The Intelligence Investor, Are You?

His thesis was the savings of only $15 per month invested in good common stocks – with dividen reinvested – would produce an estate of $80.000 in twenty years againts total contributions of only $3600.
Satu paragraph yang tertulis pada halaman introduction di buku investasi paling berpengaruh di seluruh dunia: “The Intelligence Investor” karya maestro investasi Benjamin Graham yang telah menginspirasi ribuan, bahkan ratusan ribu orang untuk kembali mendalami strategi investasi yang memang terbukti paling ampuh selama puluhan tahun: Value Investing.

BAB PENDAHULUAN:

Pada bab pendahuluan, ada tiga hal mendasar yang menjadi tolak ukur strategi investasi Benjamin Graham yang sangat powerfull dan terbukti hampir pada seluruh dekade;
1. Bagaimana cara untuk bisa meminimalkan kemungkinan kerugian dalam jangka panjang;
2. Bagaimana cara untuk bisa memaksimalkan kemungkinan  mendapatkan keuntungan secara berkelanjutan;
3. Bagaimana cara untuk bisa mengontrol kebiasaan “menyakiti diri-sendiri” yang dapat menghambat para investor dalam mencapai potensi puncak.

Meminimalkan Kerugian

Sebagai contoh pada akhir dekade ’90an dimana terjadi peningkatan dahsyat pada saham teknologi khususnya internet dot-com yang berkembang luar biasa: dua kali lipat setiap hari nya, sehingga saat itu uang nyata terlihat absurd. Tetapi pada tahun 2002 apa yang di khawatirkan para value investor menjadi nyata, terjadi overantusiasm pada dot-com dan telekomunikasi yang sudah tidak wajar sehingga pada akhirnya menjadi pemicu terjadinya gelembung dot-com yang kemudian menghasilkan jatuhnya harga saham lebih dari 95%.
Satu hal yang perlu dicatat pada komentar Jason Zweig yaitu “Sekali anda kehilangan 95% dari uang anda, anda harus menghasilkan kenaikan 1900% hanya untuk kembali ke titik awal”.
Itulah mengapa Benjamin Graham sangat menekankan pada bagaimana cara meminimalkan resiko sebelum kita bisa mencapai puncak dalam berinvestasi, sebab sekali kita terperangkap dalam apa yang disebut Graham sebagai “pitfall” atau jebakan, maka sangat sulit untuk kita dapat keluar.
Jebakan dalam hal ini adalah saham perusahaan yang terlihat bagus pada awalnya, sehingga semua orang berkata “inilah saatnya” tapi ternyata kinerja perusahaan tersebut tidak sebaik luar-nya dan apa yang para analis dengungkan yang pada kenyataannya perusahaan banyak terlibat hutang, banyak terjadi aksi korporasi yang terlalu berani sehingga nilai aksi korporasi tersebut melebihi aset dan bahkan ekuitasnya sehingga akhirnya membebani diri sendiri dan pada akhirnya nilai perusahaan tersebut hancur. Jika pada tahun 1950an Graham mengambil contoh perusahaan transportasi udara lalu Zweig pada tahun ’90an dengan gelembung dot-com, maka dengan yakin penulis mengambil contoh perusahaan Bakrie.
Lalu, apakah salah untuk mengambil jenis saham yang di gandrungi? Letak kesalahan bukan pada saham yang di beli, namun pada si investor. Banyak investor yang mendulang sukses dengan membeli saham perusahaan jenis itu namun celakanya, sifat overoptimist mencelakai mereka, mereka tidak tahu kapan mereka keluar dan harus keluar hingga mereka sadar bahwa mereka sudah terkubur dan tak mungkin keluar.
Ada dua pelajaran moral yang disampaikan Graham disini:
  1. Kepastian prospek pada pertumbuhan fisik dalam bisnis tidak mencerminkan kepastian profit pada investor.
  2. Para ahli /analis tidak ada satupun yang memiliki jalur yang dapat dipertanggung-jawabkan untuk memilih dan berkonsentrasi pada saham perusahaan yang paling menjanjikan yang berada pada sektor yang paling menjanjikan sekalipun.

Apakah anda seorang Intelligence Investor?

Pertanyaan yang kembali ke diri kita masing-masing. Zweig dalam komentarnya memberi contoh tentang Sir Issac Newton, ilmuwan hebat yang menemukan gaya grafitasi dan menjadi salah satu ilmuwan terbaik abad 20, berspekulasi dengan menaruh uangnya dalam jumlah besar ke salah satu saham perusahaan yang sedang meroket: South Sea Company pada tahun 1720. Pada awalnya Newton mengantongi keuntungan 100% atau sebesar 7000 poundsterling, namun overoptimist mengakibatkan kerugian fatal hingga sebesar 27,000 poundsterling di tahun berikutnya.
Satu contoh lainnya ialah tentang Long-Term Capital Management yang di gawangi oleh hedge-fund professional John W. Meriwether dan dua tokoh penerima nobel dalam bidang Economic Sciences: Myron Scholes dan Robert C. Merton. Dimana pada tahun 1998 LTCM harus di likuidasi karena intinya: Memiliki hutang yang terlalu banyak (skenario detailnya penulis tidak paham, mungkin seperti kasus bank Century di Indonesia), tapi intinya nilai DER LTCM bernilai hingga 25x dari ekuitasnya. Bandingkan dengan Bank BRI yang hanya 0.4x nya.
Dari dua contoh di atas yang ingin disampaikan Graham ialah seorang Intelligence Investor bukan terletak pada IQ dalam menganalisa dan menghitung. Namun penekanan kepada kesabaran, disiplin mengikuti pola investasi ataupun trading dan kemauan untuk belajar. “You must also be able to harness your emotion and think for yourself” ujar Benjamin Graham.
Penulis ingin menambahkan satu lagi kriteria yang penulis dapat dari seorang investor kawakan, beliau mengatakan ketika penulis ingin mem-valuasi suatu perusahaan:
“Jadilah seorang yang tidak mengerti apapun tentang apa itu saham dan juga tentang perusahaan tersebut, ketika kita sadar bahwa kita tidak tahu apapun, mulailah membaca”
Salam
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s