“Bersekolah” Untuk Kembali Liar, Save Orangutan Untuk Masa Depan

“Bersekolah” Untuk Kembali Liar, Save Orangutan Untuk Masa Depan

Hari Kamis lalu (23/6) cukup senang saya mendapat telepon dari Kompasiana, media netizen yang enggak santai alias berbobot itu. Medianya berbobot, nah kalau ditelepon pasti urusannya berbobot, bukan urusan remeh.

Benar saja, saya mendapat undangan untuk bisa hadir dalam acara Donasi Pelepasliaran Orangutan yang di adakan hari Jumat lalu (24/6) bertempat di Menara BCA, depan Mall Grand Indonesia. Sebuah kehormatan di bulan Ramadhan.

Tak berpikir panjang, saya langsung iyakan, tentu karena acaranya saya anggap sangat berbobot dan cukup dekat dengan tempat kerja. Yup, saya hadir tepat waktu, 14:25 teng, di Menara BCA lantai 22 ruang Breakout. Setelah mengisi daftar hadir, saya pun bertemu dengan mas Ahmad Imam Satriya, seorang Kompasianer yang mengisi buku lebih dulu dari saya.

Dari mas Imam, saya pun berkenalan dengan mas Gapey Sandy, Pak Isson Khairul, mbak Uli Hartati dan Mbak Arum Sato. Maklum ini termasuk kopdar pertama saya dengan rekan-rekan kompasiana. Kopdar dadakan lah istilahnya

Masuk kedalam ke dalam ruangan, terpampang jelas tulisan soal tujuan acara ini, sebuah donasi untuk pelepasliaran Orangutan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur oleh PT Bank Central Asia (BCA) kepada BOSF (Borneo Orangutan Survivol Foundation), sebuah Non Governmental Organization (NGO) atau lembaga nirlaba yang khusus berkecimpung dalam upaya menyelamatkan populasi Orangutan di Indonesia.

IMG_5040

Dok Pribadi

 

Kenapa Orangutan?

Sepintas Orangutan sama saja dengan hewan lain, banyak manusia menganggap, mereka seperti hanya penghias bumi, tak ada mereka pun tak mengapa, mengapa hingga perlu beratus-ratus juga hingga bermilyar-milyar untuk penelitian, pelestarian dan rehabilitasi untuk hewan satu ini?

Pertanyaan itu tentu bisa di jawab dari berbagai sisi, tapi pertama tentunya karena Orangutan adalah hewan yang menjadi ciri khas Indonesia, hewan yang DNA nya paling menyerupai manusia. Ada penelitian bahwa kemiripan struktur DNA, sifat dan latar belakang antar makhluk bisa membawa pada kedekatan emosional. Hmm..

Berikutnya adalah soal ekosistem, tanpa kita sadari Orangutan adalah penyebar biji-bijian dan tumbuhan yang penting untuk regenerasi hutan. Hilangnya Orangutan adalah ancaman bagi hilangnya ratusan spesies hewan dan tumbuhan pada ekosistem hutan hujan.

Jadi, tak heran jika keberadaan Orangutan dilindungi Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN.

Nah, yang parah dari itu semua, ternyata kepunahan Orangutan bukan karena berkurangnya reproduksi mereka, tapi karena mereka diburu, mereka dibunuh bahkan banyak ditangkap dan di selundupkan ke luar negeri.

Kok bisa?

Begini urutannya. Orangutan bisa ditangkap oleh manusia bukan tanpa sebab. Menurut Nico Hermanu, Communication Coordinator BOSF, mereka lari dari habitat aslinya dan masuk ke habitat manusia karena Deforestasi, karena habitat hutan mereka jauh berkurang akibat habis terbakar, entah karena kebakaran hutan atau memang hutan yang “sengaja” dibakar.

Masih ingatkan instagram dari Leonardo DiCaprio pada Maret 2016 lalu yang mengkritik pemerintah Indonesia soal nyaris punahnya Orangutan akibat perluasan perkebunan kelapa sawit?

Leo saat itu di kritik akibat mengesampingkan faktor ekonomi masyarakat Indonesia yang daya ekspornya bergantung dari sawit. Tapi kita tidak tahu kebenarannya kan? Dan jika ini benar, maka alangkah mirisnya. Bahkan menurut Jamartin Sihite, CEO BOS Foundation, mereka pernah 10 tahun tidak bisa melepaskan Orangutan akibat tidak ada hutannya!

Seperti itulah kira-kira penyebab dari “kabur”nya Orangutan dari habitat aslinya. Dan BOS Foundation sebagai pusat rehabilitasi saat ini bekerja dengan sungguh-sungguh dalam upaya penyelamatan populasi Orangutan. Ada sedikitnya 1000 ekor Orangutan yang pernah di rehabilitasi akan dilepas kembali ke hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Sang Penjaga Rimba

Kehje Sewen yang berarti Orangutan, akan menjadi “rumah” bagi mereka. Orangutan yang sudah jinak akibat pergaulan bebas dengan manusia, harus di “sekolah” kan lagi untuk menjadi liar, mereka tidak boleh mengenal manusia.

Liar adalah habitatnya, ekosistemnya. Mereka akan menjadi Penjaga Rimba, yang akan menjaga hutan kita dari sentuhan tangan manusia yang senantiasa usil.

Dan akhirnya, penandatanganan donasi pelepasliaran Orangutan dilakukan oleh Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank BCA dan Prof.dr.Bungaran Saragih, Dewan Penasehat BOS Foundation. Acarapun berlangsung dengan lancar.

Apresiasi luar biasa kepada Bank BCA yang telah memberikan donasi atas pelepasliaran Orangutan ini. Dalam sambutannya, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank BCA mengatakan bahwa di tengah dunia yang hanya memikirkan bisnis, kita juga perlu memikirkan “sesuatu yang lebih dari itu”.

Dan tentunya kita sepakat, bahwa kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem alam kita adalah perwujudan dari kalimat”sesuatu yang lebih dari itu”. Dan pelepasliaran Orangutan adalah salah satu dari “sesuatu yang lebih”.

Semoga lebih bermakna. Salam NKRI

This slideshow requires JavaScript.

Artikel dimuat juga di Kompasiana, Disini

Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?

Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?

Antara Vlog dan Blog. Ada seorang kawan blogger yang menulis bahwa vlog atau video blog yang saat ini sedang era lepas landas, sebentar lagi akan menggerus blog tulisan tanpa ampun. Blog menghadapi senjakalanya.

Alasannya simple, vlog jauh lebih ngena ke masyarakat yang makin malas untuk membaca, lebih suka tiduran sambil nyetel videonya lalu manggut-manggut dan kemudian ngakak atau nangis macam melodrama Korea. Dari sini vlog ditengarai bisa mengungguli blog tulisan.

Masa sih?

Bisa aja sih sebetulnya, toh vlog apabila di kemas dengan bagus bisa lebih menyihir si penonton vlog, contohnya? Banyak di youtube, search aja. Tapi, apa bisa vlog yang gandrung ini bisa seinformatif Tempo, misal?

Gak bisa, atau belum bisa. Secanggih apapun vlog yang dibuat, ujung-ujungnya ya hanya video, orang nonton, manggut-manggut, ketawa terus nyeletuk “oh..iya” dan udah, abis itu balik lagi nyari vlog berikutnya, vlog yang tadi gimana? Ya lupa atau paling di share di sosmed.

Itupun, sekali lagi..itupun, klo si pembuat vlog narsis atau narasumber berkategori: cakep, cantik, seksi, artis semacam Salshabilla Adrian, fluent in english, punya rumah, gadget, pacar atau mobil yang wow. Kalo diluar itu, pastilah si vlogger orang yang kreatif, ada? Ada.

Atau si narasumber memang orang yang berbobot, semacam menteri atau pejabat daerah. Lha kalo cuma pas-pasan? Aduh, jadi miris ngeliat vlog yang ‘maaf’ ya.. begitu deh.

Saya sendiri suka vlog yang menghibur, kreatif, agak nyerempet-nyerempet kayak gini gaes kilik aja, atau kilik yang ini.

Nah, jikapun vlog itu sifatnya informasi, hasilnya lebih kepada netizen jurnalis ala Metro TV, ada narasumber, pegang HP, tanya ini itu, edit dikit, upload deh. Klo canggihan dikit, waduh bisa perang lahan nanti sama TVOne.

Itulah keunggulan blog yang jarang disadari. Ya blog mendobrak mitos jelek itu absolut dan cakep itu relatif, blog tidak peduli. Blog hanya peduli satu, tulisan anda menarik, informatif, tajam, aktual dan terpercaya.

Nulis itu jelas melatih fungsi otak, bagaimana menyusun kalimat yang disampaikan sehingga enak dibaca. Bahkan walau cuma tulisan soal sehari-hari, macam diary. Tapi apa yang disampaikan biasanya lebih detail, lebih ngena dan tentunya gak gampang dilupain  orang.

Karena tulisan murni hasil olah otak, maka tulisan bisa bersifat subjektif dan objektif. Dengan tulisan, kita bisa progresif dengan sedikit satir, menyindir pemerintah ataupun perfileman Indonesia yang hantunya mulai kalah dari Valak. Dengan tulisan kita bisa menginspirasi.

Kok bisa begitu? Ya karena tulisan punya konten yang mendalam, bayangkan sebelum memposting tulisan yang baik, kita tidak instan, ada proses riset, editing dsb. Sehingga sebuah tulisan, buku, koran, blog bisa menjadi rujukan di kemudian hari.

Bahkan gak jarang, blog gratisan malah jadi rujukan pembuatan jurnal ilmiah atau riset sejarah agama atau politik. Nah, jadi selama blog kita tidak ramai dengan iklan, maka isi blog yang menarik, informatif dan cerdas akan selalu ditunggu.

Juga sebagai konsumen, saya sih masih percaya searching di google dan dapat rujukan ke wikipedia atau blog orang masih lebih powerful, ya dan selama ini memang gak ada kita searching di google lalu di rujuk ke sebuah vlog. Tulisan bersifat abadi, vlog masih bersifat ringan dan menghibur.

Yang terakhir, hampir setiap orang bisa nulis, tinggal daftar di lalu gunakan otak dan jari. Tidak pandang jelek, cakep, yang penting otak kita jalan dan bisa merangkai kata. Gak perlu kemampuan editing digital yang canggih untuk bisa menginspirasi.

Jadi, saya masih gak setuju klo blog tulisan akan menemui senjakalanya ketika vlog naik daun. Tulisan dalam blog tetap abadi dan mendalam.

Apakah bisa Tempo menjelaskan kasus reklamasi yang menyeret Ahok melalui vlog? Atau Jonru yang tiba-tiba bikin vlog untuk nyebarin berita hoax? Hmm..gak cocok kali ya.

Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia

Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia

Malam ini 23/06, David Cameron si Perdana Menteri Inggris tidak bisa tidur, malam ini pula mantan walikota London, Boris Johnson sama-sama tidak bisa tidurnya. Karena hari ini hasil referendum nasib apakah Inggris Raya tetap didalam Uni Eropa (UE) ataukah justru keluar dari UE akan diumumkan.

Britain Exit, atau yang dikenal sebagai Brexit adalah sebutan bagi keingingan sebagian masyarakat Inggris untuk keluar (exit) dari UE, mereka menganggap Inggris tidak bisa mengontrol sendiri negerinya, Inggris dikendalikan oleh UE, Inggris tidak mandiri dan sebagainya.

Masyarakat Inggris raya terpecah dua kubu antara kubu Remain (tetap) dan kubu Leave (pergi). Kubu pendukung Remain diwakili oleh partai buruh, partai yang dianggap progresif, peka terhadap isu kekinian, anti-rasial, care and share menjadi simbol termasuk soal kampanye pengungsi di Suriah.

Sedangkan kubu Leave, banyak berasal dari partai konservatif, partai yang kuno, mengganggap kejayaan masa lalu adalah hal yang patut di pertahankan. Inggris sebagai negara terdigdaya di semenanjung Eropa (dulu) adalah kekuatan yang tidak boleh di intervensi hingga saat ini. Britain firstbritish is british, britpop never die and no one can disturb.

Termasuk adegan care and share yang di peragakan Jo Cox , politikus partai buruh terhadap isu pengungsi muslim yang dianggap terlalu termehek-mehek yang justru berbahaya bagi ideologi Inggris raya. Sehingga Jo Cox akhirnya pun dibunuh.

Partai konservatif, partai yang berideologi sangat keinggrisan, mereka mengganggap bahwa leluhur mereka, terutama ayah mereka adalah contoh yang adiluhung, tidak boleh di bantah, kedisplinan adalah mutlak.

Mereka sangat terobsesi pada kejayaan King Arthur atau film-film patriotik semacam “Braveheart”. Inggris adalah penguasa daratan Eropa, tidak ada yang boleh intervensi baik politik, ekonomi apalagi agama.

Tak heran, meskipun mereka tergabung dalam UE, namun Poundsterling masihlah perkasa, tanpa ada gugatan darimanapun.Tak sudi mereka memakai Euro yang masih bau kencur dan mudah di goyang.

Jika begitu gengsinya, kenapa mereka masuk ke Uni Eropa? Ini tak lepas dari sejarah. Inggris, merekalah yang memperkenalkan demokrasi ala kita sekarang melalui piagam Magna Charta pada 1215 M, merekalah yang menjadi pelopor revolusi Industri, merekalah negara imperialis penyebar bahasa yang paling berpengaruh di dunia setelah label gold, gospel, glory berkumandang di Eropa.

Namun setelah perang dunia II, ekonomi mereka porak poranda, mereka jug terkena serangan Nazi. Inggris yang tadinya negara kreditur terbesar harus kehilangan pengaruhnya, termasuk lepasnya India. Di masa itu munculnya dua kubu, Amerika sebagai kekuatan financial dan Uni Soviet sebagai kekuatan psikologis.

Efeknya mudah ditebak, Amerika muncul sebagai kreditur bagi negara-negara Eropa barat yang mengalami kehancuran ekonomi, termasuk Inggris. Munculah Marshall Plan yang salah satu pasalnya berisi: “Mengurangi penghalang-penghalang yang menghambat kelancaran perdagangan antara negara-negara peminjam”

Inggris diujung dilema, mereka mau tak mau harus berbaur dengan negara Eropa lain, kecuali Eropa timur karena pada waktu itu pengaruh komunis masih kuat. Jalan terbaik untuk mengembalikan perekonomian adalah mengalah. Apalagi Inggris juga merasa dirugikan karena mereka tidak bisa berdagang sebebas Jerman, Italia, Spanyol dan Perancis karena ekslusifitas mereka.

Dan didorong alasan ekonomi tadi, Inggris pun berusaha untuk masuk ke Masyarakat Ekonomi Eropa (sekarang UE) pada periode 1960an. Dan puncaknya adalah pada 21 Desember 1962, Inggris menyerahkan pertahanan nuklirnya ke Amerika, karena jika Inggris masuk kedalam MEE, maka Amerika pun punya pengaruh secara langsung pada MEE. Saling menguntungkan.

Tapi Inggris, tetaplah Inggris, sikap konservatif sebagian masyarakatnya tetap menganggap Inggris tidak bisa di atur, mereka merdeka sepenuhnya. UE adalah penghalang mereka dalam berbagai hal, sehingga tak heran keputusan Inggris sering bertolak belakang dengan keputusan UE, terutama ketika Margareth Tatcher berkuasa.

….we believe in a free Europe, not a standardized Europe” Ujarnya. Sudah jelas, Inggris menolak standarisasi UE, termasuk meminta potongan untuk sumbangan MEE. Jadi tak heran, jika mental adigang-adigung Inggris selalu akan tampak.

Lalu apa efeknya pada perekonomian dunia?

Jika keputusan hasilnya Remain, maka kondisi baik-baik saja, namun jika hasilnya Leave, maka akan sangat berbeda. Kehilangan Inggris adalah kehilangan besar bagi Eropa. Leave bagi masyarakat dunia adalah sentimen negatif. Mungkin poundsterling akan jatuh, disusul euro. Jika euro jatuh maka ekonomi Amerika pun akan goyang, terutama ekspor Amerika karena naiknya mata uang dollar.

Eropa yang masih dilanda krisis (tingkat pengangguran rata-rata masih 10%) akan goyang dombret, efeknya tentu akan global. Bahkan ada yang memprediksi seperti krisis 2008. Karena efek jangka panjang yang paling ditakutkan adalah satu per satu negara eropa akan keluar dari UE mengikuti jejak Inggris akibat ketidakpuasan pada UE.

Jika itu terjadi, ekonomi dunia menjadi sangat tidak pasti. Sehingga opsi yang paling masuk akal diambil pada esok hari adalah Remain. Dan David Cameron, sebagai orang konservatif yang mendukung kubu Remain adalah pihak yang paling dag dig dug menunggu hasil. Yah asal nasibnya tidak seperti Jo Cox saja.

Tapi, tenang saja kawan, piala eropa masih bisa disaksikan dengan damai di rumah kok, bersantailah. Karena akhir dunia bukan Inggris yang menentukan.