Ketika Nabi Ibrahim dan Haji Sudah Tidak “Hits” Lagi

wukuf-arofah

Sekitar lima bulan yang lalu saya menulis di kolom Kompasiana menyoal kata-kata “pret” Mama Dedeh yang secara tidak langsung ditujukan kepada Yusril Ihza Mahendra setelah acara keagamaan yang diselingi oleh politik ala kekinian. “Pret”, adalah kata-kata “pisau” yang mewakili perasaan segenap masyarakat terhadap calon pejabat yang banyak mengumbar janji.

Yang jadi persoalan, seluruh janji, seluruh orasi dan seluruh ornamen politik tumpah ruah tanpa kendali dari mulut sang calon pejabat, bukan cuma satu, tapi dua, tiga bahkan semakin ramai seperti euforia, hyperbola euforia keagamaan yang muntab tanpa estetika.

Pun begitu dengan hari ini, di pagi nan cerah, dimana takbir berkumandang dengan suara kambing, domba dan sapi sebagai backing vocal, berirama syahdu membawa langkah kita ke lapangan untuk mengingat lagi konteks lebaran.

Lebaran yang bukan lebaran biasa. Kali ini lebaran kurban, atau lebaran haji, lebarannya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karena dari kedua Nabi itulah turunlah perintah Tuhan untuk berkurban, di hari Idul Adha ini adalah hari dimana kita dan kalian semua umat Islam untuk mengingat sejarah dua Nabi itu.

Bagaimana kita bisa melupakan, sedangkan dahulu kala Nabi Ibrahim bisa mendobrak seluruh tatanan logika manusia hingga hari ini dengan hanya percaya pada mimpi. Bayangkan jika hal itu di aplikasi di masa kini, atau katakanlah masa tahun 30an. Nasib Nabi Ibrahim sudah berakhir di balik jeruji besi dengan dakwaan percobaan pembunuhan berlatar belakang mimpi, Nabi Ibrahim sudah dituduh seorang psikopat, tak ada bedanya dengan Sumanto.

Tapi di waktu itu, Nabi Ibrahim sudah jauh melampaui logika orang-orang di masa kini, dengan hanya bermodal keyakinan yang hakiki terhadap Tuhan, ditambah juga luar biasanya sikap Nabi Ismail atas ke ide ayahnya.

Bayangkan, bayangkan jika anda mendengar ayah anda berkata “Aku harus mengorbankan kamu atas perintah Allah melalui mimpi”. Apa yang anda lakukan? Pasti anda akan berkata ala Cinta di AADC 1, “Sakit jiwa!”

Jadi sudah seyogyanya jika apapun masalah negri ini, yang namanya Idul Adha tidak pernah bisa lepas dari kisah Nabi Ibrahim, masalah kita itu masih berkategori “apalah” jika dibandingkan dengan problema Nabi Ibrahim. Apalagi soal politik yang..aduh, mas mbak.

Jadi kembali pagi tadi, saya menemukan khutbah Idul Adha dengan tema politik, ya kembali, karena ini yang kali kedua. Yang pertama ketika khutbah Idul Fitri, meskipun ketika itu tema politik sangat jauh dari esensi kembali fitri, tapi saya sudah berusaha melupakan, tapi kok..eh, terulang lagi.

Apakah Tuhan memang sudah pantas untuk diduakan oleh politik? Apakah tema mengingatkan umat tentang pengorbanan dan berbagi Nabi Ibrahim sudah tidak penting lagi? Apakah sudah tidak ada lagi panggung untuk berbicara politik sehingga panggung Nabi Ibrahim rela di seruduk oleh kepentingan “5 tahunan”?

Belum lagi yang paling tolol soal pria yang berorasi “menolak Ahok” di Tanah Suci Mekkah ketika Haji. Saya bukanlah pemilih Gubernur Petahana di Pilkada 2017, karena prinsip pribadi. Tapi melihat itu semua..kok ya saya malu.

Apa memang dosa kita yang sebiji zarrah sudah yakin 100% bakal diampuni oleh Allah ketika Haji? Apa memang sang orator sudah yakin api Neraka tidak akan menjilat seujung kukunya sehingga dia rela berpolitik ketika Haji?

Apakah memang sudah se-euforia itu kita merayakan keimanan kita? Sekuat itukah keimanan kita sehingga sempat-sempatnya kita berpikir untuk berpolitik ketika Haji?

Apakah sang orator ganteng itu tidak tahu bahwa orang tua saya masih harus mengantri hingga 5 tahun kedepan untuk mendapat kuota? Atau di tempat lain yang masih harus menunggu hingga 30 tahun dimana mungkin Haji hanya tinggal kenangan? Dan anda disana, berdiri dengan pongah, berfoto dengan tujuan politik. Kan asyu.

Sudah se-tolol itukah kita, sehingga Nabi Ibrahim dan Haji sudah tidak “hits” lagi, dan hanya menjadi hal biasa?

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Humaniora, Sosial
11 comments on “Ketika Nabi Ibrahim dan Haji Sudah Tidak “Hits” Lagi
  1. Kita semua keblinger dengan pemahaman yang kita punya, kita merasa sudah paling tinggi padahal masih cetek sekali, terima kasih artikelnya, saya harap para politikus bisa berkaca dan membaca

    Like

  2. keren banget nih postingannya…
    thanks ya buat sharenya..

    Liked by 1 person

  3. Sudah seharusnya keyakinan dan keimanan melebihi sekedar hura-hura dunia.

    Liked by 1 person

  4. f.nugroho says:

    Sudah seharusnya keyakinan dan keimanan melebihi sekedar hura-hura dunia.

    Like

  5. […] khutbahnya membawa-bawa soal politik, di dalam pikiran saya, ini harus ditulis. Nah, maka munculah tulisan ini dan […]

    Like

Leave a Reply to ryokusumo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories

limbarup.wordpress.com/

"Jika usiamu tidak panjang,sambunglah dengan tulisan"