Hari Kartini dan Emansipasi Mamah-Mamah Muda

Hari Kartini tinggal satu hari lagi, ya bahkan tinggal hitungan jam, hari spesial yang lebih spesial dari hari Ibu. Lho? Coba lihat, pada hari ibu, paling banter kita semua kasih ucapan melankolis dramatis yang sangat in-situasional kepada ibu kita. “I Love Mama”, lalu kemudian dibalas “Hari gini aja lu Lof Mama, giliran suruh nimba air aja ngabur!!”. Jelas ini situasi yang sangat  in-situasional dan berbahaya buat kesehatan.

Giliran hari Kartini, bisa ditebak, hampir di seluruh desa hingga kota serentak mengadakan parade absurd, dari TK dan SD, anak-anak kecil nan lugu tersebut di dandani se-tradisional mungkin, dengan tema serupa: Kebaya, tentunya Kebaya bernuansa Jawa supaya dibilang “Kartini Banget”. Bahkan ada anak-anak lucu berlainan jenis kelamin yang disuruh berpasang-pasangan, bergandengan tangan mirip adegan pengantin dadakan. Hei, mereka belum mengenal arti cinta!

Tidak sampai disitu, drama Kartini juga berlanjut ke parade kebaya mamah-mamah kaum gurem hingga kaum Jetset, dari level kecamatan hingga level fashion show. Ini jelas indoktrinisasi kelas absurd, karena tak pernah sedikitpun ada sejarah bahwa R. A Kartini adalah seorang perancang busana.

Justru ada yang luput dari pengamatan selama ini, Kartini merupakan golongan mamah-mamah muda, meskipun umurnya tidak panjang setelah melahirkan, tetap saja Kartini sudah memiliki anak pada usia 25 tahun. Umur yang bila di komparasi dengan “hari gini” adalah umur “Mau Matang Manggis” alias belum matang-matang amat. Tapi toh setidaknya ini yang secara ‘gothak-gathuk’ mengindikasi adanya gerakan emansipasi para mamah muda di hari ini.

Gerakan ini sangat layak diperhitungkan. Jangan dihitung dengan jari berapa jumlah mamah-mamah yang sedang pumping di kantor 2x sehari demi ASI buat balitanya dan tetap on-time memberikan laporan audit sekelas Sumber Waras ke Bos-nya. Jangan di anggap remeh para mamah muda yang bergelantungan di metromini setiap pagi sore, ataupun yang menyetir kendaraan harus bermacet ria sambil tetap pumping ASI bin buka Instagram online shop. Wow!

Berdebat? Hmm..jangankan kaum laki-laki yang berkemeja kinyis-kinyis, preman Kp Rambutan pun akan dilibas nangis darah karena kekuatan mereka. Apalagi jika mereka pakai motor matik? Lebih baik hindari.

Lalu apakah kekuatan mereka terinspirasi oleh Kartini? Entahlah, namun para mamah-mamah muda ini justru sangat terinspirasi oleh suaminya yang ‘maaf’ dianggap kurang dalam memberikan kecukupan ekonomi. Meskipun secara materi sebetulnya cukup, tetapi pola gaya hidup sudah merubah mind-set sejati para mamah muda tersebut, tidak perlu dijelaskan karena nanti akan menimbulkan kegaduhan politik fase II.

Inspirasi berikutnya datang dari terhimpitnya situasi dan kondisi alias ancaman gusuran. Sudah tidak aneh ditemukan hampir di setiap tindakan penggusuran adanya gerakan “pamer BH”. Ini juga tidak perlu lagi dijelaskan karena kaum feminist pasti lebih mengerti dari penulis.

Dan yang mengejutkan baru-baru ini adanya gerakan cor kaki di depan Istana yang melibatkan 9 mamah (beberapa tergolong muda) petani asal Blora, Jawa Tengah pada 13 April lalu. Gerakan trengginas yang didasari penolakan pembangunan tambang dan pabrik Semen karena akan mematikan lahan pertanian mereka. Bayangkan, Semen Indonesia, raksasa penguasa semen nasional bahkan harus rela ciut nyalinya berhadapan dengan kekuatan super ini.

Mohon jangan dimasukkan hati celetuk jeng Dian Sastro yang justru bertanya kemana para suaminya, karena mungkin jeng Dian sudah terlalu enak dengan suami yang cukup menghidupi. Tapi mohon dilihat kegigihan hati mereka yang jauh lebih hebat dari demo kaum buruh dan supir taksi para pria yang beringas itu.

Jika semua hal ini terinspirasi oleh Kartini, pasti beliau sangatlah bangga, sebab surat Kartini (Kartini papers) yang dianggap sebuah perjuangan kini telah berubah menjadi kenyataan. Tunggu dulu, kenyataan akibat kumpulan surat? Sebetulnya tidak juga, karena hakul yakin para mamah-mamah tersebut bahkan belum atau justru tidak membaca sama sekali buku legendaris “Habis Gelap Terbitlah Terang” , tapi mereka pasti membaca “Habis Uang Terbitlah Hutang”.

Jadi, dengan melihat kegigihan para mamah-mamah muda tersebut dalam berjuang hidup, hari Kartini harus dirayakan lebih dari sekedar parade baju kebaya yang apalah, tapi penulis saran agar dijadikan hari libur nasional. Ya hari libur nasional, masuk di tanggal merah yang selalu terbit setahun sebelumnya.

Dus, di hari libur yang khidmat itu, alangkah elok jika para suami memanjakan para istrinya dengan servis lebih, silahkan di servis dalam bentuk apa saja, tak perlu juga dijelaskan karena tentunya ini ranah privasi duniawi. Tapi yang pasti buatlah mereka tersenyum dan pastikan tidak berbisik “Pah, cicilan yang anu belum dibayar”.

Bukan soal mengenang Kartini, karena itu hanya sebagai simbol, tetapi memberikan atensi dan menghargai setiap wanita yang disamping kita sebagai pahlawan keluarga jauh lebih bemakna.

***
Di muat di Kompasiana, Disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s