Ketika Halal dan Haram Hanya Setipis Kertas

Ketika Halal dan Haram Hanya Setipis Kertas

Agak kaget juga ketika membuka sosial media dan menemukan sebuah berita tentang di haramkannya anggota grup whatsapp untuk left chat dari grup oleh lembaga majelis agama di Malaysia. Kalau biasanya taklimat pamungkas itu ditujukan untuk kegiatan atau objek yang riil, maka kali ini sudah menyasar pada pengharaman dalam kegiatan sosial media.

Yup, whatsapp! Aplikasi sosial media yang sama larisnya dengan warteg bu Eni di Serang yang buka pas jam puasa. Bagi MUI-nya Malaysia, left chat grup wa sama saja dengan memutus tali silaturahmi.

Geleng-geleng, wow, begitu mudahnya para pemuka agama tadi sekonyong-konyong melabeli haram pada aktivitas masyarakat di dunia maya. Selain karena banyak alasan orang left chat di grup wa, juga karena..yaah, apa sih esensial left chat di wa itu? Kenapa justru tidak mengharamkan postingan porno di grup wa?

Sama halnya dengan pelabelan “halal” untuk jilbab syar’i kekinian dengan merk tertentu, apa tidak sama saja dengan pernyataan implisit bahwa jilbab selain merk itu belum tentu halal? Yah, mungkin saja ada pemikiran absurd bahwa jilbab merk lain terbuat dari kulit babi, atau di campur dengan sari minyak babi ketika pewarnaan sehingga “belum tentu halal”. Walah.

Dan ketika itu terjadi tentu saja, hanya satu merk jilbab yang diuntungkan dengan definisi “halal” dan layak pakai tadi, sehingga para penggiat iklan seperti berhak untuk bertanya konyol kepada mama muda dan mbak-mbak jilbab kekinian: “apa jilbab kamu sudah halal?”

Mari kita simak sejarah dahulu bagaimana para ulama-ulama dahulu yang terkenal zuhud, dan tiada banding kekhusyukannya beribadah, perlu berpikir berulang kali, mengumpulkan data, mengumpulkan para ulama lain, saling bertukar pikiran, saling mengkaji untuk setiap ijtihad yang dilakukan.

Agar apa? Agar jangan sampai setiap keputusan ijtihad soal agama tadi membawa secuil kepentingan pribadi untuk dunia, yah boro-boro berpikir keuntungan, berpikir untuk kesenangan pribadi pun sama sekali tidak. Terlebih jika itu skala nasional. Bisa repot urusannya dengan kerajaan.

Tapi sekarang, label halal dan haram sudah demikian tipisnya, para pemuka agama sepertinya enteng melabeli sesuatu haram atau halal tanpa berpikir ulang esensi dan dampaknya bagi masyarakat banyak.

So, dengan asumsi itu, maka izinkan penulis untuk memberi saran bagi MUI untuk segera bertindak tegas, untuk segera juga melabeli haram bagi 3 hal berikut yang meresahkan stabilitas nasional:

A. Mengharamkan Bukber Wacana

Ternyata bukan cuma hisapan jempol postingan soal bukber “wacana”. Modusnya sama, ada teman yang mengusulkan buka puasa bersama, disetujui oleh semua pihak namun tidak ada kelanjutan ataupun terjadi pembatalan oleh beberapa anggota dengan berbagai alasan padahal waktu dan tempat sudah di booking.

Bukber pun hanya menjadi wacana.

Inikan menjengkelkan sekali, tak jarang tempat sudah di booking bahkan ada yang sudah down payment, tapi kok ada yang tega seenaknya bilang “Gue sibuk”. Perlu di sadari bahwa teman yang rela membooking dan mengatur itu pun punya kesibukan yang tak kalah padat dengan anggota DPRD lho, malah kadang curi-curi waktu kerja untuk telpon survey tempat. Tujuannya satu: Ingin bukber, ingin kumpul, ingin silaturami.

Bukber atau buka bersama itu seyogyanya punya makna filosofis yang teramat dalam bagi bangsa Indonesia, dari dulu hingga sekarang pun maknanya sama: Kumpul.

Kumpul merupakan wujud nyata dari silaturahmi yang sangat di agungkan dalam Islam. Silaturahmi pun bisa memperlancar rezeki, yah siapa tahu ketemu teman yang sudah jadi pengusaha, lalu bisa berwujud bisnis bersama.

Apalagi ini di Indonesia yang kental sekali budaya kumpul, kongkow atau nongkrong. Hingga muncul tagline posesif “makan gak makan asal kumpul”. Maknanya jelas, silaturahmi menjadi tonggak peradaban bangsa Indonesia. Indah.

Tapi justru di jaman ini..ealaah..keinginan silaturahmi dengan rekan sejawat, harus pupus harapan dengan fenomena klasik: Sibuk…sibuk dan sibuk, yah mungkin inilah realitas banal Jakarta, realitas ibukota Indonesia. Realitas yang menjengkelkan.

Jadi berlatar belakang yang sama dengan hukum left chat wa tadi, penulis ingin menghimbau kepada majelis dewan MUI yang terhormat, agar sudi di keluarkan taklimat kekinian yang lagi hits dan fenomenal:

“Haram hukumnya membatalkan atau menolak buka puasa bersama, itu sama saja dengan memutus tali silaturahmi!”

B. Mengharamkan tayangan Uttaran pada sore menjelang berbuka

Menonton tayangan Uttaran sebetulnya sah-sah saja, toh ini previlege bagi mama muda sambil mengaduk adonan bubur sumsum ala Tapasya dengan musiknya. Tapi..menjelang berbuka gitu? Apa ada hal yang lebih layak dari sekedar menonton konflik berkepanjangan ala India?

Plus dengan rekornya dalam mendukung jumlah perceraian suami-istri yang di tengarai membuat sang istri bisa lupa diri, lupa bikin kopi atau lupa meracik sambal untuk suami. Sudah jelas, tayangan ini punya efek magis yang kuat, lebih dari efek magis suami yang tambah ganteng sehabis bercukur. Kalah! Apalagi ini disiarkan menjelang buka puasa. Mau tahu efek lanjutannya? Takjil dirumah tak jarang jadi kurang manis, kurang asin, gosong atau malah kosong melompog. Duh gusti!

Dengan alasan ini, sudah saatnya MUI menggunakan super power nya untuk segera (sekali lagi, segera!) melabeli “haram hukumnya menonton Uttaran menjelang berbuka puasa”

Kami yakin, dunia bakal lebih indah, betul?

C. Haram berjualan makanan pada jam puasa

Wah, ini pasti jadi polemik di sosmed. Ini masih hangat di sosial media soal warteg ibu Eni di Serang, Banten yang di geruduk satpol PP karena berjualan pada jam puasa, eh penulis malah minta ini di haramkan.

Lho, kenapa? Gini lho, ada dua pendapat yang berbeda menanggapi ini, yang satu beranggapan bahwa berlebihan sekali satpol PP sampai membuang ayam goreng garing baru ngebul dari dapur itu, belum juga sampai lima pembeli. Kenapa tidak membuang juga ayam Mxx yang nangkring jelas di tengah kota? Apakah karena puasa lalu lantas intoleran terhadap sesama, wong cilik lagi?

Pendapat lain mengatakan, surat edaran sudah ada sejak setahun lalu dan satpol PP hanyalah petugas yang..yaa cuma melaksanakan perintah, jadi memang ada benarnya tindakan satpol PP.

Nah, daripada berpolemik, sudah dijadikan satu saja. Toh ini kaitannya dengan agama. Jadi penulis menghimbau agar MUI sekalian saja mengharamkan setiap toko, warung, restoran cepat saji, tukang segala es, baik di jalanan maupun di mall untuk beroperasi pada bulan Ramadhan dari imsak hingga menjelang berbuka untuk seluruh Indonesia. Semua wajib tutup, selesai.

Lho, kok begitu, itu intoleran dong namanya? Sudahlah, toh kita,  umat muslim di Indonesia ini memang masih dilanda kemanjaan sebagai mayoritas, kita inginnya di hormati. Yang lain ya harus nurut, iya apa iya?

Tapi kan..?

Sudah, jangan berdebat disaat kita masih sibuk menelan ludah ketika ada ibu hamil dengan maknyusnya nyerutup es kelapa di samping kita yang berpuasa, bahkan kita sempat melirik menu makanan si sakit ketika menjenguk kawan di rumah sakit. Apalagi mencium ayam goreng gilang gemilang bu Eni? Waduuh..

So, tolong hargai kemanjaan kami, kami memang manja, kami belum bisa berpuasa karena Tuhan kami atau sekedar karena janji pahala yang membumbung langit, belum. Level kami belum secanggih itu, kami masih bersumbu pendek, kami masih level amatir sehingga perlu dukungan satpol PP untuk sekedar menahan air liur.

Atau kami perlu pindah ke jazirah arab?

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Halal dan Haram Hanya Setipis Kertas

  1. Syedih sekali jdi masyarakat Indo. Pemikirannya dicampuri olh budaya2 dri luar. Paling sedih itu dg kjadian pengelola sinema uttaran knpa harus disiarkan mnjelang brbuka? ishh… syedih dan syedih skali…
    3 poin di atas menohok skali dn siipp (y)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s