Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah

Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah

menulis-artikel-yang-baik

Saya sedang dalam perjalanan dari Pondok Kopi menuju kawasan Tb Simatupang ketika mendapat sebuah notifikasi facebook dari teman di Kompasiana. Berhubung macet, maka saya punya waktu leluasa untuk membacanya.

Judulnya sangat menarik, “Haruskah merasa malu karena setiap hari menulis?”, artikel ditulis oleh Sdr. Pebrianov, seorang kawan maya saya yang biasa di panggil Prof alias Profesor karena level tulisannya yang adiluhung.

Ada pemikiran unik, disitu dituangkan pemikiran sang Profesor bahwa kita tidak perlu malu karena setiap hari menulis lalu dianggap seperti tidak bekerja atau tidak punya pekerjaan lain.

Ketahuilah bahwa menulis adalah salah satu kebutuhan “batiniah” bagi seseorang, kebutuhan “batiniah” setiap orang berbeda, ada yang dengan mengaji, curhat, main judi dan lainnya.

Dan bagi para penulis atau yang hobi menulis, menulis adalah suatu aktifitas sakral dan privat, yang menghubungkan antara penulis dengan pikirannya, inilah kebutuhan “batiniah” mereka, seperti petapa yang habis bersemedi, seperti muslim yang wukuf di Arafah. Duh apa ndak syahdu?

Atau ibarat seperti kakek saya yang setiap sore harus mencuci sangkar burung, kalau sehari saja lupa mencuci, rasanya seperti diputusin cinta pertama, galau gaes. Nah, inilah hubungan kontekstual yang dimaksud, layaknya hubungan harmonis antara kakek dengan sangkar burung, begitupula antara penulis dengan pikirannya.

Saya coba merasakannya, apa iya?

Jadi ceritanya, kebetulan seminggu lalu saya coba meliburkan diri dari menulis, baik di kompasiana maupun di blog ini. Biasanya, saya terbiasa menulis setiap malam sebelum tidur, atau selepas Ashar di kantor, itupun tidak langsung saya posting, saya endapkan dulu di draft.

Tapi kali ini saya betul-betul ingin libur menulis, untuk itu bersamaan dengan jadwal cuti, saya pun coba ambil “cuti” menulis dari hari Jumat hingga Senin Idul Adha kemarin.

Apa yang terjadi?

Malam Sabtu atau malam pertama saya mendadak pusing, terbiasa membaca informasi menjadikan otak ini berjalan merangkai tema tulisan secara otomatis. Lho?

Misalkan saja ketika mau berangkat ke Bandung, di hari Jumat pagi, muncul artikel soal Mario Teguh di sosmed, otak dan tangan sudah gatal saja. Sampai di Bandung saya melihat fly over Pasupati, lalu teringat bahwa di Roma tidak dibuat fly over untuk tetap menjaga kesan vintage dan uniknya kota. Kenapa Bandung pakai fly over? Kenapa bukan underpass?

Atau ketika di tol Karawang, jika long weekend situasi lalu lintas pasti padat dan macet, namun kali ini tidak, jalanan lancar, nah muncul lagi di otak “Oh jangan-jangan daya beli warga merosot?”, “Oh, jangan-jangan orang belum gajian?”

Yang unik adalah, pikiran ini secara otomatis merangkai sub-sub tema dalam tulisan, seperti ada remotenya. Saya sih masih yakin bahwa ini cuma kebiasaan saja, tapi kok ya sampai bikin pusing itu lho? Padahal saya belum makan jeroan kambing, Idul kurbannya kan masih tiga hari lagi.

Dari sini saya mendapat fakta. Ternyata endapan ide ini lebih berbahaya ketimbang endapan kolestrol.

Disitu saya baru mengamini tulisan om Peb soal “batiniah”, tulisan bisa dibilang menjadi candu, hanya candu yang positif, selama tulisan kita bulan hoax atau menebar fitnah. Otak jadi terbiasa untuk berjalan, untuk menyusun tema hingga judul.

Nah, apakah mungkin menulis bisa menjadi terapi bagi kepikunan? Bisa jadi.

Toh setelah 2 hari saya meliburkan diri akhirnya bobol juga, terutama setelah sholat Ied, yang mana khutbahnya membawa-bawa soal politik, di dalam pikiran saya, ini harus ditulis. Nah, maka munculah tulisan ini dan ini.

Akhirnya saya menyerah, otak ini seperti terhenti kalau tidak dipakai untuk menulis. Betul kiranya bahwa tulisan adalah hubungan sakinah antara penulis dengan pikirannya, tidak ada yang bisa meng-interupsi, bahkan sekelas ibu mertua.

Privat dan sakral.

Advertisements

8 thoughts on “Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah

  1. Tulisan bagus. Ya begitulah adanya. Tapi sy memang mengalami kondisi sebaliknya, jenuh menulis soalnya sudah hampir 25 tahun menulis. Sekarang sy merasa tulisan sy jelek. Jadi jenuh. Tp kalo membaca tulisan teman teman ini senang sebab bagus2. Yg sy sedih, untuk mencari kesibukan lain di masa tua ini, sulit juga. Ya akhirnya kembali menulis meski jenuh tadi….semoga teman2 tak jenuh atau punya resep bila alami kejenuhan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s