Agama (Memang) Perlu Di Bela, Lho Kok?

Agama (Memang) Perlu Di Bela, Lho Kok?

Saya dalam perjalanan menuju Sintang, Kalimantan Barat ketika tiba-tiba dikirimi link sebuah tulisan yang ngapleki karya Iqbal Aji Daryono yang berjudul “Siapa bilang agama tak perlu di bela?”. Ah mungkin seorang Iqbal sedang keselek sumbu kompor kok bisa menulis sejernih itu.

Jujur, itu adalah tulisan paling jernih dari sekian ribu tulisan yang muncul pasca dan pra demonstrasi besar 411 tempo hari.

Agama memang perlu dibela, ya betul sekali. Salah kaprah jika seorang nasionalis yang menulis bahwa agama sekalian itu tidak perlu dibela, itu salah. Agama memang tidak perlu dibela jika konsep pembelaan itu adalah kekuatan dan fisik. Tuhan itu Maha Kuat, bahkan seujung zarrah pun kita tak akan mampu menyamai.

Agama tidak perlu kita untuk adu kekuatan. Tapi agama memerlukan kita untuk mensyiarkan ajaran yang terkandung. Mensyiarkan konsep muslim sebenarnya, itulah pembelaan kita.

Iqbal, yang kini tinggal di Australia sangat mengalami apa yang namanya disorientasi pandangan masyarakat, atau public perception disorientation. Pemicunya simple, akibat dia dan keluarganya yang dengan seenak hati nyelonong menyeberang jalan ketika lampu penyeberangan pejalan kaki belum menyala.

Dan kemudian Iqbal dan keluarganya menyadari pandangan sinis orang lain disekelilingnya, pandangan jijik terhadap imigran, asia dan terutama muslim. Maklum, istrinya memakai jilbab sehingga mudah dikenali identitas kemuslimannya.

Hal yang sama juga beberapa kali saya alami ketika diluar negeri. Siapa bilang menjadi muslim itu enteng? Menjadi muslim itu berat, berat tanggung jawabnya ke masyarakat, berat tanggung jawabnya untuk membuktikan ke dunia bahwa muslim itu beradab. Kalau hanya soal teriak orasi, anak SD pun bisa.

Pun ketika meeting berlangsung, ada tanggung jawab moral tersendiri bagi saya untuk membuktikan bahwa muslim itu punya konsep, tidak cuma jadi juru tulis lalu yes yes saja.

Apalagi yang kita bawa ketika diluar negeri itu ada dua, pertama adalah menjadi muslim, kedua adalah menjadi Indonesia. Sungguh berat.

Ah, seandainya kita semua mau membela kemusliman kita, ah seandainya..

cropped-82a90-tulipmania.jpg

Advertisements

3 thoughts on “Agama (Memang) Perlu Di Bela, Lho Kok?

  1. Artikel yang menarik sekali, kita tidak pernah tahu kapan kita memuliakan agama kita dan kapan kita menistakan agama kita sendiri

    Like

  2. Pingback: Fenomena Nyinyir Syar’i | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s