Anies Baswedan Sang Kuda Hitam dan Prediksi Sang Pangeran Cikeas

Anies Baswedan Sang Kuda Hitam dan Prediksi Sang Pangeran Cikeas

img_5400

Bahkan saya berani mengatakan bahwa Anies Baswedan sudah resmi menjadi sang kuda hitam…

Sangat menarik apa yang di sampaikan oleh istri saya, yang tergolong mamah muda kekinian tadi pagi..

“Pah, Anies Basewedan jadi nyagub toh?”

“Ho oh, kenapa?”

“Wah, gokil nih, ya pasti menang lah yaaa, Anies Baswedan gitu loocch..”

Ups! Masak sih? Ucapan spontan istri saya itu terus terang mengagetkan, menguak rasa keingintahuan saya tentang seberapa besar pengaruh seorang Anies Baswedan terhadap para masyarakat.

Ini jadi sisi lain Pilkada DKI yang unik, disamping bosan bicara hubungan linear putus-putus antara SBY, Megawati dan Prabowo. Kita tahu, Anies Baswedan merupakan salah seorang tokoh yang “di gilai” kaum hawa, khususnya mamah muda, apalagi kalau bukan karena sosoknya yang charming, kharismatik, dan elegan.

Anies punya “sisi” magnet yang menarik. Tulisan “sisi” sengaja diberi tanda kutip karena hampir tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sama seperti iklan Beng-Beng yang cuma “MMMmmmmm…gitu”. Tapi kamu tau kan maksudnya?

Oke, kita kembali dulu tentang tokoh yang “di gilai” kaum hawa. Ini berkaitan dengan tipe pria yang di “gilai” wanita, utamanya yang sudah akhil baligh.

Hanya ada dua tipe pria yang masuk kategori “di gilai”, selebihnya cukup di anggap so-so, alias cukup dinilai dari dua lembar tiket nonton “Me before You” lalu lanjut makan di Hokben, dah.

Dua tipe itu, yang pertama adalah si “The Bad Boy”. Ini alasan utama kenapa James Bond selalu berganti wanita, atau Kaka Slank yang selalu banjir surat cinta, padahal masih gantengan saya, sumpah. Satu kata, karena mereka Bad Boy.

Lelaki tipe ini punya sisi yang menarik dan ekstrim. Contoh politikus ini ya tentu saja Ahok, meskipun sering bicara kasar tapi gaya bicara yang ceplas ceplos, ekstrim, senggol sana sini, paham teknis dan “tembak langsung”, Ahok banyak merebut hati wanita.

Meskipun banyak yang tidak suka, tapi percayalah, tipe lelaki begini banyak yang diam- diam kesengsem, lho. Halah sudahlah, anda tidak perlu capek capek bantah saya, sudah pernah wefie bareng mbak Dian Sastro? Atau cuma duduk sebelahan di bioskop nonton bareng, sampe bikin istri atau pacar kamu meremas botol akua? Dan ini yang minta si mbak Dian lho, kalau saya sih pasti sudah mimisan.

Jadi, sudah jelas ya, di gilai bukan hanya soal tampang, digilai juga karena sikap kamu yang “manly”. Jangan cuma soal semprot parfum lalu berkhayal perempuan bisa takluk sedangkan kamu masih nge-line ke mama “Mah, aku mending jadi gubernur atau jadi tent..eh dokter ya? Takut nih..”.

Ya kecuali ya, kecuali kalau kamu anak horang kaya, seleb atau bapak mu seorang penguasa atau eks, maka gugurlah semua teori cinta. Selain itu, just be a man!

Tipe kedua, ini yang sulit. Tipe “The Good Boy”. Good boy disini dia memang betul betul seorang yang baik, ramah, santun, charming tapi punya visi misi dan ambisi. Bukan cuma sekedar baik. Punya visi dan ambisi yang terukur adalah seksi dimata wanita.

Enggak banyak tipe pria seperti ini yang ” digilai”, beberapa yang berhasil adalah Bung Karno, Ali Sadikin dan JF Kennedy. Setelah itu, hampir tidak ada lagi tokoh sekarismatik itu dimata wanita, hingga pagi tadi istri saya berkata demikian.

Penasaran. Secara acak akhirnya saya mengambil sample pertanyaan di area rumah, kebetulan hari libur.

“Bu, pak Anies nyalon lho bu, wah seru nih kayaknya”

“Iya mas, saya jadi bingung, kayaknya oke juga ya pak Anies itu, pinter dan ngayomi”

Di lapangan,

“Mbak, weh lagi ping-pong toh, gimana nih Anies Baswedan nyalon tuh? Ahok bisa keok nih?”

“Hhhh….Yahh jelash akuh pilih diah lah, ahok bisa keokh ini, huff..huff..biar bapaknya anak-anak aja lah yang milih ahok, akuh sih mas Anies..” Dst

Akhirnya sekitar 10 orang mama muda berhasil saya korek infonya, jawabannya tidak berbeda jauh, hampir semua lebih condong ke Anies Baswedan, ini fakta lho, anda silahkan mendebat saya, tapi apa yang mau saya lawan? Toh ya memang demikian.

Perhatikan kata-kata “mas” yang saya temukan di 3 dari 10 orang mama muda tadi. Kata-kata “mas” lalu disambung dengan nama adalah istimewa, biasanya digunakan wanita pada pria yang dikenal secara dekat, apa artinya? Artinya Anies Baswedan berhasil membuat kedekatan dengan fans secara tidak langsung.

Mengapa demikian? Pertama, karena tingkat kepedulian para orangtua terhadap pendidikan anak saat ini bergeser, jika dahulu orang tua hanya di perankan sebagai penitip anak, maka sekarang orang tua di paksa juga sebagai pelaku pembentuk karakter anak.

Salah satunya adalah program mengantar anak ke sekolah di hari pertama sekolah yang di canangkan Anies Baswedan ketika menjadi Menteri Pendidikan. Orang tua, terutama para ibu merasa dilibatkan dan bahkan di beberapa toddler, para ibu di ajak berpikir pola permainan apa yang cocok untuk karakter anaknya.

Lalu program UN Bukan Penentu Kelulusan, ini juga melegakan para orangtua karena mereka tidak perlu ikut begadang menemani si anak belajar hingga larut akibat sistem kebut semalam.

Dulu sebelum Anies jadi menteri, kita sudah capek dikantor eh pas pulang masih disuruh mikir; jam berapa budi sampai rumah kalau kecepatan sepedanya 5 km/jam? Ini kan konyol, sudah ada hp, ya tinggal telpon si budi, mau jam berapa sampe rumah, ya kan?

Hasil Survey @kusumocenter

Saya juga survey kecil-kecilan ke para guru toddler hingga SD, dan respon terhadap Anies Baswedan ternyata sangat positif, ini bisa menjadi obat kuat seorang Anies Baswedan di Pilkada DKI 2017.

Betulan kuat lho ini. Menurut info ring 1, persentase wanita ber-KTP DKI berumur 25 – 45 tahun adalah sekitar 26% dari seluruh pemilih Pilkada DKI 2017,  angka ini jauh lebih kuat ketimbang mengumpulkan seluruh ormas Islam atau partai selain PDIP berkoalisi. Itu baru secara statistik.

Secara power bagaimana? Begini, sudah pernah mendengar legenda para ibu-ibu yang nekat menerobos banjir dengan motor matik demi lauk di pasar? Yang mana itu mustahil dilakukan oleh para pria yang lebih mementingkan logika ketimbang perasaan, pernah?

Nah, kekuatan ibu-ibu tadi seyogyanya adalah people power sebenarnya, Saya pun amat sangat ragu jika para Habib yang rajin berteriak-teriak di mimbar menyoal anti kapitalis, bisa leluasa ketika berhadapan dengan sistem kapitalis rumah tangga, yang terstruktur dan sistemik.

“Mah, kok makan beras impor? Ini kan kapita..”

“Ape lu bacot? Lu mau makan apa kagak? Itu beras udah paling murah, lebih murah dari Cianjur, kalo kagak mau makan sono gih ke Cianjur, nanem sendiri!”

Jadi jelaskan, bahwa Anies Baswedan memiliki struktur yang kuat di area yang tidak bisa kita jangkau, itu adalah feeling dari para wanita. Mungkin Ahok kuat, sangat kuat malah secara matematis. Tetapi Anies Baswedan memiliki faktor X yang tidak bisa dianggap remeh.

Bahkan jika Anies bisa memanfaatkan dengan baik faktor X ini, bukan tidak mungkin suasana akan memanas. Apalagi Anies jelas didukung oleh faktor agama yang menjadi komoditas politik, jika dukungan ini ditambah oleh simpatisan garis keras para wanita tadi, maka predikat kuda hitam layak di sematkan.

Bahkan saya sudah berani mengatakan bahwa Anies Baswedan resmi menjadi sang kuda hitam. Bisa jadi, jika Anies mampu maksimal, 40-45% suara bisa diraih.

Prediksi Sang Pangeran

Bagaimana dengan Agus Yudhoyono? Saya sulit mau berkomentar, lha wong dengar beliau bicara saja belum lho, kok bisa saya disuruh ngelirik, ah yang bener saja.

Okelah beliau ganteng, ini bisa memecah suara dari Anis Baswedan, terutama remaja yang lagi euforia “nyoblos pertama”. Foto mas Agus yang seperti pemeran Top Gun layak untuk masuk bioskop-bioskop dadakan di kampus atau sekolah dengan judul “Perwira Kesatria II”.

Kekuatan mas Agus satu, dukungan sms/wa/twitter. Ya sosmed, broadcast dari ibunda, istrinda, iparnda dan tentunya ayahanda ke seluruh jajaran kolega di segala level sosialita hingga remaja, bisa mengambil jatah 5% dari seluruh prediksi suara Anis Baswedan.

Dan jika ternyata para sosialita tadi menggunakan sistem endorse untuk pencalonan mas Agus, katakanlah endorse Awkarin misal, jenius..ini berbahaya.

Penonton setia video youtube Awkarin yang jutaan itu bisa tersihir dan berlonjak kepanasan jika tiba-tiba melihat Awkarin bernyanyi cuek dengan Young Lex sambil memakai kaos bergambar mas Agus dengan kacamata hitamnya dan berteriak “I am a BAD girl!!”.

Belum lagi kalau sudah bergerak ke arah para selebgram yang followers nya juga jutaan, wah pokoknya kalau soal advertising, keluarga ini tentu jagonya.

Tidak terbayang jika Pilkada DKI menggunakan sistem vote via sosmed. Agus akan menang telak.

Dari sini prediksi suara Agus Yudhoyono bisa bergeser ke angka 10%, dan prediksi saya angka ini sudah yang terbaik bisa diperoleh. Kalau ada kawan yang berkata, Agus memang disiapkan untuk kalah, Agus disiapkan sebagai pengganti Ketum Partai Demokrat, duh apa peduli saya?

***

Ganteng lah, maka kamu akan di maafkan – nobody

Advertisements

Medco, Antara Nasionalisme dan Singapura

Medco, Antara Nasionalisme dan Singapura

Ada berita yang menggembirakan kemarin (17/9), tapi sekaligus juga agak memprihatinkan. Berita itu ialah soal rencana akuisisi Medco Energi terhadap seluruh 40% saham kepemilikan ConocoPhillips di Blok B Natuna Selatan.

Sekadar catatan bahwa Blok B Natuna Selatan merupakan Blok produksi yang menghasilkan minyak sebanyak 30 ribu barel per hari dan gas bumi sebanyak 300 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka produksi yang termasuk besar.

Lalu apa berita yang menggembirakan itu?

Berita menggembirakannya adalah semangat untuk mengembalikan aset migas yang dikuasai asing akan kembali ke bumi pertiwi, seperti kita tahu bahwa Medco Energi adalah perusahaan yang didirikan oleh pengusaha asli Indonesia, Arifin Panigoro. Dan seperti yang dikenal, Arifin adalah sosok yang cukup punya nasionalisme yang tinggi, pentolan PDIP dan peduli terutama soal olahraga Indonesia.

Seperti biasa, komentar bersliweran di whatsapp grup yang sebagian besar anggotanya bekerja di dunia migas. Mayoritas berkata “selamat untuk Medco, semoga migas kita semua kembali ke Indonesia”, atau “Semangat 2017! Semangat Nasionalisme Migas Indonesia!”

Wah pokoknya macam-macam komentar yang berharap bahwa migas kita betul-betul kembali, kita kuasai sedikit demi sedikit, bahkan ada yang berharap minimal 80% bisa kita ambil alih. Positif sih, tapi apa betul?

Saya sempat bangga kepada Medco ketika berhasil mengakusisi hampir seluruh saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui PT Amman Mineral Indonesia (AMI) pada Juni lalu.

Angkanya fantastis, 34 trilyun rupiah, prosesnya cepat, tidak butuh drama ala Bakrie-Rothschild dan akuntabel. Semangat nasionalisme dibuatnya membara.

Disitu, Newmont Corp (USA) [45%] dan Sumitomo Corp (Jepang) [35%] yang sebelumnya memiliki 80% saham di NNT, seperti “legowo” jika NNT dipegang oleh Medco, bukan Bakrie. Dimana sebelumnya, Bakrie melalui MDB (Patungan dengan Pemprov NTB) sudah berusaha untuk memiliki seluruh saham NNT, tapi selalu di ganjal oleh Newmont sendiri.

Medco sudah terbukti di operasional, dan Bakrie lebih terkenal pada jual beli, mungkin ini yang jadi pertimbangan Newmont Corp yang akhirnya menyerahkannya pada Medco, meskipun tidak mengesampingkan faktor pemerintah juga.

Tapi yang menarik adalah funder-nya, jika melihat laporan keuangan Medco yang masih merugi, kok sepertinya mustahil jika dana sebanyak itu menggunakan dana kas atau uang pribadi. Dan ternyata dugaan saya betul, akuisisi itu di danai oleh tiga bank BUMN; Bank Mandiri, BRI dan BNI, alias di danai oleh Negara.

Nah, kembali ke Natuna, jika dugaan kembali betul, maka proses akuisisi Blok B Natuna Selatan dari ConocoPhillips pun juga akan memakai sistem yang sama, yaitu pendanaan bank, bahkan mungkin akan kembali menggunakan bank BUMN. Dari sisi kedekatan Arifin Panigoro dan Muhammad Luthfi dengan Pemerintah, maka tak sulit bagi mereka untuk bergerak kesana.

Yang jadi pertanyaan, dimana posisi Pemerintah? Apa yang akan di dapat Negara dengan akuisisi itu? Apa hanya sebagai “funder“? Meminjam bahasa kasarnya para haters: “Sapi perah”.

Disinilah letak berita yang agak memprihatinkan tadi.

Kita jangan bicara pajak atau smelter, karena itu hanya berdampak pada proses pengolahan produk dan uang masuk, bukan kepemilikan. Kepemilikan dinilai dari berapa persen saham pemerintah disana dan apa kontribusinya bagi Negara.

Dari situs resmi Medco Energi, tercatat bahwa struktur pemegang saham Medco Energi hanya ada dua, mereka adalah Encore Energy [50,7%] dan sisanya publik [49,3%].

Untuk publik, kita tidak pernah tahu siapa saja disana, karena ada ratusan investor ritel dan trader yang bergabung dengan satu tujuan, dapat untung, bukan untuk memikirkan visi dan misi Medco.

Lalu siapa Encore Energy? Encore Energy Pte Ltd adalah perusahaan investasi migas yang tercatat di Singapura, memiliki induk yang bernama Encore International Ltd dengan keluarga Panigoro sebagai pemegang saham mayoritas atau pengendali [60,6%] dan sisanya dimiliki oleh Mitsubishi [39,4%].

Encore International Ltd sendiri di dalam laporan keuangan resmi dari Medco Energi disebutkan, adalah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Island (BVI). BVI adalah wilayah luar negeri Britania Raya di kawasan Karibia, sebelah timur Jamaika, BVI dikenal juga sebagai kawasan Tax Heaven, sama seperti Panama dalam kasus Panama Papers.

medco

Betul untuk tidak berburuk sangka bahwa keluarga Panigoro sengaja membuat perusahaan cangkang di BVI untuk menghindari pajak, toh ini sudah masuk di laporan keuangan resmi dari Medco, yang artinya secara legal pasti sah. Tapi untuk apa?

Jadi, ada tiga hal yang agak memprihatinkan.

Pertama, tidak adanya posisi Pemerintah untuk ambil bagian di dalam kegiatan akuisisi Medco Energi baik dengan Newmont ataupun ConocoPhillips, rencana pembelian saham Medco oleh Pertamina di tahun 2010 harus kandas oleh DPR. Bank BUMN cuma sebagai “penyalur kredit”.

Kedua, posisi Medco Energi meskipun berstatus sebagai perusahaan Indonesia dan punya aset di Indonesia namun memiliki induk pengendali yang tidak di Indonesia. Ini kan sama saja dengan Unilever, meskipun punya pabrik di Indonesia, tapi pengendalinya tetap di Inggris.

Nah, kalau Unilever jelas pemiliknya darah Eropa (British-Dutch), kalau Medco?

Ketiga, Encore terdaftar di dua negara yang terkenal akan tax heaven, meskipun ini legal tapi untuk apa? Justru ini jadi pertanyaan.

Pantas saja mengapa Singapura getol sekali menahan para peserta tax amnesty (Baca disini) bahkan di ancam laporan kriminal. Yah kalau pesertanya sekelas Encore yang punya Medco, raksasanya migas Indonesia, wajar saja. Ini baru satu taipan, belum para taipan lain.

Ini mah kelasnya paus putih, bukan kakap lagi. Kalau pemerintah Indonesia terus melakukan manuver menyerang dan memiliki striker handal untuk cetak gol, Singapura bisa jadi kucingpura..bukan singa lagi..

Yah, saya rasa, saya harus menahan rasa gembira saya, tapi mudah-mudahan tidak untuk waktu yang lama.

Ojek Online? Ya Iyalah!

Ojek Online? Ya Iyalah!

ojek2bonline

Dahulu kala, ayah saya pernah disibukkan dengan kunci rumah. Jadi ceritanya kunci rumah yang seharusnya beliau pegang tertinggal di rumah saudara, karena saat itu sudah larut malam, meminta saudara mengantar juga segan karena jaraknya jauh.

Ketika itu, ayah saya mendatangi ojek yang masih mangkal di depan dan meminta ambilkan kunci, tapi apa jawaban si tukang ojek?

“Sudah malam pak, jauh, orderan sudah tutup, kalau mau ya segini” (menyebut angka hampir 5x lipat dari tarif biasa)

Akhirnya ayah saya pergi kerumah tetangga, membangunkan tetangga yang sudah tertidur untuk meminta tolong menjebol pintu rumah, kebetulan tetangga ini di kenal jago dalam hal ginian. Pintu pun terbuka.

Berselang 10 tahun kemudian, sekitar setahun yang lalu mulai semaraknya ojek online. Saya dan ibu saya “berdebat” soal memakai ojek, ibu saya ternyata pengikut aliran ojek konvensional, saya selalu di marahi jika ketahuan memesan ojek online,

“Kamu itu, mbok ya pake ojek biasa, kasian mereka harus ngetem, nunggu, belum tentu dapet order”

Karena seorang ibu yang bicara, ya otomatis di iya-in dulu.

Tapi tadi malam, plot berubah. Berawal dari saya dan keluarga yang sudah berbeda rumah dengan ibu, ceritanya kami baru saja pulang dari rumah ibu di malam hari, dan kemarin itu hujan.

Sampai dirumah, saya cek kantong saya, tidak ada bunyi kerincing, lho kunci tidak ada! Saya cek ke kolong mobil, tas istri, tetap tidak ada. Saya lalu menelpon adik dan ndilalah kok ya kunci kamar saya ketinggalan di rumah ibu.

Padahal rumah kami ada di Pondok Bambu, Duren Sawit sedangkan rumah ibu ada di Ciputat, kebayangkan jauh dan macetnya, apalagi semalam itu hujan. Harus kreatif nih, pikir saya.

Dengan sok tahu saya lalu ikutin semua yang ada di youtube soal tutorial bongkar kunci kamar, tapi ya nihil wong saya tidak bakat dalam hal congkel mencongkel hehe, saya pun menyerah dan menelpon kerumah ibu, minta tolong adik untuk pesankan ojek online.

Jarak sudah lebih dari 25 Km batas terjauhnya, sudah jam 11 malam lagipula hujan juga, ah sudahlah, pasrah saja tidak mungkin order diterima. Paling malam ini cek in hotel murah sampai besok Minggu pagi.

Eh ternyata adik saya whatsapp kalau si driver ojek online sudah otw ke rumah ibu, 10 menit kemudian di whatsapp lagi kalau si ojek online sudah otw kerumah saya di Pondok Bambu. Surprise!

Cukup waktu satu jam saja kunci kamar sudah saya terima dengan baik, tidak ada omongan lain dari driver ojek seperti,

“Tambahin lah bang, hujan, jauh lagi”. Tidak ada seperti itu, driver sopan, ongkos sesuai yang tertera di aplikasi. Saya yang akhirnya tambahin, karena jika memakai tukang ojek pangkalan pasti ongkosnya bisa 3 kali lipat.

Saya kemudian berkontak whatsapp dengan ibu saya, mengabari, seperti deja vu kejadian ayah saya dulu, tapi dari situ ibu mulai berubah pola pikirnya atas ojek online, bedanya 180 derajat.

“Wah, hebat ya ojek online itu, malem malem gini masih mau nganter, jauh lagi, dapetnya gede itu pasti, berapa ya per bulan?”

“Wah bisa 10 juta itu”

“Kenapa kamu gak sampingan ngojek aja mas?”

Eaalaaah…..

**

Cerita ini tidak pakai bumbu sponsor apalagi komersial, rekomendasi ojek online muncul dari hati :))

Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah

Menulislah, Demi Hubungan Yang Sakinah

menulis-artikel-yang-baik

Saya sedang dalam perjalanan dari Pondok Kopi menuju kawasan Tb Simatupang ketika mendapat sebuah notifikasi facebook dari teman di Kompasiana. Berhubung macet, maka saya punya waktu leluasa untuk membacanya.

Judulnya sangat menarik, “Haruskah merasa malu karena setiap hari menulis?”, artikel ditulis oleh Sdr. Pebrianov, seorang kawan maya saya yang biasa di panggil Prof alias Profesor karena level tulisannya yang adiluhung.

Ada pemikiran unik, disitu dituangkan pemikiran sang Profesor bahwa kita tidak perlu malu karena setiap hari menulis lalu dianggap seperti tidak bekerja atau tidak punya pekerjaan lain.

Ketahuilah bahwa menulis adalah salah satu kebutuhan “batiniah” bagi seseorang, kebutuhan “batiniah” setiap orang berbeda, ada yang dengan mengaji, curhat, main judi dan lainnya.

Dan bagi para penulis atau yang hobi menulis, menulis adalah suatu aktifitas sakral dan privat, yang menghubungkan antara penulis dengan pikirannya, inilah kebutuhan “batiniah” mereka, seperti petapa yang habis bersemedi, seperti muslim yang wukuf di Arafah. Duh apa ndak syahdu?

Atau ibarat seperti kakek saya yang setiap sore harus mencuci sangkar burung, kalau sehari saja lupa mencuci, rasanya seperti diputusin cinta pertama, galau gaes. Nah, inilah hubungan kontekstual yang dimaksud, layaknya hubungan harmonis antara kakek dengan sangkar burung, begitupula antara penulis dengan pikirannya.

Saya coba merasakannya, apa iya?

Jadi ceritanya, kebetulan seminggu lalu saya coba meliburkan diri dari menulis, baik di kompasiana maupun di blog ini. Biasanya, saya terbiasa menulis setiap malam sebelum tidur, atau selepas Ashar di kantor, itupun tidak langsung saya posting, saya endapkan dulu di draft.

Tapi kali ini saya betul-betul ingin libur menulis, untuk itu bersamaan dengan jadwal cuti, saya pun coba ambil “cuti” menulis dari hari Jumat hingga Senin Idul Adha kemarin.

Apa yang terjadi?

Malam Sabtu atau malam pertama saya mendadak pusing, terbiasa membaca informasi menjadikan otak ini berjalan merangkai tema tulisan secara otomatis. Lho?

Misalkan saja ketika mau berangkat ke Bandung, di hari Jumat pagi, muncul artikel soal Mario Teguh di sosmed, otak dan tangan sudah gatal saja. Sampai di Bandung saya melihat fly over Pasupati, lalu teringat bahwa di Roma tidak dibuat fly over untuk tetap menjaga kesan vintage dan uniknya kota. Kenapa Bandung pakai fly over? Kenapa bukan underpass?

Atau ketika di tol Karawang, jika long weekend situasi lalu lintas pasti padat dan macet, namun kali ini tidak, jalanan lancar, nah muncul lagi di otak “Oh jangan-jangan daya beli warga merosot?”, “Oh, jangan-jangan orang belum gajian?”

Yang unik adalah, pikiran ini secara otomatis merangkai sub-sub tema dalam tulisan, seperti ada remotenya. Saya sih masih yakin bahwa ini cuma kebiasaan saja, tapi kok ya sampai bikin pusing itu lho? Padahal saya belum makan jeroan kambing, Idul kurbannya kan masih tiga hari lagi.

Dari sini saya mendapat fakta. Ternyata endapan ide ini lebih berbahaya ketimbang endapan kolestrol.

Disitu saya baru mengamini tulisan om Peb soal “batiniah”, tulisan bisa dibilang menjadi candu, hanya candu yang positif, selama tulisan kita bulan hoax atau menebar fitnah. Otak jadi terbiasa untuk berjalan, untuk menyusun tema hingga judul.

Nah, apakah mungkin menulis bisa menjadi terapi bagi kepikunan? Bisa jadi.

Toh setelah 2 hari saya meliburkan diri akhirnya bobol juga, terutama setelah sholat Ied, yang mana khutbahnya membawa-bawa soal politik, di dalam pikiran saya, ini harus ditulis. Nah, maka munculah tulisan ini dan ini.

Akhirnya saya menyerah, otak ini seperti terhenti kalau tidak dipakai untuk menulis. Betul kiranya bahwa tulisan adalah hubungan sakinah antara penulis dengan pikirannya, tidak ada yang bisa meng-interupsi, bahkan sekelas ibu mertua.

Privat dan sakral.

Ketika Nabi Ibrahim dan Haji Sudah Tidak “Hits” Lagi

wukuf-arofah

Sekitar lima bulan yang lalu saya menulis di kolom Kompasiana menyoal kata-kata “pret” Mama Dedeh yang secara tidak langsung ditujukan kepada Yusril Ihza Mahendra setelah acara keagamaan yang diselingi oleh politik ala kekinian. “Pret”, adalah kata-kata “pisau” yang mewakili perasaan segenap masyarakat terhadap calon pejabat yang banyak mengumbar janji.

Yang jadi persoalan, seluruh janji, seluruh orasi dan seluruh ornamen politik tumpah ruah tanpa kendali dari mulut sang calon pejabat, bukan cuma satu, tapi dua, tiga bahkan semakin ramai seperti euforia, hyperbola euforia keagamaan yang muntab tanpa estetika.

Pun begitu dengan hari ini, di pagi nan cerah, dimana takbir berkumandang dengan suara kambing, domba dan sapi sebagai backing vocal, berirama syahdu membawa langkah kita ke lapangan untuk mengingat lagi konteks lebaran.

Lebaran yang bukan lebaran biasa. Kali ini lebaran kurban, atau lebaran haji, lebarannya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karena dari kedua Nabi itulah turunlah perintah Tuhan untuk berkurban, di hari Idul Adha ini adalah hari dimana kita dan kalian semua umat Islam untuk mengingat sejarah dua Nabi itu.

Bagaimana kita bisa melupakan, sedangkan dahulu kala Nabi Ibrahim bisa mendobrak seluruh tatanan logika manusia hingga hari ini dengan hanya percaya pada mimpi. Bayangkan jika hal itu di aplikasi di masa kini, atau katakanlah masa tahun 30an. Nasib Nabi Ibrahim sudah berakhir di balik jeruji besi dengan dakwaan percobaan pembunuhan berlatar belakang mimpi, Nabi Ibrahim sudah dituduh seorang psikopat, tak ada bedanya dengan Sumanto.

Tapi di waktu itu, Nabi Ibrahim sudah jauh melampaui logika orang-orang di masa kini, dengan hanya bermodal keyakinan yang hakiki terhadap Tuhan, ditambah juga luar biasanya sikap Nabi Ismail atas ke ide ayahnya.

Bayangkan, bayangkan jika anda mendengar ayah anda berkata “Aku harus mengorbankan kamu atas perintah Allah melalui mimpi”. Apa yang anda lakukan? Pasti anda akan berkata ala Cinta di AADC 1, “Sakit jiwa!”

Jadi sudah seyogyanya jika apapun masalah negri ini, yang namanya Idul Adha tidak pernah bisa lepas dari kisah Nabi Ibrahim, masalah kita itu masih berkategori “apalah” jika dibandingkan dengan problema Nabi Ibrahim. Apalagi soal politik yang..aduh, mas mbak.

Jadi kembali pagi tadi, saya menemukan khutbah Idul Adha dengan tema politik, ya kembali, karena ini yang kali kedua. Yang pertama ketika khutbah Idul Fitri, meskipun ketika itu tema politik sangat jauh dari esensi kembali fitri, tapi saya sudah berusaha melupakan, tapi kok..eh, terulang lagi.

Apakah Tuhan memang sudah pantas untuk diduakan oleh politik? Apakah tema mengingatkan umat tentang pengorbanan dan berbagi Nabi Ibrahim sudah tidak penting lagi? Apakah sudah tidak ada lagi panggung untuk berbicara politik sehingga panggung Nabi Ibrahim rela di seruduk oleh kepentingan “5 tahunan”?

Belum lagi yang paling tolol soal pria yang berorasi “menolak Ahok” di Tanah Suci Mekkah ketika Haji. Saya bukanlah pemilih Gubernur Petahana di Pilkada 2017, karena prinsip pribadi. Tapi melihat itu semua..kok ya saya malu.

Apa memang dosa kita yang sebiji zarrah sudah yakin 100% bakal diampuni oleh Allah ketika Haji? Apa memang sang orator sudah yakin api Neraka tidak akan menjilat seujung kukunya sehingga dia rela berpolitik ketika Haji?

Apakah memang sudah se-euforia itu kita merayakan keimanan kita? Sekuat itukah keimanan kita sehingga sempat-sempatnya kita berpikir untuk berpolitik ketika Haji?

Apakah sang orator ganteng itu tidak tahu bahwa orang tua saya masih harus mengantri hingga 5 tahun kedepan untuk mendapat kuota? Atau di tempat lain yang masih harus menunggu hingga 30 tahun dimana mungkin Haji hanya tinggal kenangan? Dan anda disana, berdiri dengan pongah, berfoto dengan tujuan politik. Kan asyu.

Sudah se-tolol itukah kita, sehingga Nabi Ibrahim dan Haji sudah tidak “hits” lagi, dan hanya menjadi hal biasa?