Blunder Ahok dan Obrolan Tiga Pemuda

Blunder Ahok dan Obrolan Tiga Pemuda
hok

Sumber Foto: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Tidak boleh ada secuil pun kesalahan, buaya siap menerkam dari berbagai arah..

Tiga orang pemuda duduk melingkar di bangku depan Seven Eleven SMESCO, wajah-wajah terlihat lelah, maklum, dua diantaranya habis pesta dari siang. Pestanya para blogger terbesar di Indonesia.

Tapi, meskipun lelah, malam itu wajah tegang ditampakkan ketiganya, mereka terlibat pembicaraan serius, menyangkut negara, masalah yang pelik. Lebih pelik dari sekedar dunia pertama dan kedua. Ini dunia imajiner.

Asap rokok terus membumbung, memacu otak berpikir soal Pilkada DKI 2017, terutama pernyataan Ahok yang mengutip ayat suci Al Quran, tepatnya Surat Al Maidah ayat 51.

Ah, bosan sudah basi kok masih di bahas. Tunggu, ini bukan soal basinya, tapi ini menyangkut public speaking oleh seorang pesohor, yang berdampak pada citra.

Mendukung bukan berarti tidak mengkritik, seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Kami bertiga sepakat, bahwa Ahok sudah melakukan blunder, blunder karena mengutip pernyataan ayat suci yang bukan domainnya. Itu bukan domain seorang Ahok. Mau ada pembelaan apapun, seorang king maker di belakang Ahok pun pasti sudah tahu bahwa itu adalah blunder.

Masyarakat muslim Indonesia saat ini terbagi menjadi dua bagian besar: Islam Ortodoks dan Islam Moderat. Islam Ortodoks adalah Islam yang sangat mengutamakan hal-hal fundamental dimana semua pranata sosial harus mengikuti semua syariat Islam, tak peduli dengan zaman, tak peduli dengan kondisi masyarakat, syariat adalah syariat, titik.

Bahkan tak segan beberapa dari mereka menolak secara gamblang konsep demokrasi yang ada di Indonesia, yang sudah ada sejak mereka dilahirkan, sejak Indonesia merdeka dan dirumuskan oleh para pemikir bangsa selama ratusan tahun.

Sedangkan Islam moderat adalah Islam yang lebih mengikuti zaman, lebih toleran terhadap berbagai perbedaan dan bisa mengikuti alur pikiran modernis. Mereka juga mementingkan fundamental, banyak dari mereka lebih mementingkan sholat Subuh tepat waktu di Masjid daripada harus berkoar-koar menolak demokrasi. Ketika berbicara sunnah, mereka menangkap, lalu di cerna dan disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Dua hal dalam Islam itulah yang harus di akomodir oleh seorang Ahok. Ahok tidak bisa berbicara seakan menganggap bahwa semua Islam di Indonesia itu modernis, bahkan seharusnya Ahok & tim sudah punya rumusan detail soal kondisi masyarakat Jakarta, peta manusianya itu sudah harus punya. Dari detail peta tersebut, disusunlah sebuah strategi politik. Karena inti menangkap masyarakat Jakarta itu satu, jangan blunder.

Masyarakat Jakarta sebagian besar terdiri dari pendatang, dengan bekal ilmu yang digunakan untuk mengadu nasib. Lebih dari setengahnya sudah lama tinggal di Jakarta.

Untuk itu, mayoritas dari mereka sudah merasakan perubahan-perubahan yang eksesif terutama sejak zaman Joko Widodo dan diteruskan oleh Ahok, mereka mampu memilah dengan caranya, dengan ilmunya. Itulah kenapa elektabilitas Ahok tinggi, itu tidak dapat dipungkiri.

Tanpa harus berbusa pun, seorang Ahok sudah mendapat simpati dari sebagian kalangan. Justru yang harus berbusa-busa adalah dua lawan Ahok, yaitu Anies dan Agus. Mereka masih harus merumuskan rinci, akan bicara apa besok? Apa yang harus disampaikan? Bagaimana mengintegrasi ide dengan aktual lapangan.

Acara mereka banyak. Jadi secara kalkulasi, energi yang harus mereka keluarkan lebih besar dari Ahok, sang petahana.

Jadi, yang diperlukan oleh Ahok cuma satu, jangan blunder. Apapun pembelaan buzzer terhadap Ahok, secara jelas kami sepakat bahwa Ahok melakukan blunder.

Bolehlah buzzer membela bahwa maksud Ahok tidak seperti itu, berdebat kusir antara “pakai” dengan “oleh”, tapi halah, apalah itu. Ucapan telah terucap, semesta telah mencatat. Islam Ortodoks jelas tersinggung dengan ucapan Ahok, dan ini dimanfaatkan oleh para buzzer lawan untuk menggigit.

Menurut pemuda kedua, seorang professor, beliau secara tidak langsung mengatakan bahwa Islam itu sensitif, betul memang. Di agama lain, mungkin menyinggung dasar agama mereka, tidak akan berdampak terlalu dalam.

Bahkan seringkali mereka melakukan debat sehingga timbulnya pemikiran beda terhadap hal-hal  fundamental seperti sudah “biasa” mereka temui.

Beda dengan Islam, yang punya sejarah yang kuat dan sangat mengakar bersumber dari satu kitab, yaitu Al Qur’an yang dijamin keasliannya hingga akhir zaman, sehingga hal apapun yang menyinggung, akan di serang habis.

Kita tahu, siapapun tahu bahwa maksud Ahok tidak menghina. Berpikirlah nalar, siapa sih yang mau menghina Islam di tengah-tengah sensitifnya isu agama menjelang Pilkada? Tidak ada. Ahok hanya terbawa dengan gayanya, straight to the point. Inilah tugas para tim sukses Ahok-Jarot, tugas yang awalnya ringan, menjadi berat.

Tidak dalam domain Ahok untuk berbicara soal ayat Al Qur’an, bahkan jika itupun di ucap oleh Ahmad Dhani misal, bukan domainnya juga. Sudah semestinya jika tim sukses selalu mengingatkan Ahok soal yang satu ini.

Ahok akan turun elektabilitasnya karena kesalahan sendiri. Kalah? Belum tentu, jika Ahok bisa mengembalikan citra, setidaknya 3/4 nya saja,  elektabilitasnya akan naik kembali.

Dan satu kesimpulan kami bagaimana Ahok mengembalikan citra, yaitu dengan jiwa besar meminta maaf. Dan ternyata Ahok mendengar ide kami, Ahok sudah meminta maaf atas ucapannya. Di maafkan? Ya tergantung buzzer, yang pasti semesta pun telah mencatat.

Ahok cukup berbicara soal kinerja, kerja dan kerja. Anies Baswedan sudah melakukan sekali blunder, dengan berucap sungai bersih karena Foke, yang dibantah langsung oleh google (baca tulisan saya disini).

Yang paham hal ini sepertinya tim sukses Agus yang tidak akan banyak bicara, karena mencari aman. Belajar dari beragam kesalahan bicara sang adik, Agus lebih di posisi citra ganteng dan kalem. Tentu saja kita tidak akan pernah tahu karakter Agus, tapi setidaknya citra di mata para dedek gemes tidak akan hilang.

Asap terus membumbung, dibumbui kopi dan air mineral, obrolan terus berlanjut hingga ke hal metafisik dan Kanjeng Dimas. Tapi itu tidak akan dibahas, karena pemuda pertama, sesepuh planet kenthir, Kong Ragil harus pamit karena matanya tidak lagi berkawan dengan gelap. Pun demikian dengan sang professor Pebrianov, beliau harus buru-buru kembali ke peraduan karena celananya tertinggal.

Demikian, salam kompasianival!

***

Di publish di Headline Kompasiana, DISINI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s