Hati-Hati! Hindari Membaca "Skimming" dalam Media Sosial

skimming3-571c486f799373c5043a0a6b

Meskipun bisa dikategorikan penggila buku, namun bagi kita kaum kekinian yang selalu heboh dengan gadget, menamatkan 1 atau 2 buku dalam sehari adalah sebuah kepuasan tersendiri, sudah bisa dikategorikan cum laude, apalagi bisa 3 buku lebih dalam sehari, sudah berkategori Magna. Namun itu semua ternyata hanya apalah jika dibandingkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir atau bahkan Fadli Zon yang bisa melahap 3-5 atau bahkan 7 buku dalam sehari tanpa kehilangan esensi.

Bagaimana mereka bisa membaca secepat itu? Tentunya mereka tidak membaca sambil nyambi cuci piring atau membantu ibu ke pasar. Mereka jelas fokus dan memakai teknik. Teknik yang disebut membaca cepat atau skimming.

Sedikit membahas pengertian, teknik membaca skimming adalah teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk mencari esensi bacaan tersebut tanpa harus membaca keseluruhan huruf demi huruf dalam bacaan. Terus terang bahwa teknik ini sangat powerful untuk meningkatkan konsumsi baca kita sehari-hari, penulis merasakan setelah aktif berlatih teknik skimming, dua buku tebal akhirnya bisa diselesaikan dalam satu hari, meskipun dengan susah payah.

Permasalahan kemudian muncul, teknik ini berkembang pesat dari semua golongan dan umur. Tapi sayangnya, teknik ini secara salah kaprah dipakai bukan untuk meningkatkan konsumsi bacaan, tetapi sebagai kambing hitam atas kemalasan otak mencerna suatu bacaan. Nah.

Terutama jika teknik skimming ini digunakan untuk mencerna bacaan dari sosial media. Lagi-lagi penulis harus menegaskan bahwa di sosial media, kerja jempol kita jauh lebih cepat daripada kerja otak kita. Apabila kedua hal tadi digabungkan yang terjadi adalah kekacauan.

Mereka, dan mungkin kita, sudah tidak peduli lagi dengan apa esensi suatu bacaan sebenarnya. Pembuktian lagi-lagi adalah Facebook, holy Zuckenberg! Facebook sudah berkembang bukan hanya lagi soal media pertemanan, atau sekedar basa-basi pamer habis khatam Qur’an atau sholat Tahajjud. Facebook sudah beralih fungsi sebagai media propaganda.

Facebook memiliki dua unsur propaganda, share tak terbatas dan body untuk artikel. Tidak ada batasan huruf dan tidak ada batasan share. Facebook mengizinkan semua itu. Kita berteman dengan siapapun di Facebook dan Facebook mengizinkan apapun aktivitas kita, meskipun hanya sekadar ber-like atau berkomentar di lapak teman A, bisa dibaca oleh teman kita yang B, meskipun antar A dan B tidak saling kenal. Dan tentunya oleh B di-share ke C, D dan seterusnya.

Dengan kemampuan jelajah yang sangat luas tak mengenal batas, Facebook memiliki kekuatan dan kecepatan tertinggi, nomor dua adalah Twitter. Dampaknya, kita tidak berfikir soal konten, kita hampir tidak pernah ber-tabayun, atau mengecek lagi kebenaran berita itu, kita hanya mentok pada judul dan isi sebagian artikel. Viral sudah menjadi candu dan kita dipaksa untuk mengikuti alur permainan sosial media: speed and spread, cepat dan menyebar.

Parahnya, hampir semua pengguna sosial media menggunakan teknik skimming dalam membaca berita yang entah di-share dari artikel atau media online. Karena apa? Karena takut kalah cepat, takut dianggap tidak update ataupun keinginan lain seperti menjatuhkan kawan (Ya! Kawan, bukan lawan) yang berbeda haluan politik. Sehingga apa yang di dapat tidaklah pernah utuh satu bagian tulisan.

Kita sering lupa bahwa sosial media sangat berbeda dengan buku fisik. Satu ciri khas: media sosial mengizinkan adanya timbal balik. Timbal balik berupa komentar. komentar bisa berupa hanya sekedar komentar, ide, kritik atau bahkan hinaan. Apa yang terjadi berikutnya adalah fatal: komentar kita, yang seringkali berupa kritik dan hinaan, sangat tidak berhubungan dengan isi artikel aslinya.

Sering penulis merasa kasihan dengan seorang artis sehabis posting status dagangannya lalu di komentari oleh para sosialita hijab sebagai riya’. Padahal dia sedang berdagang. Atau penulis sendiri yang pernah menulis soal Soekarno, justru dikomentari antek komunis dan mendukung poligami, ketika penulis tanya balik, dijawab hanya karena ada tulisan Nasakom, Inggit dan Heldy Djafar. Atau ketika menulis bahwa BPK lalu di cap antek etnis tertentu, tanpa membaca paragraf akhir. Tentunya ada yang salah.

Sehingga cukup sebuah kesimpulan. Tidak selamanya teknik skimming itu baik, teknik ini berbahaya diterapkan pada sosial media. Skimming atau membaca cepat, hanya layak diterapkan pada buku, stensil, majalah atau selebaran pamflet Pilkada. Dan butuh waktu latihan yang cukup lama untuk bisa membaca cepat tanpa kehilangan esensi.

Bahkan untuk buku pun, seorang Hatta pernah meminjamkan buku kepada temannya di Boven Digoel, ketika mengembalikan, Hatta bertanya apakah temannya sudah memahami apa isi buku tersebut. Jika belum, maka buku tersebut dipinjamkannya kembali hingga paham. Alasannya? Apabila hanya paham setengah atau tidak paham, dikhawatirkan justru akan membawa kepada tindakan yang berlawanan.

Tindakan bung Hatta sudah terbukti saat ini, berbagai macam fitnah di media sosial yang di ciptakan oleh golongan tertentu, kita lahap habis, kita share dan tanpa berdosa kita berkomentar yang sangat jauh dari esensi tulisan tersebut.

Untuk para Facebook-er, Blogger, Twitter dan apapun media sosial lainnya, bacalah utuh seluruh artikel jika anda sudah membuka artikel tersebut, bacalah perlahan, pikirkan setiap paragraf dan jangan berkomentar hingga anda betul-betul sudah mengerti isi tulisan, dan silahkan share jika anda memang paham.

Karena buku atau bacaan apapun, bukan hanya membuka wawasan dan informasi, tetapi juga representasi kepada aksi nyata. Maka berhati-hatilah dalam membaca.

Hepi wiken-

Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Humaniora
7 comments on “Hati-Hati! Hindari Membaca "Skimming" dalam Media Sosial
  1. Gingin says:

    Betul sekali mas, esensi tulisan ini sangat mengena

    Like

  2. Masa seperti ini, fitnah semakin nyata..glongan2 sumbe pendek sedang berkeliaran mas, hati hati

    Like

  3. Mbah Semar says:

    Setuju banget dengan artikel ini, salam bro..cuma..ya cuma nih ya, adakalanya yg rusuh itu asyik hehe

    Like

  4. Hastira says:

    setuju banget, apalagi dimedsos, belum baca seluruhnya sdh terkpmpori bahkan dari judul saja sudah berani komentar

    Like

  5. Ery Udya says:

    Betul banget, Mas. Apalagi saat ini di sosial media banyak berita hoax yg hanya mencari sensasi. Judulnya heboh banget, tapi pas dibuka isinya zonk.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
KURUSETRA

and the Bharatayuda within

The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories