Humaniora · Politik

5 Hal Kenapa Saya Tidak Komentar Soal Pirsa Hots

anonymous

Pagi tadi saya di whatsapp oleh teman lama di Doha, kenapa saya tidak berkomentar atau menulis sesuatu di wall fesbuk perkara #baladacinta Rizieq Shihab atau Pirsa Hots, ini kan lagi hits menulis artikel soal ginian pasti ngeboom.

Coba saja lihat google, belum ada 24 jam isu beredar, meta search google soal Rizieq Shihab sudah berubah. Perhatikan.

rrizgoogle

Sangat luar biasa, 5 besar pencarian google berkaitan dengan perselingkuhan sang Habib. Lalu kenapa saya enggan membahas?

Simple saja, pertama karena seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, bukan gitu? Buat saya, aib seks adalah aib yang sangat memalukan, sehingga tidak ada positifnya bagi saya untuk berkomentar atau sekedar share isu seperti itu.

Kedua, tentu berita itu belum tentu benar, sebelum ada klarifikasi dari pelakunya sendiri. Jika saya dan para kawan membahas berita itu, artinya kami sama saja dengan mereka yang hobi sebar berita tanpa dipikir lebih dulu.

Kalaupun isu benar, maka itulah cara Allah membuka aib bagi orang yang hobi buka aib. Jika hoax maka itupula cara Allah untuk mengingatkan, bahwa apapun bisa terjadi. Besok wajah di atas, hari ini wajah terbenam di dasar tanah.

Oya, jangan geer lantas disamakan dengan kisah Nabi Yusuf yang diberi cobaan fitnah. Beda. Nabi Yusuf tidak pernah berembel-embel pilih paslon nomor sekian ketika bernegara dan berdakwah.

Ketiga, meskipun saya tidak suka terhadap FPI, tapi muslim tetap agama saya. Yang saya tidak suka adalah kelakuannya, bukan agamanya. Bedakan. Jadi, apapun itu Rizieq tetaplah satu muslim dengan saya, dan tabayyun adalah jawabannya.

Keempat, kalau mau dirunut, mungkin hoax dan fitnah yang disebar oleh mereka jauh lebih keji daripada ini, termasuk fitnah palu arit. Jadi jika saya share atau komen, maka saya tidak ada bedanya dengan mereka. Buat apa?

Kelima, sebagai sarana saya menahan diri. Betul memang, kesulitan terbesar adalah melawan hawa nafsu, hawa nafsu bukan hanya soal manahan “si kecil”, tapi juga soal share dan komen berita heboh.

Salam

Anonymous is never wrong, they just come and play..

So, enjoy the game..

Advertisements
Sosial

Budaya Resiko dan Komitmen

win875-040-0002-620x350Ada tiga parameter primer yang harus diperhatikan sebelum menjalankan sebuah project yaitu Model, Budget dan Risk.

Kriteria Model; bisa dilihat, bisa di hitung, bisa di design, bisa di tolak ataupun di terima. Budget; bisa dihitung, bisa di ukur, bisa dimanipulasi (dengan hutang) bahkan bisa dihilangkan sama sekali (angel investor).

Sedangkan terakhir, yaitu Risk atau resiko adalah unik, tidak ada kriteria spesifik yang bisa di raba ataupun dihitung. Hanya bisa dimitigasi dan direncanakan. Jika pun sudah dilakukan mitigasi, apakah resiko tersebut hilang? Tidak. Karena bicara resiko adalah bicara probabilitas. Itulah guna manajemen resiko.

400px-risk_management_elements

Pendekatan semodern Montecarlo yang menggantikan model AHP pun hanya bisa sebatas melihat mana item yang paling beresiko dengan variable frekuensi. Sederhananya, jika kita mau membuat nasi goreng, maka hal yang paling beresiko adalah; nasinya gosong, kurang garam, kurang bumbu atau kompor mbleduk.

Setelah dilakukan simulasi Montecarlo, kita mendapat bahwa item paling beresiko adalah nasinya gosong, mitigasi penyebab adalah pada saat memasak, nasi goreng sering kita tinggal nonton Uttaran.

Lalu apa cara meminimalkan resiko selanjutnya? Mudah, matikan televisi ketika memasak. Tapi apa betul action itu sudah kita lakukan? Tidak juga.

Nah sama seperti masak nasi goreng, hampir 80% perusahaan yang pernah saya singgahi jarang melakukan action terhadap resiko.

Kenapa? Alasan klise, karena “dari dulu sudah begitu, atau tidak ada cost”, alias budaya. Resiko hanya dianggap sebagai “yah, semua kan ada resikonya mas”. Gitu.

Misal adanya resiko telat bayar vendor, apakah akan terus lanjut diperbaiki sistem keuangan? Kan gak juga, karena terkait aturan perusahaan dalam hal pembayaran alias budaya akutansi perusahaan.

Lho, terus bagaimana? Ya tim proyek berusaha saja semaksimal mungkin supaya vendor mau kirim barang. Tim proyek lagi-lagi harus babak belur.

Belum ada monitoring resiko yang terintegrasi seperti SAP, dimana setiap pihak yang terkait risk, wajib diberi notifikasi di dalam sistem itu, di beri target tanggal. Jika tanggal sudah terlewat dan belum ada action, maka pihak yang dituju akan di reminder dari sistem dan mau gak mau harus membuka filenya.

Jika masih berlarut-larut dan mengakibatkan resiko tadi menjadi fakta, maka pihak yang bersangkutan di beri surat peringatan.

Nah, kalau sudah ada sistem kayak di atas sih enak, kalau belum ada? Artinya bergantung lagi pada action dan komitmen top management.

Sama seperti Jakarta, sudah terbaca resiko APBD adalah pejabat yang korup, susahnya pembahasan rancangan APBD dengan DPRD dan juga masyarakat non KTP yang tidak mau di relokasi sehingga timbul konflik.

Sehingga, di Jakarta yang paling ditekankan untuk meminimalkan resiko adalah komitmen dan kesungguhan kinerja para pemegang kebijakan, termasuk pemerintah.

Begitu pentingnya manajemen resiko. So, jangan salah pilih.

Basa-Basi · Humaniora

Engineer Jadi Operator, Gak Malu?

chinmiSaya termasuk pensiunan pembaca Kung Fu Boy yang kaffah, alias sudah mencapai umur matang manggis untuk sekedar menikmati tendangan Chinmi yang legendaris.

Tapi saya termasuk kinyis untuk selalu ingat adegan pertarungan Chinmi dengan sahabatnya Sie Fan, sang ahli tongkat di episode awal komik Kung Fu Boy.

Singkat cerita, Chinmi yang ahli bertarung tangan kosong ini harus mengakui kehebatan ilmu tongkat Sie Fan, berapa kalipun pertandingan diulang, Chinmi pasti kalah.

Chinmi hampir mati penasaran, hingga pada suatu malam Chinmi mendapat dua Kutu dari guru Sie Fan, yang satu Kutu bebas dan yang satu lagi di dalam sebuah kotak. Kutu yang sama jenisnya, yang membedakan adalah jangkauan lompatannya.

Kutu yang bebas, memiliki lompatan yang jauh lebih tinggi dari Kutu yang ada di dalam kotak. Kutu yang didalam kotak selalu kejedut tutup kotak setiap kali dia melompat, berbanding terbalik dengan Kutu yang bebas tanpa kotak.

Chinmi merasa di dalam kotak, dia tidak bisa berkembang jika merasa diri sudah puas dan tidak melakukan hal yang lebih dari yang selama ini dia lakukan. Setelah Chinmi sadar, sang guru pun membuka pintu padepokan lebar-lebar, dan apa yang dia lihat?

Di tengah malam itu, Chinmi melihat Sie Fan masih berlatih tongkat tanpa lelah, Sie Fan rela memangkas waktu istirahatnya demi berlatih ilmu tongkat berpilin. Sie Fan yang polos, menjadi demikian hebat.

chinmi6

Akhirnya, Chinmi pun mengakui kelemahannya hingga dia berlatih lebih gila, dan pada akhirnya Chinmi pun bisa menahan seri Sie Fan.

Cerita di atas sih luar biasa bagi saya, dan harusnya bagi kawulo muda semua. Dan hari ini, saya boleh sedikit berbangga setelah template minute of meeting di tempat saya nguli disetujui.

Lho, MOM? Engineer bikin template MOM?

MOM yang sepele,  isinya cuma no, item description, action by, PIC dan date required. Semua orang pun bisa, tapi gak semua orang punya keberanian untuk merubah template lama yang jadul menjadi lebih modern dan enak dibaca.

Disini saya menjadi operator, menjadi admin.

Sama halnya ketika seorang mechanical engineer yang seharian menghitung kapasitas pompa, tapi gak pernah me-running pompa itu sendiri, atau electrical dengan beratus lembar single line diagram tapi gak mau pasang lampu, apalagi jadi admin.

Gak semua orang berani untuk bertindak, apalagi itu diluar job desc-nya. Do you think that your job desc is protect you? Totally wrong, job desc is just restrict you from beyond your limit.

Ah, engles-engles yang dipaksakan, supaya terlihat artsy. Itu pikirmu, pikirku tidak.

Engles-engles itu hanyalah sebuah upaya optimasi bahasa dari susunan elemen berdialek ndeso menjadi “biyon nde limit”.

#laifgols

quote-your-limits-are-somewhere-up-there-waiting-for-you-to-reach-beyond-infinity-henry-h-arnold-77-75-09

Basa-Basi · Indonesia

8 Peristiwa Penting di 2016 Yang Patut Kita Syukuri

58237_77220_dimas-kanjeng-melamunTahun 2016 lalu sepertinya adalah tahun yang sangat unik, tahun yang bagi sebagian orang merupakan tahun yang berat, penuh perjuangan, sekaligus lucu.

Konstelasi politik lagi-lagi memecah belah kita, bangsa yang sedari awal berdiri sudah terpecah hanya karena ulah tukang bubur yang menaruh toppingnya di atas bubur putih. Kita pun terpecah antara bubur ayam diaduk dan tidak diaduk. Coba toppingnya di taruh piring lain, ya kan?

Di tahun itu toleransi keberagaman kita diuji. Tahun 2016 juga tercatat sebagai tahun yang menegangkan otot kepala, apalagi kalau bukan maraknya hoax di medsos, termasuk ajakan kepada intoleransi di whatsapp grup.

Ya alangkah lelahnya di tahun itu, tapi ah..kita sebagai manusia kan bisanya hanya menggerutu, padahal kodratnya disuruh bersyukur. Gerutu wajar, tapi syukur itu wajib, bukan begitu abi, umi, akhi dan ukhti?

Oke, inilah beberapa peristiwa penting yang masuk di “radar” sederhana saya sepanjang tahun 2016 lalu yang patut kita syukuri bersama.

1. Munculnya Artikel Fenomenal di awal tahun

Ini bukan main-main, artikel ini hanya dalam 3 hari sudah dibaca 600 ribu pembaca, menjadi headline dan sempat nangkring di number one trending topic selama 4 jam. Membuat sebagian besar pembacanya tersenyum namun tak jarang yang muak. Dan sebagian kecil lagi justru gagal paham pada artikel satir ini.

Kita patut bersyukur, karena artikel ini membuka mata kita soal sosok si anak presiden yang kerap kali dinilai penuh kolusi dan nepotisme seperti halnya penilaian terhadap anak pejabat lain.

Sayang, penulisnya ternyata pemalu, sudah di wawancara oleh MetroTV (suaranya masuk tipi) eh malah nolak waktu diajak mbak Najwa nemenim Kaesang di acaranya. Alasannya klasik, gak punya ongkos. Duh!

Andikan belio tampil, mungkin sekarang sudah setenar Jonru.

2. Munculnya Sosok Awkarin

Sudah bukan hal yang perlu di debatkan, awkarin jelas adalah spesies fenomenal yang muncul setiap 100 tahun sekali. Muncul dengan jargon “kalian suci, aku penuh dosa” ini seakan mendobrak kesombongan kaum semi-proletar ibukota yang menyembah kesucian, kebenaran dan tentunya iman, yang selalu diumbar di medsos.

Saya jadi teringat band punk Inggris yang muncul sebagai bentuk protes kepada kemapanan hidup kaum Inggris yang suka gaya borjuis, awkarin seakan menciptakan gerakan perlawanan itu tadi.

Tapi apapun, kita patut bersyukur, karena awkarin seakan menyentil kita semua. Doi ingin berkata bahwa tidak semua yang di status kalian itu benar, tidak semua lambang jilbab maupun kebaikan  dan kepinteran itu asli.

Awkarin yang dulunya murid pandai dan berjilbab berubah 187 derajat dengan satu dalil, anti kemapanan. Aku bebas, tidak mau dikekang, duitku cari sendiri..ya gitu-gitu lah.

Okelah saya sempat mencercanya sih, tapi ya kan tetap harus disyukuri. Kalau enggak ada awkarin, dunia hiburan tanah air kering lawakan satir.

3. Fahri Hamzah Mengaku Seperti Steve Jobs

bacaini_pks__fahri_h
Sumber: http://www.detik.com

Alhamdulillah Wa Syukurilah, ternyata ada..sekali lagi, ADA orang Indonesia yang bisa mengaku seperti Steve Jobs, sang pendiri Apple.

Bahkan ketika CEO Microsoft pun merendahkan dirinya ketika dibandingkan dengan Steve Jobs, dan Mark Zuckenberg sang pujaan itupun enggan disejajarkan dengan almarhum. Eh justru politikus dari Indonesia yang mensejajarkan dirinya sendiri dengan Steve Jobs.

Dengan alasan klasik, bahwa dipecatnya dirinya dari PKS sama seperti Steve Jobs yang dulu dipecat sendiri oleh Apple, lalu kemudian masuk lagi hingga membuat Apple semakin berkibar.

Betapa mengharukannya berita itu, bahwa amatlah pantas seorang Fahri Hamzah mensejajarkan dirinya dengan Steve Jobs, bahkan lebih hebat.

Karena Fahri Hamzah tidak perlu lagi PKS, melainkan mendirikan partai sendiri, PKS Perjuangan. (lengkap dengan mars ala Per**do).

4. Kasus Bom Sarinah

Jelas yang disyukuri bukan kejadiannya, karena jatuh korban dan sangat berbahaya. Yang patut disyukuri bahwa Tuhan masih sayang sama Indonesia. Untuk Indonesia, Tuhan menciptakan ciptaan khususnya: Polisi ganteng, dan Tukang Sate Pak Jamal.

Setidaknya dua ikon itu cukup menggetarkan bulu kuduk masyarakat Jakarta yang khusyuk dalam berhastag, dengan mempopulerkan hastag #KamiTidakTakut dan #PolisiGanteng #KamiNaksir.

Betulkah kami tidak takut? Yang betul adalah kami sudah lelah, perpecahan kami semenjak Piplres sudah mengantarkan kami di titik jenuh…hufft.

Ya Allah, hidupkanlah Dono dan Kasino, sehingga kami bisa tertawa lagi.

5. Zaskia Gotik, Duta Pancasila

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR Abdul Karding (kiri) menyerahkan piagam kepada Zaskia Gotik disela-sela Sosialisasi 4 Pilar di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta,

Holy Zaskia!

Itulah kalimat saya ketika mendengar Zaskia Gotik yang melecehkan lambang negara, justru diangkat menjadi duta pancasila. Ya kita tahu bahwa niat PKB mengangkat Zaskia adalah menjadikan si eneng agar lebih memahami Pancasila dan endesbray endesbray nya itu..Tapi..ah sudahlah, bukankah itu suatu rahmat Tuhan?

Zaskia, yang diberkahi adalah sosok antagonis yang berbalik menjadi protagonis dalam waktu sekejap, mana ada artis sehebat itu.

Bersyukurlah kita semua, karena sekarang Indonesia punya duta Pancasila. Untuk Indonesia yang lebih kece, bukan begitu neng?

6. Ahok dan Surat Al Maidah ayat 51

Kok perlu disyukuri? Lho iya, penyebutan Surat Al Maidah ayat 51 oleh Ahok justru membawa sebagian besar umat muslim membuka Al Quran nya kembali.

Al Quran yang sudah jarang dibuka, yang waktu membukanya hanya seimprit dibandingkan membuka grup whatsapp atau instagram, tiba-tiba rajin dibuka oleh kebanyakan masyarakat muslim. Apa sih isinya? Apa sih kandungannya? Kok jadi rame. Gitulah kira-kira.

Jika Al Quran diibaratkan blog, maka traffic per periode itu menghujam ke atas, bahkan mungkin over capacity dan lanjut ngehang, tapi karena Al Quran itu kitab suci, maka tak akan pernah habis kapasitasnya. Disitulah kita harus bersyukur.

Eh sayangnya, setelah tahu isi Surat Al Maidah 51 itu apa, mereka berbondong-bondong kembali menekuni whatsapp grup, melihat-lihat dengan khusyuk apa ucapan habib, apa ucapan politikus, apa ucapan Kapolri dsb. Beramai-ramai menghujat, beramai-ramai menyebarkan berita hoax..endesbray…endesbray..

Al Quran pun kembali meringkung di pojokan, sepi..

Yang ramai..Monas..

7. Padepokan Kanjeng Dimas

haha252c2bmeme2blucu2bdimas2bkanjeng2bini2bbakal2bmembuatmu2btertawa2bterpingkal-pingkal
Sumber: http://www.masterberita.com

Double it! Kata Will Smith di film Suicide Squad sebelum membunuh korbannya. perkataan tersebut sakti karena dalam sekejap rekening Will Smith pun bertambah 2x lipat.

Apakah kita tidak pantas bersyukur jika kita punya seorang ahli pengganda uang seperti Kanjeng Dimas, dimana kita tinggal bilang “double it!” atau “gandakan”, maka dalam sekejap uang kita bertambah berlipat-lipat.

Yah, begitulah seorang Kanjeng Dimas yang mewarnai berita di 2016 yang patut kita syukuri. Disyukuri karena Indonesia punya pengganda uang yang bahkan seorang doktor lulusan US sekelas Marwah Daud Ibrahim pun mati-matian membelanya, artinya kan ini istimewa.

Saya sih maunya bukan cuma uang yang digandakan, tapi juga logika dan otak kita, sehingga kita lebih mawas diri dalam menerima berita hoax.

Oya, dan satu lagi, menggandakan rasa malu. Rasa malu jika ingin menghujat, rasa malu ketika ingin mengemis proyek dan rasa malu ketika ingin korupsi.

Untung kita punya Kanjeng Dimas, bukan begitu Kanjeng?

8. Nassar dan Muzdalifah Sudah Move On

20150730-nassar-dan-muzdalifah_20150730_083511
Sumber: http://www.wartakota.tribunnews.com

Jika Eropa bangga memiliki Einstein, Amerika jaya bersama Zuckenberg dan Korut tergila-gila dengan Kim Jong Un, maka (alhamdulillah..) Indonesia punya Nassar dan Muzdalifah, duet maut yang menggetarkan fana.

Sebetulnya wahai kaum pecinta good-life, berita inilah berita pamungkas di 2016 yang patut kita syukuri, berita apik yang mengalahkan hebohnya berita Saiful Jamil dengan “hap” nya atau diperpanjangnya episode “Janji Suci Rafi-Gigi”.

Jika di 2015 batin kami terguncang dengan berita perceraian mereka, maka (sekali lagi..) kami bersyukur saat ini mereka sudah move on, Nassar sudah punya pacar lagi dan mbak Mus juga sudah bergandengan mesra dengan Ustadz Abie Tsabit.

Bukankah ini patut disyukuri karena bisa berdampak pada adek-adek kita yang selalu bilang gagal move on? Come’on gaes, Nassar aja bisa, masak kamu yang cowok enggak?

So, jangan ganggu mereka wahai netizen, jangan ganggu mereka!…Karena Indonesia, butuh lebih dari sekedar hiburan.

Humaniora · Teknologi

Seberapa Cepat Kita Berevolusi?

kodak-ektra-phone

Apa yang paling menentukan dari sebuah evolusi?

Semua sepakat bahwa yang paling menentukan adalah ide, adaptability, ketekunan proses dan sustainability. Bagaimana iphone bisa menjadi pionir gadget minimalis dan full feature di era milenia, bagaimana China bisa berkembang menjadi produsen smartphone dengan hanya “nebeng” model, atau bagaimana Sony bisa survive dari hanya pembuat tivi berwarna dan elektronik pasaran.

Itu disisi telekomunikasi, disisi industri konstruksi, bagaimana kita melihat BUMN Wijaya Karya dan Adhi Karya bisa berevolusi ke dunia EPC tanpa meninggalkan core-nya di dunia industri sipil. Right, that’s we called evolution.

Jika kita hanya bicara proses evolusi, maka mata rantainya hanya empat hal diatas. Kalau hanya empat hal itu saja, Nokia pun berevolusi, Kodak pun berevolusi, kata siapa Nokia dan Kodak mati?

Nokia sudah mengembangkan smartphone Lumia yang berbasis Windows dan Nokia 6 yang berbasis Android di 2016. Kodak pun sudah berevolusi dengan mengembangkan kamera semi digital yang bahkan itu dilakukannya pada tahun 1986. Dan sekarang mengembangkan KODAK EKTRA smartphone di 2016 dan fokus pada pembuatan film di antaranya The Walking Dead dan La La Land.

kodak-ektra-phone
Kodak Ektra 35mm jadul yang di foto dengan Kodak Ektra Smartphone

Survive? Ya, mereka survive setidaknya hingga hari ini, tapi mereka harus mengubur impian untuk kembali menjadi leader. Nokia adalah leader tak terbantahkan di era 90 dan Kodak adalah raja fotografi di era 70/80. Tapi mereka terlena dengan kursi empuk singgasana, merasa kuat dengan perut yang gendut.

They are fat, they are too late to wake up. Mereka lambat, Kodak masih berasumsi bahwa format rol film masih menguntungkan, Kodak enggan mengakui Canon/Nikon/Sony yang hadir dengan format digital, bahkan pesaing abadinya, Fujifilm.

Disini ada hal penting yang kadang terlupakan, yang tidak ada (atau tidak terlihat) di dalam rantai proses, yaitu speed. Kecepatan.

Kecepatan dalam proses bisnis adalah sesuatu yang intangible, tidak nyata, sulit di ukur, kecepatan proses itu relatif, kecepatan proses bisa diukur jika ada pembanding. Dan Nokia/Kodak sadar, pesaing mereka sudah jauh mendahului mereka ketika mereka baru bangun tidur.

Inilah evolusi, bukan hanya soal ide, tapi seberapa cepat kita bisa mengabsorb perubahan, menemukan ide dan secepatnya bergerak. Lihat kasus bisnis Blue Bird versus transportasi online di Jakarta.

Termasuk di dalam pemerintahan, digital dan media sosial sudah harus bisa di aplikasi di dalam regulasi. Aplikasi Qlue dan sejenisnya yang dikembangkan, sebaiknya di bakukan menjadi satu template proses bisnis dan regulasi pemerintah, dan applicable dipakai di kota besar Indonesia. Mungkin akan menjadi next tulisan saya 🙂

20160624_023112_harianterbit_qlue_aplikasi
Contoh penggunaan Qlue, Jakarta Smart City

Inilah yang kami, generasi milenia akan kerjakan, bukan hanya berharap.

We are here, to catch the evolution

Ekonomi · Politik

Mencari Langkah Konkrit Sang Gubernur Kreatif

Sebelum menghadiri acara “Kumpul Masyarakat Kreatif, Digital dan Perfilman” kemarin (14/1/17) di pikiran saya cuma satu, para calon gubernur DKI yang diundang akan berdebat tentang hal yang sebetulnya sudah jelas, sudah semestinya, tinggal bagaimana aplikasinya. Jadi ini debat tentang siapa yang paling siap untuk mengaplikasi. Bukan lagi bicara soal ide yang retorik.

Jakarta menjadi smart city, ya sudah seharusnya. Jakarta memiliki sistem yang terintegrasi, ya sudah jelas harus donk. Jakarta punya infrastruktur digital yang top sekelas Singapura, ya ini ide lama. Jakarta sebagai kiblat fashion Asia, punya major tourist attraction seperti Merlion Park ataupun Champ De Mars sih seharusnya sudah bukan wacana.

Jadi semua itu sudah bukan ide lagi, sudah tidak seharusnya membahas ide, tapi membahas sejauh mana tingkat kesiapan aplikasi dari ide tersebut. Ini yang saya harus lihat dari ketiga pasangan calon.

Kebetulan calon no 2, Pak Basuki atau Ahok mendapat giliran pertama. Seperti biasa dengan gayanya yang khas, Ahok menjelaskan visi misi Jakarta dalam 5 tahun kedepan. Secara teknis dan dengan penguasaan data yang baik, Ahok seperti biasa selalu menguasai panggung.

dscf2813
Ahok membaca puisi di akhir pemaparan, puisi berjudul “Negeriku” karya Mustofa Bisri

Intinya, kata Ahok, Jakarta harus membenahi infrastruktur pendukung, Jakarta punya misi 4G bahkan 4.5G di 2018 seperti di Singapura bekerjasama dengan Menkominfo, dan untuk itu sudah disiapkan dengan pemasangan shaft dudukan equipment di beberapa trotoar.

Ahok juga menyoroti aplikasi Qlue, dimana dengan aplikasi itu sebetulnya ide Jakarta Smart City sudah berjalan. Kendalanya ya tentu saja para pimpinan daerah RT/RW dan Kecamatan yang masih gaptek dan ogah untuk berhijrah ke arah digital.

Misi Ahok-Djarot kedepan adalah rencana penggunaan kota tua ataupun balaikota sebagai pusat pemutaran film-film Indie dan juga film Indonesia lainnya dan bahkan bisa dipakai untuk pembuatan film itu sendiri. Riilnya bagaimana? Kantor balaikota sudah dibuka untuk itu semua, with no cost.

Bahkan ide kedepannya lebih gila lagi, Ahok menantang PFN (Produksi Film Negara) bisa enggak memakai tanah PFN sebesar 2.4 hektar di Otista sebagai pusat kreatif dan perfilman dimana ada bioskop-bioskop kecil disana dengan dana pembangunannya dari Pemda DKI? Wow.

Yang menarik adalah ketika Ahok ditantang oleh Diajeng, CEO hijup.com untuk mengaplikasikan ide Jakarta memiliki distrik fashion dan hijab muslimah. Termasuk juga menjadikan co-working space tadi sebagai tourist attraction.

Disini saya penasaran apa jawaban Ahok dan ternyata, belio pun sudah menjalankan proyek itu dengan menggandeng Dekranasda dan Jakarta Fashion Week dimana Waduk Kebon Melati akan di jadikan sebagai pusat turis nantinya, memanfaatkan Tanahabang sebagai pusat hijab Indonesia, plus ditambah akses bus tingkat gratis yang berputar dari Bundaran HI hingga Museum Tekstil yang 6-7 bulan lagi di perkirakan selesai proyeknya.

antisipasi-banjir-jakarta_01
Waduk Kebon Melati Tanahabang saat ini. Sumber: artikel.rumah123.com

Artinya disini, Ahok sudah cukup paten dalam menjawab tantangan, dan sepertinya justru Ahok lah yang menantang kaum kreatif ini, ditantang mana proposalnya, mana idenya, mana masukannya, berani gak lu? Kira-kira kan begitu.

Masuk sesi kedua adalah sesinya Anies Baswedan, belio tampil dengan pasangannya, Sandiaga Uno. Tampil tenang, percaya diri dan tanpa teks tentunya, sosok Anies yang kalem dan matang seakan menyatakan belio siap menerima tantangan.

dscf2821

Point yang bisa diambil dari Anies untuk memajukan industri digital dan kreatif  adalah dengan program movement based leadership. Intinya begini, program ini mengajak semua insan kreatif, digital dan (mungkin) investor untuk bersama-sama berpikir dan berkonsep. Pemda tugasnya memfasilitasi dan eksekusi tetapi list konsep datang dari insan kreatif dan pengusaha itu sendiri.

Ide ini sebetulnya sama dengan yang lakukan Ahok di pemerintahan sekarang, karena tidak mungkin Pemda bergerak dalam bidang kreatif tanpa masukan dari pelaku industri itu sendiri, karena industri ini unik, tidak semua orang punya sense of art yang baik. Sehingga apapun ide Ahok dan Anies ya sama saja, memang seharusnya begitu.

Juga ide Anies untuk menggunakan gedung-gedung milik Pemda sebagai media yang bisa dipakai untuk produksi film, theater dan kesenian lainnya, seperti Esplanade di Singapura. Ini pun sebetulnya sudah di ungkapkan Ahok di pemaparan awal.

Termasuk penggunaan APBD di dalam realisasi, disini Anies tidak mau kalah dengan Ahok, cukup seru melihat bagaimana Anies berusaha sedemikian keras memaparkan rencana realisasi dengan detail sedemikian rupa, bahkan secara spontan Anies menyinggung sistem akustik di gedung Soehanna Hall (tempat acara) adalah sistem akustik terbaik, dan berencana membawa para engineer dan pekerja Soehanna Hall ke Gd Kemendikbud lt 6 yang akan digunakan sebagai “Esplanade”nya Jakarta.

sohanna-hall
Soehanna Hall, The Energy Building, sumber: LITAC Consultant

Sebetulnya saya jadi ingat Gd Kesenian Jakarta di Jl. Pasar Baru, kebetulan saya sendiri pernah menggunakan gedung itu untuk paduan suara tingkat mahasiswa. Sistem akustiknya sangat bagus, dan di desain memang untuk pertunjukan. Kekurangan gedung itu dua, kurang luas dan desain klasik gedung tersebut tidak dirawat dengan baik.

Jika itu saja dimaksimalkan, di remajakan, diperluas dengan mempertahankan desain klasiknya. kita sudah punya “new esplanade” Jakarta. Atau gedung konser kelas dunia Aula Simfonia yang berada di daerah Kemayoran. Itu canggih banget lho.

Lelah sekali kita untuk membuat “new esplanade” yang “nebeng” dengan gedung Kemendikbud.

15205026044_6f46844fd1_b
Aula Simfonia, photo by Ardy Hadinata Kurniawan

Apapun itu, pemaparan Anies disini cukup terukur dan realistis. Dan ada ide baru yang menarik yaitu ide untuk membuat pekan budaya daerah di setiap minggu. Dari Pekan budaya Batak, budaya Minang, budaya Papua dsb. Mungkin ide ini terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval yang bisa begitu semarak dan meningkatkan wisatawan hingga ratusan persen.

Saya setuju ini, Jakarta seharusnya bisa menjadi barometer keragaman Indonesia, Jakarta adalah ibukota. Cuma masalahnya sekarang, apakah infrastruktur Jakarta sudah siap untuk menerima lonjakan wisatawan, jika benar ide itu diterapkan? Itu pertanyaan yang didasarkan pada fakta.

Oh ya, ada hal menarik yang ditanyakan oleh COO Bukalapak Willix Halim yang mempertanyakan bagaimana mengukur kinerja atau KPI pemerintahan. Atau dengan kata lain, bagaimana seorang gubernur mengukur kinerjanya sendiri? Di jawab oleh Anies dengan mengedepankan indeks kebahagiaan atau hapiness index.

Lalu bagaimana mengukur indikator hapiness index itu? Menurut Anies ada 33 indikator pengukur indeks kebahagiaan, dan nilai Jakarta saat ini adalah 68 dari 100. Sebetulnya indeks pengukuran ini sangatlah subjektif, dan tidak terlepas dari GDP kota itu sendiri, lagipula di situs resmi BPS Jakarta, BPS hanya mengambil sample 1,129 rumah tangga, sangat jauh dari jumlah rumah tangga di Jakarta yang sebesar 131,653 kepala rumah tangga.

Saya sendiri paham jikapun Anies tidak bisa menjelaskan secara terperinci, tentulah karena belio bukan Petahana, tetapi usaha keras Anies untuk membuat program yang terukur dengan fakta lapangan patut di apresiasi, ini sekali lagi tergantung dari luasnya pengetahuan sang pemapar.

Plus Sandiaga Uno yang cekatan menjawab pertanyaan dari Co-founder efishery, M Ihsan tentang keterlibatan pemerintah di dalam menjembatani UMKM perikanan yang berbasis digital dan dikaitkan misi mengapa paslon Anies-Sandi menolak reklamasi.

Disitu Sandi mengatakan sudah berbicara dengan Menteri Susi Pudjiasturi, sudah mendapat data riil dan akan take action dengan menggandeng startup digital yang fokus pada UMKM, ini langkah yang konkrit dan bisa di aplikasi mengingat backgroundlink Sandiaga ketika menjadi pengusaha. Hmm..nice one.

Kesempatan terakhir ada pada Agus Yudhoyono, mohon maaf jika saya harus menyebut pemaparan Agus sedikit njomplang dengan 2 calon sebelumnya. Satu hal saja, Agus memakai powerpoint untuk pemaparan.

dscf2824

Powerpoint adalah tools untuk presentasi yang sifatnya teknis, powerpoint cocok untuk berbisnis atau presentasi kinerja. Agus tidak sedang dalam posisi itu, posisi Cagub adalah posisi yang bisa dibilang mayoritas memakai skill komunikasi publik, bukan hapalan, bukan pula text book.

Toh pun jika memakai powerpoint, sebaiknya hanya berisi satu kalimat per slide yang menggambarkan isi pemaparan, detailnya ya si pemapar yang menjelaskan, contoh keren disini adalah Steve Jobs.

dscf2826
Presentasi AHY

Tapi okelah, Agus sudah berusaha keras menjelaskan tentang Jakarta Smart City, Jakarta yang terintegrasi dan memiliki akses digital (a.k.a koneksi internet ) di tempat umum dengan baik. Termasuk membuat “Kedai Jakarta” di sudut kota Jakarta yang tujuannya sebagai fasilitator kegiatan seni budaya.

Di sisi ini saya berpikir oke juga, cukup kreatif tapi ya itu tadi, AHY di depan panggung bukan sebagai tokoh kesenian nasional, tapi sebagai calon gubernur yang mengurusi aspek birokrasi, legal dan eksekusi. Sehingga lagi-lagi kembali ke “langkah kongkritnya apa”. Itu yang belum saya temukan. AHY masih berkutat disisi normatif dan text book.

Saya tidak ingin mengomentari idenya ber-mannequin challange di akhir acara karena itu sama sekali tidak cool, tidak memiliki value sebagai calon gubernur selain hanya sebagai seru-seruan. Tidak ada pesan moral yang bisa disampaikan, mau sesiap, sekeren atau selucu apapun. jadi gubernur bukan ajang bersenang-senang ala abege, kreatif disini tentu tetap harus bermakna.

Nah, Pilihan kembali ke masing-masing, semua ada plus dan minusnya, tinggal bagaimana anda, para pemilih yang ber-KTP DKI Jakarta untuk memilih yang plusnya paling banyak dengan minus (daya rusak) yang paling minimal.

Pilihan adalah milikmu!