Stop Blame, Just Perform

Stop Blame, Just Perform

hires

Sepuluh tahun lalu, saya bertiga dengan kawan saya saling berdebat soal karir, saat itu kami masih kuliah, hampir lulus, jadi topik karir dan pekerjaan adalah topik yang hits.

Teman saya, sebutlah si A sangat mengidolakan pamannya yang merintis karir dari bawah, ketika krisis ekonomi 98, pamannya itu di pecat tapi beliau tidak putus asa hingga mendapatkan kembali karirnya yang hampir hangus.

Sedangkan si B sebaliknya, dia sangat mengecam sistem ekonomi negara ini yang tidak bisa mencarikan warganya pekerjaan. Bagi dia, karir dan gaji adalah tanggung jawab negara.

Jawaban saya enteng saja, apakah kita kuliah di biayai negara? Tidak, kita bersusah payah untuk kuliah, kita bukan mahasiswa jenius yang mendapat predikat beasiswa.

Sepuluh tahun kemudian, apa yang saya tanyakan ternyata terbukti. Si A saat ini sedang dipromosikan menduduki jabatan manajerial di perusahaan otomotif.

Dan si B, bisa ditebak, sibuk berdebat di fesbuk dengan topik yang sama; pemerintah tidak becus, gaji buruh masih segitu-gitu saja, karir tidak berkembang dsb.

Dari situ saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa pemerintah (siapapun) dan karir itu tidak ada hubungannya, sama sekali tidak ada. Yang berhubungan dengan karir kita adalah pola pikir kita sendiri.

Si A, sedari awal berpikir bahwa karir seseorang hanya bisa dicapai oleh diri mereka sendiri, dengan kerja keras, kreatifitas dan skill yang sell-able alias mampu untuk di jual.

Ada senior saya, si C yang bekerja dunia perminyakan tetap bisa keluar masuk perusahaan minyak asing yang berbeda-beda, meskipun kondisi harga minyak sedang nyungsep.

Mengapa si C bisa sehebat itu? Karena dia sell-able, punya skill yang bisa dijual, dia di tawar, bukan menawarkan diri. Itu bedanya.

Tapi  kenapa banyak orang Indonesia yang bekerja di luar negeri? Lho, memangnya orang luar tidak banyak yang bekerja di Indonesia? Ketika saya di Qatar, separuh lebih adalah warga negara asing. Dari India, Bangladesh, negara Arab, Eropa hingga Kanada ada disitu.

Bekerja di luar negeri bukan karena negara sendiri itu payah, bekerja diluar adalah sebuah bentuk “out of the box” diri sendiri, dari mulai gaji, hingga pengalaman.

Jika saya mau, dua tahun lalu saya masih duduk nyaman di kursi BUMN, tanpa pernah mengenyam pengalaman repotnya mengurus visa di Qatar.

Separuh lebih warga India bertualang ke negera lain, separuh lebih bangsa Cina berkoloni dengan bangsa lain, dan separuh lebih bangsa Yahudi terdiaspora kepenjuru dunia. Apakah negara mereka payah? Justru sebaliknya.

Jadi, stop menggerutu soal pemerintah, sukses tidaknya kita itu ada pada usaha kita sendiri. Apa yang bisa diharapkan dari karyawan yang sepanjang hari matanya cuma ke sosmed?

Apa yang bisa diharapkan dari buruh yang sepanjang hari merumuskan rencana demo ketimbang rencana sales? Apa? Ada yang bisa sebutkan ke saya?

Soal hak, menurut saya hak dan kewajiban itu selalu berbanding lurus. Anda menuntut lebih, kewajiban anda pun harus lebih.

Tak usah didebat, contoh nyata adalah anak tukang cuci di perumahan, yang awalnya office boy saat ini menjadi staff di perusahaan outsource, hanya kerena dia interest ketika diminta tolong untuk jadi document control dadakan.

Kewajiban negara adalah membuat iklim bisnis yang baik, kestabilan politik dan keamanan publik. Itu saja, sudah. Mau berdebat? Kok ada yang masih susah cari pekerjaan di zaman ini, eh ada juga lho yang bahkan tidak mencari pekerjaan, tapi justru dicari. Ada juga yang setelah sekian ratus email baru di balas sekali.

Eh bro, kita bukan di negara Rwanda atau Ethiopia ya, jangan mengeluh sampai sejauh itu deh. Coba buka jobsdb, buka jobstreet, buka petromindo.com, buka linkedin. Disitu berceceran lowongan kerja. Usaha dan doa kamu sampai sejauh apa? Nah, jawab sendiri.

Jadi, menurut saya dunia karir itu kompleks, tapi tidak sulit, karena semua bermuara dari pola pikir kita.

Negara tidak mau tahu apa masalah kita, itu derita lo guys. Tapi negara, minimal perusahaan akan tahu apabila kita berprestasi, siapapun pemegang kekuasaan itu.

So, stop blame, just perform..

Advertisements

2 thoughts on “Stop Blame, Just Perform

  1. Tulisan yg sangat mengena, utk saya pribadi terutama.. Saya kayaknya mirip si A deh.. Saya lulus kuliah di saat Indonesia lagi gonjang ganjing politik yg disusul dengan lengsernya sang Presiden.. Madesu banget deh buat fresh graduate cari kerja.. Tapi saya tetap cari kerja dengan cara konvensional tentunya.. Perjuangan berat, jatuh bangunnya juga banyak.. Setiap hari Senin nangkring di kantor pos kirim 10-20 amplop lamaran kerja.. Internet masih barang mewah dan langka ya saat itu.. Singkat cerita ke masa sekarang, saya mandiri dan mapan.. Saya yakin kalo dulu lebih banyak ngeluhnya daripada bertindak nyata, mungkin saat ini saya hanya jadi tukang ngeluh.. Terima kasih sudah berbagi kisah..

    Like

    • pengalaman yg luar biasa, sy menunggu ada pngalaman ktika lulus 98, psti luar biasa..betul mbak, dan kita ga tau kpn negara jaya, kpn kolaps, yg ptg diri kita sndiri siap atw tidak..skrg melamar di internet jg sdh jemu, ada hal lain..link..hehe nantikan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s