Dibalik Ambruknya Si Emas Hitam

Dibalik Ambruknya Si Emas Hitam

BBM bisa naik lagi di Juli 2016, sesuai dengan hitungan pemerintah bahwa harga bbm akan direview setiap 3 bulan sekali. Pemerintah sudah menurunkan harga BBM premium ke angka Rp 6550/liter pada April lalu, tiga bulan setelah itu, yaitu Juli ini seharusnya harga BBM sudah kembali direview. So?

Seperti biasa ketika akan menghadapi review harga BBM, trending topic di tv akan muncul berhari-hari, hot news. Efeknya pun merambat kemana-mana

Lalu, akankah naik atau turun?

Daripada terus berspekulasi, lebih baik kita sedikit mempelajari sejarah penyebab mengapa harga minyak dunia turun terus dalam 2 tahun terakhir.

Di era kabinat kerja, kenaikan harga BBM dari Rp 6500/liter menjadi Rp 8000/liter akibat pencabutan subsidi pada 2014 menimbulkan suatu berita spekulasi bahwa pencabutan tersebut di lakukan oleh pemerintah sebagai pemasukan cadangan untuk menutupi lobang anggaran. Yang mana anggaran tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur.

Setelah anggaran tersebut aman, pemerintah kembali menurunkan harga premium (saya tidak ingin menyebut ‘subsidi’) kembali ke Rp 6550/liter untuk mengikuti harga minyak dunia – kali ini diikuti pertamax dan kawan kawan.

Pertanyaan besar bermula: jika harga minyak Indonesia mengikuti harga minyak dunia, artinya ketergantungan pemerintah terhadap pengaruh minyak global besar sekali? Betul.

Lantas bagaimana jika harga minyak dunia terus turun?

Sebagai eksportir (produsen) Indonesia bisa rugi, namun sebagai importir justru untung. Lalu bagaimana? Sebaiknya lihat dari latar belakang anjloknya harga minyak dunia terlebih dahulu.

Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang signifikan sejak JUNI 2014. Pada saat itu, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) masih di ambang 105 USD/barrel dan pada saat itu, banyak spekulan yang memprediksi minyak akan terus melambung melampaui all time high-nya di 133.38 USD pada Juli 2008.

Tapi kenyataannya tiba-tiba harga minyak terus turun tanpa terkendali hingga pernah di kisaran 28 USD/barel pada 2015. Hanya dalam waktu singkat, harga minyak anjlok sebesar 76%! Silahkan lihat chartnya DISINI

Mengapa demikian? Ini dipengaruhi oleh dua hal dasar:

Faktor Ekonomi

Sama dengan faktor ekonomi biasa, khususnya harga komoditas. Maka harga minyak juga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. Ketika tahun 2003 dimana terjadi krisis Irak (US menggulingkan Saddam Husein), muncul lah gerakan perlawanan rakyat Irak dengan melakukan peledakan-peledakan pipa minyak yang hampir setiap hari terjadi. Dan puncaknya pada 18 November 2003 di Baiji, Irak.

Ketika itu, efeknya produksi minyak Irak berkurang drastis. Kemudian diikuti badai Katrina di US pada 2005 yang melumpuhkan produksi minyak US, dan juga krisis Nigeria. Produksi minyak dunia pun jatuh, sehingga harga minyak melonjak tinggi hingga puncaknya pada Juli 2008.

Boom!

Tapi, saat ini, seperti dilansir majalah dan media online luar (Forbes, Times, Reuters dll). Terjadi kebalikan, dikatakan bahwa permintaan menurun drastis akibat menurunnya tingkat ekonomi negara-negara pengimpor minyak, diantaranya: China, Jepang, US dan terutama Eropa, sehingga terjadi penumpukan minyak mentah akibat Arab Saudi dan negara Arab lainnya yang tidak mau mengurangi produksi.

Apakah benar? Mari kita lihat lebih jauh.

Produksi minyak mentah terus bertahan di kisaran 70 juta barel per hari semenjak 2004 dan pada 2013, produksi mencapai angka 75.24 juta barel per hari. Konsumsi minyak dunia ada pada kisaran 80 juta barel per hari dan pada 2013 mencapai angka 90.35 juta barel per hari (silahkan klik disini).

Menurut IEA (International Energy Agency) konsumsi pada 2014 mencapai 93.08 juta barel per hari dan produksi mencapai 93.74 juta barel per hari. 2014 oil oversupply.

Apa yang menarik? Yang menarik tentu adalah FAKTA bahwa permintaan akan minyak tidak pernah turun. Begitu pula dengan gas, selama dunia membutuhkan energi selama itulah kebutuhan akan minyak dan gas selalu bertambah.

Lalu konsep permintaan menurun itu gugur dong?

Penulis ingat pemikiran George Soros tentang konsep ‘titik equilibrium’ atau ‘titik keseimbangan’. Dimana konsep tersebut menekankan pada titik keseimbangan nilai pada permintaan dan penawaran, yang berujung pada “bergoncangnya” harga.

Lihat tabel di bawah:

chart2

Disini kita lihat bahwa produksi minyak sejak 2011 semakin mendekati titik konsumsi / permintaan dan akhirnya mencapai ‘titik keseimbangan’ pada 2014. Yang terjadi berikutnya ialah, produksi minyak memotong garis permintaan, dan yang terjadi kemudian, Bust! Harga menjadi jatuh.

Mungkin inilah yang oleh para pengamat disebut penurunan permintaan. Nyatanya  permintaan tetap naik, namun produksi juga bertambah.

So kesimpulannya, alasan pertama akibat ekonomi tidak bisa di lacak secara fakta, jadi, mungkin agak sedikit bingung mendengar pendapat para pengamat bahwa berkurangnya permintaan akibat faktor ekonomi, mungkinkah memang alasan tersebut ‘disengaja’?

Lantas mengapa produksi minyak meningkat melebihi permintaannya? Dalam waktu 7 bulan? Menarik.

Faktor Politik

Maret 2001, pada pertemuan puncak energi nasional, Abraham Isbenser, sekretaris energi presiden Bush, mengatakan, “US akan menghadapi krisis yang sesungguhnya dalam cadangan energi selama dua dekade mendatang. Sesungguhnya kegagalan menghadapi tantangan ini akan mengancam kemakmuran perekonomian dan akan mempengaruhi keamanan nasional. Juga akan merubah metode kehidupan kita

Pidato ini menyulut reaksi frontal dari Presiden US George Bush untuk mengeluarkan statement pada pidatonya “Sesungguhnya US tergantung kepada minyak”.

Dan Bush menambahan “Kita akan menghadapi masalah yang pelik, US tergantung kepada minyak yang diimpor dari wilayah yang tidak stabil (Negara Arab dan Afrika) dan cara yang paling baik untuk melepaskan diri dari ketergantungan itu adalah teknologi” 

Atas dasar itulah, Bush menyatakan harapannya, kalau dia melakukan hal itu, maka US akan mampu “Melepaskan diri dari kira-kira 75% impor minyak dari Timur Tengah setelah tahun 2025”

Inti dari pidato tersebut adalah ambisi Bush untuk segera launching energi alternatif, yang nantinya (saat ini) disebut “Shale oil”

Rencana Bush untuk mengembangkan shale oil dan menurunkan impor minyak sudah menyebabkan fluktuasi harga minyak, harga terus di test sehingga relevan dengan pemasaran shale oil (nantinya).

Di sinilah peranan perusahaan-perusahaan minyak, khususnya perusahaan-perusahaan US. Perusahaan-perusahaan itu mulai melakukan spekulasi harga dan membuat berbagai manuver untuk merekayasa permintaan (supaya) terus meningkat, tanpa meperhitungkan kebutuhan konsumsi riil.

Harga minyak pun di dongkrak.

Di samping itu, perusahaan-perusahaan itu juga melakukan penimbunan, supply di hambat, harga minyak pun melonjak gila-gilaan sampai lebih dari 75 USD per barel dan naik terus hingga 133 USD per barel.

Di titik ini sebetulnya para ‘pemain’ bisnis minyak sudah tahu, bahwa lonjakan harga minyak tidak akan berlangsung lama, ya karena permainan tadi dan begitu terjadi konflik yang sedikit saja, maka harga minyak akan lepas.

Shale Oil

Kita tahu bahwa penentu harga minyak bukan hanya dari satu sisi (US atau Arab Saudi) tapi juga para importir (China, Jepang, Indonesia dsb), juga para kontraktor minyak (Exxon, Chevron, BP dsb) plus OPEC sendiri dan para broker minyak yang berpusat di Singapura.

Ucapan Bush terbukti pada 2013, ketika US berhasil melampaui Arab Saudi dan Rusia sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, disebabkan ekstraksi minyak melalui pemecahan batuan sedimen di bawah tanah (shale oil) telah berhasil.

Bank of America menyebutkan pada musim panas 2014: “US akan terus menjadi produsen terbesar minyak di dunia pada tahun ini, melampui Arab Saudi dan Rusia, dalam mengekstraksi energi dari minyak bebatuan (shale oil). Itulah yang membangkitkan perekonomian dalam negeri US”

Produksi minyak mentah AS dan pemisahan minyak dari gas alam, sudah lebih dari negara lain pada tahun 2015. Produksi minyak US lebih dari 11 juta barel pada kuartal pertama “US menjadi produsen minyak terbesar setelah menyalip Arab Saudi” (Bloomberg, 4 Juli 2014)”.

Revolusi minyak dan gas bebatuan (shale oil and gas) di US menyebabkan peningkatan produksi minyak dari 5,5 juta barel per hari pada tahun 2011 hingga saat ini 10 juta barel per hari.

Angka itu bisa menutupi sebagian besar kebutuhan US, sehingga impor minyak US dari Arab Saudi bisa menurun hingga setengahnya yaitu menjadi 878 ribu barel per hari dari sebelumnya 1,32 juta barel per hari.

Inilah pemicu pertama dari mulai turunnya harga minyak, karena semenjak itu US mulai mengurangi impor minyak mereka dari Timur Tengah.

Akan tetapi masalah shale oil adalah biaya produksinya yang mahal, masih di kisaran 75 USD per barel. Sementara biaya produksi minyak alami (crude oil) sekitar 7 USD per barel.

Ini artinya bahwa negara-negara produsen shale oil terutama US akan terpukul jika harga minyak turun hingga level di bawah biaya produksi shale oil.

Dengan kata lain, ketika  Bush mengumumkan bahwa shale oil  akan menjadi energi alternatif di tengah naiknya harga minyak (yang karena ulah spekulan dan krisis timur tengah), shale oil menjadi sangat ekonomis pada tahun 2011.

Tapi akan  menjadi tidak ekonomis nilainya saat ini, jika harga minyak mentah di bawah biaya produksi shale oil itu sendiri. Meskipun dengan peningkatan teknologi biaya itu bisa berkurang menjadi 50 – 60 USD per barel. Sehingga, harga yang paling ekonomis untuk minyak menurut US adalah 80 USD per barel.

Bisa kita lihat bersama, bahwa strategi konspirasi US mencari ‘titik keseimbangan’ ternyata di hambat oleh Arab Saudi, tuan besar di dalam OPEC.

Arab Saudi

Raja Salman, Raja Saudi saat ini naik tahta menggantikan Raja Abdullah Bin Abdul Aziz adalah raja yang dekat dengan Ikhwanul Muslimin, yang notabenenya adalah anti syiah, termasuk melancarkan serangan kepada syiah Houti di Yaman, Iran dan konfrontasinya dengan Basyar Al Assad di Syiria.

Raja Salman pun dikenal dekat dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamed dan memiliki hubungan baik sejak lama, terlihat dari keberpihakan ketika kudeta Muhammad Mursi di Mesir, Raja Salman dan Qatar kompak menentang aksi kudeta tersebut.

Di sisi lain, Saudi menganggap shale oil adalah ancaman, Arab Saudi mulai bermanuver dalam geopolitik di Timur Tengah dengan cara terus meningkatkan produksi minyak mereka, bahkan menambah kapasitas produksinya, yang mengakibatkan harga minyak anjlok seketika hingga di bawah 80 USD per barel.

US mulai mengetahui ini. Tahu bahwa manuver pertamanya (demi shale oil) gagal terhadap Arab Saudi, strategi lain di lancarkan, US mulai menunjukkan persetujuan terhadap penurunan harga minyak pada pertemuan OPEC di Wina pada 27 November 2014.

Disitu, US secara mengejutkan mendukung penuh manuver politik Arab Saudi untuk tetap tidak menurunkan produksi minyaknya. Dan menariknya, hal ini didukung penuh oleh seluruh peserta konfrensi dari Timur Tengah dan juga Eropa, khususnya Eropa barat.

Ada yang aneh? Amerika yang seharusnya menolak manuver Saudi, justru mendukung?

Setelah pertemuan itu, John Kerry, menteri luar negeri AS, melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada 11/9/2014 bertemu dengan Raja Arab Saudi ketika itu, Raja Abdullah di istana musim panasnya dalam sebuah kunjungan yang tidak direncanakan.

Setelah kunjungan itu, Arab Saudi justru menambah produksi minyaknya lebih dari 100 ribu barel per hari selama sisa bulan September. Pada minggu pertama November Arab Saudi menurunkan harga minyak jenis Arab Light sebesar 45 cent per barel. Harga minyak pun terus turun cepat dari harga 80 USD per barel.

Ada apa ini? Apa yang dibawa Kerry di istana musim panas Saudi? US belum pernah gagal, isu shale oil gagal, toh masih ada isu lainnya. Apa itu? Ternyata US memakai isu pengaruh penurunan harga minyak untuk menekan Russia, sebagai negara kedua produksi minyak terbesar, musuh besar US.

Alasannya? Isu pendudukan Krimea, Ukraina. Dan bagi Saudi sendiri, isu ini digunakan untuk tiga misi. Pertama TENTUNYA misi untuk menekan perekonomian Iran, sebagai negara syiah yang baru saja di cabut embargo minyaknya.

Kedua adalah menekan Russia sebagai negara pendukung diktator Basyar Al Assad di Syiria yang juga bergaris syiah, klop dengan US.

Ketiga, adalah menekan US sendiri untuk menghentikan shale oil dan kembali mengimpor minyak dari Timur Tengah.

Jauh sebelumnya, pada Maret 2014 lalu miliarder George Soros sudah mengusulkan kepada pemerintah US “sarana untuk menghukum Rusia” karena menggabungkan semenanjung Krimea, yaitu dengan jalan menurunkan harga minyak. Ide ini diterima.

So, Kerry berusaha menunjukkan persetujuan untuk menurunkan harga pada batas ekonomisnya di 70 – 80 USD/barel dengan ‘berpolitik’ terhadap Eropa dan Timur Tengah bahwa US serius dalam menolong Ukraina melawan Russia dalam isu Krimea.

Disini dua sisi mata uang diperlihatkan oleh US, di satu sisi ingin menghukum Russia, di satu sisi ingin shale oil tetap berjalan. Namun ternyata untuk pertama kalinya dalam sejarah US tidak berhasil dalam misinya.

Harga minyak terus turun bahkan di level 28 USD per barel, jauh dari nilai ekonomis shale oil itu sendiri, karena ternyata Arab Saudi masih terus berproduksi dengan kapasitas 100 ribu barel per hari.

Tujuan Saudi jelas, perekonomian Iran harus jatuh, apalagi King Salman adalah penentang syiah garis keras. Dari sini Iran sudah dipastikan akan kewalahan, karena produksi minyak Saudi adalah yang termurah, 7 USD/barel.

Apakah harga minyak akan terus turun? Dilihat dari kenyataan bahwa Arab Saudi masih enggan menurunkan kapasitasnya, jawabannya mungkin YA, setidaknya ada tiga hal :

  1. Arab Saudi terus melakukan peningkatan produksi, hingga Iran benar-benar menyerah, termasuk Russia menghentikan bantuan kepada Basyar Al Assad di Syiria.
  2. US berusaha terus mengembangkan teknologi agar biaya produksi shale oil dapat ditekan sehingga nilai shale oil tetap ekonomis meskipun harga minyak dunia turun.
  3. Atau kemungkinan terakhir bahwa US akan kembali melakukan aksinya langsung ke Timur Tengah, membuat berbagai konspirasi sehingga membuat defisit neraca APBN negara Timur Tengah membesar, sehingga terpaksa menurunkan kapasitas produksinya dan kemudian harga minyak kembali naik. Tapi sejauh ini, posisi US adalah wait and see, toh karena Raja Salman tidak pernah terang-terangan berkonfrontir dengan US.

Apakah BBM akan naik atau turun?

Entah dari tiga hal tersebut menjadi penting atau tidak, namun bagi kita semua pengetahuan tersebut perlu dikarenakan kebijakan ini berdampak banyak bagi Indonesia .

Seperti yang pernah di jelaskan tentang harga minyak yang terus turun, bahwa di tengah harga minyak dunia yang masih di kisaran 30-50 USD/barel, posisi Indonesia paling baik adalah sebagai nett importir, dan untuk itu membutuhkan storage yang sebanding.

Sayangnya beragam proyek storage tanki belum sepenuhnya beroperasi, sehingga belum ada kemajuan signifikan untuk menekan harga BBM dalam negeri. Artinya, harga BBM masih murni mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

Ketika Presiden Jokowi menurunkan harga BBM pada 1 April 2016 lalu, harga minyak dunia di level 38-40 USD/barel dan saat ini harga minyak masih berfluktuatif di 48-50 USD/barel akibat gejolak supply di Nigeria dan mulai bangkrutnya banyak perusahaan shale oil di US.

So, apakah logis jika 1 Juli nanti BBM turun? Nantikan selanjutnya

Salam

Source:

Bisnis Keuangan Kompas

Hizbut-Tahrir

Bloomberg Indonesia

BisnisWeek

Dari beragam sumber dialog dengan rekan-rekan lainnya.

Advertisements

5 thoughts on “Dibalik Ambruknya Si Emas Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s