Ojek Online? Ya Iyalah!

Ojek Online? Ya Iyalah!

ojek2bonline

Dahulu kala, ayah saya pernah disibukkan dengan kunci rumah. Jadi ceritanya kunci rumah yang seharusnya beliau pegang tertinggal di rumah saudara, karena saat itu sudah larut malam, meminta saudara mengantar juga segan karena jaraknya jauh.

Ketika itu, ayah saya mendatangi ojek yang masih mangkal di depan dan meminta ambilkan kunci, tapi apa jawaban si tukang ojek?

“Sudah malam pak, jauh, orderan sudah tutup, kalau mau ya segini” (menyebut angka hampir 5x lipat dari tarif biasa)

Akhirnya ayah saya pergi kerumah tetangga, membangunkan tetangga yang sudah tertidur untuk meminta tolong menjebol pintu rumah, kebetulan tetangga ini di kenal jago dalam hal ginian. Pintu pun terbuka.

Berselang 10 tahun kemudian, sekitar setahun yang lalu mulai semaraknya ojek online. Saya dan ibu saya “berdebat” soal memakai ojek, ibu saya ternyata pengikut aliran ojek konvensional, saya selalu di marahi jika ketahuan memesan ojek online,

“Kamu itu, mbok ya pake ojek biasa, kasian mereka harus ngetem, nunggu, belum tentu dapet order”

Karena seorang ibu yang bicara, ya otomatis di iya-in dulu.

Tapi tadi malam, plot berubah. Berawal dari saya dan keluarga yang sudah berbeda rumah dengan ibu, ceritanya kami baru saja pulang dari rumah ibu di malam hari, dan kemarin itu hujan.

Sampai dirumah, saya cek kantong saya, tidak ada bunyi kerincing, lho kunci tidak ada! Saya cek ke kolong mobil, tas istri, tetap tidak ada. Saya lalu menelpon adik dan ndilalah kok ya kunci kamar saya ketinggalan di rumah ibu.

Padahal rumah kami ada di Pondok Bambu, Duren Sawit sedangkan rumah ibu ada di Ciputat, kebayangkan jauh dan macetnya, apalagi semalam itu hujan. Harus kreatif nih, pikir saya.

Dengan sok tahu saya lalu ikutin semua yang ada di youtube soal tutorial bongkar kunci kamar, tapi ya nihil wong saya tidak bakat dalam hal congkel mencongkel hehe, saya pun menyerah dan menelpon kerumah ibu, minta tolong adik untuk pesankan ojek online.

Jarak sudah lebih dari 25 Km batas terjauhnya, sudah jam 11 malam lagipula hujan juga, ah sudahlah, pasrah saja tidak mungkin order diterima. Paling malam ini cek in hotel murah sampai besok Minggu pagi.

Eh ternyata adik saya whatsapp kalau si driver ojek online sudah otw ke rumah ibu, 10 menit kemudian di whatsapp lagi kalau si ojek online sudah otw kerumah saya di Pondok Bambu. Surprise!

Cukup waktu satu jam saja kunci kamar sudah saya terima dengan baik, tidak ada omongan lain dari driver ojek seperti,

“Tambahin lah bang, hujan, jauh lagi”. Tidak ada seperti itu, driver sopan, ongkos sesuai yang tertera di aplikasi. Saya yang akhirnya tambahin, karena jika memakai tukang ojek pangkalan pasti ongkosnya bisa 3 kali lipat.

Saya kemudian berkontak whatsapp dengan ibu saya, mengabari, seperti deja vu kejadian ayah saya dulu, tapi dari situ ibu mulai berubah pola pikirnya atas ojek online, bedanya 180 derajat.

“Wah, hebat ya ojek online itu, malem malem gini masih mau nganter, jauh lagi, dapetnya gede itu pasti, berapa ya per bulan?”

“Wah bisa 10 juta itu”

“Kenapa kamu gak sampingan ngojek aja mas?”

Eaalaaah…..

**

Cerita ini tidak pakai bumbu sponsor apalagi komersial, rekomendasi ojek online muncul dari hati :))

Advertisements

13 thoughts on “Ojek Online? Ya Iyalah!

  1. semacam deja vu ya. kalau dulu kunci rumah bapaknya emas yang ketinggal tempat sauadar, kalau sekarang gantian kunci kamar mas yang ketinggalan di rumah ibu. Kayaknya punya gen yang uska ninggalin kunci nih hihihih *bercanda
    salam kenal dari: tamvandanberani.blogspot.co.id

    Like

  2. semacam terulang ya. kalau dulu kunci rumah bapaknya emas yang ketinggal tempat sauadar, kalau sekarang gantian kunci kamar mas yang ketinggalan di rumah ibu. Kayaknya punya gen yang uska ninggalin kunci nih hihihih *bercanda
    salam kenal dari: tamvandanberani.blogspot.co.id

    Like

  3. Ane sebdiri selalu ada hasrat bua naik ojek onlen.
    tapi sampai sekarang masih belum kesampean.
    mngkin nanti ta coba deh naik ojek onlen,
    atau ane jadi tukang ojeknya aja ya ?

    Like

  4. Pingback: Transportasi Online vs Konvensional, Siapa Pecundang? | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s