Energi Biomassa, Bangganya Jadi Indonesia!

Dan terus terang, ketika di depan bule yang menyebut mereka takut ke Indonesia karena teroris, saya menyebut “Our president has a concept for 35.000 MW to freed us from the darkness in hundreds of Island”, mata mereka hampir copot. “How many years?” “Five years”. Mata mereka copot beneran.

Sekitar minggu lalu saya berkesempatan mengikuti seminar teknologi dan proyek di Doha dan bertemu dengan Mr Nisar Ahmed, seorang CEO Solar Sigma, pakar dan juga teknokrat yang banyak berkonsentrasi pada energi terbarukan terutama energi surya. Beliau menjadi key speaker saat itu dalam topik efisiensi energi.

Pada saat coffe break sore, sebelum beliau naik mimbar untuk menjadi speaker, saya coba mendekati dan mengajak ngobrol tentang green-energy. Terkejut beliau ketika tahu bahwa saya dari Indonesia dan lebih terkejut lagi bahwa saya datang ke acara itu tanpa sponsor.

Melihat dia terkejut, saya lebih terkejut lagi. Katanya, bukan hanya sponsor, tapi Indonesia sudah seharusnya hadir sebagai speaker di konferensi ini, mengutus perwakilan. Wah, hebat betul tembakannya, membuat pipi saya merah, tambah bangga sebagai orang Indonesia.

Bangga sekaligus bertanya-tanya, kok bisa?

Bisa, karena menurutnya banyak sekali yang bisa didapat dari Indonesia dengan ketersediaan energi alternatif yang melimpah, contohnya Biomassa, dan beliau menyebut satu nama kayu unggulan dari Indonesia yang bisa dirubah menjadi energi, yaitu kayu Kaliandra.

Menurutnya, saat ini Eropa sedang berlomba menjajaki penggunaan pelet kayu Kaliandra sebagai bahan bakar pembangkit listrik kapasitas besar, bahkan di Slovakia sudah ada penelitian khusus mengenai efisiensi pelet kayu Kaliandra sebagai pengganti batubara. Dan Indonesia akan menjadi tulang punggung pensuplai pelet kayu Kaliandra kedepannya.

Beliau yang tadinya cuek, malah jadi semangat bicaranya, tapi sayang diskusi kami terpotong karena sudah jadwalnya beliau naik mimbar. Saya mengikuti seminarnya sambil terus membayangkan betapa hebatnya Negara kita.

Bicara soal Kaliandra, tentunya saya jadi ingat kembali bagaimana dulu mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah menggebu-gebu soal konsep Biomassa, pelet kayu, pohon Kaliandra bahkan DI pernah meresmikan PLT Biomassa tongkang jagung di Gorontalo.

Pohon Kaliandra Merah (Calliandra colothyrsus)

Tidak tanggung-tanggung hasilnya, dengan konsep biomassa ini, biaya listrik PLN per Kwh bisa dihemat dari Rp 2.900/Kwh menjadi Rp 1.058/Kwh, atau lebih dari 50%nya, sebuah angka yang fantastis, ya fantastis. Bayangkan jika ini diterapkan di kota besar seperti Medan, Surabaya atau bahkan Jakarta, bukan tidak mungkin kan?

Coba lihat bagaimana di daerah-daerah bahkan di Jakarta sendiri kita masih sering terkaget-kaget melihat tagihan listrik, belum lagi jika listrik byar-pet. Yang disalahkan ya tentu saja PLN. Seakan solusinya ada di jerami, susah sekali mencarinya.

Jengah di salahkan, Presiden pun lagsung ngebet ingin menjawab, dijawablah dengan target listrik 35.000 MW. Semua terhenyak, betulkah? Atau cuma mimpi? Betul itu, kita mutlak perlu program itu terlepas nanti ada kendala. Yang penting sejalan: Tidak ada lagi deerah yang gelap di Indonesia. Sebuah konsep yang luar biasa kan?

Dan terus terang, ketika di depan bule yang menyebut mereka takut ke Indonesia karena teroris, saya menyebut “Our president has a concept for 35.000 MW to freed us from the darkness in hundred of Island”, mata mereka hampir copot. “How many years?” “Five years”. Mata mereka copot beneran.

Apa mau dikata, Indonesia – di dalam persentasi – masuk peringkat 19 dari 20 negara dimana ada warganya yang masih belum memiliki akses listrik. Tetapi peringkat 12 dari 20 negara dengan kebutuhan energi primer hampir 2500 TWh. Mosok saya enggak ngebelain. Ini lho konsep kita, mereka harus tahu. Di bilang mimpi? Ya biarkan.

Kembali ke energi alternatif, jujur saya tertohok lho dengan pak Nizar Ahmed. Jangan-jangan kita hanya mentok di tongkang jagung saja?

Apa tidak ada celah dari sekian banyak pembangkit listrik yang dibangun untuk kita menggunakan energi alternatif?

Itu bisa dijawab ya dan tidak.

Kita sebaiknya mulai dengan kata tidak. Coba kita lihat pelet kayu, kelebihan pelet kayu pertama tentu saja bersih lingkungan sebagai hasil dari pembakaran. Pengurangan polusi tentu saja bisa ditekan drastis.

Kedua kalori, kalau selama ini kita menggunakan batubara sebagai bahan bakar, maka pelet kayu memiliki kalori mencapai 4800 kilo kalori (kkal), bahkan lebih baik dari batubara jenis Envirocoal yang berkelas 4000 kkal milik Adaro.

Belum lagi jika bicaranya limbahnya, batubara jelas masuk kelas B3, sedangkan palet kayu limbahnya bisa kita gunakan lagi sebagai pupuk. Kemudian bersifat renewable atau bisa diperbarui, dan terakhir pengembangan terhadap hutan rakyat atau istilah kekiniannya “multiplier effect”.

Melihat dari situ, tak ada alasan untuk kita tidak memanfaatkan, tapi..

Pucuk dicinta, Ulam tak tiba. Dengan harga minyak dunia yang nyungsep di level 30 – 40 USD per barel seperti ini, biaya untuk energi alternatif ini rasanya jadi mahal sekali, bukan mahal harganya naik, tapi mahal karena di atas harga minyak dan batubara yang anjlok.

Bukan hanya palet kayu, biomassa yang lain pun berteriak dan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Jepang mulai kehabisan nafas, China nyaris koit, Eropa pun demikian, mungkin hanya Selandia Baru yang getol dalam PLT Angin yang masih tegak berdiri.

Di harga ini batubara dan minyak kembali jadi primadona, ditambah penyataan Menkeu bahwa bisnis sekarang yang menguntungkan ya bisnis pembangkit, tentunya kembali memakai batubara sebagai sumber energi, bisa wasalam.

Apalagi penggunaan pelet kayu sebagai energi alternatif di Indonesia ini masih sebatas pembangkit listrik kapasitas 0.1-20 MW, anggaplah energi alternatif ini mengambil peran 2000 MW saja, artinya dengan kapasitas maksimal, katakanlah dengan empat Turbine di satu lokasi (4 x capacity MW), maka dibutuhkan 50 pembangkit skala 10 MW.

Dengan jumlah pembangkit sebanyak itu dibandingkan dengan outputnya, biaya investasi menjadi tidak karuan. Investasi bukan hanya sisi konstruksi saja, tapi juga sisi perolehan lahan, investor pun berpikir ulang. Bandingkan dengan batubara yang bisa mencapai kapasitas 1000 MW dengan satu pembangkit.

Jikalaupun yang sanggup hingga diatas 50 MW baru sebatas pemanfaatan energi air dan angin. Tapi dengan begitu apa lantas tidak bisa? Ya bisa.

Mari kita liat lagi model Amerika ketika menemukan shale oil pertama kali, apakah biayanya ekonomis? Tidak, sungguh tidak. Sangat jauh dari kata ekonomis, bahkan dahulu disebut bahwa shale oil bisa membunuh Amerika saking mahalnya biaya produksi. Tapi apa yang mereka lakukan?

Mereka cuek bebek, mereka melakukan studi dan perbaikan terus menerus (continues improvement) untuk membuat shale oil menjadi ekonomis. Dan lihat hasilnya sekarang, mereka mampu untuk menyaingi minyak konvensional milik OPEC yang bertahan sejak minyak ditemukan pertama kali.

Memang biaya produksi belum mencapai titik ekonomis karena harga minyak dunia diturunkan, tapi keyakinan saya terhadap shale oil beralasan bahwa suatu saat akan menggeser minyak konvensional.

Hal yang sama bisa terjadi terhadap pelet kayu, dengan studi terus menerus, bukan mustahil pelet kayu dari pohon Kaliandra atau Sengon yang biasa kita lihat, mampu menghasilkan listik 1000 MW. Dan tentunya dengan teknologi yang lebih canggih, biaya produksi bisa ditekan, meskipun harus menunggu 10 tahun lagi.

Negara tidak perlu sewa pak Nizar sebagai konsultan, kita punya kok anak negeri yang canggih-canggih, 10 tahun itu singkat.

Demi Indonesia yang lebih baik.

Salam NKRI


Advertisements
About

Tukang Ngopi. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.” ― Goenawan Mohamad Sila baca blog saya yang lain di http://srimayainvestment.blogspot.com

Posted in Energi, Renewable Energy
3 comments on “Energi Biomassa, Bangganya Jadi Indonesia!
  1. Selalu menikmati tulisannya mas, semoga energi terbarukan bisa segera berjalan, kita tunggu aksi pemerintah nyata

    Like

  2. Setiawan says:

    Semangat, jadi inspirasi nih

    Like

  3. […] pembangkit pertama yang bisa beroperasi pada Januari 2016. Dan bukan cuma energi konvensional, tapi juga memakai energi terbarukan. Wow, mari kita beri […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow laptop paijo on WordPress.com

Jangan lupa masukkan email anda disini ya

Arsip Tulisan
The Second Avenue

Indonesia Street Photography

Shoot New York City Blog

Photo Tours & Street Photography Workshops

John Wreford Photographer

Words and Pictures from the Middle East & Balkans

Cerita Motivasi - Kumpulan Kisah Inspirasi Terbaik

Kumpulan cerita motivasi, kisah inspiratif, cerita bijak, kisah teladan. Bisa dijadikan renungan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ruang Baca

saya tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

khsblog :-D

Tulis, Telas dan Tulus...

Daun Woka

Berlarilah Mengejar Mimpi namun jangan sekali-kali berlari terlalu jauh dari sejarah

GAYOTAKENGON

Budaya kopi...Kopi budaya... heal and real..

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Gorboman Running

Mengulas hobi secara jujur dari sudut pandang orang awam.

George Lakoff

George Lakoff has retired as Distinguished Professor of Cognitive Science and Linguistics at the University of California at Berkeley. He is now Director of the Center for the Neural Mind & Society (cnms.berkeley.edu).

Rottin' in Denmark

Is this gentleman bothering you?

Emanuel Setio Dewo

Mari berkarya

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

ngalor ngidul ketemu kiblat

Berjumpa Hikmah dari Berbagai Arah (Sapi Betina 115)

leniaini blog

between thoughts and memories

limbarup.wordpress.com/

"Jika usiamu tidak panjang,sambunglah dengan tulisan"