Fenomena "Long Weekend" dan Ironi Kaum Urban

Fenomena "Long Weekend" dan Ironi Kaum Urban

Betapa irinya kami ketika hari Rabu yang lalu melihat di sosial media; facebook, twitter, instagram dan path. Jelek-jelek begini kami kan tergolong Pak Ismed (Pasangan Muda Eksis di Sosmed). Banyak, bahkan hampir semua kawan-kawan kami merencanakan yang namanya holidei, pekensi atau apalah yang bermakna satu: LIBURAN.

Maklum, di Negara tempat kami mencari nafkah ini liburan hanya ada tiga, pertama libur hari kemerdekaan, kedua libur Idul Fitri dan ketiga libur Idul Adha, selebihnya kami harus tetap produktif. Jadi maklum kalau kami iri, bahkan sempat nekat mau ambil cuti pulang ke Indonesia, untung saja ongkosnya mahal hehe.
Tapi, keinginan kami (iri) tadi menjadi surut ketika melihat update status kawan-kawan ditambah membaca news dari Indonesia kalau liburan tadi menjadi ‘petaka’. Mungkin bahasanya sedikit sarkastik, saya tidak menemukan kata ganti yang lebih mengena dari ‘tidak menikmati’.
Di mulai dari kakak ipar saya yang pulang kantor normal (jam 5 sore teng) dari kawasan Kuningan namun belum sampai rumah di kawasan Jatibening, padahal sudah pukul 10 malam. Istrinya sudah bolak balik update di sosmed karena tidak bisa mengabari, berharap ada teman kakak ipar saya yang baca lalu bisa memberikan informasi.
Ini bukan dialami oleh satu orang saja, begitu banyak informasi yang mengabarkan bahwa Jakarta lumpuh, malam kamis itu. Kakak ipar saya baru diketahui sampai rumah pukul dua pagi. Tapi.. ternyata itu masih belum seberapa, ada yang pulang kantor dari Pasar Minggu baru sampai rumah jam lima pagi, ah informasi lebay menurut saya..eh ternyata itu memang kenyataan. Kalau dihitung cuma orang pulang kantor tak mungkin sepadat itu, ternyata itu juga merupakan buntut kemacetan yang berhulu di Cikampek, entah yang ke Bandung, entah yang ke Jawa, dua-duanya sama.
Ini fenomena lho, betapa tidak, selama ini kita hanya disuguhkan kemacetan yang begitu luar biasa jika menghadapi satu momen: Lebaran. Tapi momen ini sekarang bergeser, kaum urban Jakarta tidak lagi menunggu Lebaran untuk pulang kampung atau hanya sekedar liburan, mereka senantiasa mencari celah ‘kapan bisa liburan’ untuk setiap libur panjang yang terjadi dalam satu tahun.
Bahkan jika tanggal merah itu hadir menjepit tanggal hitam, tanggal hitam tadi otomatis menjadi warna merah dengan cara cuti. Pokoknya, sebelum tahun baru mulai, kita (dan tentunya saya sendiri) sudah mulai rajin melihat kalender di tahun berikutnya, melingkari dan kemudian menuju laptop untuk membuka website plesir. Betul apa betul?

Mengapa fenomena (atau latah?) ini menjadi-jadi?

Menurut survey yang dilakukan Cak Lemper, kenapa orang Jakarta sangat menantikan liburan ini karena sebanyak 80% orang Jakarta itu STRES, dan 20% sisanya itu SANGAT STRES. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Jakarta ini isinya orang STRES, jadi butuh liburan.
Mari kita breakdown lagi penyebab stressnya; ditemukan bahwa 3 dari 4 orang kantoran Jakarta itu stresnya bukan ada di Kantor mereka. Lho, lalu apa? Mereka akan stres apabila harus menghadapi jalanan Jakarta, mereka stress di jalan. Mereka anggap stress di kantor adalah konsekuensi bagian dari pekerjaan, tapi stres di jalan itu soal lain.

Mereka (mungkin) muak dengan lalu lintas Jakarta. Lalu apakah ini sudah ditanggapi tuntas oleh Gubernur Ahok? Ditanggapi sudah, namun tuntas ya belum dong.

Ada lima solusi kemacetan yang terkenal di Jakarta namun belum sepenuhnya terealisasi:
  1. Menambah kapasitas jalan raya, ini sudah ditanggapi dengan maraknya pembangunan jalan baik flyover, underpass maupun jalan tol keluar kota, yang belum dibangun mungkin cuma pembuatan ‘jalan yang lurus’ alias Shirotol Mustaqim.
  2. Revolusi angkutan umum, ini juga sudah ditanggapi dengan adanya busway, penertiban Metromini, perbaikan layanan kereta api, adanya ojek online, yah meskipun belum maksimal.
  3. Mengurangi jumlah kendaraan bermotor, ini hampir enggak mungkin, karena selain pendapatan orang Indonesia (secara umum) yang naik terus (kata siapa kita miskin?), jumlah masyarakat meningkat, gaya hidup meningkat, tempat hiburan meningkat, disamping juga industri otomotif menanggung harkat hidup orang banyak. Dari pabrik hingga asuransi.
  4. Pembatasan kepemilikan mobil, ini sulit dan juga hampir mustahil dilakukan, karena STNK bisa beda-beda nama pemiliknya, jadi bisa saja satu rumah punya 5 mobil, satu suami, dua..eh satu istri dan tiga anak punya mobil masing-masing.
  5. Silahkan ditambahkan sendiri…

Akhirnya..ya..

Lho, terus kesimpulannya apa? lantas solusinya apa kalau dari sisi lalu lintas point satu dan dua masih menunggu waktu? Ya enggak ada lagi selain menunggu semua proyek selesai dibangun.
Memangnya kita mau tahan diri untuk tidak bawa mobil/motor dan mengandalkan transportasi umum saja, kan ya tidak. Kan kita bukan bangsa miskin, gaya hidup hedonis semakin merajalela. Mana bisa gaya hidup begitu ditopang hanya dengan angkutan umum.
Jadi akhirnya yaa.. stres orang Jakarta yang bisa mengobati ya orang Jakarta itu sendiri. Konsep ‘jangan latah’ berlaku, yaah kalau memang lihat jalanan sudah ramai begitu dihari libur apa salahnya untuk sedikit menahan diri. Shopping di Bandung bisa kok diganti dengan shopping online shop (barangnya sama, enggak ada beda! suer!). Kok tahu? ya tahu lah, gini-gini kan juga penggemar online shop 🙂.
Sekali-kali orang tua dikampung gantian diajak ke Jakarta pas long weekend, cukup dirumah saja bercengkarama dengan asyik, panggil tukang pijat, menikmati teh panas, beli makanan via ojek online atau martabak di dekat rumah juga bahagianya tak terkira.
Jangan lupa, orang tua dibelikan tiket eksekutif PP, itung-itung ganti ongkos semua anggota keluarga plus irit tenaga dan tentunya juga membahagiakan orang tua.
Bagaimana dengan Puncak, itukan masalah tempat? Eih kata siapa enggak bisa nikmati puncak, harinya dong yang diganti, memang butuh pengorbanan sedikit dengan mengambil jatah cuti di hari kerja, tapi percaya deh, jauh lebih bisa menikmati Puncak ketimbang ‘latah’ ikut-ikutan long weekend tadi yang ujung-ujung ngedumel di sosmed. Paling cuma ambil 1-2 hari kerja, atau pinjam cuti tahun depan, pokoknya dimana ada kemauan, disitu akal bertindak.
Akhirnya setelah membaca informasi lalu lintas dan mengambil kesimpulan yang tidak simpul di tulisan ini, saya pun masuk ke kamar dan diam-diam membisikkan kata-kata mesra ke istri yang mukanya masih ditekuk 176 derajat akibat tidak bisa ikutan holidei.
“Ma, tuhh kan Alhamdulillah kita enggak ke Indonesia, apalagi ke Bandung, tuh lihat macetnya kan, ih amit-amit..nanti tambah stres papa, bukannya hepi lho”
“Iya pah, papa bener, beneeerr banget…makanya liburannya jangan naik mobil..naik pesawat donk yuk..ke Hongkong!”
Gundulmu!
Dipublikasi pada Headline Kompasiana disini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s