Jangan Kaget Dengan Lion Air, Kagetlah Dengan Dinas Perhubungan Kita

Jangan Kaget Dengan Lion Air, Kagetlah Dengan Dinas Perhubungan Kita

Jangan kaget dengan Lion Air. Itulah judul postingan penulis kali ini, tujuannya jelas yaitu menyadarkan orang orang pribumi berkantong pas-pasan seperti penulis untuk sekedar nrimo atas dasar perbedaan kelas. Perbedaan kelas yang di perjelas oleh Karl Marx dengan bahasa yang begitu menggoda, yang akhirnya jadi bahan bredel.

Perbedaan kelas itu bernama Low Cost Carrier (LCC) Airflight, atau penerbangan kelas pas-pasan. Sudah jangan di debat kenapa bahasanya kok terkesan tendensius, lha memang itu faktanya. Lion Air sudah mendedikasikan diri sebagai maskapai khusus wong cilik yang kaffah, militan dan istiqomah.

Gak percaya? Coba cek penerbangan jurusan Jakarta / Surabaya ke Balikpapan atau seputaran daerah Sumatera atau Sulawesi, maka akan anda temukan mas-mas berponi dengan bau matahari jongkok bersama-sama menunggu jam penerbangan.

Mas-mas tadi seyogyanya adalah para buruh yang akan berangkat mencari nafkah dalam proyek-proyek konstruksi, tambang ataupun pembangkit listrik. Perusahaan mereka yang notabenenya adalah perusahaan kecil pensuplai tenaga kerja atau kontraktor biasa yang dengan hati riang gembira selalu absolut memberikan tiket Lion Air, dan para mas-mas tadi pun menerima dengan patuh sambil bergumam: Inilah kelas-ku.

Pun demikian dengan kita-kita yang tergolong kelas menengah “ngehek”, tidak mau ketinggalan, meskipun jatahnya Garuda namun kok rasanya tidak nasionalis jika tidak ikut dalam hegemoni kelas tadi. Lion Air laris bak tiket premier AADC 2, tiket selalu tandas, rute penerbangan di tambah selaras dengan kebutuhan jumlah pesawat.

Rusdi Kirana pun cari akal, duit darimana? Jangan polos-polos kang, dengan konsep “We Make People Fly”, Lion Air punya konsep menjangkau seluruh individu di Indonesia, apalagi budaya menabung ala orde baru telah mengikat sendi-sendi masyarakatnya.

Konsep ideal: “Kalau ada yang murah, kenapa harus bayar lebih?”. Berbekal proposal konsep itu, 500x penerbangan sehari pun bisa terealisasi, 500 ribu penumpang per hari bukan lagi impian. Konsep yang jenius kan?

Siapa investor yang tidak tergiur? Rumor Temasek jangan langsung di tolak, itu bisa ada benarnya. Seorang Rusdi Kirana bisa disambut bak raja Alexander Agung ketika masuk ke Perancis untuk tanda tangan pembelian 234 pesawat Airbus.

Tidak tanggung, seorang Francois Hollande menyambutnya di Champ Elysse dengan antusias bagai messiah. Ya Rusdi memang datang sebagai messiah di tengah kalutnya ekonomi Perancis.

Jangan dilupakan bagaimana ekspresi Obama ketika Rusdi menandatangani pembelian Boeing. Sebuah fenomena muncul, sepak terjang Lion Air bagai tidak tersentuh, kasus demi kasus dari mulai delay, seks hingga pesawat tergelincir, seperti sebuah pemasrahan diri total terhadap satu jenis maskapai. Lion Air bagai dewa di negeri kita.

Jadi jangan kaget jika di hari kemudian terjadi kesalahan prosedural yang berakibat penerbangan internasional bisa “salah kamar” masuk ke area domestik, tanpa melalui imigrasi. Jangan kaget.

Lion gitu loch! Mbok ya sadar semua, Low Cost Carrier alias penerbangan pas-pas-an ya artinya semua di buat ngepas. Pas duitnya cuma bisa beli HT cap kwitang, ya HT itulah yang dipakai buat si supir bus shuttle, mungkin pas di suruh ke internasional eh malah dengernya domestik. Kalau kejadian kayak gitu, kamu mau apa?

Sepatutnya kita berterima kasih kepada mbak Zara Zettira yang dengan penuh kesadaran menuliskan pengalaman saudaranya ketika mengalami hal itu di facebook. Sehingga kita ngeh dan terbuka matanya melihat: Ini lho hasil konsep penerbangan pas-pasan tadi.

Apa konsep itu salah? Ya tidak, jujur kita membutuhkannya. Yang harus di tegakkan setegak-tegaknya adalah regulasi ketat dari Pemerintah, utamanya Departemen Perhubungan.

Bukan cuma Lion Air yang terjadi kesalahan penurunan penumpang, Air Asia yang sama-sama berpredikat penerbangan pas-pasan tadi ikut-ikutan “salah kamar”.

Plak! Wajah Dephub lagi-lagi ditampar. Keras lho ini! Kalau kemarin “cuma” supir taksi, sekarang ini kelasnya pesawat. Plak! Plak! Plak!. Sudah tiga tamparan. Masih belum sakit juga?

Lion Air dan Air Asia kok bisa-bisanya nyaris bebarengan, aroma konspirasi tercium. Jangan-jangan memang sudah sering terjadi sebelumnya? Kalau mbak Zara Zettira tidak menuliskan di status facebook, jangan-jangan ini tidak pernah terungkap?? Ada apakah??

Seperti di jelaskan John Brata bahwa proses pendaratan pesawat harus melalui mekanisme persetujuan pihak bandara, dalam hal ini dikelola oleh Perhubungan Udara. Meskipun ketika operasional pengangkutan penumpang di laksanakan oleh maskapai namun alangkah naif dan bodohnya jika pihak bandara tidak tahu hal ini, keluar masuk penumpang mustahil tidak di kontrol pihak bandara.

Jujur saja, masyarakat tahu infonya bukan dari pemerintah, tapi dari akun facebook. Jadi kalau saat ini penulis bertanya, jangan-jangan sebelumnya sering kejadian seperti ini (insiden salah kamar), itu adalah pertanyaan yang wajar.

Regulasi pemerintah amatlah miskin. Low cost carrier seharusnya wajib membuat kinerja pemerintah semakin besar, bukan sebaliknya.

Ini sebuah kritikan pedas untuk pemerintahan pak Jokowi, raport merah untuk transportasi nasional. Ignasius Jonan sebaiknya jangan umbar senyum terlalu banyak. Pembekuan izin ground handling bukanlah jawaban. Ini hanya case by case. Di belakang itu masih banyak masalah Lion Air dan juga Air Asia.

Citilink bisa dimajukan oleh pemerintah sebagai alternatif, kelemahan Citilink cuma satu, jumlah rute dan pesawat yang kalah banyak. Sebagai anak usaha Garuda Indonesia, Citilink amat layak untuk dimajukan sebagai pesaing abadi Lion Air, kalau perlu mengambil alih pesawat termasuk maintenance service-nya.

Dan untuk kita, para konsumen kelas menengah “ngehek”, jangan Lion Air terus menerus di bully, sedangkan tiketnya masih kita buru. Masalahnya bukan hanya pada Lion Air, tapi juga pada pemerintah Dinas Perhubungan. Lion Air dimanja? Sangat mungkin. Lion Air minta dimanja? Amat sangat wajar.

Sudah saatnya pemerintah cepat tanggap, jangan bikin kaget kita lagi pak Jonan.

Atau pak Jonan sudah siap di koreksi (baca: reshuffle) ?

Advertisements

4 thoughts on “Jangan Kaget Dengan Lion Air, Kagetlah Dengan Dinas Perhubungan Kita

  1. Sy sudah lama memakai lion air, dan mmg hampir slalu delay, mmg tak bisa disalahkan krn biaya murah pun masyarakat indonesia yang menginginkan. Dishub hrs bertggung jawab, sdh saatnya Jonan di evaluasi

    Like

    • Iyach memang karena Airlines Swasta yang PALING MURAH DI INDONESIA,wajarlah kalu sering ngaco,kita bisa ambil kesimpulan AIRLINES YANG TICKETNYA MURAH RENTAN DENGAN KEKACAUAN SOP, RENTAN DENGAN TERJADINYA PENYIMPANGAN SOP, RENTAN TERHADAP NGAWUR DALAM PROCEDURE, RENTAN TIDAK MEMATUHI SOP.YACH KARENA AIRLINES YANG TICKETNYA MURAH MAKA KARYAWANNYA JUGA DIBAYAR MURAH SESUAI UMR ,NGGAK AKAN LEBIH DARI UMR,PADAHAL KARYAWAN AIRLINES BUKANLAH KARYAWAN KIOS LAPAK. PEMERINTAH HARUS TEGAS STOP DENGAN AIRLINES YANG BERBIAYA MURAH KARENA RENTAN AKAN INCIDENT,YANG TERDIRI DARI: INCIDENT SALAH MASUK GATE,INCIDENTS DELAY BER JAM JAM,INCIDENTS SALAH BOARDING, INCIDENTS TSB DILAKUKAN OLEH:KARYAWAN YANG GAJINYA UMR,YACH JELAS AKAN NGACO SOP YANG DIJALANKAN.

      Like

  2. Saya tidak setuju jika dibilang Citilink sebagai andalan. Karena munkin kasus dari Citilink yang suka mengubah-mengubah jadwal seenaknya dan delay belum terekspos.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s