“Cocot” Motivator: Jadikan Cicilan Sebagai Motivasi Yang Hakiki!

“Cocot” Motivator: Jadikan Cicilan Sebagai Motivasi Yang Hakiki!

Suatu ketika pada 20 tahun yang lalu, kami berjalan-jalan di pasar tradisional, seperti biasa ibu saya selalu tergerak untuk membeli sesuatu entah cemilan atau barang-barang, dan kali itu ibu coba membeli krupuk opak atau sermiyer.

Harga yang di tawarkan abang penjual adalah Rp. 1500. Seperti ibu-ibu yang lain, ibu saya pun coba menawar di harga Rp.500. Tapi, belum sempat si abang men-iyakan, bapak saya langsung buru-buru menyodorkan uang Rp. 3000 sambil bilang,

“Dua bang” Kata si bapak. Ibu heran dan bertanya kenapa kok tidak ditawar.

“Halah, belanja di Hxro saja kamu gak pernah nawar, mosok sama pedangang kecil kamu nawar? Wis pokoknya klo sama pedagang yang kayak gitu (kecil) kalau bisa jangan di tawar, itung-itung sedekah”

Di lain waktu, ketika itu hari Kamis, ibu yang terbiasa puasa Senin-Kamis pun hari itu berpuasa, tetapi di siang hari kami kedatangan tamu saudara dari jauh. Saya yang baru pulang sekolah lalu melihat ibu ikut makan bersama mereka.

Setelah tamu pulang, saya pun bertanya,

“Bu, kok tumben gak puasa?”

“Ya enggak, lha wong ada mas Bagas sama istrinya, dari Blitar jauh-jauh mampir”

“Lho kenapa? Kan harusnya tetep puasa bu, nanti amalnya gak diterima lho”

“Gini, puasa ibu itu sunnah, sedangkan menyambut tamu dan menghargai tamu itu wajib. Agama ndak cuma habluminallah, tapi juga habluminannas. Juga untuk ngundang rezeki”

“Lha kok bisa, bu?”

“Ya bisa, namanya menyambung silaturahmi itu bisa ngundang rezeki, kayak kemarin, pas kamu bayaran les inggris mu yang mahal, eh pas bapak dapet bonus dari pak Johar, itu kan karena kita datang waktu pak Johar ke Jakarta, eh malah jadi dagang rumah, lha itu namanya rezeki silaturahmi”

“Oh, ya ya” Saya pun mengiyakan.

Dua hal sederhana di atas yang sangat menginspirasi saya hingga hari ini. Tidak perlu orang lain, tidak perlu sekelas Mario Teguh, James Gwee atau Mary Riana yang berbusa menjelaskan apa yang harus saya lakukan demi masa depan yang cerah, terang benderang bak lampu neon 30 watt.

Mengapa demikian? Simple saja, mereka tidak memberikan contoh nyata dan kongkrit terhadap saya apa yang sebaiknya saya lakukan, setinggi apapun jualan mereka soal motivasi. Justru hal sederhana yang ditunjukkan ayah dan ibu saya soal motivasi hidup untuk berbagi dan silaturahmi jauh lebih mengena.

Mengapa kita butuh motivasi?

Sederhana, karena kita sebagai manusia, menyadari bahwa kelemahan kita adalah ketidaksempurnaan, kita itu letaknya salah, jadi mau melakukan apapun kita sudah takut duluan, takut gagal, takut diputusin pacar, takut ditolak cinta dsb.

Itulah kenapa motivator yang bisa mendongkrak rasa percaya diri pasti laris manis, padahal, coba tanya orang yang sudah menikah, apakah sebelum ‘nembak’ si istri dulu itu, orang itu khusyuk mendengarkan Mario Teguh?

Saya jamin tidak, lha buat apa? Bahkan setelah acara motivasinya yang di siarkan di TV swasta itu saya tidak pernah ingat lagi bahkan sepuluh menit kemudian. Saya sendiri sewaktu ‘nembak’ isti saya cuma tanya teman,

“Nembak gak ya?”

“Kalo lu gak nembak, si Roni sama si Fadil yang nembak, mau?

“Enggak..yaudah deh, nembak”

Nah, simple kan. Urusan di tolak itu urusan belakangan, simple saja, kalau kamu laki, ya “tembak”, selesai. Tidak perlu satu jam bersama Mario Teguh, kalau gak sreg ya jangan di “tembak”, cari yang lain. Jomblo ngenes itu bukan kutukan, gaes.

Kalau kamu nyerah ditolak dan gak mau cari lagi, kesimpulannya hanya ada dua: Kamu gay atau seluruh dunia sudah berisi laki-laki semua. Nah, gak mau gitu kan? Ya cari.

Kalau kamu usahawan lalu bangkrut, apa perlu seminar motivasi? Tidak seperlu itu sebenarnya. Coba bangun pagi, lihat anak dan istri, lalu berpikir bahwa anak istri masih harus kamu kasih makan, kalau kamu nyerah mereka makan apa? Nah, yuk ah jualan lagi.

Jadi, motivator lahir karena tingkat ke-baperan masyarakat yang tinggi, sedikit-sedikit ngeluh, sedikit-sedikit nulis status, lagi capek terus curhat di acara motivasi,

“Pak James, saya ini lelah, capek kalo kerja, apa yang harus saya lakukan?”

“Yasudah resign segera, ambil liburan, segarkan pikiran, kumpulkan semangat!”

“Terus anak istri saya makan apa pak?

“Lha kok nanya saya?”

Nah kan..Kalau kamu masih mikir keluarga, tidak bakalan kata-kata putus asa itu meluncur. Kalau kamu mau sukses ya ditambah kerja kerasnya, jangan kaku, jangan ngeluh, jujur, udah.

Ada kata-kata motivasi “Gagal adalah Sukses yang Tertunda”, akibat dari kata-kata ini, teman saya nyaris bangkrut menjual rumahnya akibat rugi di saham, dan akhirnya setelah di beri nasehat yang masuk akal, sekarang dia buka bengkel ban.

Saya coba searching di google dengan kalimat kunci “orang sukses setelah ikut seminar motivasi”. Hingga page 2, yang saya temukan adalah “sukses seminar motivasi”, “sukses menjadi motivator dll”, bukan orang yang tiba-tiba sukses setelah menonton acara seminar motivasi, bukan itu.

189740_1608512818063_1393495122_31334565_6164040_n

Cicilan sebagai motivator terbaik

Ini tidak perlu dijelaskan panjang x lebar, cicilan memang terkadang ampuh  menjadi tambahan penyemangat, bahkan sebuah cicilan bisa mencegah terjadi bunuh diri. Lho kok bisa?

Coba saja ketika anda terpuruk, dipecat dari perusahaan dan tidak tahu harus bagaimana sehingga berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan keluar, berdirilah di pinggir gedung lalu kirim wa ke istri,

“Ma, jaga anak-anak ya, bapak sudah gak kuat lagi, mohon maaf atas semuanya”

Kamu pikir semua hal akan berjalan mendayu-dayu seperti sinetron Uttaran? TIDAK! Coba perhatikan,

“Papa mau ngapain? Bunuh diri ya? eh pa, boleh ya bunuh diri, tapi asal semua utang cicilan papa lunas, mama gak mau di bebanin kayak ginian, liat aja klo belum lunas, nanti mayat papa bakal mama bakar! Di akhirat bakal mama tagih, emang enak!”

Hasil riset membuktikan, 90% pria akan balik badan sambil mengumpat “diancuk, malah kayak gini”. Jika banyak kasus bunuh diri, pasti si istri tidak mengirim balasan ke suaminya. Jadi pesan moralnya bagi istri, selalu pegang hp jika suami mulai uring-uringan.

Dan, buat kamu-kamu termasuk yang rajin nulis status di Path di malam Senin,

“Besok Senin ya Allah, mengapa Engkau adakan hari Senin Ya Allah, Ya Rab?? 😦 😦 ”

Atau status terunyu di pagi hari,

“Seniiiinnnn…huffftt males kerjaaaaaaaaaaaaaaa..”

Nah, silahkan lihat tabel kredit dengan khidmat dan ajukan pertanyaan bergengsi, berapa bulan lagi cicilan Honda Jazz bakal lunas?

Pertanyaan itu secara klinis terbukti mampu untuk membuka mata kamu, mata akan melek segera, segar seperti habis di setrum. Apalagi kalau di tambah dengan pertanyaan

“Pah, bedak mama habis”

***

Nah, selamat Idul Adha happy fren, semoga memotivasi, salam baper.

Advertisements

4 thoughts on ““Cocot” Motivator: Jadikan Cicilan Sebagai Motivasi Yang Hakiki!

  1. Pingback: “Cocot” Motivator: Jadikan Cicilan Sebagai Motivasi Yang Hakiki! | edysmartpro's Blog

  2. Pingback: Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah | Ryo Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s