Sri, Lepaskan Anak Panahmu..

Sri, Lepaskan Anak Panahmu..

Angin padang berhembus kencang, debu-debu berterbangan mengoyak kulit dan teriknya matahari menambah panjang daftar pilu derita para kesatria hingga para babu di medan tempur Kurusetra. Teriakan demi teriakan terdengar bagai detak suara jam dinding kematian yang jarumnya sudah putus namun terus berputar mencari mangsa.

Di ujung dekat perkemahan sana, para Pandawa sibuk berdiskusi dengan khidmat, mereka tengah dilanda kesedihan. Raden Arya Seta, panglima mereka terakhir di hari itu, putra Prabu Salya, harus gugur di tangan Resi Bisma setelah melalui pertempuran yang dahsyat. Belum lagi kematian dua saudaranya yang lain, Raden Utara dan Raden Wratsangka, membuat suasana saat itu sangatlah pilu.

Bukan hanya soal kesedihan, namun saat itu, pihak Pandawa sudah tidak punya panglima lagi yang bisa mengalahkan Bisma. Sedangkan pihak Kurawa, Bisma masih menjadi momok utama, Resi yang sangat sakti itu seperti tak bisa dibunuh, bahkan tersentuhpun tidak! Walau ksatria di sekelilingnya mati satu demi satu, namun Bisma tetap berdiri tegak menggenggam senjata, siap bertempur. Kekalahan Pandawa ada didepan mata.

Tapi, bukan Kresna namanya kalau otaknya tidak seribu. Ditengah kepanikan, otak strategi Pandawa itupun lantas menyebut nama seorang wanita. Wanita yang tadinya dianggap lemah, pasrah dan tidak pantas berada di medan laga, kini justru disebut namanya oleh Sri Kresna.

Srikandi. Ya menurutnya hanya Srikandi lah yang mampu mengalahkan Bisma. Semua mata tertuju padanya, “apa anda yakin?”.

Maka di panggilah Srikandi, yang saat itu justru ada di dalam kemah, untuk kembali bertempur. Srikandi, seorang wanita berjiwa kesatria, pantang baginya untuk menolak perintah. Srikandi yang dikenal luas sebagai pemanah ulung, jauh lebih terhormat baginya untuk kembali ke medan laga demi negara ketimbang berada di balik kenyamanan dan pelayanan kerajaan.

Srikandi segera menaiki kudanya, dengan sekali lecut kuda berlari mantap berderap menuju medan laga, meninggalkan kepulan asap berisi harapan.

Sang kuda berlari terus, memotong barisan pertahanan Pandawa dan tanpa henti terus maju ke depan, maju dan maju. Srikandi mengangkat busurnya, melintasi prajurit diikuti sorak sorai riuh, dukungan dan doa dari para prajurit hingga ksatria, sorak sorai harapan yang nyaris pupus sebelumnya.

Gaung telah ditabuh, tanda telah berbunyi. Bisma melihat Srikandi mendekat, Resi tua nan sakti itu perlahan menurunkan busurnya, wajah yang sangar berubah menjadi lembut, hati yang keras berubah menjadi lunak.

“Oh Srikandi, lepaskan panah mu, untuk kejayaan negerimu. Duhai Amba, angkatlah aku ke Swargaloka..”

***

Di Indonesia, Sri yang lain dipanggil kembali ke medan laga, padang perang ekonomi demi bertahannya Indonesia dari terpaan krisis dunia. Demi kesejahteraan rakyatnya, baik yang mengehendaki maupun yang tidak menghendaki.

Sri kembali ke medan laga dengan segala elu elu, seakan hanya dia yang bisa mengembalikan kejayaan negeri ini. Berbekal kemampuan murni tanpa embel embel Dewi Amba di dalam tubuhnya, Sri bisa melepaskan anak panah secara bebas.

Kemana arah panah itu? Akankah masuk kedalam ekonomi rakyat kecil ataukah justru panah itu menarik diri dan negara ini kedalam ikatan kapitalis global?

Sri, aku hanya berharap bahwa nasionalismu tidak luntur sedikitpun, bahwa kepentinganmu adalah kepentingan negara ini. Tajamnya anak panahmu dan akuratnya bidikan busurmu tidak ada yang meragukan lagi, maka lesatkan anak panahmu kepada kebenaran.

Kami, para prajurit dan kesatria siap mendukungmu, majulah ke medan laga..Sri..lepaskan panah mu, untuk kejayaan negerimu.

#BaladaSri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s