Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia

Malam ini 23/06, David Cameron si Perdana Menteri Inggris tidak bisa tidur, malam ini pula mantan walikota London, Boris Johnson sama-sama tidak bisa tidurnya. Karena hari ini hasil referendum nasib apakah Inggris Raya tetap didalam Uni Eropa (UE) ataukah justru keluar dari UE akan diumumkan.

Britain Exit, atau yang dikenal sebagai Brexit adalah sebutan bagi keingingan sebagian masyarakat Inggris untuk keluar (exit) dari UE, mereka menganggap Inggris tidak bisa mengontrol sendiri negerinya, Inggris dikendalikan oleh UE, Inggris tidak mandiri dan sebagainya.

Masyarakat Inggris raya terpecah dua kubu antara kubu Remain (tetap) dan kubu Leave (pergi). Kubu pendukung Remain diwakili oleh partai buruh, partai yang dianggap progresif, peka terhadap isu kekinian, anti-rasial, care and share menjadi simbol termasuk soal kampanye pengungsi di Suriah.

Sedangkan kubu Leave, banyak berasal dari partai konservatif, partai yang kuno, mengganggap kejayaan masa lalu adalah hal yang patut di pertahankan. Inggris sebagai negara terdigdaya di semenanjung Eropa (dulu) adalah kekuatan yang tidak boleh di intervensi hingga saat ini. Britain firstbritish is british, britpop never die and no one can disturb.

Termasuk adegan care and share yang di peragakan Jo Cox , politikus partai buruh terhadap isu pengungsi muslim yang dianggap terlalu termehek-mehek yang justru berbahaya bagi ideologi Inggris raya. Sehingga Jo Cox akhirnya pun dibunuh.

Partai konservatif, partai yang berideologi sangat keinggrisan, mereka mengganggap bahwa leluhur mereka, terutama ayah mereka adalah contoh yang adiluhung, tidak boleh di bantah, kedisplinan adalah mutlak.

Mereka sangat terobsesi pada kejayaan King Arthur atau film-film patriotik semacam “Braveheart”. Inggris adalah penguasa daratan Eropa, tidak ada yang boleh intervensi baik politik, ekonomi apalagi agama.

Tak heran, meskipun mereka tergabung dalam UE, namun Poundsterling masihlah perkasa, tanpa ada gugatan darimanapun.Tak sudi mereka memakai Euro yang masih bau kencur dan mudah di goyang.

Jika begitu gengsinya, kenapa mereka masuk ke Uni Eropa? Ini tak lepas dari sejarah. Inggris, merekalah yang memperkenalkan demokrasi ala kita sekarang melalui piagam Magna Charta pada 1215 M, merekalah yang menjadi pelopor revolusi Industri, merekalah negara imperialis penyebar bahasa yang paling berpengaruh di dunia setelah label gold, gospel, glory berkumandang di Eropa.

Namun setelah perang dunia II, ekonomi mereka porak poranda, mereka jug terkena serangan Nazi. Inggris yang tadinya negara kreditur terbesar harus kehilangan pengaruhnya, termasuk lepasnya India. Di masa itu munculnya dua kubu, Amerika sebagai kekuatan financial dan Uni Soviet sebagai kekuatan psikologis.

Efeknya mudah ditebak, Amerika muncul sebagai kreditur bagi negara-negara Eropa barat yang mengalami kehancuran ekonomi, termasuk Inggris. Munculah Marshall Plan yang salah satu pasalnya berisi: “Mengurangi penghalang-penghalang yang menghambat kelancaran perdagangan antara negara-negara peminjam”

Inggris diujung dilema, mereka mau tak mau harus berbaur dengan negara Eropa lain, kecuali Eropa timur karena pada waktu itu pengaruh komunis masih kuat. Jalan terbaik untuk mengembalikan perekonomian adalah mengalah. Apalagi Inggris juga merasa dirugikan karena mereka tidak bisa berdagang sebebas Jerman, Italia, Spanyol dan Perancis karena ekslusifitas mereka.

Dan didorong alasan ekonomi tadi, Inggris pun berusaha untuk masuk ke Masyarakat Ekonomi Eropa (sekarang UE) pada periode 1960an. Dan puncaknya adalah pada 21 Desember 1962, Inggris menyerahkan pertahanan nuklirnya ke Amerika, karena jika Inggris masuk kedalam MEE, maka Amerika pun punya pengaruh secara langsung pada MEE. Saling menguntungkan.

Tapi Inggris, tetaplah Inggris, sikap konservatif sebagian masyarakatnya tetap menganggap Inggris tidak bisa di atur, mereka merdeka sepenuhnya. UE adalah penghalang mereka dalam berbagai hal, sehingga tak heran keputusan Inggris sering bertolak belakang dengan keputusan UE, terutama ketika Margareth Tatcher berkuasa.

….we believe in a free Europe, not a standardized Europe” Ujarnya. Sudah jelas, Inggris menolak standarisasi UE, termasuk meminta potongan untuk sumbangan MEE. Jadi tak heran, jika mental adigang-adigung Inggris selalu akan tampak.

Lalu apa efeknya pada perekonomian dunia?

Jika keputusan hasilnya Remain, maka kondisi baik-baik saja, namun jika hasilnya Leave, maka akan sangat berbeda. Kehilangan Inggris adalah kehilangan besar bagi Eropa. Leave bagi masyarakat dunia adalah sentimen negatif. Mungkin poundsterling akan jatuh, disusul euro. Jika euro jatuh maka ekonomi Amerika pun akan goyang, terutama ekspor Amerika karena naiknya mata uang dollar.

Eropa yang masih dilanda krisis (tingkat pengangguran rata-rata masih 10%) akan goyang dombret, efeknya tentu akan global. Bahkan ada yang memprediksi seperti krisis 2008. Karena efek jangka panjang yang paling ditakutkan adalah satu per satu negara eropa akan keluar dari UE mengikuti jejak Inggris akibat ketidakpuasan pada UE.

Jika itu terjadi, ekonomi dunia menjadi sangat tidak pasti. Sehingga opsi yang paling masuk akal diambil pada esok hari adalah Remain. Dan David Cameron, sebagai orang konservatif yang mendukung kubu Remain adalah pihak yang paling dag dig dug menunggu hasil. Yah asal nasibnya tidak seperti Jo Cox saja.

Tapi, tenang saja kawan, piala eropa masih bisa disaksikan dengan damai di rumah kok, bersantailah. Karena akhir dunia bukan Inggris yang menentukan.

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Ekonomi
6 comments on “Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia
  1. Sulistyo says:

    Akhirnya mereka leave juga, GBP anjlok dan efeknya IHSG pun terjun, mungkin bisa sampai 4600 lagi bos

    Like

  2. Mbah Semar says:

    Efeknya, bursa jatuh, US dolar naik dan ekspor mereka terhambat, termasuk ke Indonesia..kt siapa Indo tdk terpengaruh, bambang brodjonegoro mustahil tdk tahu, dia cuma ngademin masyarakat saja..nih baca gan
    http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.co.id/

    Liked by 1 person

  3. Kang Eman says:

    efeknya bisa luas ini mas, menarik nih bahasannya. inggris out diikuti polandia, slovenia dan trakhir yunani..sistem ekonomi UE sdh rapuh skali, wajar jika inggris kluar, utk jngka pendek mmg brmasalah tapi jgka pnjanf bgus bwt inggris..indo ga trlalu signifikan mas

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories