Humaniora · Politik

Menelaah "Solusi Macet" Ala Ust. Yusuf Mansur..Maaf..Ustad Sehat?

Ustad belabel artis, ustad berlabel pengusaha, ustad berlabel politikus ataupun sebaliknya memang sedang booming bak batu akik. Apalagi Ustad yang berlabel tiga istilah itu sekaligus, pasti menarik, terutama bagi golongan ukhti-ukhti dengan predikat mama muda dan juga penulis yang bergolongan papa muda. Salah satunya adalah Ustad Yusuf Mansur.

Tapi, sang ustad idola, baru-baru saja dengan percaya diri melontarkan pernyataan yang menurut hemat penulis, lebih pantas dikeluarkan oleh calon pemimpin Jakarta yang kemungkinan kecil akan berhasil. Memang sih, sang ustad ini pernah ikut ber-riang gembira dalam bursa bakal calon gubernur namun akhirnya mundur, mungkin karena sadar lebih baik ber-dakwah sambil tetap berbisnis. Tapi tetap saja power of sindrom dari sang ustad ini kok kayaknya belum luntur. Apa sih omongaannya?
Ada tiga point intisari ucapan sang ustad:

Continue reading “Menelaah "Solusi Macet" Ala Ust. Yusuf Mansur..Maaf..Ustad Sehat?”

Advertisements
Humaniora

Hati-Hati! Hindari Membaca "Skimming" dalam Media Sosial

skimming3-571c486f799373c5043a0a6b

Meskipun bisa dikategorikan penggila buku, namun bagi kita kaum kekinian yang selalu heboh dengan gadget, menamatkan 1 atau 2 buku dalam sehari adalah sebuah kepuasan tersendiri, sudah bisa dikategorikan cum laude, apalagi bisa 3 buku lebih dalam sehari, sudah berkategori Magna. Namun itu semua ternyata hanya apalah jika dibandingkan dengan Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir atau bahkan Fadli Zon yang bisa melahap 3-5 atau bahkan 7 buku dalam sehari tanpa kehilangan esensi.

Bagaimana mereka bisa membaca secepat itu? Tentunya mereka tidak membaca sambil nyambi cuci piring atau membantu ibu ke pasar. Mereka jelas fokus dan memakai teknik. Teknik yang disebut membaca cepat atau skimming.

Sedikit membahas pengertian, teknik membaca skimming adalah teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk mencari esensi bacaan tersebut tanpa harus membaca keseluruhan huruf demi huruf dalam bacaan. Terus terang bahwa teknik ini sangat powerful untuk meningkatkan konsumsi baca kita sehari-hari, penulis merasakan setelah aktif berlatih teknik skimming, dua buku tebal akhirnya bisa diselesaikan dalam satu hari, meskipun dengan susah payah.

Permasalahan kemudian muncul, teknik ini berkembang pesat dari semua golongan dan umur. Tapi sayangnya, teknik ini secara salah kaprah dipakai bukan untuk meningkatkan konsumsi bacaan, tetapi sebagai kambing hitam atas kemalasan otak mencerna suatu bacaan. Nah.

Terutama jika teknik skimming ini digunakan untuk mencerna bacaan dari sosial media. Lagi-lagi penulis harus menegaskan bahwa di sosial media, kerja jempol kita jauh lebih cepat daripada kerja otak kita. Apabila kedua hal tadi digabungkan yang terjadi adalah kekacauan.

Mereka, dan mungkin kita, sudah tidak peduli lagi dengan apa esensi suatu bacaan sebenarnya. Pembuktian lagi-lagi adalah Facebook, holy Zuckenberg! Facebook sudah berkembang bukan hanya lagi soal media pertemanan, atau sekedar basa-basi pamer habis khatam Qur’an atau sholat Tahajjud. Facebook sudah beralih fungsi sebagai media propaganda.

Facebook memiliki dua unsur propaganda, share tak terbatas dan body untuk artikel. Tidak ada batasan huruf dan tidak ada batasan share. Facebook mengizinkan semua itu. Kita berteman dengan siapapun di Facebook dan Facebook mengizinkan apapun aktivitas kita, meskipun hanya sekadar ber-like atau berkomentar di lapak teman A, bisa dibaca oleh teman kita yang B, meskipun antar A dan B tidak saling kenal. Dan tentunya oleh B di-share ke C, D dan seterusnya.

Dengan kemampuan jelajah yang sangat luas tak mengenal batas, Facebook memiliki kekuatan dan kecepatan tertinggi, nomor dua adalah Twitter. Dampaknya, kita tidak berfikir soal konten, kita hampir tidak pernah ber-tabayun, atau mengecek lagi kebenaran berita itu, kita hanya mentok pada judul dan isi sebagian artikel. Viral sudah menjadi candu dan kita dipaksa untuk mengikuti alur permainan sosial media: speed and spread, cepat dan menyebar.

Parahnya, hampir semua pengguna sosial media menggunakan teknik skimming dalam membaca berita yang entah di-share dari artikel atau media online. Karena apa? Karena takut kalah cepat, takut dianggap tidak update ataupun keinginan lain seperti menjatuhkan kawan (Ya! Kawan, bukan lawan) yang berbeda haluan politik. Sehingga apa yang di dapat tidaklah pernah utuh satu bagian tulisan.

Kita sering lupa bahwa sosial media sangat berbeda dengan buku fisik. Satu ciri khas: media sosial mengizinkan adanya timbal balik. Timbal balik berupa komentar. komentar bisa berupa hanya sekedar komentar, ide, kritik atau bahkan hinaan. Apa yang terjadi berikutnya adalah fatal: komentar kita, yang seringkali berupa kritik dan hinaan, sangat tidak berhubungan dengan isi artikel aslinya.

Sering penulis merasa kasihan dengan seorang artis sehabis posting status dagangannya lalu di komentari oleh para sosialita hijab sebagai riya’. Padahal dia sedang berdagang. Atau penulis sendiri yang pernah menulis soal Soekarno, justru dikomentari antek komunis dan mendukung poligami, ketika penulis tanya balik, dijawab hanya karena ada tulisan Nasakom, Inggit dan Heldy Djafar. Atau ketika menulis bahwa BPK lalu di cap antek etnis tertentu, tanpa membaca paragraf akhir. Tentunya ada yang salah.

Sehingga cukup sebuah kesimpulan. Tidak selamanya teknik skimming itu baik, teknik ini berbahaya diterapkan pada sosial media. Skimming atau membaca cepat, hanya layak diterapkan pada buku, stensil, majalah atau selebaran pamflet Pilkada. Dan butuh waktu latihan yang cukup lama untuk bisa membaca cepat tanpa kehilangan esensi.

Bahkan untuk buku pun, seorang Hatta pernah meminjamkan buku kepada temannya di Boven Digoel, ketika mengembalikan, Hatta bertanya apakah temannya sudah memahami apa isi buku tersebut. Jika belum, maka buku tersebut dipinjamkannya kembali hingga paham. Alasannya? Apabila hanya paham setengah atau tidak paham, dikhawatirkan justru akan membawa kepada tindakan yang berlawanan.

Tindakan bung Hatta sudah terbukti saat ini, berbagai macam fitnah di media sosial yang di ciptakan oleh golongan tertentu, kita lahap habis, kita share dan tanpa berdosa kita berkomentar yang sangat jauh dari esensi tulisan tersebut.

Untuk para Facebook-er, Blogger, Twitter dan apapun media sosial lainnya, bacalah utuh seluruh artikel jika anda sudah membuka artikel tersebut, bacalah perlahan, pikirkan setiap paragraf dan jangan berkomentar hingga anda betul-betul sudah mengerti isi tulisan, dan silahkan share jika anda memang paham.

Karena buku atau bacaan apapun, bukan hanya membuka wawasan dan informasi, tetapi juga representasi kepada aksi nyata. Maka berhati-hatilah dalam membaca.

Hepi wiken-

Politik

Mari Berpikir Waras Soal Sumber Waras (Part II)

Soal Sumber Waras ternyata begitu nikmatnya untuk digali, seminggu setelah tulisan Mari Berpikir Waras Soal Sumber Waras (Part I) muncul, ternyata update beritanya masih bergoyang, masih menjadi pertanyaan dan tentunya diskusi yang hangat. Selama diskusi itu sehat dan waras, kenapa tidak?

Setelah 6 point utama dalam Berpikir Waras Soal Sumber Waras, ada beberapa point pengembangan yang menjadi ganjalan baik penulis maupun pembaca (netizen). Continue reading “Mari Berpikir Waras Soal Sumber Waras (Part II)”

Politik

Antara Kate Winslet , Harry Azhar Aziz dan Panama Papers

Sudah ada yang pernah menonton film Eternal Sunshine Of The Spotless Mind? Kalau ada yang belum, boleh penulis ceritakan sedikit. Karena kebetulan Eternal Sunshine Of The Spotless Mind (disingkat ESSM) ini salah satu film favorit penulis ketika masih jaman kuliah.

ESSM, film yang ditayangkan pada tahun 2004 ini memiliki cerita unik yang hampir mirip dengan cerita kasus Ketua BPK kita, Harry Azhar Aziz, bukan karena audit-auditan, tetapi karena persoalan Continue reading “Antara Kate Winslet , Harry Azhar Aziz dan Panama Papers”

Humaniora

Hari Kartini dan Emansipasi Mamah-Mamah Muda

Hari Kartini tinggal satu hari lagi, ya bahkan tinggal hitungan jam, hari spesial yang lebih spesial dari hari Ibu. Lho? Coba lihat, pada hari ibu, paling banter kita semua kasih ucapan melankolis dramatis yang sangat in-situasional kepada ibu kita. “I Love Mama”, lalu kemudian dibalas “Hari gini aja lu Lof Mama, giliran suruh nimba air aja ngabur!!”. Jelas ini situasi yang sangat  in-situasional dan berbahaya buat kesehatan.

Giliran hari Kartini, bisa ditebak, hampir di seluruh desa hingga kota serentak mengadakan parade absurd, dari TK dan SD, anak-anak kecil nan lugu tersebut di dandani se-tradisional mungkin, dengan tema serupa: Kebaya, tentunya Kebaya bernuansa Jawa supaya dibilang “Kartini Banget”. Bahkan ada anak-anak lucu berlainan jenis kelamin yang disuruh berpasang-pasangan, bergandengan tangan mirip adegan pengantin dadakan. Hei, mereka belum mengenal arti cinta!

Tidak sampai disitu, drama Kartini juga berlanjut ke parade kebaya mamah-mamah kaum gurem hingga kaum Jetset, dari level kecamatan hingga level fashion show. Ini jelas indoktrinisasi kelas absurd, karena tak pernah sedikitpun ada sejarah bahwa R. A Kartini adalah seorang perancang busana.

Justru ada yang luput dari pengamatan selama ini, Kartini merupakan golongan mamah-mamah muda, meskipun umurnya tidak panjang setelah melahirkan, tetap saja Kartini sudah memiliki anak pada usia 25 tahun. Umur yang bila di komparasi dengan “hari gini” adalah umur “Mau Matang Manggis” alias belum matang-matang amat. Tapi toh setidaknya ini yang secara ‘gothak-gathuk’ mengindikasi adanya gerakan emansipasi para mamah muda di hari ini.

Gerakan ini sangat layak diperhitungkan. Jangan dihitung dengan jari berapa jumlah mamah-mamah yang sedang pumping di kantor 2x sehari demi ASI buat balitanya dan tetap on-time memberikan laporan audit sekelas Sumber Waras ke Bos-nya. Jangan di anggap remeh para mamah muda yang bergelantungan di metromini setiap pagi sore, ataupun yang menyetir kendaraan harus bermacet ria sambil tetap pumping ASI bin buka Instagram online shop. Wow!

Berdebat? Hmm..jangankan kaum laki-laki yang berkemeja kinyis-kinyis, preman Kp Rambutan pun akan dilibas nangis darah karena kekuatan mereka. Apalagi jika mereka pakai motor matik? Lebih baik hindari.

Lalu apakah kekuatan mereka terinspirasi oleh Kartini? Entahlah, namun para mamah-mamah muda ini justru sangat terinspirasi oleh suaminya yang ‘maaf’ dianggap kurang dalam memberikan kecukupan ekonomi. Meskipun secara materi sebetulnya cukup, tetapi pola gaya hidup sudah merubah mind-set sejati para mamah muda tersebut, tidak perlu dijelaskan karena nanti akan menimbulkan kegaduhan politik fase II.

Inspirasi berikutnya datang dari terhimpitnya situasi dan kondisi alias ancaman gusuran. Sudah tidak aneh ditemukan hampir di setiap tindakan penggusuran adanya gerakan “pamer BH”. Ini juga tidak perlu lagi dijelaskan karena kaum feminist pasti lebih mengerti dari penulis.

Dan yang mengejutkan baru-baru ini adanya gerakan cor kaki di depan Istana yang melibatkan 9 mamah (beberapa tergolong muda) petani asal Blora, Jawa Tengah pada 13 April lalu. Gerakan trengginas yang didasari penolakan pembangunan tambang dan pabrik Semen karena akan mematikan lahan pertanian mereka. Bayangkan, Semen Indonesia, raksasa penguasa semen nasional bahkan harus rela ciut nyalinya berhadapan dengan kekuatan super ini.

Mohon jangan dimasukkan hati celetuk jeng Dian Sastro yang justru bertanya kemana para suaminya, karena mungkin jeng Dian sudah terlalu enak dengan suami yang cukup menghidupi. Tapi mohon dilihat kegigihan hati mereka yang jauh lebih hebat dari demo kaum buruh dan supir taksi para pria yang beringas itu.

Jika semua hal ini terinspirasi oleh Kartini, pasti beliau sangatlah bangga, sebab surat Kartini (Kartini papers) yang dianggap sebuah perjuangan kini telah berubah menjadi kenyataan. Tunggu dulu, kenyataan akibat kumpulan surat? Sebetulnya tidak juga, karena hakul yakin para mamah-mamah tersebut bahkan belum atau justru tidak membaca sama sekali buku legendaris “Habis Gelap Terbitlah Terang” , tapi mereka pasti membaca “Habis Uang Terbitlah Hutang”.

Jadi, dengan melihat kegigihan para mamah-mamah muda tersebut dalam berjuang hidup, hari Kartini harus dirayakan lebih dari sekedar parade baju kebaya yang apalah, tapi penulis saran agar dijadikan hari libur nasional. Ya hari libur nasional, masuk di tanggal merah yang selalu terbit setahun sebelumnya.

Dus, di hari libur yang khidmat itu, alangkah elok jika para suami memanjakan para istrinya dengan servis lebih, silahkan di servis dalam bentuk apa saja, tak perlu juga dijelaskan karena tentunya ini ranah privasi duniawi. Tapi yang pasti buatlah mereka tersenyum dan pastikan tidak berbisik “Pah, cicilan yang anu belum dibayar”.

Bukan soal mengenang Kartini, karena itu hanya sebagai simbol, tetapi memberikan atensi dan menghargai setiap wanita yang disamping kita sebagai pahlawan keluarga jauh lebih bemakna.

***
Di muat di Kompasiana, Disini

Humaniora

Dik Daffa, Maukah Kamu Jadi Ketua KPK?

Masih teringat di kepala betapa asyiknya naik motor di kota sebesar Jakarta, entah dengan motor pribadi sambil goncengan dengan mantan pacar, dengan ojek pangkalan sambil menkmati aroma asem-asem legit keringat tukang ojeknya ataupun ojek online yang kethar-kethirsetiap masuk kompleks perumahan. Motor di Jakarta seperti segalanya.

Bagi yang pernah atau sedang tinggal di kota besar Indonesia, tidak ada yang tidak pernah naik motor, minimal sekali setahun pasti pernah, terutama kalau ada demo. Lha wong mau naik apa lagi? Mobil? Bus kota? Ya enggak mungkin tho yo, kecuali ukurannya bisa dirampingkan seramping motor untuk selap-selip, terabasan cut alias potong jalan atau kalau perlu menyusup hingga gorong-gorong. Itulah keunggulan utama motor.
Motor adalah kendaraan yang sangat akurat sebagai sarana memata-matai mantan, sangat powerful sebagai lambang kejantanan, dan sangat mainstream sebagai alat untuk mengambil kembalian ibu mertua yang kurang di warung. Untuk lebih afdol, lengkapi dengan helm standart SNI, lebih bagus jika ada label ‘halal’-nya. Jadi, dengan segala keunggulan itu, wajar jika motor dinobatkan sebagai the King of Road alias Raja Jalanan versi kaum jongos-proletar.
Tapi makin ke sini, The King of Road makin sewenang-wenang, mereka tidak lagi mengindahkan rakyat yang mendukungnya. Bukan cuma selap-selip sesuai aturan lagi, tapi selap-selip berlawanan arah yang berbahaya buat kesehatan, bukan cuma jalan raya yang di gilas, tapi juga jalan trotoar ikut kena imbas. Apalagi kalau ada ibu-ibu bawa belanjaan pakai motor matik, lampu sein ke kanan, beloknya ke kiri, kaki di pelentang.., duh kelar idup lo! Kata anak kekinian.

 

http://www.youtube.com
Tapi sepertinya sang Raja harus takluk dengan seorang bocah cilik berbadan mungil namun bernyali besar. Daffa Farros Oktoviarto (9), nama anak itu, muncul sebagai headline media mainstream sebagai the stopper, sang penghenti kesewenang-wenangan.
Hebat nian, ketika para Polantas entah ke mana, Daffa tiba-tiba muncul dengan tangan saktinya sesakti pak polantas. Dengan keyakinan penuh menghentikan motor yang melaju di trotoar pejalan kaki. Bahkan berani menghardik the King of Road tadi dengan kata-kata “Kowe to sing mbalik (kamu tuh yang balik), salah sopo liwat trotoar (salah siapa lewat trotoar)?”
Haduh Nak, bahkan kami-kami ini yang sudah uzur, dewasa, mampu membuat keturunan lebih dari satu masih harus mesam-mesem kalau lihat kesewenangan seperti itu.
Kalau kata Nabi, ada tiga hal mencegah kemungkaran, pertama lewat tindakan, kedua lewat lisan, dan yang ketiga lewat hati. Bahkan, kami belum bisa untuk yang ketiga. Sedangkan kamu Nak, poin satu hingga tiga dikupas tuntas.
Tindakan Daffa jelas diapresiasi oleh Polri, bahkan tak sungkan Brigjen Agus Rianto berbicara di media seperti ini, “Tentunya, itu suatu langkah bagus, berarti sejak dini memahami aturan lalu lintas.” Mohon harus dipahami bahwa tindakan Daffa itu justru mencoreng muka Kepolisian itu sendiri, dan mencoreng muka kita.

Bukan masalah paham peraturan. Lha itu bukan Daffa saja tho kalau urusan mengerti peraturan, kami yang akhil baliq ini lebih mengerti lagi, apalagi bapak-bapak Polantas itu, wah pasti juara satu cerdas cermat soal lalu-lintas. Tapi kemauan? Itulah yang tidak ada dalam diri kita, penulis dan Anda semua.
Willingness to prevent, atau kemauan untuk mencegah. Seperti yang dilakukan Daffa nyaris hilang dari diri kita. Kita terlalu menikmati privilege sebagai konsumen dan Polantas adalah pelayan. Cilakanya dua-duanya bergabung membentuk paguyuban adigang-adigungdi jalanan, paguyuban tidak resmi yang anggotanya ditengarai melakukan saweranuntuk kelangsungan pentas.  

Akhirnya kita kehilangan nurani, Polantas pun kehilangan sentuhan service-nya. Ya, tidak semua Polantas begitu, tapi kenapa Daffa sampai cukup lama beroperasi di Jl. Sudirman, Semarang?

Enggak, enggak perlu dijawab, karena pasti dari kita yang berpikiran normal sudah memiliki jawabannya. Ibarat Stephen Hawking di mana jawaban teorinya hanya dia dan Tuhan yang tahu, begitulah kira-kira.

Lalu apa hubungannya dengan KPK? 

Hubungannya cuma satu, bahwa Daffa adalah kandidat terkuat untuk bursa calon ketua KPK periode 2042. Jika ada umur, tidak perlu lama-lama. Di umurnya nanti yang 35, Daffa sepertinya sudah mampu untuk mengepruk para koruptor negeri ini yang di tahun segitu pasti masih ada beberapa yang masih hidup.
Umur 35, umur di mana pikiran sudah matang dan idealisme masih bercokol di dada. 26 tahun lagi adalah waktu yang cukup singkat, bukankah zaman berputar semakin cepat?
Terus terang, kekuasaan the King of Road di jalanan jauh lebih ngegirisi (menakutkanketimbang kekuasaan anggota dewan atau pejabat, serius ini. Sehebat-hebatnya pejabat. jika ingin korupsi mereka pasti di belakang layar tho, lha kalau motor? Di depan muka Polantas pun mereka berani, itu pun terjadi oleh penulis. Apa enggak ngegirisi
Dan ini dijawab oleh Daffa, dengan keberaniannya Daffa seakan menghajar siapapun yang melanggar, ini mengingatkan penulis pada sosok Gubernur lugas tanpa pandang bulu, sayangnya Ratna Sarumpaet menyebut orang-orang macam gini dengan sebutan “Sakit”. Entah siapa yang “Sakit” sebenarnya.

Jadi, para eks-anggota dewan yang terhormat, eks-pejabat yang mulia, eks-eks yang lain kecuali eks-pacar atau eks-istri, siapa pun yang tercium korupsi di tahun ini, saat itu masih berumur 70-an, umur yang masih pantas untuk menginap di hotel prodeo, maka bersiaplah. 

Daffa dkk adalah secercah harapan untuk membuat benteng kokoh anti-korupsi bagi pejabat dan anggota dewan yang baru nanti.

Siapa tahu?