5 Hal Kenapa Saya Tidak Komentar Soal Pirsa Hots

anonymous

Pagi tadi saya di whatsapp oleh teman lama di Doha, kenapa saya tidak berkomentar atau menulis sesuatu di wall fesbuk perkara #baladacinta Rizieq Shihab atau Pirsa Hots, ini kan lagi hits menulis artikel soal ginian pasti ngeboom.

Coba saja lihat google, belum ada 24 jam isu beredar, meta search google soal Rizieq Shihab sudah berubah. Perhatikan.

rrizgoogle

Sangat luar biasa, 5 besar pencarian google berkaitan dengan perselingkuhan sang Habib. Lalu kenapa saya enggan membahas?

Simple saja, pertama karena seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan gitu? Buat saya, aib seks adalah aib yang sangat memalukan, sehingga tidak ada positifnya bagi saya untuk berkomentar atau sekedar share isu seperti itu.

Kedua, tentu berita itu belum tentu benar, sebelum ada klarifikasi dari pelakunya sendiri. Jika saya dan para kawan membahas berita itu, artinya kami sama saja dengan mereka yang hobi sebar berita tanpa dipikir lebih dulu.

Kalaupun isu benar, maka itulah cara Allah membuka aib bagi orang yang hobi buka aib. Jika hoax maka itupula cara Allah untuk mengingatkan, bahwa apapun bisa terjadi. Besok wajah di atas, hari ini wajah terbenam di dasar tanah.

Oya, jangan geer lantas disamakan dengan kisah Nabi Yusuf yang diberi cobaan fitnah. Beda. Nabi Yusuf tidak pernah berembel-embel pilih paslon nomor sekian ketika bernegara dan berdakwah.

Ketiga, meskipun saya tidak suka terhadap FPI, tapi muslim tetap agama saya. Yang saya tidak suka adalah kelakuannya, bukan agamanya. Bedakan. Jadi, apapun itu Rizieq tetaplah satu muslim dengan saya, dan tabayyun adalah jawabannya.

Keempat, kalau mau dirunut, mungkin hoax dan fitnah yang disebar oleh mereka jauh lebih keji daripada ini, termasuk fitnah palu arit. Jadi jika saya share atau komen, maka saya tidak ada bedanya dengan mereka. Buat apa?

Kelima, sebagai sarana saya menahan diri. Betul memang, kesulitan terbesar adalah melawan hawa nafsu, hawa nafsu bukan hanya soal manahan “si kecil”, tapi juga soal share dan komen berita heboh.

Salam

Anonymous is never wrong, they just come and play..

So, enjoy the game..

Advertisements

Budaya Resiko dan Komitmen

win875-040-0002-620x350Ada tiga parameter primer yang harus diperhatikan sebelum menjalankan sebuah project yaitu Model, Budget dan Risk.

Kriteria Model; bisa dilihat, bisa di hitung, bisa di design, bisa di tolak ataupun di terima. Budget; bisa dihitung, bisa di ukur, bisa dimanipulasi (dengan hutang) bahkan bisa dihilangkan sama sekali (angel investor).

Sedangkan terakhir, yaitu Risk atau resiko adalah unik, tidak ada kriteria spesifik yang bisa di raba ataupun dihitung. Hanya bisa dimitigasi dan direncanakan. Jika pun sudah dilakukan mitigasi, apakah resiko tersebut hilang? Tidak. Karena bicara resiko adalah bicara probabilitas. Itulah guna manajemen resiko.

400px-risk_management_elements

Pendekatan semodern Montecarlo yang menggantikan model AHP pun hanya bisa sebatas melihat mana item yang paling beresiko dengan variable frekuensi. Sederhananya, jika kita mau membuat nasi goreng, maka hal yang paling beresiko adalah; nasinya gosong, kurang garam, kurang bumbu atau kompor mbleduk.

Setelah dilakukan simulasi Montecarlo, kita mendapat bahwa item paling beresiko adalah nasinya gosong, mitigasi penyebab adalah pada saat memasak, nasi goreng sering kita tinggal nonton Uttaran.

Lalu apa cara meminimalkan resiko selanjutnya? Mudah, matikan televisi ketika memasak. Tapi apa betul action itu sudah kita lakukan? Tidak juga.

Nah sama seperti masak nasi goreng, hampir 80% perusahaan yang pernah saya singgahi jarang melakukan action terhadap resiko.

Kenapa? Alasan klise, karena “dari dulu sudah begitu, atau tidak ada cost”, alias budaya. Resiko hanya dianggap sebagai “yah, semua kan ada resikonya mas”. Gitu.

Misal adanya resiko telat bayar vendor, apakah akan terus lanjut diperbaiki sistem keuangan? Kan gak juga, karena terkait aturan perusahaan dalam hal pembayaran alias budaya akutansi perusahaan.

Lho, terus bagaimana? Ya tim proyek berusaha saja semaksimal mungkin supaya vendor mau kirim barang. Tim proyek lagi-lagi harus babak belur.

Belum ada monitoring resiko yang terintegrasi seperti SAP, dimana setiap pihak yang terkait risk, wajib diberi notifikasi di dalam sistem itu, di beri target tanggal. Jika tanggal sudah terlewat dan belum ada action, maka pihak yang dituju akan di reminder dari sistem dan mau gak mau harus membuka filenya.

Jika masih berlarut-larut dan mengakibatkan resiko tadi menjadi fakta, maka pihak yang bersangkutan di beri surat peringatan.

Nah, kalau sudah ada sistem kayak di atas sih enak, kalau belum ada? Artinya bergantung lagi pada action dan komitmen top management.

Sama seperti Jakarta, sudah terbaca resiko APBD adalah pejabat yang korup, susahnya pembahasan rancangan APBD dengan DPRD dan juga masyarakat non KTP yang tidak mau di relokasi sehingga timbul konflik.

Sehingga, di Jakarta yang paling ditekankan untuk meminimalkan resiko adalah komitmen dan kesungguhan kinerja para pemegang kebijakan, termasuk pemerintah.

Begitu pentingnya manajemen resiko. So, jangan salah pilih.

Engineer Jadi Operator, Gak Malu?

chinmiSaya termasuk pensiunan pembaca Kung Fu Boy yang kaffah, alias sudah mencapai umur matang manggis untuk sekedar menikmati tendangan Chinmi yang legendaris.

Tapi saya termasuk kinyis untuk selalu ingat adegan pertarungan Chinmi dengan sahabatnya Sie Fan, sang ahli tongkat di episode awal komik Kung Fu Boy.

Singkat cerita, Chinmi yang ahli bertarung tangan kosong ini harus mengakui kehebatan ilmu tongkat Sie Fan, berapa kalipun pertandingan diulang, Chinmi pasti kalah.

Chinmi hampir mati penasaran, hingga pada suatu malam Chinmi mendapat dua Kutu dari guru Sie Fan, yang satu Kutu bebas dan yang satu lagi di dalam sebuah kotak. Kutu yang sama jenisnya, yang membedakan adalah jangkauan lompatannya.

Kutu yang bebas, memiliki lompatan yang jauh lebih tinggi dari Kutu yang ada di dalam kotak. Kutu yang didalam kotak selalu kejedut tutup kotak setiap kali dia melompat, berbanding terbalik dengan Kutu yang bebas tanpa kotak.

Chinmi merasa di dalam kotak, dia tidak bisa berkembang jika merasa diri sudah puas dan tidak melakukan hal yang lebih dari yang selama ini dia lakukan. Setelah Chinmi sadar, sang guru pun membuka pintu padepokan lebar-lebar, dan apa yang dia lihat?

Di tengah malam itu, Chinmi melihat Sie Fan masih berlatih tongkat tanpa lelah, Sie Fan rela memangkas waktu istirahatnya demi berlatih ilmu tongkat berpilin. Sie Fan yang polos, menjadi demikian hebat.

chinmi6

Akhirnya, Chinmi pun mengakui kelemahannya hingga dia berlatih lebih gila, dan pada akhirnya Chinmi pun bisa menahan seri Sie Fan.

Cerita di atas sih luar biasa bagi saya, dan harusnya bagi kawulo muda semua. Dan hari ini, saya boleh sedikit berbangga setelah template minute of meeting di tempat saya nguli disetujui.

Lho, MOM? Engineer bikin template MOM?

MOM yang sepele,  isinya cuma no, item description, action by, PIC dan date required. Semua orang pun bisa, tapi gak semua orang punya keberanian untuk merubah template lama yang jadul menjadi lebih modern dan enak dibaca.

Disini saya menjadi operator, menjadi admin.

Sama halnya ketika seorang mechanical engineer yang seharian menghitung kapasitas pompa, tapi gak pernah me-running pompa itu sendiri, atau electrical dengan beratus lembar single line diagram tapi gak mau pasang lampu, apalagi jadi admin.

Gak semua orang berani untuk bertindak, apalagi itu diluar job desc-nya. Do you think that your job desc is protect you? Totally wrong, job desc is just restrict you from beyond your limit.

Ah, engles-engles yang dipaksakan, supaya terlihat artsy. Itu pikirmu, pikirku tidak.

Engles-engles itu hanyalah sebuah upaya optimasi bahasa dari susunan elemen berdialek ndeso menjadi “biyon nde limit”.

#laifgols

quote-your-limits-are-somewhere-up-there-waiting-for-you-to-reach-beyond-infinity-henry-h-arnold-77-75-09