Blunder Yusron dan Lunturnya Primordialisme

Ada dua surat dari masyarakat di media yang patut di perhitungkan isinya belakangan ini. Pertama adalah surat terbuka dari Sdr Naftalia disini, dan yang kedua dari PPI Jepang disini. Kedua surat yang dikemas dalam bentuk Surat Terbuka ini menunjuk hal yang sama, yaitu tentang twitter Yusron Ihza Mahendra, seorang Dubes Indonesia Jepang yang dinilai penuh muatan SARA.

Kita tidak perlu meng-capture lagi apa isi twitternya karena pasti semua orang sudah tahu. Dan memang Yusron bukan inisiator twitter tersebut, melainkan Suryo Prabowo, seorang Letjen bintang tiga, tokoh militer Indonesia yang menjadi tim sukses Prabowo waktu Pilpres lalu.

Tapi siapa yang peduli? Ada dua hal mengapa Yusron yang disorot. Pertama, karena dia Dubes aktif, kedua karena kakaknya, Yusril Ihza Mahendra saat ini lagi berpeluh keringat untuk menaiki tebing terjal bernama Pilkada DKI.

Lho, jadi Yusron enggak salah donk? Gini kawan, kalau saya ngeliat ada orang yang BAB didepan rumah saya, lalu saya bawa ke Kamtib, terus dia teriak “Bukan saya donk, itu sebelum saya ada yang BAB disitu juga”. Saya tinggal jawab “Saya enggak kenal yang sebelum kamu, tapi kamu itu ketua RT dikampung sini!, ketua RT ya liat-liat donk kalo kebelet!”.

Dari awal mula kebelet, ternyata twitter Yusron sampai juga ke kawan-kawan etnis Tionghoa di kantor saya, yang letaknya jauh sekali dari Jakarta. Nah bayangkan, dalam jarak ribuan mil hasil jempol kita bisa berpengaruh, “Ini maksudnya apa?”. Saya hanya bisa bilang “Oh, otaknya lagi konslet”.

Sebetulnya saya tidak perlu bermetafora seperti itu karena mereka (teman-teman etnis Tionghoa saya) juga tahu maksud dan tujuan twitter Yusron yang terbaca sebagai dalih strategi Pilkada. Ahok yang memang keturunan Tionghoa, non-muslim, kasar dan sebagainya adalah sasaran empuk para lawannya.

Dan Yusril, yang sudah mati kutu nyaris tidak punya lagi jurus andalan hanya bisa naikan alis. Yusron sebagai adik yang baik mungkin kasihan melihat kakaknya dan melancarkan satu buah jurus pamungkas, yang ternyata..bunuh diri.

Sebagai lulusan Univ Tsukuba Japan hingga level Phd, seharusnya, seharusnya lho ya, Yusron sudah paham betul bahwa Vaksin atau Anti-Virus justru diciptakan dari Virus itu sendiri dengan perlakuan berulang-ulang. Serangan Virus, itulah yang ditunggu, dan dengan penempaan berulang-ulang dan kesabaran, maka munculah Vaksin.

Ah mungkin beliau terlalu sibuk, sehingga juga enggak sempat baca komik Dragon Ball, dimana kekuatan Boo justru bertambah dari menghisap kekuatan lawannya dan merubahnya menjadi kekuatan sendiri.

Dan parahnya, ini pula yang dialami oleh para penantang petahana di Pilgub DKI nanti. Tidak ada satupun yang belajar dari Anti-Virus dan Boo. Mereka tetap menganggap diri mereka adalah Mahapatih Gajahmada yang harus bertarung melawan Ra-Kuti, seorang Patih sombong bermulut besar. Mereka lupa, bahwa suksesnya Gajamada karena dukungan penuh dari Jayanegara, terlepas dari Jayanegara banyak pendukungnya atau tidak, atau justu membencinya diam diam seperti Ra-Tanca.

Siapa yang mengawali isu SARA

Ada yang berpendapat bahwa justru Ahok-lah yang menciptakan anekdot minoritas. Tapi seingat otak saya yang tak seberapa besar, ketika Jokowi naik mimbar menjadi Presiden di 2014 dan isu beralih kepada posisi Gubernur yang saat itu kosong, seperti hampir serentak Masjid di Ibukota berbicara soal pemimpin yang seagama. Kebetulan pada waktu itu, dalam sebulan saya bersholat Jumat di Masjid yang berbeda.

Istilah haram, kafir, etnis Tiongkok, sudah mulai sedikit merebak, tapi belum booming, karena waktu itu tidak ada yang bisa menjegal Ahok karena kosongnya kursi Gubernur.jadi istilah itu hanya mampir saja. Hanya FPI yang memang tidak pernah bisa menjaga mulutnya yang berkoar.

Tapi dari situ sepertinya sang Gubernur (yang menurut saya, dia memiliki kemampuan politik tingkat tinggi) mulai mencium aroma strategi yang harum karena koaran itu. Ingat saya di Mata Najwa, Ahok mulai mengeluarkan statement soal etnis dan agama dan berulang kali berucap kata-kata “kafir” yang “seakan” memojokkan dirinya.

That’s strategy!

Semua tersihir. Dimulai dari kaum konservatif yang masih berurusan tetek bengek dengan primordialisme dibanding logika, dengan lantang bersuara anti Ahok, segala macam isu SARA diangkat dan menjadi viral.

Sebaliknya kaum progresif yang sangat anti-primordialisme, dengan jumlah lebih banyak dan berotak lebih fleksibel justru menangkap sinyal itu masuk kepikiran, untuk diolah sedemikian rupa dan menghasilkan “anti-virus” tadi.

Inilah yang kemudian justru menjadi kekuatannya, Ahok berhasil merubah virus menjadi Anti-virus yang siap disuntikkan kembali. Sifatnya jelas untuk menaklukkan. Ahok dan kaum progresif lain, sangat sadar, menegaskan bahwa isu primordialisme adalah isu basi. Isu SARA adalah isu yang betul-betul basi dan berbahaya.

Dan memang benar, primordialis adalah sarana ketakutan kaum konservatif ketika ranah kenyamanannya terganggu. Sama halnya dengan Trumph di USA dengan pernyataan rasisnya yang tak lebih dari perlindungan terhadap konsep konservatif.

Sayangnya, ini Jakarta, ibukota yang didominasi kaum progresif. Trumph pun saya yakin akan kalah jika hanya pemilihan untuk Walikota Los Angles yang pernah mengangkat Thomas Bradley yang berkulit hitam (pertama) menjadi Walikota di tahun 1973. Ahok mungkin akan sangat berat ketika harus bertarung di RI 1, bahkan mungkin gagal sebelum bertarung. Indonesia adalah primordialis, kecuali Jakarta.

Pertimbangan ini berhasil, ketika berita-berita yang berkaitan dengan isu SARA masuk ke media dan menjadi headline, maka lihatlah kolom komentar di bawahnya, mungkin 70% lebih yang mengecam isu ini, belum ditambah yang di media sosial. Artinya jelas, kaum progresif lebih banyak dan primordialisme semakin luntur.

Twit Berbahaya

Bagaimana tidak berbahaya, untuk hal ini saya sampai menonton kembali film “Hotel Rwanda” yang berisi pembantaian suku Hutu terhadap Tutsi, padahal sama-sama kulit hitam. masih segar ingatan pembantaian etnis Tionghoa pada 1953 dan 1998 di Jakarta. Lalu hal-hal tersebut di twit oleh seorang tokoh militer dan disambung secara tidak cerdas oleh seorang Dubes? Apa-apaan?

Kami sekeluarga hidup bertetangga dengan keluarga keturunan Tionghoa, yang sangat baik, hampir setiap bulan atau minggu mengirimi kami ayam bakar bumbu bali, atau mengirim opor ketika lebaran tanpa kami minta. Belum lagi dengan rekan kerja yang dari dulu tak pernah putus berinteraksi. Entah pekerjaan, bisnis dan perkawanan. Dan itu ingin di hancurkan dengan sekelumit kata “hati-hati kalau ada yang mau membantai”.

Rupanya sang tokoh TNI dan Dubes ini tidak sadar bahwa bagaimana traumanya rakyat Indonesia terhadap pembantaian pada 1998 yang secara naluri membentuk anti tesis terhadap SARA. Dan ketika kemudian isu ini dilempar lagi, mereka hanya membakar diri mereka sendiri. Sialnya, isu ini dilempar sebagai bagian strategi politik pilkada.

Lebay oh lebay..

Terus terang, para penantang petahana sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa dijual ke masyarakat, padahal masih 2017 tetapi energi sudah habis sekarang. Beragam artikel tentang cara mengalahkan Ahok muncul, mungkin bisa dibuat buku 1001 cara mengalahkan bla bla bla, tapi faktanya belum ada.

Hanya Sandiaga Uno yang fokus pada jualannya, tentunya karena dia seorang pengusaha jempolan, ketimbang menjatuhkan lawan, lebih baik perbaiki produk sendiri, itu prinsipnya.

Saya pun mungkin tidak memilih Ahok karena prinsip, tetapi mewakili kaum progresif hanya menghimbau bahwa isu-isu SARA adalah betul betul basi. Tidak ada satupun yang ingin kejadian 1998 terulang kecuali sebuah kejadian besar seperti Mei 1998 yang menuntut seorang Presiden yang tak tersentuh untuk lengser.

Dan amatlah berlebihan jika seorang Basuki disamakan dengan Soeharto.

Salam

Advertisements

3 thoughts on “Blunder Yusron dan Lunturnya Primordialisme

  1. sya rasa tidak berlebihan untuk memaknai kicauan suryo prabowo, karena primordialisme yang anda maksud jelas terjadi di 98, dan ini adalah warning, hanya warning..sy rasa itu saja mas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s