Ini Bukan Soal Passion, Ini Soal Perut

000Kira-kira seminggu lalu kami kedatangan saudara dekat yang tinggal tidak jauh dari rumah kami. Kami cukup akrab dengannya sehingga hampir luar dalam dirinya kami kenal, dan sangat jauh dari urusan hutang piutang. Kami memang tidak dibiasakan sejak kecil untuk berhutang meskipun sesama saudara.

Tapi kedatangannya pada malam-malam itu cukup mengagetkan, dia minta dicarikan pekerjaan, pekerjaan apa saja. Lho?

Setahu kami, saudara saya ini bekerja di bidang design grafis untuk advertising, dia bekerja disana karena menyenangi pekerjaan itu alias passion nya dia ada disitu, katanya.

Passion, sesuatu yang tiba-tiba menjadi jargon anak muda kekinian, imbas dari hitsnya Steve Jobs dengan produk Apple nya. Dengan passion pokoknya segala kesuksesan mudah diraih, yang penting, cari apa yang kamu senangi dan perdalam tanpa kenal menyerah.

Tak peduli jika anakmu merengek minta uang susu.

Segampang itu? Ya segampang itu, katanya, dengan passion segala tantangan bisa dihadapi. Wih, memangnya kamu Ahmad Dhani, kalau gagal di Jakarta bisa langsung ke Bekasi? Ya enggak masbro.

Passion atau hasrat boleh-boleh saja kamu cari dan perdalam selama memang kamu yakin itulah jalan hidupmu. Nah, kalau sudah begitu, mau tinggal di kolong jembatan pun gak akan masalah selama passion mu itu (misal) bernyanyi, alias ngamen. Tapi apa kamu siap?

Ketahuilah fakta ini, jumlah orang yang betul-betul sukses di bidang yang disenangi hanya 2% dari seluruh orang sukses, dan ini memang betul-betul sukses total.

Mereka merangkak plus keberuntungan untuk menggapi kesuksesan karena passion. Tapi ya hanya 2% saja. Dan celakanya 2% inilah yang dijual oleh para motivator, baik yang 150 juta per jam ataupun di bawah itu.

Lalu kemana sekian % orang sukses sisanya? Mereka adalah orang-orang yang juga sukses, kaya dan mapan, tetapi karena pekerjaannya. Mereka bekerja lebih dahulu, dan berusaha mencintai pekerjaan itu, memperdalam dan mengasahnya.

Kalau mau menuruti hawa nafsu, mungkin sekarang saya lebih banyak di jalanan, moto sana sini, ngamen, ngopi dan ngudut. Lho kok? lha itu hobi saya, mau diapakan? Tapi kan kita harus realistis, bersyukurlah bagi anda yang memang sukses di bidang yang anda senangi.

Lha, kalau ternyata anda bukan termasuk kategori yang sukses karena passion? Ya be realistic, pencarian passion kita itu di sekitar umur 17-22 thn, di atas itu kita akan di hadapi oleh kebutuhan.

Bagi saya, kata-kata Deepak Chopra amat sangat menyesatkan “always go with your passion, never ask yourself if it’s realistic or not” What??

Ada kawan yang tiba-tiba quit dari pekerjaannya setelah membaca buku motivasi soal passion, lalu tiba-tiba bangkrut, bercerai dan datang untuk berhutang. Begitu di tanya, di jawab karena sebetulnya passion dia bukan di akutansi, dia ingin main saham saja, itu passion dia.

Weleh kok nekat lho. Setelah di jelaskan bahwa sangat banyak akunting yang sukses, banker yang luar biasa, padahal coba tanya mereka, emang aslinya pada suka ngeliatin angka? Ya enggak juga. Tapi itulah pekerjaan.

Akhirnya sang kawan kembali bekerja di perusahaan audit dan sekarang malah punya toko susu, hasil patungan. Dia mengatakan, dia bekerja dengan passion, bukan karena passion lagi.

Nah, jika hingga umur 30 thn kita masih bekerja di luar passion kita, bagaimana? Ya cintai pekerjaan anda, dan bayangkanlah bahwa masih jutaan orang seperti saudara saya tadi itu. Ini bukan lagi soal passion, tapi soal perut.

Advertisements

One thought on “Ini Bukan Soal Passion, Ini Soal Perut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s