Haruskah Teroris Itu (Tidak) Beragama Dan Beretika?

Haruskah Teroris Itu (Tidak) Beragama Dan Beretika?

Saat ini umat muslim diseluruh dunia sedang dilanda kegalauan tingkat dewa, teroris semakin sibuk untuk menunjukkan eksistensinya, pun semakin biadab menjelang hari raya Idul Fitri 1437 H ini. Dari mulai Turki, penembakan di Dhaka, bom di Baghdad, Jeddah, Qatif, Madinah hingga Solo, kota damai gemah ripah loh jinawi dengan nasi liwet ngepul.

Biadab, memang betul-betul asu teroris itu, banjinguk layak di basmi dari muka bumi. Terutama ketika mereka menyentuh kota Solo, mereka bukan saja menyentuh soal agama, tapi juga budaya dan historis Indonesia.

Apa istimewanya Solo sih selain kesederhanaan dan kenikmatan nyeruput kopi lek Warjo? Cikal bakal teroris? Rumah Presiden Jokowi, heh? Lalu pemboman itu dikaitkan dengan agresi teroris sejenis tragedi John F Kennedy karena Presiden Jokowi bukanlah pengikut freemason? Wow.

Memang absurd kenapa Solo, tapi toh sayangnya mereka sulit di basmi, karena siapa yang tahu orang gila macam mana yang mau meledekakkan dirinya sendiri?

Duhai kawan, ketahuilah, sejatinya mereka tidak gila, mereka itu orang-orang yang penuh kesadaran dan keyakinan menekan tombol ok / not ok di balik baju hitamnya. Keyakinan mereka pasti, bahwa bidadari surga akan segera menjemput roh mereka selepas bom meledak. Pertanyaannnya, keyakinan darimana?

Jika merunut bom di Timur Tengah, urutannya begini: Pertama; bom bandara Kemal Attaturk di Turki, tujuan ISIS masih sama, mendorong Turki dalam pertempuran darat di Ain Al ‘Arab, kedua; penembakan di Dhaka, Bangladesh yang si terorisnya menyeleksi mana korban dari bacaan ayat suci, lalu bom di Qatif dan Baghdad dimana yang diincar ISIS itu adalah pemukiman mayoritas syiah, kemudian Jeddah dan Madinah, yang mungkin bertujuan meneror, dan terakhir Solo, tempat nyantai Presiden kita.

Jelas dari situ mereka punya tujuan, mereka punya keyakinan terhadap agama, punya, dan bahkan paham. Mereka bukanlah bang Ipul yang dengan enak ngomong maaf setelah hap dengan korbannya. Jika mereka tidak punya agama, darimana mereka bisa tahu ideologi jihad. Mereka memahami agama dengan cara mereka, cara ekstrimis dan politik.

Ini kritik bagi pemerintah, bahwa aksi terorisme muncul karena pemahaman agama yang tekstual, skriptural, dan rigid (Khamami Zada). Al-Qur’an dan Sunnah Nabi tidak ditafsirkan secara kontekstual yang melibatkan historis teks dan dimensi isinya.

Ayat-ayat yang cenderung mengarah pada aksi kekerasan, seperti kafir/kufur, syirik, dan jihad sering ditafsirkan secara apa adanya, tanpa melihat konteks sosiologis dan sejarah.

Jadi, amat sangat naif pemerintah dan juga ketua MPR kita ikut-ikutan berkata bahwa teroris itu tidak beragama, sekalian saja ngomong kalau meng-hap sesama jenis itu tidakan orang yang tidak beragama. Nyatanya bang Ipul beragama.

Inilah justru tugas utama lembaga dakwah dan ke-islaman Indonesia. Sangat lambat jika NU dan Muhammadiyah saat ini masih meributkan kursi tukang bakso di MPR/DPR. Mereka bersama MUI dan ormas Islam sudah  saatnya turun gunung, blusukan ke pelosok daerah.

Aksi Densus 88 adalah aksi pengendalian, bukan aksi pencegahan. Aksi pencegahan hanya bisa dilakukan oleh ormas Islam (NU, Muhammadiyah, dll) di daerah kepada masyarakat awam yang rawan pencucian otak.

Ormas Islam sudah saatnya tregginas menyebarkan pencerahan agama secara konstektual ke segala pelosok negeri, tidak cukup dengan fatwa. Dan di tempat lain MPR/DPR segera menuntaskan revisi UU Antiterorisme, segera.

Apa kita harus menunggu para teroris itu kulo nuwun penuh etika sebelum mencet tombol ok di dadanya? Lalu kita bergumam..oh iya ya.

Cuci kembali (re-brainwash) otak para calon teroris itu bahwa jihadlah ke Palestina, bukan meledakkan kantor polisi di Solo atau Jl Thamrin, apa gunanya selain di bully? Cuci otak bahwa mereka salah sasaran.

Wahai NU, wahai Muhammadiyah, wahai yang lain, banyak tugas kalian. Hentikan ceramah politik di mimbar-mimbar sholat Ied yang jadi menjijikkan ketimbang meninggikan akhlak umat, atau sekedar meributkan boleh tidaknya takbir keliling. Duh..

Tuhan tidak pernah tidur, tapi kitalah yang kekenyangan..

Advertisements

One thought on “Haruskah Teroris Itu (Tidak) Beragama Dan Beretika?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s