Fenomena Nyinyir Syar’i

Fenomena Nyinyir Syar’i

56cerewetBaru saja tadi malam, kami (tepatnya kami, karena beramai-ramai) melihat tulisan seorang kawan yang “hijrah”. Tulisannya bagi kami, agak menyentil kalau boleh dibilang nyinyir terhadap kawan kami yang lain, yang saat ini sedang di Ostrali untuk nonton konser Coldplay.

Nyinyiran yang (lagi-lagi) berbau agamis, yang intinya kalau ke luar negeri lebih baik mengkaji kitab suci, buat apa kalo untuk nonton konser. Ingin rasanya saya buat tulisan menohok bin menonjok ala progresif, tapi kok rasanya kurang intelek.

Memang apa sih salah kawan kami yang menonton Coldplay? Apa dia menelpon kalian buat pinjam uang? Apa minta kerjaan sama kalian? Bahkan meludah pun ditelannya sendiri karena tanganmu tidak dibawah mulutnya. Lha terus apa salahnya?

Cungpet saya memikirkan ini, bahkan istri pun tertawa membaca postingannya, “ni kayak cewek ya, nyinyir ala lambe turah”. Weleh-weleh..Lha wong tetangga saya saja yang setiap subuh ke Masjid dan tak lupa gosok gigi eh kaji Al Quran pun kemarin berangkat ke Ostrali lho! Apa dia termasuk kafir atau yang “belum tercerahkan”?

Baca juga: Ketika Agama Jadi Penglaris

Oke. Saya cerita sedikit soal tetangga saya itu ya, sebut saja namanya Mr.X.

Mr.X, asal tahu saja, tindak tanduknya sangat islami, sering terlihat di masjid, beberapa kelompok anak yatim yang masuk kedalam yayasan daerah kami adalah hasil karyanya. Termasuk membuat program hapal Qur’an ditingkat SD.

Bahkan terus terang, saya pernah mergokin ayah dan ibunya di swalayan belanja untuk keperluan anak yatim dengan total harga lebih dari harga kamera mirorless termahal yang bikin kulit bersinar kayak di iklan sabun. Tapi tak pernah ada yang tahu.

Dia pun tergabung dalam Mer-C, lembaga kesehatan yang fokus pada daerah konflik Palestina, meskipun tak pernah terjun langsung, tapi produktifitasnya menggalang kekuatan muslim peduli patut diacungi jempol. Mr. X turun sewaktu demo 212 lalu, bahkan menyumbang makanan. Sayang, blio cuma ngerasa kurang ganteng untuk masuk blog ini, jadinya menolak ku foto.

Lha terus blio sekarang nonton Coldplay, apa blio termasuk yang perlu dinyinyiri wahai akhi, wahai ukhti, duhai umi, duhai abi?

Baca juga: Agama (Memang) Perlu Di Bela, Lho Kok?

Apa memang kalian butuh perbandingan, untuk sekedar pengakuan bahwa kalian itu “hijrah”? Bahwa kalian itu nantinya ahli syurga? Bahwa nyinyir syar’i itu sebagian dari iman? Kapan bangsa kita bersatu, klo nyinyir saja harus berstatus..

Kok jadi inget cerita tentang dua sahabat, si A adalah ahli ibadah dan si B adalah ahli maksiat. Karena bosan, suatu saat mereka ingin bertukar posisi, si A ingin bermaksiat dan B sebaliknya. Ternyata umur keduanya tidaklah panjang. Si A meninggal ketika bermaksiat dan B justru meninggal ketika berlinang air mata taubat.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kita nanti. Bahkan ustad di komplek seminggu lalu berceramah soal trio lestari, yaitu dengki, ujub dan riya’. Trio lestari ini sangatlah berbahaya, bahkan bisa menolak semua amalan kita.

Kita tak pernah tahu apakah dengki, ujub dan riya’ itu hinggap ketika ketika berdakwah, ketika kita berstatus, apalagi ketika nyinyir. No one knows, hanya milik Yang Maha Tahu.

Yang pasti gaes, Mr X dan teman saya yang dinyinyiri itu pastilah punya duit banyak, dan saya termasuk yang gak punya duit untuk ke Ostrali..pingin sih saya iri, tapi ah, inget si trio lestari yang lain, trio rendang, ayam pop dan telur dadar..

Baca juga: Sang Perempuan Penjaga Bintang

Advertisements

9 thoughts on “Fenomena Nyinyir Syar’i

  1. Jleb bange sih ini,knapa ya mereka kok bgitu sombongnya dan bgitu mudahnya merendahkan orang lain,hrsnya smakin dalam agama kita smakin zuhud dn tunduk kita kpd Allah,jika niatnya dakwah ksn lbih baik di japri saja,drpd nyinyir yg baca banyak,toh org lain tau itu arahnya kmn..

    Like

  2. Memang lg berkembang Islam alisan nyinyir-isme di negeri kita ini.

    Belajar apapun agama ataupun yg lainnya ujung”nya kebaikannya hanya dapat diperoleh ketika orang tsb memiliki kebijaksanaan untuk mengambil yang terbaik dari yg dipelajari.

    Fenomena yang skrg terjadi kebanyakan merasa sdh lebih tahu banyak kemudian memandang remeh yg bukan “bagiannya”.
    Padahal belum tentu jg namanya tercantum di guest list-nya Allah sbg tamu pasti surganya. Orang yg model begini menurut gue akhirnya yg didapatkan dari apa yang dipelajarinya hanyalah rasa sombong dan merasa dia lebih baik dari yang lain.

    Sungguh sangat disayangkan karena orang berilmu semakin runduk, semakin bijak dan semakin bertoleransi.

    Like

    • Betul banget kt yg di atas saya ini, mmg sejatinya kt smakin berilmu smakin mrunduk..sygnya skrg ini bnyak aliran instant yg cnderung radikal,mrasa diri pling benar dan suci,mrendahkan org lain tnpa ilmu..syg bgt,kbayang dulu sulitnya para walisongo brjusng menyebarkan islam dgn kearifan dn pndektan budaya.spy islam bisa masuk tnpa hrs mrs sombong dn tinggi, cb klo caranya kyk org2 skrg,ga bakalan islam berkembang,yg ada mreka antipati

      Like

  3. Pingback: 8 Peristiwa Penting di 2016 Yang Patut Kita Syukuri | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s