Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan

Ini bulan puasa, bulan yang penuh berkah, penuh pengharapan, ampunan dan kasih sayang. Banyak yang ditunggu di bulan yang penuh rahmat ini, bukan cuma soal dua tiga butir kurma plus es teh manis atau sop kaki kambing yang nikmatnya di ubun-ubun pas buka puasa, tapi jauh lebih dari itu. Allah memberikan nikmat lain yang tak terkira, silaturahmi.

Silaturahmi, yang menurut mbah google terdiri dari dua kata: Shilah dan Ar-Rahim, shilah yang berarti hubungan dan Ar-Rahim yang berarti kasih sayang atau kerabat. Sehingga silaturahmi bisa diartikan bebas adanya hubungan kekerabatan, kekerabatan dalam keluarga, rekan kerja dan juga teman sekolah atau kuliah.

Nikmat inilah yang Allah turunkan pada hambanya yang rajin bersosialiasasi dan tak pernah luput dari update grup whatsapp, nikmat silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama. Hayo, sudah berapa undangan buka puasa bersama yang masuk di minggu ini? Jika anda dulu pernah populer atau minimal pernah bikin kasus sekali dalam tiga tahun, pasti anda ada dalam list undangan massal di FB, pasti itu.

Coba cek, lho masih belum ada juga? Coba ingat-ingat, jangan-jangan dulu anda penganut homescholling yang lagi hits itu? Yo pantes.

Bagi sebagian orang, menghadiri acara buka puasa bersama alumni itu bukan cuma ajang temu kangen, tetapi juga ajang show off, pamer dari mulai mobil, gadget, style hingga keluarga. Keluarga saja di pameri?

Ketuk dalam hati diri masing-masing, terutama bapak-bapak yang beristri tak kurang cantik dari Cathy Sharon atau Inneke Koesherawati, pasti rela berbetah-betah menunggui istrinya berdandan lama, bahkan tak jarang ikut berkomentar “Mah, lipstiknya kurang cetar ah” atau “Eh, eye shadownya ketebelan tuh”. Hal yang mustahil dilakukan sehari-hari, bahkan kalau lagi mau kondangan.

Bertemu alumni, itu soal lain, ada pride yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata, bukan cuma yang sudah berkeluarga, yang belum berkeluarga pun tidak lantas kaku, mereka justru saling show off, saling pamer, dari mulai soal cinta hingga tentunya soal karir yang lagi menjulang, apalagi kalau disitu ada..mantan.

Mantan, kata yang tak pernah lekang oleh waktu, selalu menyisakan kegetiran, tak lain, hanya kegetiran. Seseorang yang selalu membuat hati kita menclos setiap kali berkaca di kamar mandi, seakan pomade sebotol tak mampu untuk membuat kita tampil kece, lebih kece dari yang dulu.

Ya, inilah kenikmatan Ramadhan kawan, selain silaturahmi adalah kenikmatan bertemu mantan yang tidak setiap bulan bisa terjadi.

Maka tak heran, ketika para pria (tentunya) dengan status jomblo awet tanpa pengawet akan saling berbisik, bergosip dengan khusyuk dipojokan restoran yang sudah di booking full menjelang bedug magrib.

“Eh liat deh si Nita, sumpah cakep banget sekarang, karirnya sukses lagi jadi pengacara, gak nyesel dulu diputusin?”

“Ya nyesel lah, eh tapi kalo bukan aku dulu yang maksa nganterin dia masuk ke fakultas hukum, gak mungkin dia kayak gini sekarang”

Nah lho, terjadilah percakapan yang sebetulnya harus dihindari. Mengapa? Karena mengungkit segala sesuatu seakan-akan kita (sang mantan) adalah pahlawannya, sesunggunya itu hanyalah membawa luka yang lebih dalam. Toh, jika bukan kita yang mengantarkan Nita masuk fakultas hukum dulu mungkin akan ada cowok lain yang bermobil wah yang dengan suka rela mengantarkan Nita. Kita hanyalah perantara.

Ya tapi itulah, wajar saja jika silaturahmi buka puasa bersama tadi berdampak pada terlecutnya hati kita demi melihat mantan yang menjadi jauh lebih cantik, lebih sukses, lebih berisi dan banyak dipuji khalayak. Itupula yang terjadi dengan Bapak SBY ketika berkata dengan syahdu;

“Dulu Tito itu saya lho yang angkat 3 kali dengan akselerasi”

Iya pak, kami warga negara Indonesia yang terhormat ini tahu, dan mengamini bahwa bapaklah yang dahulu berjasa menaikkan pangkat Tito Karnavian, tapi seperti dalam kasus Nita, kita semua hanyalah perantara pak. Memang sudah jalannya Nita jadi pengacara, memang sudah kodratnya Tito Karnavian jadi Kapolri, dan Joko Widodo sebagai Presiden pun hanya sebagai perantara pelantikan. Tak lebih.

Jadi, sekali lagi kita harus lebih berhati-hati ketika menghadapi undangan buka puasa bersama, apalagi jika di status grup FB sang mantan berkata

“aku dateng ya….bawa suami dan anakku”

Sudah lah jomblowan, jangan langsung mundur seribu langkah, hadirilah forum buka puasa bersama itu dengan jantan sebagai ajang silaturahmi yang di rahmatkan pada kita di bulan Ramadhan.

Toh, mantan-mantan lain..eh, teman-teman lain masih ada.

 

***

Happy wiken, dan

Happy bukber yang bukan wacana

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Humaniora, Indonesia
2 comments on “Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan
  1. Gingin says:

    Hahaha..kocak akhirnya, memang betul pak mantan hrus instropeksi 😀

    Like

  2. TaufikM says:

    Keren ilustrasinya bro..haha salam, setuju memang mantan tak perlu kepo kepo

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories