Siapa Takut Jadi Karyawan!

Siapa Takut Jadi Karyawan!

191223_kantor-baru-google-di-tel-aviv_663_382

Jamaah blogeriyah dan fesbukiyah yang dirahmati. Negeri ini mungkin memang ditakdirkan untuk saling berbeda, bukan hanya soal Pilpres, Pilkada ataupun soal Bubur Ayam pisah dan campur, tetapi juga perbedaan fundamental antara pilihan galaw menjadi pengusaha atau menjadi karyawan.

Nah, berikut beragam pertanyaan yang berhasil kami kumpul dari lintas gender, transgender, nubie galaw, lulusan fresh dan tentunya..jomblo.

Okeh, kalian bertanya..Aa’ menjawab.

Tanya (T): Assalamualaikum Aa’..

Aa’: Waalaikumsalam, yak yang krudung ungu silahkeun..

T: Mau tanya ya a’..belakangan ini saya menghadapi problem..

Aa’: Apaaa tuucchh?

T: Aa’ yang baik, benarkah menjadi pengusaha lebih keren daripada karyawan?

Aa’: Kata siapa?

T: Kata (alm) Om Bob Sadino.

Aa’: Ketauhilah sista, bahwa Bob Sadino bisa sukses seperti ini juga karena karyawannya, coba semua orang didunia rame-rame jadi pengusaha, mau jadi apa perusahaan Om Bob? Mungkin Om Bob akan sulit pakai celana.

T: Kata Nabi juga lho a’, berdagang adalah sebaik-baiknya pekerjaan, gimana tuh a’?

Aa’: Betul, lha apa karyawan juga bukan berdagang namanya?

T: Tapi kan beda a’, karyawan mah kerja biasa atuh.

Aa’: Salah, nih ya..Karyawan itu pedagang jasa, dia menjual skill atau keahlian kepada perusahaan yang membayarnya. Kan sama saja dia berdagang, jika skill nya meningkat, artinya kualitas ‘barang’nya pun meningkat dan layak dihargai lebih tinggi, bukan begitu?

T: Hmm..masih belum puas a’, tapi kan gak berwujud barang a’?

Aa’: Kata siapa? Eh kamu kerja dimana sekarang? Produk usaha perusahaan itu apa?

T: Pengolahan daging a’, produknya stik daging sapi yang tadi eneng bawain buat Aa’.

Aa’: Lha itu ada kan, semua ada produknya, eneng cantik. Tenaga dan pikiran karyawan dipakai untuk produksi itu, produk kamu ya otakmu itu, hasil akhirnya? Ya stik sapi lezat yang ku makan barusan.

T: Lalu, apa a’ kira-kira kelebihan karyawan dibanding pengusaha?

Aa’: Enggak bisa dibandingkan begitu atuh neng, memangnya tahu sama tempe. Jadi karyawan, bagi sebagian orang adalah masa persiapan menjadi pengusaha, dan bagi yang nyaman jadi karyawan, jadi karyawan adalah persiapan menaiki jenjang karir, siapa tahu entar jadi bos, CEO atau minimal penasehat spiritual.

T: Eh, maksudnya a’, eneng kurang paham.

Aa’: Gini eneng manis, jadi karyawan itu kita seenggaknya bisa belajar banyak dari bidang yang kita kelola. Misal kamu jadi karyawan pengolahan daging, kamu bisa belajar apapun soal daging sapi, dari mulai pembibitan sapi hingga jadi stik. Suatu saat, kamu pun bisa jadi pengusaha impor daging sapi, asal gak korupsi. Hebat kan.

T: Iya ya a’…hmmm….lalu katanya jadi pengusaha itu temannya banyak a’, sedangkan jadi karyawan ya gitu-gitu aja, itu gimana tuh a’?

Aa’: Itu hoax neng, jangan percaya sama sosmed. Teman banyak apa enggak, itu ya tergantung kamu sendiri. Ku tebak, pasti kamu jomblo ya? (T mengangguk). Nah, iyakan, makanya bergaul atuh neng, pake minyak wangi dikit. Justru ketika menjadi karyawan itu kesempatan kamu bikin link yang buanyak. Usahakan banyak ketemu orang, disimpen kartu namanya. Siapa tahu suatu saat membutuhkan. Link is a King, mblo.

T: Ah Aa’ bisa aja, lalu a’..bagaimana soal keuangan, jadi pengusaha kan pendapatan tidak terbatas, lalu karyawan yang yaah..gitu-gitu aja a’, gimana tuh a’?

Aa’: Tetangga saya pernah bunuh diri lho, padahal dia pengusaha, alesannya karena banyak hutang. Tetangga saya yang lain dibunuh lho, alesannya curi ide toko sebelah, yang punya gak rela. Tetangga saya yang lain, pengusaha wisma atlet ditangkap KPK karena suap, nah, tetangga saya yang lain…

T: Aa’..sudah A’..sudah..saya tahu semua ada resikonya. Tapi a’, jadi pengusaha itu katanya melatih kita untuk punya tanggung jawab, kayaknya keren gitu a’, jadi pengusaha, kita bertanggung jawab pada karyawan kita dan juga keluarganya.

Aa’: Lha terus kamu sekarang gak punya tanggung jawab gitu? Ibumu gimana? Bapakmu gimana? Adekmu yang SMA gimana? Terus laporanmu itu emangnya gak dipertanggung jawabkan? Lha kok enak.

T: Eh iya a’, duh maaf, iya ya saya jadi inget keluarga saya (melow..). Lalu a’, gimana supaya kita nyaman menjadi karyawan atau pengusaha, ya?

Aa’: Pernah ikut job fair, neng?

T: Ya pernah atuh a’.

Aa’: Kira-kira berapa orang yang mendaftar?

T: Wih, itu bisa ribuan a’, malah ada yang sampe ratusan ribu setiap gelar job fair.

Aa’: Nah, berapa dari pelamar itu yang diterima kerja?

T: Ya, paling tiga puluh persen lah a’, itu yang sudah ikut saringan sana-sini.

Aa’: Nah, yang tujuh puluh persen lagi, kemana?

T: Ya, masih nganggur lah a’.

Aa’: Nah, andaikan kamu yang sekarang masuk tujuh puluh persen itu, kira-kira gimana?

T menunduk..

T: Iya ya a’, saya seharusnya bersyukur. Alhamdulillah saya masih bisa kerja saat ini. Saya bisa bantu orang tua saya..Engg.. tapi saya masih ingin jadi pengusaha gitu a’.

Aa’: Ya bagus itu. Kumpulin ilmu dulu, bersyukur dulu. Jadi karyawan ada kesempatan kamu untuk belajar, termasuk belajar kelola uang dan kenal orang, nyambi dikit-dikit juga bisa..

T: Hmm..iya deh a’…eh, nyambi apa contohnya ya a’ buat saya sekarang?

Aa’: Ya jadi buzzer, mumpung Pilkada!

T: Ih, Aa’ maaaaaaah….

Advertisements

6 thoughts on “Siapa Takut Jadi Karyawan!

  1. Betul nih pak. Terkadang saya juga heran sama pengusaha yang memberikan banyak celaan kepada orang yang berstatus karyawan. Padahal dia juga bisa jalanin bisnisnya dari bantuan karyawannya. Terlepas dari itu semua, hidup memang pilihan. Semuanya ada plus minus kembali kita yang enjoy menjalani hidup ini saja

    Like

  2. Saya sebagai ibu, kadangkala miris melihat banyak orang yang menganggap karyawan adalah pekerjaan rendah, pdahal karyawan adalah pekerjaan yang halal dan juga mulia, tgt kita melihat dari sudut pandang apa, dan saya rasa apa yang pak ryo tulis amat sangat benar, jikatoh suatu saat akan jdi pengusaha biarlah nasib yang bicara

    Liked by 1 person

  3. yah, hidup adalah pilihan apapun pilihan kita itu yg terbaik bagi kita. dan bila pilihan kita dilakukan dg bertanggung jawab tentu itu akan lebih baik apapun pilihan kita tak ada yg lebih baik ataupun buruk

    Like

  4. haha, tulisannya sedikit menggoyahkan mimpi saya menjadi pengusaha, keren dah artikelnya.
    but tetap pengusaha,,, setidaknya bisa kerja bebas seharian atau setengah hari, dan tidak diatur orang,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s