Hujan di Victoria Park

https://thekusumo.blogspot.com

Dengan berwajah datar, wanita itu masuk ke sebuah café di pojok kota yang tampak lelah, di sore selepas bercinta dengan nasib. 7th Avenue St Manhattan, terpampang jelas di depan café. Hanya dengan melihat wajahnya, sang barista dengan sigap langsung tahu apa yang harus dia lakukan, secangkir Flat White.

“With two pieces brown sugar, right?”

“Yes, please”

Flat White, kopi yang puitis, jenis kopi yang selalu menggelegak dalam penatnya, kadang membuatnya tertawa, kadang membuatnya beraroma penguk dalam hilir mudik kota, kadang membuatnya hanya ingin muntah, ya hanya ingin muntah. 
Wajar saja, historis kota ini sudah dihapalnya dengan baik, dan itu tidak ada yang membuatnya merasa normal, kadang memang harus gila mungkin. Tapi toh aku hidup, begitu pikirnya, jadi lebih baik di muntahkan saja.
Tapi kali ini, dia tak lagi berwajah datar, sahut teman sang barista. Lihatlah, ketika tadi masuk, dia berwajah datar, sedatar nama kopinya, tapi lihatlah sekarang, dia bagai awan kelabu tercoreng garis pelangi, seperti mendung tersirap surya.
Ah, pikir sang barista. Eh, tapi benar juga.
Flat White?” Tanya sang lelaki yang dihadapnya.
“Ya, betul, darimana kau tahu?” ujar Kenanga.
“Kau cemburu ya?”
“Hah, aku mati rasa!”
“Tak, kau cemburu, karena aku tahu nama kopimu padahal aku belum tahu namamu”
Setan!, lebih baik kuhirup cocktail bersama temanku tadi daripada aku berhadapan dengan dia, lelaki itu, pikirnya. Sudah tiga hari Kenanga bersamanya di setiap sore. 
Kemarin lusa, lelaki itu hanya berbicara soal indahnya Victoria Park, kemarin, giliran Kenanga yang bercerita soal masa lalunya di pengasingan, dan juga cerita yang sama dari lelaki berambut ikal itu.
Tiga hari, tanpa pernah memperkenalkan diri satu sama lain, entahlah mungkin esensi dunia modern yang rumit sehingga apalah arti nama jika masih bisa bercerita dan tentunya bercinta.
Lelaki itu menyuruput kopinya yang entah mengapa berbau anyir.
“Kau tahu, aku ingin..”
“Aku tahu, kau ingin ke Victoria Park kan?” Potong Kenanga.
Namun sedetik kemudian, Kenanga tiba-tiba merasa kikuk, dia merasa tak enak telah memotong ucapan lelaki itu, karena lelaki itu mengucap “Victoria” bagai mantra dukun minta hujan, diucapkan perlahan, khusyuk, dengan kecupan bibir dan mata terpejam.
Dua hari, tak ada kalimat lain selain Victoria Park. Lelaki yang absurd, tapi mengasyikkan, selama tiga hari ini dia merasa mendapat teman untuk mengarungi keabsurdan imajinya.
“Sudah tiga hari kita bertemu, tapi kau selalu berucap demikian” ujar Kenanga.
“Apakah kau pernah ke Victoria Park?”
“Belum, aku hanya melihatnya di tumpukan email-email kosong di kandang kecoa” jawab sang lelaki.
“Ah, taman yang begitu apik, begitu rindang, luas, bahkan jiwaku rela oncat dari raga untuk menyusuri setiap lekukannnya”
“Tapi.. ketahuilah, aku bahkan sudah mencium baunya!, aku rasakan rintihan anginnya, semerbak wanginya, aku kalbukan pikiranku..”
“Dan mungkin, disana bersemayam arwahku yang sekarang ini. Mungkin” ujar lelaki itu lirih.
Bicaralah terus, bicaralah. Kau membuatku melayang wahai Dermaga. Lihatlah, aku bahkan tahu namamu sebelum aku tahu nama kopimu yang anyir.
Bicaralah, kau betul-betul membuatku basah. Pikir Kenanga sambil menggeliat.
“Karena itu, aku ingin ke Victoria Park”
“Pergilah Dermaga, apa yang sulit bagimu jika hanya ke Victoria Park, bahkan ke ujung dunia pun kau sanggup. Victoria Park hanya masalah kecil buatmu”
Cangkir kopi itu tiba-tiba miring, tangannya mengepal, lelaki itu seperti kehilangan kendali. Pemandangan yang tak biasanya karena selama dua hari yang lalu lelaki ini begitu tenang.
“Hanya?..hanya?..Kau pikir “hanya”?! itukah hasil pendidikan modern mu selama ini, mencetak pemikiran instant, tanpa perasaan. Pertemuan sejak kemarin, ceritaku soal Victoria Park, lalu kau anggap dengan “Hanya”?” spontan lelaki bernama Dermaga itu seperti tersihir, matanya bagaikan api neraka menjilat tubuh orang munafik.
Kenanga menatap tajam, dia tidak merasa takut sedikitpun, justru dia merasa aneh. Entah apa yang dilihatnya, dia melihat bayangan setengah, agak kabur namun jelas terasa dalam kuduknya. 
Bayangan yang selalu ada di samping lelaki tersebut selama tiga hari pertemuannya, bayangan yang tak pernah disadarinya, namun sekarang dia melihatnya.
Namun, Kenanga tak berani berkata-kata. Dermaga, lelaki tiga hari itu, dia hanya tertunduk namun tidak menangis. Dia lamat menatap kopinya yang mengendap, lamat-lamat kedalam kopi, yang entah mengapa semakin berbau anyir.
Lelaki itu pun pergi, tanpa berucap pada Kenanga yang kembali berwajah datar. Yah datar, namun setidaknya dia akhirnya tahu nama kopi itu, sama.

Victoria Park

“Cepatlah!! Letakkan diujung pohon itu”.
“Apa yang telah aku lakukan!”
“Sudah jangan pikirkan, nanti saja. Sekarang urusan kita belum selesai, kau tidak akan bisa pulang ke negerimu sendiri jika kau macam-macam denganku!”
“Kau disini kerja, dasar babu!. Sekarang letakkan diujung pohon sana, atau aku akan berbuat nekat”
Ketakutan dihinggapi oleh seorang wanita berparas ayu berkulit kecoklatan, tangannya kasar seperti pejuang gerilya jaman Jendral Sudirman, dia membawa kotak berwarna coklat, tangisnya sudah tak berasa dan tak terlihat akibat tersapu hujan yang tak pernah berhenti.
Oh, lelaki berkulit putih itu masih terus berteriak-teriak, memaki-maki dan kali ini bersiap menjambak rambut. Namun wanita itu masih terus bertahan.
“Cepat letakkan, nanti pasti ada yang akan mengambil. Sudahlah ayo kita pergi!, cepat”
“Sebentar!!, aku hanya ingin ini!” ujar wanita itu dengan terisak.
Dibukanya kotak coklat itu dengan tangannya yang kasar dan basah, dengan tergesa wanita itu menulis sesuatu di selembar kertas putih yang sudah ia siapkan dari rumah tadi. 
Tulisan yang akan berarti bagi bayi mungil yang sedang tertidur lelap.
“Dermaga, ini namaku”
——————————————————–
Bagi para diaspora Indonesia, teruslah berjuang.
*Dimuat di Kompasiana, disini
Advertisements

[Di]alog

[Di]alog

Kopi hitam di meja itu tinggal tersisa setengahnya, di kiri kanannya sudah penuh terpapar butiran ampas hasil kecupan bibirku. Sonia masih saja telanjang di depanku dengan sebatang rokok cap ‘merah’ yang entah sudah batang keberapa dihisapnya.

“Akuilah, kamu sudah tidak muda lagi Jon, tidak ada rasanya”

Aku terdiam, sambil meraba kemaluanku yang sudah malu-malu kucing untuk muncul, memang benar apa katanya jadi sebaiknya aku diam.

“Huh, omongmu saja yang kuat, seakan dunia ini milikmu. Bahkan untuk mengakui kekuranganmu saja kau enggan!”

Aku berjalan ke arah jendela, kubuka lebar jendela itu, angin musim dingin segera menyeruak diantara kehangatan yang baru lima belas menit yang lalu kurasakan.

Ku hembuskan kretek ke luar jendela. Suara tokek sudah tidak ada, ah mungkin sudah tidur.
“Sepi sekali, bahkan binatang malam pun enggan bersuara karena melihat mukamu!

“Diamlah Sonia!, tugasmu hanyalah menurutiku, entah aku menipumu atau jujur padamu itu sama sekali bukan urusanmu!”

Aku berbalik mengambil scotch dengan es, entah walapun angin berhembus sangat dingin tapi tidak untuk kami berdua, bahkan Sonia masih saja belum berpakaian.

Namun tiba-tiba wajahnya memerah.

“Dasar pecundang, dulu kau campakkan bulan langsat itu dengan kolormu yang amis. lalu dengan cacing abal-abal kau dekati aku, lalu sekarang? Mana pedulimu, dasar cacing bangsat!. Apa kau tidak pernah belajar bagaimana cara menghargai manusia, hah?” matanya berair.

Aku masih terdiam, gerahamku naik turun. Sonia tahu itu tandaku jika sedang marah.

“Sudahlah akui saja kekalahanmu Jon, kau kalah dari aku, kau kalah dari si kurus itu, bahkan kau tak berani menatapku sekarang, kau..kau kalah Jon!!”

“Diam Sonia!” bentak aku.

“Kau tak tahu sudah berapa banyak yang aku keluarkan untuk di posisiku sekarang, berapa banyak hah?!”

“Oh ya, mana pernah kau tahu, karena kau hanya menerima uang ku, kau berdansa bersamaku, mabuk bersamaku, kemudian bercinta bersamaku dan ketika aku payah, kau menghujatku seakan aku bangsat pecundang!..Bahkan kau posting semua kebencianmu kepada teman-temanmu yang merasa tahu segalanya ketika persidanganku!!” Aku terus membetaknya.

“Memang kau pecundang, tak ada kata yang pantas lagi untukmu..!”

Aku kembali terdiam, gelas scotch ditanganku serasa batu panas yang siap ku lempar.

I don’t know how someone controlled you..

“Cuma satu hal yang bisa membuatku percaya kepadamu Jon” Sonia melembutkan ucapannya.
“Apa itu?”

“Nikahilah aku, cintailah aku seperti kau mencintai bulan langsat itu. Cintailah aku!, orang yang memilihmu Jon, tak peduli berapa uang yang kau keluarkan, aku hanya ingin kau pedu..”

“Kurang ajar!!..jangan bawa-bawa bulan langsat, kau hanya peduli uang ku, dan sekarang kau berkata begitu, haahh!!” Aku hilang kendali.

Seketika ku lempar gelas scotch kewajahnya, wajah yang mulus bagai keramik Cina. Tubuhnya terpelanting kebelakang, dahi sebelah kirinya mengucurkan darah segar berwarna ungu. Sonia terkapar, dia mati. Telanjang.

Gelas pecah berantakan.

I don’t know how you were diverted..

Aku mengatur nafas dan kembali terdiam. Ajaib, suara tokek kembali terdengar, kunang-kunang datang menggerayangi plafon luar jendela. Tiba-tiba aku merasa pusing, pusing sekali seperti diserang vertigo.

Sedetik kemudian aku teringat ucapan ibuku dahulu setiap ku merasa pusing seperti ini.

“Pergilah ke cermin, bicaralah”

Maka aku pun berlari kearah cermin besar di kamar ku yang luas, berharap mendapat jawaban.

“Siapa ak..”

Aku tercekat tak sempat bicara. Aku terpaku menatap cermin.

Tanpa sadar pelan-pelan tanganku meraih dahi sebelah kiri. Terasa basah, ku lihat tanganku.

Tanganku penuh darah..

Ya..Darah..

Darah berwarna ungu.

*Italic: “While My Guitar Gently Weeps” – The Beatles
_untuk para skizofrenia di senayan_

Jejak Sang Panglima: Tawang Gapuraning Ngesti Tunggal

Jejak Sang Panglima: Tawang Gapuraning Ngesti Tunggal
Awan kelabu gelap nampak menggelayut di cakrawala, sudah seminggu belakangan matahari seakan sudah lupa bersinar, berganti dengan hujan yang silih berganti dengan mendung.
 
Udara dingin memberangus siapa pun untuk menggigil. Jika begini, bisa apes nasib padi-padi yang baru satu minggu di tanam, begitu pikir seorang lelaki tua sederhana dengan cangkul di pundaknya.
 
Ia pun duduk di bilik bale-bale yang dibangun bersama temannya sesama petani, teman petaninya yang memiliki perawakan lebih tua dan berjenggot putih sudah duduk menunggunya dari tadi dengan raut wajah yang seperti mengisyaratkan sesuatu. 
 
Kadiman, si teman petani tadi mulai mengambil serpihan daun tembakau dan menaburkannya pada selembar daun jagung, kemudian membakarnya dengan korek api merek Wang Khuang yang cukup melegenda.
 
Kepulan asap tipis dari tingwe yang dihisapnya betul-betul mengundang selera dan biasanya, setelah hati dan pikiran sudah cukup tenang mereka akan mulai berbicara dan tertawa tentang apa saja, terutama masa muda mereka. Namun kali ini sepertinya tidak.
 
“Kau tahu dua hari lagi kita akan berganti tahun?”
 
“Ya, aku tahu itu, tapi apa artinya buat kita man. Sama saja, yang paling kupikirkan sekarang adalah tidak adanya matahari muncul dari langit, sudah tujuh hari sejak kita menanam benih. Bisa hancur panen kita nanti”
 
Setelah berkata demikian, detik itu juga bulu kuduk mereka tiba-tiba berdesir disirep udara dingin, udara yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Kedua petani tua itu termasuk golongan tua waskita, yang selalu tanggap terhadap perubahan udara, angin dan tanda langit, seperti itu juga yang terjadi pada saat itu.
 
“Apa kau merasakannya?”
 
“Ya, aku merasakan..dingin sekali..seperti ada yang ingin menyabut nyawa”
 
“Aku bukan hanya merasakan angin, tapi juga langit, perhatikan..dari semua gerundelanmu tentang matahari, mungkin ini pertanda, itu seperti wangsit. Mereka berbicara Kedah..”
 
Yang diajak bicara hanya diam, Kedah memejamkan mata, tekun dalam aktifitasnya membaca tanda alam.
 
Awan semakin gelap, padahal hari belum juga teramat sore, sebetulnya masih waktunya bagi mereka untuk kembali bekerja. Tapi hati mereka terasa lain di hari itu, hari dimana banyak sekali burung gagak pemakan bangkai terbang melintas desa Bajulan. 
 
Desa yang tentram dan damai, desa yang terletak di lereng Gunung Wilis 15 kilometer ke arah selatan kota Nganjuk, Jawa Timur. Desa dengan pemandangan indah yang sangat jarang terjamah oleh pertanda buruk.
 
Kadiman ingat kapan terakhir dia sowan ke Roro Kuning, air terjun yang merupakan gabungan dari tiga air terjun yang bersumber dari Gunung Wilis.
 
Disitu Kadiman setiap sebulan sekali laku tapa demi menjaga desa Bajulan dari hal-hal buruk, namun sudah dua bulan belakangan dia melewatkan laku tapa tersebut karena sakit. Apa jangan-jangan karena itu sehingga roh Dewi Sekartaji marah?
 
Kadiman pun melonjak ketika mengingatnya dan bersiap segera menuju air terjun tersebut sebelum dicegah oleh Kedah, Kedah menarik lengan Kadiman.
 
“Tunggu dulu, lihat itu!” kata Kedah sambil menunjuk ke timur pematang sawah.
 
Dari ujung timur, dua pesawat tempur B-25 Mitchell dan P-15 Mustang seketika melesat dengan cepat diangkasa, sulit diikuti kecepatannya dengan kecepatan mata, seakan berlomba mana yang paling cepat. 
 
Dengan riuh dua pesawat tempur itu bergerak ke arah barat meninggalkan asap berekor panjang yang indah di langit Bajulan. Kadiman dan Kedah dengan gerakan cepat langsung berlindung di bawah bale-bale sawah, takut jika tiba-tiba pesawat menabrak mereka.
 
“Apa itu tadi Dah?” tanya Kadiman dengan wajah ketakutan.
 
“Aku juga tidak tahu, kalau aku tahu aku tidak ketakutan begini, ayo lekas kita pulang!” seru Kedah.
 
Kedah dan Kadiman lantas berlari pulang kerumahnya masing-masing, masih dengan wajah penuh tanda tanya dan ketakutan mereka berlari menyusuri pematang. Kadiman sudah lupa dengan rencana mandinya namun Kedah justru teringat dengan…
 
Det..det..det..det…suara seperti petasan yang suka di pasang oleh anak-anak desa sepulang mengaji tiba-tiba terdengar berentet dibelakang mereka membelah langit sore yang gelap, bersamaan dengan deru gemuruh suara dua pesawat, deru tersebut agak jauh tapi suara tembakannya terdengar hingga masuk ke otak. 
 
Kedah dan Kadiman segera menambah kecepatan berlari sambil mencium bau asap terbakar, hingga akhirnya deru pesawat hilang sepenuhnya dari telinga mereka.
 
Sambil terengah-engah, Kedah memeriksa kondisi keadaan, kondisinya yang sudah tua membuat dirinya tak kuat lagi berlari. Setelah dipastikan aman, mereka meneruskan pulang ke rumahnya yang terletak di dataran yang lebih tinggi sambil tetap waspada.
 
Sampai dirumah, Kedah langsung mencari anak angkatnya, Jirah. Jirah sedang memasak ketika melihat bapaknya masuk sambil terengah-engah, buru-buru dia membuatkan teh hangat dengan daun jeruk. Namun, belum sempat Kedah bercerita tentang apa yang terjadi, pintu rumah mereka diketuk dengan lembut.
 
Kedah tak sempat pula menyeruput tehnya dan langsung membuka pintu. Di balik pintu terlihat sosok pemuda kurus berpakaian coklat dengan topi sedikit miring, di lengannya tergantung satu buah bedil yang siap sedia jika ada perampok atau musuh. Namun orang tersebut tersenyum kepadanya.
 
Panjenengan siapa ya?” tanya Kedah.
 
“Saya Parjo, Suparjo..kami ingin menumpang dirumah ini”.
 
****
 
“Aduh, tahun baru kita ngenes bon” ujar Cipto sambil melilitkan rotan di kursi coklat tua.
 
“Tentara tidak mengenal tahun baru, kalau wanita baru mungkin iya ha ha ha” ujar seorang yang dipanggil Babon lantaran badannya yang besar.
 
“Aku juga tahu bon, tapi sebelum aku berangkat, anak perempuanku, Galuh merengek minta dibelikan mainan nanti pas tahun baru, entah darimana dia kenal istilah tahun baru sedangkan aku saja, setua ini baru ini mengenal tahun baru”
 
“Tapi tak mungkin rasanya aku pulang, perjuangan masih sangat jauh kan Bon” sambung Cipto sambil mulai mengikat kain tandu diatas kursi. Babon pun mengangguk takzim.
 
Tak biasanya, kali ini Sanusi yang bertugas sebagai medis diperintahkan berkunjung kerumah warga satu demi satu untuk mengabarkan bahwa panglima akan meninggalkan Karangnongko sebentar lagi, termasuk juga ke Kepala Adat untuk meminta doa. 
 
Serta-merta warga yang takjub dan tak menyangka seorang panglima berada di desanya pun berduyun-duyun kerumah Mustajab, ada yang membawa pisang tanduk, nangka matang, ubi dan beberapa singkong sebagai perbekalan pasukan.
 
Mustajab Gombloh si pemilik rumah pun kegirangan, beberapa makanan pasti akan ditinggal dirumahnya sehingga Mustajab berpikir mungkin seminggu tidak usah belanja dan bekerja karena makanan sudah ada.
 
Namun, dibalik itu, Mustajab sungguh tidak menyadari adanya sepasang mata yang terus mengawasi rumahnya semenjak berkumpulnya para warga akibat pengumuman Sanusi, begitupula para warga dan juga para pasukan.
 
Pagi itu hujan gerimis, rombongan pun berangkat serentak menuju utara, sekitar lima orang prajurit membawa tandu bergaris dua, sebagian besar prajurit berjalan di depan iringan tandu dan menyisakan sedikit di belakang. 
 
Suparjo dan Nolly berjalan beriringan di kiri dan kanan tandu, mata mereka awas, telinga mereka sudah dikorek sehingga mampu mendengar bunyi apapun yang mencurigakan, tangan mereka seakan ada magnet dengan pistol dan senapan.
 
Hingga tengah hari akhirnya rombongan tersebut menemukan sebuah rumah mungil di pinggir hutan, mungil namun nyaman untuk sekedar melepas lelah, dinaungi oleh banyak pohon randu dan satu beringin. Suparjo yang berpangkat kapten, baru saja merebahkan punggungnya di tiang bambu ketika seorang telik sandi datang melapor.
 
“Apa yang kau bawa untukku?” tanya Suparjo.
 
“Mereka sudah tahu gerakan kita, kemungkinan dari warga, saat ini mereka sudah mengirim sinyal kepada yang lain untuk bergerak”
 
“Pasti bukan warga, tapi aku belum bisa memastikan siapa. Berapa lama waktu kita untuk bergerak?”
 
“Kalau sekarang, mereka akan curiga kita sudah tahu informasi lebih dahulu. Butuh waktu dua jam bagi pasukan mereka menuju kesini. Artinya satu jam lagi kita bergerak”
 
Informasi berguna tersebut langsung diteruskan kepada Nolly yang juga merawat Panglima di tengah sakitnya. Nolly pun menghentikan istirahatnya dan langsung mengadakan rapat kilat.
 
****
 
Satu jam bukanlah waktu yang lama, hujan sudah reda namun tak jua memunculkan matahari sehingga kondisi udara semakin dingin saja dan itu membuat batuk panglima semakin terdengar jelas. 
 
Namun waktu tak bisa kembali, mereka harus terus bergerak dan sudah diputuskan, mereka bergerak ke selatan, lima menit lebih awal.
 
Rombongan dalam jumlah besar bergerak keluar gubuk, setengah mengendap mereka menyusuri jalan setapak di pinggir hutan, jalanan yang licin habis hujan membuat perjalanan mereka tak leluasa. 
 
Mereka perlahan berjalan dengan formasi memanjang untuk menyesuaikan lebar tandu. Namun tepat ketika baris terakhir masuk ke daerah hutan, terdengar suara gemuruh dari langit, P-15 Mustang Cocor Merah menuju arah mereka.
 
“Cocor merah!! Merunduk!”
 
Seluruh pasukan merunduk ketika bunyi seperti sirine panjang mengalun membelah angkasa, alunan yang mengerikan sebelum akhirnya meledakkan rumah mungil yang baru saja mereka tempati. 
 
Rumah hancur lebur, asapnya membumbung di angkasa. Dan belum lagi mereka mengangkat kepala, sirine kembali terdengar dan kali ini meledakkan satu kandang sapi di dekat rumah tersebut.
 
Pesawat riuh rendah terbang di atas mereka, tapi ajaibnya tak ada satupun peluru pesawat yang mengarah ke mereka.
 
“Kita harus tetap bergerak, ayo maju terus”
 
Rombongan terus maju memasuki hutan, di belakang mereka suara derap langkah dan kendaraan mulai mengikuti. Cipto yang bertugas mengangkat tandu mulai mempercepat langkah diikuti oleh yang lain, misi mereka satu “menyelamatkan Panglima”.
 
Derap langkah semakin terdengar jelas diikuti mulai terlihatnya helm coklat dan kulit yang putih. Entah siapa yang memulai ketika satu buah peluru karabijn menembus helm coklat tersebut dan memuncratkan darah segar bercampur kelabu. Satu penjajah mati.
 
Sial bagi rombongan Panglima, matinya satu prajurit tadi membuat posisi mereka terdeteksi jelas oleh musuh, musuh mulai berduyun-duyun mendatangi rombongan dengan senapan terhunus.
 
“Menyebar, lakukan baris pendem!”
 
Rombongan mulai menyebar dan melakukan baris pendem, tubuh mereka segera menyatu dengan tanah dan oleh sebab itu musuh tak bisa langsung melihat posisi mereka. Tapi strategi ini cukup berbahaya, karena jika gagal, mereka tak punya waktu untuk bangun dan berlari.
 
Prajurit Belanda mulai menyadari posisi mereka lebih tinggi dari musuh, dan ini sangat berbahaya. Tapi terlambat, baku tembak mulai terjadi dengan tidak seimbang, posisi yang rendah menyebabkan prajurit Indonesia lebih cepat untuk mengukur akurasi tembakan, beberapa prajurit Belanda terluka terkena tembakan bahkan ada yang mati. 
 
Rombongan dengan cepat kembali bangkit dan berlari ke arah Selatan.
 
Pasukan Belanda terus mengejar dan menyerang, satu granat tangan dilemparkan ke arah prajurit Indonesia dan mengenai beberapa prajurit, namun tak seberapa parah, untungnya di depan ada kali yang melintang. 
 
Rombongan terus bergerak ke arah kali, sambil menembaki Belanda yang mengejar di belakang. Belanda terus membombardir dengan senjata bren, senjata dengan peluru yang sangat banyak dimuntahkan dalam satu waktu.
 
Cipto tetap gigih membawa tandu sambil terus menyebrangi sungai, dia sudah tak peduli apapun, ingatannya hanya kepada tugas dan anak perempuannya, Galuh. 
 
Bren Belanda terus menyerang tiada henti, beberapa prajurit berhasil melintasi kali dan sudah kembali memasuki hutan meskipun beberapa menjadi mayat di pinggiran kali. Dan beruntung, Belanda enggan memasuki hutan karena mengira mungkin ini jebakan.
 
“Istirahat dahulu, kita berhenti disini”. 
 
Rombongan pun menghentikan langkah mereka di pohon beringin yang lebat, sesaat mereka aman beristirahat di balik beringin yang menutupi segala pandangan dari arah kali tadi. 
 
Setelah suasana dirasa aman, Panglima mulai keluar dari tandu, ia ingin menghitung berapa sisa prajurit yang selamat dari pertempuran tadi. Sambil terbatuk, Panglima berjalan berkeliling dan melihat para prajurit yang terduduk kelelahan.
 
Namun dia tidak menyadari bahwa dibelakangnya ada satu jari sedang menarik pisau dari balik sabuk prajurit.
 
Dengan satu gerakan, prajurit tersebut trengginas menyerang dari belakang, tangan kirinya menelikung tangan dan tangan kanannya menodongkan pisau ke leher panglima.
 
“Menyerahlah panglima, maaf kalau aku sedikit kasar, tapi inilah tugasku”
 
“Cipto, apa yang kau lakukan?” teriak Babon demi melihat kawannya menjadi nekat menyerang panglima. Beberapa prajurit lain dengan sigap langsung mengambil senjata mereka.
 
“Aku muak dengan segala omong kosong perjuangan, tak ada yang bisa meninggikan derajat hidup kita! kau dengar itu? hah!” teriak Cipto seperti kesetanan.
 
“Ini sudah berakhir, aku muak dengan ini semua, aku mendapat jaminan dari negeri Belanda, kita bisa hidup enak disana Babon, ikutlah denganku!”
 
“Kau sinting”
 
Tapi Cipto sudah gelap mata, dia menyeret tubuh panglima yang kurus kembali menuju kali, berniat untuk diserahkan hidup-hidup kepada Belanda. Namun naas, ketika menyeret tubuh panglima, kaki panglima dengan sengaja menyangkutkan diri pada akar pohon beringin yang muncul di permukaan tanah. Cipto tak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh. 
 
Sedetik menyentuh tanah, Panglima dengan kesigapan ala tentara langsung bangkit berdiri lagi dengan posisi tubuh yang berbeda dari ketika keluar tandu.
 
Posisi tubuhnya lebih tegap, kakinya lebih kokoh tak seperti panglima yang Cipto kenal, Panglima kemudian melepas blangkonnya dan betapa kagetnya Cipto ketika tahu pria didepannya bukanlah Panglima yang ia maksud.
 
“Kau..Letnan Heru Kesser?”
 
“Dasar pengkhianat, pantas Belanda selalu tahu posisi Panglima walaupun di pelosok Gunung dan adanya pasukan liar di Kediri yang tahu banyak informasi, ternyata kau” ujar Heru Kesser yang menyamar menjadi Panglima Sudirman.
 
Letnan Heru Kesser melepas mantel khas Sudirman dan mengambil pistol kecil jarak pendek dari selipan pinggannya. Tanpa omongan lagi ditariknya pelatuk pistol tepat di pelipis kiri Cipto.
 
***
 
Malam tahun baru
 
Di tempat lain, 16 kilometer di sebelah utara desa Karangnongko, seorang pemuda termangu di depan pintu rumah sederhana. Dibelakangnya beberapa pasukan berwajah letih duduk mengaso dan diantaranya terdapat seorang bertubuh kurus memakai blangkon hitam dengan keris bergagang gading warna kuning diselipan celana, yang oleh yang lain dipanggil dengan Pak Kyai.
 
Pemuda tersebut membaca tulisan di atas pintu rumah
Tawang Gapuraning Ngesti Tunggal, yang berarti tangan Tuhan terbuka bagai langit mendengar doa kita.
 
Tertegun sejenak, pintu pun diketuk dengan perlahan, tak berapa lama terdengar suara kayu bergesekan dengan daun pintu. 
 
Pintu pun dibuka, seorang kakek tua dengan raut wajah ketakukan menyambut.
 
Panjenengan siapa ya?” tanya Kedah, pemilik rumah.
 
“Saya Parjo, Suparjo.. kami ingin menumpang dirumah ini”.