“Bersekolah” Untuk Kembali Liar, Save Orangutan Untuk Masa Depan

“Bersekolah” Untuk Kembali Liar, Save Orangutan Untuk Masa Depan

Hari Kamis lalu (23/6) cukup senang saya mendapat telepon dari Kompasiana, media netizen yang enggak santai alias berbobot itu. Medianya berbobot, nah kalau ditelepon pasti urusannya berbobot, bukan urusan remeh.

Benar saja, saya mendapat undangan untuk bisa hadir dalam acara Donasi Pelepasliaran Orangutan yang di adakan hari Jumat lalu (24/6) bertempat di Menara BCA, depan Mall Grand Indonesia. Sebuah kehormatan di bulan Ramadhan.

Tak berpikir panjang, saya langsung iyakan, tentu karena acaranya saya anggap sangat berbobot dan cukup dekat dengan tempat kerja. Yup, saya hadir tepat waktu, 14:25 teng, di Menara BCA lantai 22 ruang Breakout. Setelah mengisi daftar hadir, saya pun bertemu dengan mas Ahmad Imam Satriya, seorang Kompasianer yang mengisi buku lebih dulu dari saya.

Dari mas Imam, saya pun berkenalan dengan mas Gapey Sandy, Pak Isson Khairul, mbak Uli Hartati dan Mbak Arum Sato. Maklum ini termasuk kopdar pertama saya dengan rekan-rekan kompasiana. Kopdar dadakan lah istilahnya

Masuk kedalam ke dalam ruangan, terpampang jelas tulisan soal tujuan acara ini, sebuah donasi untuk pelepasliaran Orangutan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur oleh PT Bank Central Asia (BCA) kepada BOSF (Borneo Orangutan Survivol Foundation), sebuah Non Governmental Organization (NGO) atau lembaga nirlaba yang khusus berkecimpung dalam upaya menyelamatkan populasi Orangutan di Indonesia.

IMG_5040

Dok Pribadi

 

Kenapa Orangutan?

Sepintas Orangutan sama saja dengan hewan lain, banyak manusia menganggap, mereka seperti hanya penghias bumi, tak ada mereka pun tak mengapa, mengapa hingga perlu beratus-ratus juga hingga bermilyar-milyar untuk penelitian, pelestarian dan rehabilitasi untuk hewan satu ini?

Pertanyaan itu tentu bisa di jawab dari berbagai sisi, tapi pertama tentunya karena Orangutan adalah hewan yang menjadi ciri khas Indonesia, hewan yang DNA nya paling menyerupai manusia. Ada penelitian bahwa kemiripan struktur DNA, sifat dan latar belakang antar makhluk bisa membawa pada kedekatan emosional. Hmm..

Berikutnya adalah soal ekosistem, tanpa kita sadari Orangutan adalah penyebar biji-bijian dan tumbuhan yang penting untuk regenerasi hutan. Hilangnya Orangutan adalah ancaman bagi hilangnya ratusan spesies hewan dan tumbuhan pada ekosistem hutan hujan.

Jadi, tak heran jika keberadaan Orangutan dilindungi Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN.

Nah, yang parah dari itu semua, ternyata kepunahan Orangutan bukan karena berkurangnya reproduksi mereka, tapi karena mereka diburu, mereka dibunuh bahkan banyak ditangkap dan di selundupkan ke luar negeri.

Kok bisa?

Begini urutannya. Orangutan bisa ditangkap oleh manusia bukan tanpa sebab. Menurut Nico Hermanu, Communication Coordinator BOSF, mereka lari dari habitat aslinya dan masuk ke habitat manusia karena Deforestasi, karena habitat hutan mereka jauh berkurang akibat habis terbakar, entah karena kebakaran hutan atau memang hutan yang “sengaja” dibakar.

Masih ingatkan instagram dari Leonardo DiCaprio pada Maret 2016 lalu yang mengkritik pemerintah Indonesia soal nyaris punahnya Orangutan akibat perluasan perkebunan kelapa sawit?

Leo saat itu di kritik akibat mengesampingkan faktor ekonomi masyarakat Indonesia yang daya ekspornya bergantung dari sawit. Tapi kita tidak tahu kebenarannya kan? Dan jika ini benar, maka alangkah mirisnya. Bahkan menurut Jamartin Sihite, CEO BOS Foundation, mereka pernah 10 tahun tidak bisa melepaskan Orangutan akibat tidak ada hutannya!

Seperti itulah kira-kira penyebab dari “kabur”nya Orangutan dari habitat aslinya. Dan BOS Foundation sebagai pusat rehabilitasi saat ini bekerja dengan sungguh-sungguh dalam upaya penyelamatan populasi Orangutan. Ada sedikitnya 1000 ekor Orangutan yang pernah di rehabilitasi akan dilepas kembali ke hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Sang Penjaga Rimba

Kehje Sewen yang berarti Orangutan, akan menjadi “rumah” bagi mereka. Orangutan yang sudah jinak akibat pergaulan bebas dengan manusia, harus di “sekolah” kan lagi untuk menjadi liar, mereka tidak boleh mengenal manusia.

Liar adalah habitatnya, ekosistemnya. Mereka akan menjadi Penjaga Rimba, yang akan menjaga hutan kita dari sentuhan tangan manusia yang senantiasa usil.

Dan akhirnya, penandatanganan donasi pelepasliaran Orangutan dilakukan oleh Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank BCA dan Prof.dr.Bungaran Saragih, Dewan Penasehat BOS Foundation. Acarapun berlangsung dengan lancar.

Apresiasi luar biasa kepada Bank BCA yang telah memberikan donasi atas pelepasliaran Orangutan ini. Dalam sambutannya, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank BCA mengatakan bahwa di tengah dunia yang hanya memikirkan bisnis, kita juga perlu memikirkan “sesuatu yang lebih dari itu”.

Dan tentunya kita sepakat, bahwa kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem alam kita adalah perwujudan dari kalimat”sesuatu yang lebih dari itu”. Dan pelepasliaran Orangutan adalah salah satu dari “sesuatu yang lebih”.

Semoga lebih bermakna. Salam NKRI

This slideshow requires JavaScript.

Artikel dimuat juga di Kompasiana, Disini

Advertisements

Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?

Antara Vlog dan Blog, Vlog Lebih Kece?

Antara Vlog dan Blog. Ada seorang kawan blogger yang menulis bahwa vlog atau video blog yang saat ini sedang era lepas landas, sebentar lagi akan menggerus blog tulisan tanpa ampun. Blog menghadapi senjakalanya.

Alasannya simple, vlog jauh lebih ngena ke masyarakat yang makin malas untuk membaca, lebih suka tiduran sambil nyetel videonya lalu manggut-manggut dan kemudian ngakak atau nangis macam melodrama Korea. Dari sini vlog ditengarai bisa mengungguli blog tulisan.

Masa sih?

Bisa aja sih sebetulnya, toh vlog apabila di kemas dengan bagus bisa lebih menyihir si penonton vlog, contohnya? Banyak di youtube, search aja. Tapi, apa bisa vlog yang gandrung ini bisa seinformatif Tempo, misal?

Gak bisa, atau belum bisa. Secanggih apapun vlog yang dibuat, ujung-ujungnya ya hanya video, orang nonton, manggut-manggut, ketawa terus nyeletuk “oh..iya” dan udah, abis itu balik lagi nyari vlog berikutnya, vlog yang tadi gimana? Ya lupa atau paling di share di sosmed.

Itupun, sekali lagi..itupun, klo si pembuat vlog narsis atau narasumber berkategori: cakep, cantik, seksi, artis semacam Salshabilla Adrian, fluent in english, punya rumah, gadget, pacar atau mobil yang wow. Kalo diluar itu, pastilah si vlogger orang yang kreatif, ada? Ada.

Atau si narasumber memang orang yang berbobot, semacam menteri atau pejabat daerah. Lha kalo cuma pas-pasan? Aduh, jadi miris ngeliat vlog yang ‘maaf’ ya.. begitu deh.

Saya sendiri suka vlog yang menghibur, kreatif, agak nyerempet-nyerempet kayak gini gaes kilik aja, atau kilik yang ini.

Nah, jikapun vlog itu sifatnya informasi, hasilnya lebih kepada netizen jurnalis ala Metro TV, ada narasumber, pegang HP, tanya ini itu, edit dikit, upload deh. Klo canggihan dikit, waduh bisa perang lahan nanti sama TVOne.

Itulah keunggulan blog yang jarang disadari. Ya blog mendobrak mitos jelek itu absolut dan cakep itu relatif, blog tidak peduli. Blog hanya peduli satu, tulisan anda menarik, informatif, tajam, aktual dan terpercaya.

Nulis itu jelas melatih fungsi otak, bagaimana menyusun kalimat yang disampaikan sehingga enak dibaca. Bahkan walau cuma tulisan soal sehari-hari, macam diary. Tapi apa yang disampaikan biasanya lebih detail, lebih ngena dan tentunya gak gampang dilupain  orang.

Karena tulisan murni hasil olah otak, maka tulisan bisa bersifat subjektif dan objektif. Dengan tulisan, kita bisa progresif dengan sedikit satir, menyindir pemerintah ataupun perfileman Indonesia yang hantunya mulai kalah dari Valak. Dengan tulisan kita bisa menginspirasi.

Kok bisa begitu? Ya karena tulisan punya konten yang mendalam, bayangkan sebelum memposting tulisan yang baik, kita tidak instan, ada proses riset, editing dsb. Sehingga sebuah tulisan, buku, koran, blog bisa menjadi rujukan di kemudian hari.

Bahkan gak jarang, blog gratisan malah jadi rujukan pembuatan jurnal ilmiah atau riset sejarah agama atau politik. Nah, jadi selama blog kita tidak ramai dengan iklan, maka isi blog yang menarik, informatif dan cerdas akan selalu ditunggu.

Juga sebagai konsumen, saya sih masih percaya searching di google dan dapat rujukan ke wikipedia atau blog orang masih lebih powerful, ya dan selama ini memang gak ada kita searching di google lalu di rujuk ke sebuah vlog. Tulisan bersifat abadi, vlog masih bersifat ringan dan menghibur.

Yang terakhir, hampir setiap orang bisa nulis, tinggal daftar di lalu gunakan otak dan jari. Tidak pandang jelek, cakep, yang penting otak kita jalan dan bisa merangkai kata. Gak perlu kemampuan editing digital yang canggih untuk bisa menginspirasi.

Jadi, saya masih gak setuju klo blog tulisan akan menemui senjakalanya ketika vlog naik daun. Tulisan dalam blog tetap abadi dan mendalam.

Apakah bisa Tempo menjelaskan kasus reklamasi yang menyeret Ahok melalui vlog? Atau Jonru yang tiba-tiba bikin vlog untuk nyebarin berita hoax? Hmm..gak cocok kali ya.

Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia

Dag Dig Dug Brexit, Sejarah Dan Efeknya Pada Dunia

Malam ini 23/06, David Cameron si Perdana Menteri Inggris tidak bisa tidur, malam ini pula mantan walikota London, Boris Johnson sama-sama tidak bisa tidurnya. Karena hari ini hasil referendum nasib apakah Inggris Raya tetap didalam Uni Eropa (UE) ataukah justru keluar dari UE akan diumumkan.

Britain Exit, atau yang dikenal sebagai Brexit adalah sebutan bagi keingingan sebagian masyarakat Inggris untuk keluar (exit) dari UE, mereka menganggap Inggris tidak bisa mengontrol sendiri negerinya, Inggris dikendalikan oleh UE, Inggris tidak mandiri dan sebagainya.

Masyarakat Inggris raya terpecah dua kubu antara kubu Remain (tetap) dan kubu Leave (pergi). Kubu pendukung Remain diwakili oleh partai buruh, partai yang dianggap progresif, peka terhadap isu kekinian, anti-rasial, care and share menjadi simbol termasuk soal kampanye pengungsi di Suriah.

Sedangkan kubu Leave, banyak berasal dari partai konservatif, partai yang kuno, mengganggap kejayaan masa lalu adalah hal yang patut di pertahankan. Inggris sebagai negara terdigdaya di semenanjung Eropa (dulu) adalah kekuatan yang tidak boleh di intervensi hingga saat ini. Britain firstbritish is british, britpop never die and no one can disturb.

Termasuk adegan care and share yang di peragakan Jo Cox , politikus partai buruh terhadap isu pengungsi muslim yang dianggap terlalu termehek-mehek yang justru berbahaya bagi ideologi Inggris raya. Sehingga Jo Cox akhirnya pun dibunuh.

Partai konservatif, partai yang berideologi sangat keinggrisan, mereka mengganggap bahwa leluhur mereka, terutama ayah mereka adalah contoh yang adiluhung, tidak boleh di bantah, kedisplinan adalah mutlak.

Mereka sangat terobsesi pada kejayaan King Arthur atau film-film patriotik semacam “Braveheart”. Inggris adalah penguasa daratan Eropa, tidak ada yang boleh intervensi baik politik, ekonomi apalagi agama.

Tak heran, meskipun mereka tergabung dalam UE, namun Poundsterling masihlah perkasa, tanpa ada gugatan darimanapun.Tak sudi mereka memakai Euro yang masih bau kencur dan mudah di goyang.

Jika begitu gengsinya, kenapa mereka masuk ke Uni Eropa? Ini tak lepas dari sejarah. Inggris, merekalah yang memperkenalkan demokrasi ala kita sekarang melalui piagam Magna Charta pada 1215 M, merekalah yang menjadi pelopor revolusi Industri, merekalah negara imperialis penyebar bahasa yang paling berpengaruh di dunia setelah label gold, gospel, glory berkumandang di Eropa.

Namun setelah perang dunia II, ekonomi mereka porak poranda, mereka jug terkena serangan Nazi. Inggris yang tadinya negara kreditur terbesar harus kehilangan pengaruhnya, termasuk lepasnya India. Di masa itu munculnya dua kubu, Amerika sebagai kekuatan financial dan Uni Soviet sebagai kekuatan psikologis.

Efeknya mudah ditebak, Amerika muncul sebagai kreditur bagi negara-negara Eropa barat yang mengalami kehancuran ekonomi, termasuk Inggris. Munculah Marshall Plan yang salah satu pasalnya berisi: “Mengurangi penghalang-penghalang yang menghambat kelancaran perdagangan antara negara-negara peminjam”

Inggris diujung dilema, mereka mau tak mau harus berbaur dengan negara Eropa lain, kecuali Eropa timur karena pada waktu itu pengaruh komunis masih kuat. Jalan terbaik untuk mengembalikan perekonomian adalah mengalah. Apalagi Inggris juga merasa dirugikan karena mereka tidak bisa berdagang sebebas Jerman, Italia, Spanyol dan Perancis karena ekslusifitas mereka.

Dan didorong alasan ekonomi tadi, Inggris pun berusaha untuk masuk ke Masyarakat Ekonomi Eropa (sekarang UE) pada periode 1960an. Dan puncaknya adalah pada 21 Desember 1962, Inggris menyerahkan pertahanan nuklirnya ke Amerika, karena jika Inggris masuk kedalam MEE, maka Amerika pun punya pengaruh secara langsung pada MEE. Saling menguntungkan.

Tapi Inggris, tetaplah Inggris, sikap konservatif sebagian masyarakatnya tetap menganggap Inggris tidak bisa di atur, mereka merdeka sepenuhnya. UE adalah penghalang mereka dalam berbagai hal, sehingga tak heran keputusan Inggris sering bertolak belakang dengan keputusan UE, terutama ketika Margareth Tatcher berkuasa.

….we believe in a free Europe, not a standardized Europe” Ujarnya. Sudah jelas, Inggris menolak standarisasi UE, termasuk meminta potongan untuk sumbangan MEE. Jadi tak heran, jika mental adigang-adigung Inggris selalu akan tampak.

Lalu apa efeknya pada perekonomian dunia?

Jika keputusan hasilnya Remain, maka kondisi baik-baik saja, namun jika hasilnya Leave, maka akan sangat berbeda. Kehilangan Inggris adalah kehilangan besar bagi Eropa. Leave bagi masyarakat dunia adalah sentimen negatif. Mungkin poundsterling akan jatuh, disusul euro. Jika euro jatuh maka ekonomi Amerika pun akan goyang, terutama ekspor Amerika karena naiknya mata uang dollar.

Eropa yang masih dilanda krisis (tingkat pengangguran rata-rata masih 10%) akan goyang dombret, efeknya tentu akan global. Bahkan ada yang memprediksi seperti krisis 2008. Karena efek jangka panjang yang paling ditakutkan adalah satu per satu negara eropa akan keluar dari UE mengikuti jejak Inggris akibat ketidakpuasan pada UE.

Jika itu terjadi, ekonomi dunia menjadi sangat tidak pasti. Sehingga opsi yang paling masuk akal diambil pada esok hari adalah Remain. Dan David Cameron, sebagai orang konservatif yang mendukung kubu Remain adalah pihak yang paling dag dig dug menunggu hasil. Yah asal nasibnya tidak seperti Jo Cox saja.

Tapi, tenang saja kawan, piala eropa masih bisa disaksikan dengan damai di rumah kok, bersantailah. Karena akhir dunia bukan Inggris yang menentukan.

BRIsat Pun Meluncur, Bukti Eksistensi NKRI Di Luar Angkasa

BRIsat Pun Meluncur, Bukti Eksistensi NKRI Di Luar Angkasa

“Selalu ada mutiara yang tercecer, di tengah badai yang buruk”.

Satelit indonesia perbankan pertama milik PT Bank Rakyat Indonesia bernama BRIsat Pada Sabtu 18 Juni 2016 lalu berhasil diluncurkan dari French Guiana, Amerika Selatan

Itulah yang penulis rasakan di tengah kepungan media sosial dalam pemberitaan tiada henti persoalan warung makan dan Perda, belum lagi berita memalukan soal ghosob nya mantan menteri yang enggan mengembalikan harta yang dulu pernah dipakai. Ingin rasanya mematikan gadget saat itu juga, tapi..

Di tengah berita itu, tersiar kabar yang paling melegakan, lebih dari itu, membanggakan sebagai anak bangsa Indonesia. Satelit indonesia perbankan pertama milik PT Bank Rakyat Indonesia bernama BRIsat yang di beli dari SpaceSystem/Loral, LLC perusahaan Amerika Serikat. Pada Sabtu 18 Juni 2016 lalu berhasil diluncurkan dari French Guiana, Amerika Selatan oleh perusahaan asal Perancis, Arianespace dengan menumpang roket Ariane 5.

Ada kebanggan sekaligus kegamangan ketika membaca berita ini, bangga karena ini sebuah momen peluncuran satelit. Momen peluncuran satelit gitu, apalagi ini satelit Indonesia, kebanggan itu sebanding dengan momen pertama kali khatam Al Qur’an lho, bangganya luar biasa.

Namun ada juga kegamangan disitu, kita tahu bahwa BRI adalah perusahaan BUMN yang mengurusi bidang Perbankan, ngapain lantas masuk ke bisnis satelit yang notabenenya lebih ke arah telekomunikasi?

Pada 2014 lalu, direktur BRI kala itu Sofyan Basyir, ditanya oleh para wartawan dengan pertanyaan yang sama, jawaban beliau “Kalau Indonesia itu seperti Tiongkok atau India, memang tidak perlu,” jawab Sofyan Basyir.

Tiongkok atau India adalah negara daratan, dimana semua jalur komunikasi bisa dilakukan secara mainland (darat) lewat kabel biasa, bahkan daratan Eropa yang bisa terhubung antar negara via kabel darat. Lha, kalau Indonesia?

Indonesia terhubung sepanjang 5200 Km dari barat ke timur dengan kondisi berpulau-pulau, bagaimana menghubungkan itu semua? Apalagi BRI dikenal sebagai bank yang fokus pada wilayah-wilayah pelosok di seluruh Indonesia, dari beragam kepulauan yang harus terintegrasi dalam sistem teknologi informasi. Dengan satelit, maka wilayah operasional bisa ter-capture dengan baik.

Ini tentu sangat sejalan dengan Nawacita, infrastruktur Indonesia Sentris termasuk infrastruktur sistem perbankan dan telekomunikasi harus terus dimajukan, jangan sekali-kali mundur. Apapun isu yang ada, Infrastruktur kita harus jalan terus bung!.

Apakah ilmu per-satelitan dimiliki BRI?

Penulis mendapat informasi langsung dari kawan yang bekerja di BRI bahwa BRI pada November 2015 lalu sudah mengirim tenaga ahlinya ke Amerika untuk ‘sekolah’ khusus soal satelit. Jadi kalau masih ada nada sumbang, lebih baik di tarik saja, ganti dengan nada merdu.

Kegamangan berikutnya soal dana, membuat satu tipe financial satellite full dengan konsep perbankan dan telekomunikasi itu harus benar-benar canggih, tidak bisa setengah-setengah, sistem teknologi informasinya harus kelas atas, apalagi ini satelit keuangan pertama di dunia, kasarnya, satelit ini harus mahal.

Betul memang, biayanya mahal, sebesar  USD 220 juta atau setara 2.5 trilyun rupiah, dengan biaya investasi 3.37 miliar rupiah. Mahal? Ya, bagi kita yang lantas beragumen ngawur, jangan-jangan kita hutang lagi? Uang darimana BUMN bikin satelit? Jual aset?

Begini, laba bersih BRI pada kuartal-1 2016 saja sudah tercetak 6.25 trilyun, jika memakai prediksi tahunan maka laba bersih BRI 2016 mencapai 25 trilyun. Bagi anda yang hobi investasi dan suka buka laporan keuangan perusahaan, angka 2.5 trilyun bukanlah angka yang mahal bagi BRI.

Apalagi jika dilihat pada detail penambahan aset tetap, tercatat saldo pengembangan satelit sudah mencapai 2,49 trilyun rupiah, artinya biaya pembelian sudah hampir lunas tanpa menganggu performance keseluruhan dari BRI.

Masih ada yang ragu?

Mengamankan Eksistensi NKRI

Kegamangan berikutnya adalah soal ‘mengamankan’ slot orbit pada 150.5 Bujur Timur bekas milik Indosat (Palapa C2) yang habis masa orbitnya.

Slot orbit, sering disebut sebagai kavling, dulunya adalah milik Indosat yang pada tahun 2002 lalu di jual kepada Temasek dengan angka di bawah nilai buku, ‘hanya’ 5,7 trilyun rupiah dengan alasan penyehatan (bandingkan ketika Temasek menjualnya lagi ke Qatar Telecom sebesar 16 trilyun), ketika Indosat dijual artinya kavlingnya pun ikut terjual. Dan sekarang? Kavling itu sudah kembali ke Indonesia.

Artinya apa? Ketika kavling kita terjual dan dikuasai oleh asing, bahasa awamnya, asing akan memiliki akses yang sangat mudah untuk memata-matai jaringan informasi kita, ini adalah titik yang pelik, dimana jaringan informasi itu menyangkut segala aspek dari ekonomi hingga keamanan negara.

Di saat ini, telik sandi bukan lagi cuma seorang James Bond dengan kemampuan brilian, tapi juga bagaimana canggih dan liciknya sebuah teknologi informasi. Siapa yang menguasai ini, dia akan menguasai dunia, dan dahulu..kita menjualnya.

Masih ingat kan kasus disadapnya telepon mantan Presiden SBY oleh Australia? Salah satu penyebabnya karena sistem informasi kita yang lemah, bahkan beberapa satelit kita dalam status sewa, bukan milik sendiri.

Lho, bukannya Indonesia memiliki jatah kavling yang di atur dalam International Telecommunication Union (ITU) ?

Memang berapa kavling kita punya? Tidak banyak kita punya slot, wong satelit saja kita cuma punya 5 yang beroperasi, jadi 6 ditambah BRIsat. Apalagi kavling atau slot itu modelnya reserve, artinya jika ada slot nganggur, semua negara berhak mengajukan notifikasi slot, dan itu sistemnya antrian. First come, first get. Dan jika suatu negara gagal dalam meluncurkan satelit, maka harus menunggu 2 tahun bagi negara berikutnya untuk mendapat kesempatan peluncuran.

Bayangkan, berapa banyak negara yang akan antre untuk sebuah slot orbit? Apalagi orbit BRIsat ini ditengarai adalah orbit terbaik dimana hanya dizinkan 360 satelit beroperasi dijajarkan dalam rentang radius 360 derajat.

Namun, karena lokasi yang terbaik tadi, orbit ini menjadi sangat laris dan saat ini tak kurang ada 900 satelit yang beroperasi di atas Papua sana! Dari 360 menjadi 900 satelit dari seluruh negara di dunia. Wow!

Jadi peluncuran BRIsat ini penuh dengan muatan nasionalisme. Jika slot ini tidak diambil BRI, maka asing lagi lah yang akan mengambil dengan suka cita.

Jika mengutip kata-kata Rheinald Kasali, bahwa Negara ini butuh BUMN yang bisa menjadi powerhouse atau sumber kekuatan di negeri sendiri, sudah saatnya BUMN kita dikelola dengan sangat profesional, jauh dari muatan politis.

Lupakan jual menjual aset negara, justru isi aset negara dengan sumber daya teknologi yang canggih, apalagi teknologi informasi yang dimiliki BRIsat ini bisa membuka harapan bagi satelit pertahanan Indonesia yang rencananya akan diluncurkan pada 2019.

Bahkan tak mungkin, dengan kembalinya para ahli-ahli satelit Indonesia yang bekerja diluar negeri saat ini, maka kita akan dapat melakukan terobosan. Ya, sebuah peluncuran satelit dari negeri kita sendiri.

Terlambat? Late is always better than never.

Salam NKRI

***

Sumber gambar: Disini

Sari berita:

1 2 3 4 5

Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan

Buka Puasa Alumni, Antara Silaturahmi Dan Kepo Mantan

Ini bulan puasa, bulan yang penuh berkah, penuh pengharapan, ampunan dan kasih sayang. Banyak yang ditunggu di bulan yang penuh rahmat ini, bukan cuma soal dua tiga butir kurma plus es teh manis atau sop kaki kambing yang nikmatnya di ubun-ubun pas buka puasa, tapi jauh lebih dari itu. Allah memberikan nikmat lain yang tak terkira, silaturahmi.

Silaturahmi, yang menurut mbah google terdiri dari dua kata: Shilah dan Ar-Rahim, shilah yang berarti hubungan dan Ar-Rahim yang berarti kasih sayang atau kerabat. Sehingga silaturahmi bisa diartikan bebas adanya hubungan kekerabatan, kekerabatan dalam keluarga, rekan kerja dan juga teman sekolah atau kuliah.

Nikmat inilah yang Allah turunkan pada hambanya yang rajin bersosialiasasi dan tak pernah luput dari update grup whatsapp, nikmat silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama. Hayo, sudah berapa undangan buka puasa bersama yang masuk di minggu ini? Jika anda dulu pernah populer atau minimal pernah bikin kasus sekali dalam tiga tahun, pasti anda ada dalam list undangan massal di FB, pasti itu.

Coba cek, lho masih belum ada juga? Coba ingat-ingat, jangan-jangan dulu anda penganut homescholling yang lagi hits itu? Yo pantes.

Bagi sebagian orang, menghadiri acara buka puasa bersama alumni itu bukan cuma ajang temu kangen, tetapi juga ajang show off, pamer dari mulai mobil, gadget, style hingga keluarga. Keluarga saja di pameri?

Ketuk dalam hati diri masing-masing, terutama bapak-bapak yang beristri tak kurang cantik dari Cathy Sharon atau Inneke Koesherawati, pasti rela berbetah-betah menunggui istrinya berdandan lama, bahkan tak jarang ikut berkomentar “Mah, lipstiknya kurang cetar ah” atau “Eh, eye shadownya ketebelan tuh”. Hal yang mustahil dilakukan sehari-hari, bahkan kalau lagi mau kondangan.

Bertemu alumni, itu soal lain, ada pride yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata, bukan cuma yang sudah berkeluarga, yang belum berkeluarga pun tidak lantas kaku, mereka justru saling show off, saling pamer, dari mulai soal cinta hingga tentunya soal karir yang lagi menjulang, apalagi kalau disitu ada..mantan.

Mantan, kata yang tak pernah lekang oleh waktu, selalu menyisakan kegetiran, tak lain, hanya kegetiran. Seseorang yang selalu membuat hati kita menclos setiap kali berkaca di kamar mandi, seakan pomade sebotol tak mampu untuk membuat kita tampil kece, lebih kece dari yang dulu.

Ya, inilah kenikmatan Ramadhan kawan, selain silaturahmi adalah kenikmatan bertemu mantan yang tidak setiap bulan bisa terjadi.

Maka tak heran, ketika para pria (tentunya) dengan status jomblo awet tanpa pengawet akan saling berbisik, bergosip dengan khusyuk dipojokan restoran yang sudah di booking full menjelang bedug magrib.

“Eh liat deh si Nita, sumpah cakep banget sekarang, karirnya sukses lagi jadi pengacara, gak nyesel dulu diputusin?”

“Ya nyesel lah, eh tapi kalo bukan aku dulu yang maksa nganterin dia masuk ke fakultas hukum, gak mungkin dia kayak gini sekarang”

Nah lho, terjadilah percakapan yang sebetulnya harus dihindari. Mengapa? Karena mengungkit segala sesuatu seakan-akan kita (sang mantan) adalah pahlawannya, sesunggunya itu hanyalah membawa luka yang lebih dalam. Toh, jika bukan kita yang mengantarkan Nita masuk fakultas hukum dulu mungkin akan ada cowok lain yang bermobil wah yang dengan suka rela mengantarkan Nita. Kita hanyalah perantara.

Ya tapi itulah, wajar saja jika silaturahmi buka puasa bersama tadi berdampak pada terlecutnya hati kita demi melihat mantan yang menjadi jauh lebih cantik, lebih sukses, lebih berisi dan banyak dipuji khalayak. Itupula yang terjadi dengan Bapak SBY ketika berkata dengan syahdu;

“Dulu Tito itu saya lho yang angkat 3 kali dengan akselerasi”

Iya pak, kami warga negara Indonesia yang terhormat ini tahu, dan mengamini bahwa bapaklah yang dahulu berjasa menaikkan pangkat Tito Karnavian, tapi seperti dalam kasus Nita, kita semua hanyalah perantara pak. Memang sudah jalannya Nita jadi pengacara, memang sudah kodratnya Tito Karnavian jadi Kapolri, dan Joko Widodo sebagai Presiden pun hanya sebagai perantara pelantikan. Tak lebih.

Jadi, sekali lagi kita harus lebih berhati-hati ketika menghadapi undangan buka puasa bersama, apalagi jika di status grup FB sang mantan berkata

“aku dateng ya….bawa suami dan anakku”

Sudah lah jomblowan, jangan langsung mundur seribu langkah, hadirilah forum buka puasa bersama itu dengan jantan sebagai ajang silaturahmi yang di rahmatkan pada kita di bulan Ramadhan.

Toh, mantan-mantan lain..eh, teman-teman lain masih ada.

 

***

Happy wiken, dan

Happy bukber yang bukan wacana