baru, kebetulan saya sendiri pernah menggunakan gedung itu untuk paduan suara tingkat mahasiswa. Sistem akustiknya sangat bagus, dan di desain memang untuk pertunjukan. Kekurangan gedung itu dua, kurang luas dan desain klasik gedung tersebut tidak dirawat dengan baik.

Jika itu saja dimaksimalkan, di remajakan, diperluas dengan mempertahankan desain klasiknya. kita sudah punya “new esplanade” Jakarta. Atau gedung konser kelas dunia Aula Simfonia yang berada di daerah Kemayoran. Itu canggih banget lho.

Lelah sekali kita untuk membuat “new esplanade” yang “nebeng” dengan gedung Kemendikbud.

15205026044_6f46844fd1_b

Aula Simfonia, photo by Ardy Hadinata Kurniawan

Apapun itu, pemaparan Anies disini cukup terukur dan realistis. Dan ada ide baru yang menarik yaitu ide untuk membuat pekan budaya daerah di setiap minggu. Dari Pekan budaya Batak, budaya Minang, budaya Papua dsb. Mungkin ide ini terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval yang bisa begitu semarak dan meningkatkan wisatawan hingga ratusan persen.

Saya setuju ini, Jakarta seharusnya bisa menjadi barometer keragaman Indonesia, Jakarta adalah ibukota. Cuma masalahnya sekarang, apakah infrastruktur Jakarta sudah siap untuk menerima lonjakan wisatawan, jika benar ide itu diterapkan? Itu pertanyaan yang didasarkan pada fakta.

Oh ya, ada hal menarik yang ditanyakan oleh COO Bukalapak Willix Halim yang mempertanyakan bagaimana mengukur kinerja atau KPI pemerintahan. Atau dengan kata lain, bagaimana seorang gubernur mengukur kinerjanya sendiri? Di jawab oleh Anies dengan mengedepankan indeks kebahagiaan atau hapiness index.

Lalu bagaimana mengukur indikator hapiness index itu? Menurut Anies ada 33 indikator pengukur indeks kebahagiaan, dan nilai Jakarta saat ini adalah 68 dari 100. Sebetulnya indeks pengukuran ini sangatlah subjektif, dan tidak terlepas dari GDP kota itu sendiri, lagipula di situs resmi BPS Jakarta, BPS hanya mengambil sample 1,129 rumah tangga, sangat jauh dari jumlah rumah tangga di Jakarta yang sebesar 131,653 kepala rumah tangga.

Saya sendiri paham jikapun Anies tidak bisa menjelaskan secara terperinci, tentulah karena belio bukan Petahana, tetapi usaha keras Anies untuk membuat program yang terukur dengan fakta lapangan patut di apresiasi, ini sekali lagi tergantung dari luasnya pengetahuan sang pemapar.

Plus Sandiaga Uno yang cekatan menjawab pertanyaan dari Co-founder efishery, M Ihsan tentang keterlibatan pemerintah di dalam menjembatani UMKM perikanan yang berbasis digital dan dikaitkan misi mengapa paslon Anies-Sandi menolak reklamasi.

Disitu Sandi mengatakan sudah berbicara dengan Menteri Susi Pudjiasturi, sudah mendapat data riil dan akan take action dengan menggandeng startup digital yang fokus pada UMKM, ini langkah yang konkrit dan bisa di aplikasi mengingat backgroundlink Sandiaga ketika menjadi pengusaha. Hmm..nice one.

Kesempatan terakhir ada pada Agus Yudhoyono, mohon maaf jika saya harus menyebut pemaparan Agus sedikit njomplang dengan 2 calon sebelumnya. Satu hal saja, Agus memakai powerpoint untuk pemaparan.

dscf2824

Powerpoint adalah tools untuk presentasi yang sifatnya teknis, powerpoint cocok untuk berbisnis atau presentasi kinerja. Agus tidak sedang dalam posisi itu, posisi Cagub adalah posisi yang bisa dibilang mayoritas memakai skill komunikasi publik, bukan hapalan, bukan pula text book.

Toh pun jika memakai powerpoint, sebaiknya hanya berisi satu kalimat per slide yang menggambarkan isi pemaparan, detailnya ya si pemapar yang menjelaskan, contoh keren disini adalah Steve Jobs.

dscf2826

Presentasi AHY

Tapi okelah, Agus sudah berusaha keras menjelaskan tentang Jakarta Smart City, Jakarta yang terintegrasi dan memiliki akses digital (a.k.a koneksi internet ) di tempat umum dengan baik. Termasuk membuat “Kedai Jakarta” di sudut kota Jakarta yang tujuannya sebagai fasilitator kegiatan seni budaya.

Di sisi ini saya berpikir oke juga, cukup kreatif tapi ya itu tadi, AHY di depan panggung bukan sebagai tokoh kesenian nasional, tapi sebagai calon gubernur yang mengurusi aspek birokrasi, legal dan eksekusi. Sehingga lagi-lagi kembali ke “langkah kongkritnya apa”. Itu yang belum saya temukan. AHY masih berkutat disisi normatif dan text book.

Saya tidak ingin mengomentari idenya ber-mannequin challange di akhir acara karena itu sama sekali tidak cool, tidak memiliki value sebagai calon gubernur selain hanya sebagai seru-seruan. Tidak ada pesan moral yang bisa disampaikan, mau sesiap, sekeren atau selucu apapun. jadi gubernur bukan ajang bersenang-senang ala abege, kreatif disini tentu tetap harus bermakna.

Nah, Pilihan kembali ke masing-masing, semua ada plus dan minusnya, tinggal bagaimana anda, para pemilih yang ber-KTP DKI Jakarta untuk memilih yang plusnya paling banyak dengan minus (daya rusak) yang paling minimal.

Pilihan adalah milikmu!

Advertisements

6 thoughts on “Mencari Langkah Konkrit Sang Gubernur Kreatif

  1. Pingback: Seberapa Cepat Kita Berevolusi? | Ryo Kusumo

  2. Pingback: Rujuknya Blue Bird dan Gojek: “Welcome Sharing Economic” | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s