Pelukis Jalanan: Jejak Bangsa dan Ironinya

Hari libur ini terasa berbeda, entah karena sesuatu apa, kaki ini tiba-tiba membawaku kembali menyusuri jalanan untuk bertemu dengan seorang kawan, seorang seniman yang tergolong edan, tidak biasa. Pelukis jalanan.

Bambang Tridoyo, nama yang sungguh jadul, sejadul lukisan yang terpampang di sekelilingnya: hitam putih, sarat kemanusiaan, dan memiliki nilai nasionalisme yang tinggi.

1

 

Mulai 1975 dia mulai melukis, di awali dengan ranting yang di bakar ayahnya hingga menjadi arang untuk kemudian arang itu di goreskan di kain kanvas.

Dari situlah dia menyadari bakat alamnya yang selama ini tertutupi oleh perintah sekolah dari ayahnya.

Dia kemudian mengembara kemanapun dan dimanapun untuk melukis. Mengabadikan sesuatu yang ada di dalam imajinasinya dan idealismenya.

Dari dia aku mengenal Bung Karno, lebih mengenal beliau daripada buku-buku sejarah yang pernah aku baca.

Kekagumannya pada Bung Karno telah membawanya ke sebuah pameran yang diselenggarakan suatu partai. Sayang, karena alasan tertentu, karya-karya beliau hanya bisa dinikmati kalangan internal partai.

2

 

Cita-citanya hampir sama dengan kebanyakan fans fanatik bung Karno: Sederhana, ingin melihat Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika jadi satu, rukun tanpa keributan.

Indonesia yang beragam, disatukan dengan Pancasila.

3

 

“Bukan Kristen buat Indonesia, bukan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia”

“Tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!” -Soekarno

4

 

Indonesia, memanglah hanya untuk Indonesia. Indonesia seharusnya tidak mempan dengan provokasi SARA, dengan provokasi Agama, dengan provokasi kelas kambing.

Indonesia bukanlah negara dengan perbedaan kelas seperti dalam lembaran pemikiran Marx, Indonesia pun bukan negara dengan pengkultusan kapitalisme ala Barat.

Indonesia adalah Indonesia, negara dengan beragam masyarakat, suku budaya, bersatu padu di dalam ke-Indonesiaan.

Enyahlah kamu, ya kamu, yang ingin negara sendiri, yang ingin negara apapun bentuknya kecuali Negara persatuan dan kedaulatan Republik Indonesia.

5

 

Inilah goresan JASMERAH.

Seorang pelukis jalanan, pelukis trotoar..

Dari jalanan dia mendapat ilham, dari jalanan dia berkarya, dan dari jalanan mungkin beliau akan di kenal..semoga.

7

 6

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Tagged with:
Posted in Humaniora
3 comments on “Pelukis Jalanan: Jejak Bangsa dan Ironinya
  1. Hastira says:

    keren dengan prinsipnya indonesia untuk indonesia. aku cinta indonesia

    Liked by 1 person

  2. ali shodiqin says:

    wah keren-keren, yang di lukis hanya tentang sejarah di indonesia…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories