Guru Dalam Metode Kekinian

Guru Dalam Metode Kekinian
Sumber https://azzead.wordpress.com
Beberapa bulan yang lalu, kira-kira memasuki tahun ajaran baru 2015/2016, saya dikejutkan dengan masih adanya pemberlakuan test calistung (membaca, menulis dan berhitung) untuk keponakan saya yang baru masuk SD kelas satu. Memang termasuk SD swasta, tapi bukankah larangan calistung sebagai bahan evaluasi masuk kelas satu SD/MI sudah tertera pada PP No. 17 tahun 2010 yang berbunyi:

Pasal 69
(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk yang lain yang sederajat tidak di dasarkan paada hasil test kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau bentuk test lain.

PP ini sangat jelas, bahwa apapun bentuknya tidak diperkenankan diadakan test kognitif sebagai bahan evaluasi masuk kelas 1 SD/MI, mungkin ada yang bisa menjelaskan mengapa masih ada SD (baik swasta maupun negeri) yang memberlakukan test sedemikian. Mungkin ini terdengar curhat. walapun pada akhirnya keponakan saya pun bisa masuk SD tersebut, namun dengan pendekatan kepada gurunya karena kami kebetulan merupakan warga lama di daerah itu yang satu kawasan dengan SD tersebut.
Terlepas dari itu, saya cukup yakin dengan banyaknya blog, website dan bahkan Kak Seto pun menjelaskan bahwa fungsi kognitif anak belum betul-betul sempurna sehingga calistung bukan sebagai bahan didik pokok anak kita diumur-umur emasnya.
Di umur emasnya anak harus lebih banyak diajarkan tentang keceriaan, kerjasama, empati, diberi contoh soal agama dan hal-hal yang menyenangkan lainnya, bukan dengan hitungan baca tulis. Karena itu saya yakin bahwa Si Komo pun sampai sekarang belum bisa calistung dengan sempurna, karena belum SD.
Lantas apakah mengajarkan calistung anak dilarang? Tidak, tidak ada yang menyebut dilarang, penyelipan pelajaran kognitif seperti huruf dan aljabar di dalam masa bermain anak cukup bagus untuk merangsang otak, tapi bukan sebagai bahan evaluasi, apalagi sebagai penentu kelulusan masuk SD kelas satu.
Hampir saya ingin menulis tentang calistung tadi, ah tapi kan saya bukan ahli pendidikan, ngapain bicara calistung. Lebih pantas sepertinya untuk melihat latar belakang mengapa di Indonesia sempat populer syarat bisa calistung untuk masuk SD kelas satu.
Dua minggu lalu tepatnya saya ber-chatting dengan teman lama saya yang seorang guru di Jawa Timur, tentu saja saya mengeluhkan tentang test masuk SD tadi dan melihat jawabannya, cukup mengejutkan.
“Sekarang sudah enggak ada lagi kok calistung, di tempatku sudah enggak ada lagi. Itu bukan cara penerimaan anak SD” ujarnya dalam chat.
“Tapi enggak menutup kemungkinan lho ya, masih banyak juga SD yang masih gitu di daerah lain, temanku juga ada dan katanya mereka malas mengajar anak SD dari nol, maunya setengah jadi” sambungnya.
“Terus dulu sewaktu marak calistung itu bagaimana?”.
“Iya memang kebanyakan yang ngajar SD sekarang itu guru-guru muda, terutama swasta ya, sekolah elit. Yaah guru-guru kekinian lah, jadi sewaktu banyak calistung mereka menerapkan calistung juga, tapi setelah ada peraturan itu ya berkurang, calistung dihapus, tapi beberapa mungkin masih ada”.
Oke, dapat satu kata kunci: Kekinian, metode-metode kekinian yang entah di adopsi dari mana, dari siapa atau bahkan dari apa sudah menjadi trend bahkan menjadi text book wajib tentang tata cara mendidik anak. Bukan hanya tentang metode makan, tapi juga pada kurikulum.
Saya mengkritik soal metode cara makan bayi BLW (Baby Led Weaning) yang diadopsi dari Amerika, anda bisa cari di google soal apa itu BLW, tapi intinya BLW banyak diterapkan di Amerika dengan latar belakang ibu-ibu yang super sibuk bahkan sekedar untuk menyuapi anaknya, sehingga timbulah ide untuk memberi makan anaknya dengan cara berbeda yang lebih simple.
Indonesia ‘kekinian’ mengadopsi juga. Dengan latar belakang yang kurang jelas, Indonesia mengadopsi metode itu dengan berbagai alasan kebaikan, yang menurut saya itu karena; pertama terbatasnya waktu dimana kedua pasangan bekerja, kedua adalah malas untuk nge-blender makanan dan menyuapi si anak yang seringkali rewel.
Latar belakang itu juga yang sepertinya di terapkan oleh banyak guru-guru kekinian ‘yang elit’ di dunia pendidikan Indonesia, banyak dari mereka yang ingin muridnya sudah setengah atau bahkan 3/4 jadi, sudah bisa baca, tulis dan berhitung dasar.
Sehingga mereka nantinya tinggal mengarahkan kepada ajaran yang lebih kompleks..yang lagi lagi..hanya membawa anak kepada pendidikan kognitif, berhitung, menghafal, berhitung dan menghafal lagi..itu saja bolak balik.
Jangan sampai ditemukan alasan bahwa para guru kekinian itu malas juga untuk mengajari satu per satu anak yang masih buta huruf yang rewelnya setengah mati itu. Tapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.
Guru-guru di Indonesia adalah guru-guru yang diciptakan dari hati, mereka jadi guru karena memang ingin jadi guru. Bukan karena tekanan hidup.
Mereka (para guru kekinian) itu sepertinya hanya terbawa suasana hype dan terlalu eksis di acara kupas tuntas kurikulum, bingung kok kurikulum berubah lagi berubah lagi.
Akhirnya mereka berujung pada satu kesimpulan: Ternyata kurikulum Indonesia memang kurang elit, lawas, kurang menjual kalau di posting di Instagram.
Kan keren kalau posting di IG terus ada yang komen..
“ihh anaknya udah bisa ngitung..lucu bangeettt
“eh gimana sih sist ngajarinnya? anakku belum bisa nih, takut bentar lagi mo masuk SD”
“Si Adel baru bisa ngitung sampe tiga nih, belum lanjut lagi..duh gimana ya sistplease advice
Dan seterusnya dan seterusnya.
Well, mari kita mengingat memori jauh kebelakang, bagaimana dahulu ketika kami SD sang guru dengan telaten mengajari kawan yang sama sekali belum bisa mengucap B U..BU hingga menjelang ujian kenaikan kelas. Bu Guru yang selalu mengulang kata-kata satu, dua..satu ditambah satu hingga bibirnya berbusa. Bu Guru yang dengan sabar menuntun jari kami yang mungil membentuk angka satu, angka dua dan seterusnya.
Bu Guru yang sabar namun tegas menenangkan kami yang selalu ribut. Bu Guru yang dengan pesonanya menenteng payung untuk seorang kawan yang kehujanan dan tidak dijemput orangtuanya. Bu Guru adalah segalanya bagi kami di sekolah dulu.
Kami hanya berharap bahwa guru tetaplah berjiwa seorang guru, jangan pernah terbersit untuk mempermudah kurikulum, mempercepat anak menjadi pandai. Bukan..bukan itu, guru terlalu mulia untuk sekedar memperpandai dan mempercepat kinerja otak anak yang pada dasarnya sudah diprogram oleh Tuhan.
Guru adalah pembentuk karateristik anak bangsa menjadi lebih bermartabat. Baik itu sekolah elit, maupun sekolah pelosok. Tujuan guru tetap sama.
Tapi..ataukah itu hanya nostalgia? Karena yang seperti itupun korupsi berjibun tak kenal ampun. Ah entahlah.

Dimuat di Kompasiana, disini

Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)

Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)

Crude Palm Oil (CPO) atau dalam bahasa Indonesia berarti Minyak Kelapa Sawit adalah suatu komoditas yang unik di Indonesia, unik karena kelapa sawit saat ini merupakan komoditas andalan dimana Indonesia menjadi produsen terbesar kelapa sawit. Tetapi ironisnya justru Indonesia bukan dalam posisi mengendalikan harga sawit dunia melainkan harga sawit naik turun mengikuti harga dunia yang memakai harga Ringgit Malaysia atau bahkan harga di Rotterdam, Belanda.

Saat ini Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit di dunia dengan menguasai lebih dari 50% pasar.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Indexmundi

Kelapa Sawit sendiri merupakan produk komoditas andalan Indonesia sepanjang 2002-2013, menyalip kelapa sebagai komoditas utama dengan pertumbuhan rata-rata 13.4% pertahun. Peningkatan terbesar adalah pada tahun 2001 dan 2002 yang disebut juga dengan palm booming karena meningkat sebesar 42% pertahun.

Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Tentang Sawit

Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) bukanlah tanaman asli Indonesia melainkan masuk ke Indonesia di bawa oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848. Pada tahun 1911 di mulailah budidaya kelapa sawit di Deli (pantai timur Sumatera) dan di Aceh oleh seorang Belgia bernama Adrien Hallet.

Bertepatan terjadinya revolusi industri di Eropa, dimana banyak sekali membutuhkan asupan minyak nabati untuk menjalankan mesin-mesin dan juga keperluan memasak dengan cara menggoreng. Mungkin karena di bawa dari Belanda inilah maka Belanda berhak ikut menentukan harga sawit dunia. Entahlah penyebab pastinya.

Kelapa sawit merupakan bahan baku utama pembuat minyak goreng, margarin, sabun, kosmetik bahkan kabel hingga industri farmasi, ini di sebabkan oleh keunggulan sifatnya yang tahan terhadap oksidasi dengan tekanan tinggi dan mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya.

Bukan hanya itu saja, yang paling menarik adalah tidak ada sampah di dalam proses produksi minyak sawit. Sisa produksinya di antaranya serat, cangkang, batang, tandan dan pelepah dapat diolah menjadi kompos dan yang sudah di gunakan sebagai sumber energi terbarukan, yaitu Biodiesel.

Dari beragam keunggulan itulah mengapa sawit menjadi komoditas perkebunan yang paling menjanjikan di seluruh dunia. Terutama negara dengan konsumsi minyak nabati terbesar, yaitu Cina dan India (dua negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia).

Proses Bisnis dan Produksi Minyak Sawit

Secara sederhana, proses bisnis di bagi menjadi 2, yaitu proses hulu dimana proses bisnis meliputi penanaman bibit unggul kemudian menjadi Tandan Buah Segar (TBS). Dan proses hilir yang meliputi pengolahan TBS menjadi minyak kelapa sawit dan juga turunannya seperti minyak goreng, kosmetik dll.

Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)

Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)

Proses produksi kelapa sawit menjadi CPO dapat dilihat pada gambar diatas. Dari proses produksi, setiap 1 ton TBS rata-rata menghasilkan 140 – 220 kg CPO (sekitar 22.5% dari setiap 100% TBS) yang siap di distribusi ke pabrik pengolahan lanjutan ataupun siap ekspor.

Dari total kebutuhan, hanya 10 juta ton atau sekitar 30% dari total produksi yang dimanfaatkan di dalam negeri, sedangkan sisanya di ekspor ke luar negeri, sehingga potensi Indonesia di dalam mengendalikan harga sawit dunia begitu besar.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Besaran produksi minyak dan lemak dunia yang mencapai 236 juta ton ditopang oleh produksi minyak kelapa sawit. Dalam presentasi Thomas Mielke, Analis Oilworld yang berjudul “Oil World Supply and Demand Forecast for the year 2020” memperkirakan bahwa hasil panen minyak kelapa sawit atau CPO sebesar 78 juta ton. Bayangkan jika 50% kebutuhannya di supply dari Indonesia, apakah Indonesia tidak kaya?

Lalu bagaimana kesiapan Indonesia?

Kondisi Kelapa Sawit di Indonesia

Hitung-hitungan kasar, jika di tahun 2020 kebutuhan dunia yang di topang dari Indonesia sebesar 39 juta ton CPO maka dibutuhkan sekitar 39 juta : 22.5% = 174 juta ton TBS. Jika 1 ha lahan sawit menghasilkan maksimal saat ini sebesar 6 ton/ha TBS, maka di 2020 dibutuhkan sedikitnya 29 juta hektar lahan sawit.

Saat ini Indonesia baru memiliki 10,2 juta hektar lahan sawit yang tersebar di beberapa provinsi dan potensi terbesar ada pada provinsi Riau.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Badan Pusat Statistik

Jika angka Thomas Mielke tadi benar, artinya Indonesia masih memerlukan tambahan lahan sebesar 19 juta hektar lagi yang sebagian besar masih harus dilakukan perizinan, pembebasan lahan, persiapan pembibitan hingga masuk dalam kategori Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) atau minyak kelapa sawit yang berkelanjutan.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Memang, jika melihat grafik di atas perkebunan kelapa sawit tidak hanya di kuasai oleh perusahaan raksasa saja sepeti Sinarmas Agro ataupun Salim Ivomas Grup, tapi juga di dukung sepenuhnya oleh perkebunan rakyat, karena rakyat semakin sadar akan potensi keuntungan dari tanaman sawit.

Secara angka di atas, jika di rata-rata maka pertumbuhan lahan sawit selama 13 tahun terakhir sebesar 20.85%. Jika saat ini lahan sawit sebesar 10.2 juta ton, maka dengan asumsi pertumbuhan 20.85% maka di tahun 2020, Indonesia bisa memiliki lahan sawit sebesar 39 juta hektar (angka yang fantastis jika digarap serius).

Dengan kenaikan grafik yang begitu besar, tentunya potensi sawit akan sangat meningkatkan Produk Domestik Bruto Indonesia itu sendiri.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Terlihat bahwa tanaman perkebunan (sawit terbesar) memiliki posisi yang penting setelah perikanan dalam menentukan laju pertumbuhan PDB Indonesia, bandingkan dengan minyak dan gas bumi yang negatif.

Kondisi harga Sawit Dunia

Saat ini kondisi global sawit dunia memang sedang lesu, pokok utamanya adalah berkurangnya permintaan kelapa sawit dari dua negara utama pengimpor sawit yaitu India dan China. Jumlah ekspor ke China menurun drastis dari 189 ribu ton menjadi hanya 138 ribu ton, memang banyak yang mengatakan bahwa ini dikarenakan kondisi ekonomi China yang sedang lesu.

Tapi tidak berhenti sampai disitu, ekspor ke China yang turun drastis sebetulnya di imbangi oleh naiknya permintaan dari Negara Afrika, Eropa dan Amerika. Dari Afrika permintaan meningkat dari 102 ribu menjadi 175 ribu ton atau meningkat 71%, diikuti dari Amerika yang naik dari 26.5 ribu ton menjadi 37.3 ribu ton.

Dari Eropa juga meningkat dari 381 ribu ton menjadi 408 ribu ton, India juga sebenarnya mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan dari 397 ribu ton menjadi 408 ribu ton.

Toh, jika di akumulasi, turunnya permintaan dari China sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan jumlah ekspor sawit, hal ini menguatkan analisa beberapa pihak bahwa sebetulnya harga sawit tidaklah bermasalah, harga sawit yang jatuh adalah akumulasi dari perekonomian China yang melesat terlalu tinggi dan cepat sehingga sekarang tibalah saatnya bernafas sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan taraf hidupnya.

Lagipula agak aneh jika disebut saat ini China memberi pengaruh besar bagi ekspor sawit Indonesia, sedangkan nilai ekspor ke  China yang senilai  189 ribu ton lebih kecil berbanding nilai ekspor ke India senilai 397 ribu ton, bahkan berbanding ekspor ke Eropa senilai 381 ribu ton. Nilai ekspor ke China hanya 1/2 nya lebih.

Proyeksi Harga Sawit

Sawit, seperti kebanyakan barang komoditas lainnya, harganya cenderung tidak beraturan dan sangat dipengaruhi oleh berita yang terjadi. Sehingga untuk menghadapai kondisi volatilitas tinggi seperti ini analisa teknikal kita perlukan dalam menganalisa dalam jangka panjang untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat dunia dan pola jangka pendek untuk persiapan terhadap berita yang muncul.

 Belajar Tentang Crude Palm Oil (CPO)
Pola harga kelapa sawit jangka panjang

Dalam jangka panjang 10 tahun, kelapa sawit tetap mengalami pola uptrend dengan beberapa koreksi:

Tahun 2008, ketika itu terjadi krisi ekonomi global dimana perekonomian Amerika anjlok -10%, kegiatan ekspor nyaris terhenti disusul krisis pangan dan tingkat suku bunga mencapai 9.5%. Apa yang terjadi dengan ekspor sawit? Volume ekspor sawit justru meningkat secara rata-rata 22.10%

Begitupula ketika terjadi koreksi tahun 2013 yang sebagian besar di pengaruhi kondisi global namun volume ekspor sawit tetap meningkat.  Dengan kata lain, kebutuhan dunia terhadap kelapa sawit tetaplah tinggi walapun bermunculan sumber minyak nabati lain seperti bunga matahari, dll.

Ini dikarenakan beberapa keunggulan dari Minyak Sawit itu sendiri, di antaranya:

  1. Produktifitas tinggi, yaitu 3.74 ton/ha/tahun. Bandingkan dengan pesaing utama yaitu minyak kedele yang 0.38 ton/ha/thn atau minyak bunga matahari yang 0.48 ton/ha/thn.
  2. Minyak sawit mendominasi minyak nabati dunia sebagai minyak yang teraman. CODEX Alimentarius Commission (http://www.codexalimentarius.org/ ) telah menerbitkan Standart for Named Vegetables Oil dimana minyak sawit mendominasi hampir 52%.
  3. Minyak sawit memiliki potensi  aplikasi yang sangat luas. Ada 163 produk yang dihasilkan oleh CPO dan turunannya. 82% memiliki kegunaan terhadap pangan. Ini yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lain.
  4. Minyak sawit memiliki dua fraksi utama: fraksi cair (Olein) dan Fraksi padat (Stearin). Olein digunakan sebagai bahan dasar minyak goreng ataupun campuran minyak kacang tanah. Sedangkan Stearin digunakan sebagai bahan pembuat mentega/margarin karena sifatnya yang padat pada suhu ruang, di Eropa stearing digunakan secara umum sebagai bahan pembuat butter ataupun campuran keju.
  5. Di Eropa, dengan pengolahan lanjutan minyak sawit digunakan sebagai campuran pembuatan coklat karena mengandung lemak special. Karakteristik ini juga yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lainnya.
  6. CPO turunannya merupakan penghasil Bio-diesel = energi terbarukan. Hal inilah yang mutlak menjadikan CPO sumber energi masa depan.
  7. Minyak sawit merupakan sumber vitamin E spesial

Kesimpulan

Secara jangka panjang, minyak sawit (CPO) merupakan komoditas yang akan selalu dibutuhkan dalam konsumsi masyarakat dunia, terutama setelah kita melihat 7 keunggulan CPO dibanding minyak nabati lain. itulah mengapa secara teknikal pola uptrend terbentuk dalam 10 tahun yang menandakan bahwa CPO merupakan komoditas yang tetap potensial, apalagi untuk Indonesia yang merupakan produsen terbesar.

Tantangan pemerintah kedepan yang pertama ialah target mengembangkan 19 juta hektar lahan sawit siap pakai untuk menuju 2020, ditambah konsumsi turunan kelapa sawit sudah diaplikasi sebagai sumber energi terbarukan (bio-diesel) yang harus menjadi sektor andalan baru Indonesia. Yang kedua target pemerintah ialah menjadikan Indonesia sebagai pusat acuan harga sawit dunia, bukannya Malaysia.

Pendulum Nusantara, Proyek Prestisius Harus Becus

Pendulum Nusantara, Proyek Prestisius Harus Becus

Pendulum Nusantara

Pendulum Nusantara ialah konsep sistem transportasi barang melalui lautan dengan menggunakan kapal besar berkapasitas 3000-4000 TEU yang melewati sebuah jalur utama dari Belawan (Medan, Sumatera Utara) berlanjut ke Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua) dimana lima pelabuhan ini akan menjadi simpul penghubung regional ke daerah daerah sekitarnya (loop) dengan menggunakan kapal yang lebih kecil.
Konsep Pendulum Nusantara   

Konsep ini adalah konsep yang dibawa oleh yang dibawa RJ Lino selaku Direktur Pelindo II sebagai originator dan menjadi salah satu konsep andalan Presiden Joko Widodo untuk membenahi dunia maritim Indonesia dengan slogan “Tol Laut”. Dua nama tersebut yang penulis harap dapat menggarisbawahi pembenahan di sektor pelayaran dengan sistem pelayaran terpadu.

Latar Belakang

Penulis tidak perlu googling untuk tahu latar belakang munculnya konsep ini karena penulis mengalaminya sendiri. Terjadi ketika muncul pemesanan kontainer dari Ambon, Maluku (2389 Km) dalam jumlah yang tidak terlalu besar, bukan masalah pengirimannya tapi masalah biaya yang timbul ternyata lebih besar dari ketika penulis mengirim barang yang sama ke Kyoto, Jepang (6200 Km).
Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagaimana sebenarnya sistem perdagangan pelayaran kita.
Untuk coba menjawab nya, mari perhatikan gambar di bawah ini:
Trade-Flow
Terlihat timpang? betul sekali, ketimpangan terjadi antara volume perdagangan di Indonesia bagian barat dengan volume perdagngan di Indonesia timur, inilah yang menyebabkan mahal nya biaya pengiriman ke daerah-daerah tertentu di Indonesia.
Biaya pengiriman ke Padang lebih mahal daripada ke Hamburg
 Analoginya bagaimana? Begini, dari pengalaman penulis sendiri pernah alami sewaktu kuliah, ketika itu ada undangan seminar di Bandung pada hari sabtu pagi sehingga harus berangkat ke Bandung pada Jumat sore. Berhubung penulis membawa mobil ternyata banyak teman-teman penulis yang berkampung halaman di Bandung ingin ikut menumpang dengan kompensasi patungan bensin dan tol. Ternyata uang terkumpul dan biaya perjalanan menjadi murah, demikian juga ketika kembali ke Jakarta.

Biaya travel ke Bandung yang biasanya 120 ribu per orang menjadi hanya 50 ribu saja (ber-5 orang). Bolak balik menjadi 100 ribu saja, sudah hemat 50% nya!

Analogi ini yang diterapkan ke sistem Pendulum Nusantara, jika saat ini biaya pengiriman ke Maluku mahal dikarenakan jumlah volume transaksinya sedikit dan lebih sedikit lagi yang diangkut oleh kapal dari arah sebaliknya (Maluku ke Jakarta) sehingga solusinya agar kapal tidak rugi adalah menaikkan ongkos.
Inilah yang menyebabkan tingginya biaya logistik, bahkan Kementrian Perhubungan menulis angka bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 1.082 trilyun atau setara 25% dari PDB sendiri, bandingkan dengan Malaysia yang hanya 15% serta AS dan Jepang yang masing-masing sebesar 10%.

Efisiensi dan Pemerataan Ekonomi

Dengan analogi sederhana tentang pengalaman penulis, logika yang masuk akal ketika Presiden Joko Widodo dan RJ Lino berbicara tentang biaya logistik yang bisa dipangkas 50%. Karena itulah tujuan dari konsep Pendulum Nusantara atau “Tol Laut” ini yang sejatinya menekan biaya logistik nasional dan kemudian meningkatkan daya saing dan produksi di daerah-daerah lain khususnya Indonesia timur sehingga pemerataan ekonomi bisa terealisasi.

Teknisnya begini, barang yang akan dikirim dari pelabuhan tujuan disiapkan di kota masing-masing, lalu kapal besar yang sudah disiapkan mulai menjemput (pick-up) barang ke masing-masing pelabuhan besar tersebut dimulai dari Pelabuhan Belawan, Medan dan seterusnya hingga Sorong Papua.

Kemudian kapal mulai berlayar dengan membawa muatan tetap sesuai jalur yang ditentukan. Jika ada barang yang harus di kirim ke kota yang tidak dilewati kapal besar tersebut maka harus melalui transhipment , istilah seperti “nyambung angkot” ke kota tujuan.

Kapal tersebut akan berlayar sebaliknya dari Papua menuju kota-kota yang sebelumnya, persis seperti Pendulum.

Biaya yang lebih murah dampak dari Pendulum Nusantara

Bagimana sebaliknya, jika kapal besar tersebut akan kembali dari Sorong, apa yang mau dibawa? bukankah itu pemicu mahalnya biaya pengiriman? Ya, jika kapal yang ditunjuk hanya khusus melayani pengangkutan dari dan ke Papua.

Tapi ini beda, karena kapal yang ditunjuk setelah dari Papua akan singgah dulu di Kendari, Makassar dan Surabaya mengambil barang lain, sehingga biaya yang timbul dari Papua akan “di subsidi” dari kota lain, sehingga biayanya bisa ditekan rendah sekaligus juga sebagai pemicu meningkatnya pembangunan . Di sinilah kunci konsep Pendulum Nusantara ini.

Volume perdagangan melalui sistem “subsidi”

Kendala

Kendalanya cukup banyak. Pertama, kapal besar berkapasitas 3000-4000 TEU hanya masuk pada pelabuhan tertentu dan tidak setiap pelabuhan memiliki kapasitas ini, karena syarat yang dibutuhkan adalah Jetty atau tempat sandar Pelabuhan harus cukup dalam , ditambah dengan kapasitas pelabuhan yang harus mencukupi.

Sehingga mutlak dibutuhkan pembangunan dan perbaikan infrastruktur pelayaran diantaranya Pembangunan Pelabuhan skala besar dan pengadaan Kapal-kapal dengan kapasitas 3000-4000 TEU.

Menurut RJ Lino biaya pembangunan infrastruktur kelautan sebesar 5 – 6 milyar dollar AS atau setara 72 trilyun (dengan 1 USD  = Rp 12.000), biaya yang cukup besar namun ternyata ide ini di dukung oleh semua komponen usaha terkait termasuk kementrian perhubungan laut. Ditambah bahwa konsep ini menjadi proyek prestisius di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla nanti.

Kendala kedua adalah barang perdagangan yang akan dijual. Sistem Pendulum Nusantara adalah sistem yang mengutamakan waktu sebagai acuan, sehingga kapal yang akan berangkat dan singgah sudah ditentukan, kendala muncul ketika pada waktu keberangkatan atau kedatangan ternyata barang yang ajan dijual sedikit atau bahkan tidak ada.

Disini kuncinya adalah koordinasi dari pemerintah pusat dengan departemen dan dinas terkait, seperti dinas pertanian, pangan, dinas perikanan, BULOG, kehutanan dan lainnya, ini adalah kendala yang cukup sulit,karena setiap dinas harus mampu berkoordinasi dengan para produsen (petani, nelayam dsb) agar mereka bersedia mengirim hasil panen mereka melalui tol laut, tentunya dengan harga yang disepakati.

Suara Miring

Satu-satunya suara sumbang adalah mengatakan bahwa dana sebesar itu lebih baik di alokasikan ke perhubungan darat, pembenahan jalan dsb. Tahukah anda bahwa Indonesia dihubungkan oleh 13.000 pulau dan laut merupakan titik pertama dihubungkannya perdagangan antar pulau?

Jika anda mengerti pastilah anda paham mengapa biaya aktifitas laut yang perlu di efisiensi pertama disamping angka nya memang terlalu besar.

Bagaimana dengan darat? ya darat aktifitas kedua setelah laut dalam rantai logistik Indonesia, sehingga diharapkan setelah konsep Pendulum Nusantara bisa direalisasi. Yang kedua adalah pembenahan sistem transportasi darat kita dengan membuat jalur toll khusus logistik misalnya.

Semoga

Efisiensi Biaya Logistik

Data diatas menunjukkan grafik volume perdagangan aktif yang selalu meningkat dari tahun ke tahun Dari mulai komoditas, trading, ritel, transportasi hingga perbankan, sehingga jelas efisiensi terhadap biaya logistik pengiriman akibat dari konsep Pendulum Nusantara ini akan menurunkan beban biaya langsung dan akan mendongkrak nilai perdagangan.
Semoga saja konsep ini dapat betul-betul di garap serius dan becus oleh pemerintah dan BUMN sehingga laut yang sebelumnya menjadi “pemisah” dapat menjadi “penghubung” Indonesia yang sebenarnya.

Salam

Sumber: