Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?

Antara Vlog dan Blog. Ada seorang kawan blogger yang menulis bahwa vlog atau video blog yang saat ini sedang era lepas landas, sebentar lagi akan menggerus blog tulisan tanpa ampun. Blog menghadapi senjakalanya.

Alasannya simple, vlog jauh lebih ngena ke masyarakat yang makin malas untuk membaca, lebih suka tiduran sambil nyetel videonya lalu manggut-manggut dan kemudian ngakak atau nangis macam melodrama Korea. Dari sini vlog ditengarai bisa mengungguli blog tulisan.

Masa sih?

Bisa aja sih sebetulnya, toh vlog apabila di kemas dengan bagus bisa lebih menyihir si penonton vlog, contohnya? Banyak di youtube, search aja. Tapi, apa bisa vlog yang gandrung ini bisa seinformatif Tempo, misal?

Gak bisa, atau belum bisa. Secanggih apapun vlog yang dibuat, ujung-ujungnya ya hanya video, orang nonton, manggut-manggut, ketawa terus nyeletuk “oh..iya” dan udah, abis itu balik lagi nyari vlog berikutnya, vlog yang tadi gimana? Ya lupa atau paling di share di sosmed.

Itupun, sekali lagi..itupun, klo si pembuat vlog narsis atau narasumber berkategori: cakep, cantik, seksi, artis semacam Salshabilla Adrian, fluent in english, punya rumah, gadget, pacar atau mobil yang wow. Kalo diluar itu, pastilah si vlogger orang yang kreatif, ada? Ada.

Atau si narasumber memang orang yang berbobot, semacam menteri atau pejabat daerah. Lha kalo cuma pas-pasan? Aduh, jadi miris ngeliat vlog yang ‘maaf’ ya.. begitu deh.

Saya sendiri suka vlog yang menghibur, kreatif, agak nyerempet-nyerempet kayak gini gaes kilik aja, atau kilik yang ini.

Nah, jikapun vlog itu sifatnya informasi, hasilnya lebih kepada netizen jurnalis ala Metro TV, ada narasumber, pegang HP, tanya ini itu, edit dikit, upload deh. Klo canggihan dikit, waduh bisa perang lahan nanti sama TVOne.

Itulah keunggulan blog yang jarang disadari. Ya blog mendobrak mitos jelek itu absolut dan cakep itu relatif, blog tidak peduli. Blog hanya peduli satu, tulisan anda menarik, informatif, tajam, aktual dan terpercaya.

Nulis itu jelas melatih fungsi otak, bagaimana menyusun kalimat yang disampaikan sehingga enak dibaca. Bahkan walau cuma tulisan soal sehari-hari, macam diary. Tapi apa yang disampaikan biasanya lebih detail, lebih ngena dan tentunya gak gampang dilupain  orang.

Karena tulisan murni hasil olah otak, maka tulisan bisa bersifat subjektif dan objektif. Dengan tulisan, kita bisa progresif dengan sedikit satir, menyindir pemerintah ataupun perfileman Indonesia yang hantunya mulai kalah dari Valak. Dengan tulisan kita bisa menginspirasi.

Kok bisa begitu? Ya karena tulisan punya konten yang mendalam, bayangkan sebelum memposting tulisan yang baik, kita tidak instan, ada proses riset, editing dsb. Sehingga sebuah tulisan, buku, koran, blog bisa menjadi rujukan di kemudian hari.

Bahkan gak jarang, blog gratisan malah jadi rujukan pembuatan jurnal ilmiah atau riset sejarah agama atau politik. Nah, jadi selama blog kita tidak ramai dengan iklan, maka isi blog yang menarik, informatif dan cerdas akan selalu ditunggu.

Juga sebagai konsumen, saya sih masih percaya searching di google dan dapat rujukan ke wikipedia atau blog orang masih lebih powerful, ya dan selama ini memang gak ada kita searching di google lalu di rujuk ke sebuah vlog. Tulisan bersifat abadi, vlog masih bersifat ringan dan menghibur.

Yang terakhir, hampir setiap orang bisa nulis, tinggal daftar di lalu gunakan otak dan jari. Tidak pandang jelek, cakep, yang penting otak kita jalan dan bisa merangkai kata. Gak perlu kemampuan editing digital yang canggih untuk bisa menginspirasi.

Jadi, saya masih gak setuju klo blog tulisan akan menemui senjakalanya ketika vlog naik daun. Tulisan dalam blog tetap abadi dan mendalam.

Apakah bisa Tempo menjelaskan kasus reklamasi yang menyeret Ahok melalui vlog? Atau Jonru yang tiba-tiba bikin vlog untuk nyebarin berita hoax? Hmm..gak cocok kali ya.

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Humaniora
15 comments on “Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?
  1. Pakde Cholik says:

    Ahaha bisa saja om, emang saya setuju klo blog masih tetap lebih mendalam dari sisi apapun juga, vlog emang sih bisa bikin ngakak, tapi ya itu baru sekedar itu doank..klo vlog2 artis? Hmm..taik kucing..

    Like

  2. Satusatuen says:

    pengen bikin vlog. tapi modalnya banyak ya kak?

    Like

    • ryokusumo says:

      Itu dia, sebenernya modal smartphone aja bisa sih, tapi next stepnya itu, editing yg canggih..lagian klo mau pro yg hrs pke kamera khusus, ga bisa lgi pke smartphone..anyway sy masih lbih suka blog

      Like

  3. Kalo aku baca2 sih emg beberapa tahun kedepan bakal lebih meroket vlog. Soalnya aku sendiri emg ngerasa dari vlog informasinya lebih kena soalnya divisualkan dengan cara yang beda. Tp kalo bicara blog bakal senjakala egak juga sih. Setiap blog atau vlog pasti punya segmennya masing2. Yg fakir kuota pasti mikir2 buat nonton vlog #eaa #imho #cmiiw

    Like

  4. evrinasp says:

    sekarang sudah merambah ke vlog ya, gimana kalo dua2nya kita garap hehe, blogger mah bisa apa aja kan

    Like

  5. Pendapatnya Mas Ryo ada benarnya juga.
    Menurut saya dari segi kemudahan untuk populer, sepertinya vlog lebih cepat dan blog bisa terbilang lambat dengan kualitas konten yang sama. Akan tetapi, kalo sharingnya lebih lengket dengan menggunakan blog.
    Berikutnya lebih optimal andaikan kita blogger juga bisa ngeblog, jadi, handle 2, vlog dan blog. Hasilnya? bisa seperti webnya Raditya Dika dan Kevin Anggara yang rame 😀

    Like

  6. mawi wijna says:

    Vlog dan blog adalah 2 hal yang berbeda ya dan betul vlog lebih menuntut banyak keterampilan dibandingkan blog, khususnya karena vlog bukan “sekedar” tulisan. Aku khawatirnya, bila vlog dibuat dengan keterampilan yang minim, maka kualitasnya akan buruk dan berakibat pesan yang ingin disampaikan bisa-bisa melenceng. Kalau menurutku vlog dan blog masing-masing punya konsumennya sendiri-sendiri dan masing-masing bakal berevolusi di jalurnya sendiri-sendiri. Tidak ada bakal salah satu yang bakal membuat punah yang lain. Kasus ini sama seperti kekhawatiran akan media cetak (koran, majalah, buku, dll) yang terancam punah oleh dominasi media digital. Tapi kenyataannya, yang seperti itu belum terjadi kan?

    Like

  7. Mau bikin vBlog yang keren atau kreatif, pasti nulis dulu script. Intinya, nulis itu fondasi utamanya CMIIW 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories