Dari Venezuela, Batagor Hingga Kretek

warga-venezuela_20180416_131511

“Maduro harus tetap bertahan” Ujar kawan saya.

Baru saja saya bertemu dia, dadakan seperti tahu bulat. Di selasar LAPI ITB, namanya Elimar Chaves. Dari nama belakangnya tak asing, dia masih klan keluarga Hugo Chaves, mantan Presiden Venezuela.

Dia ke LAPI dalam rangka studi banding, dana sendiri, studinya keren, tentang kekuatan pangan Indonesia. Fokus di Ilmu Teknologi Hayati. Alasannya?

“Karena Venezuela butuh ketahanan pangan” Ujarnya sambil menyantap batagor di pinggir jalan, kali ini saya yang traktir.

Venezuela, negara yang baru dinyatakan krisis, sangat memprihatinkan kondisinya. Ayam utuh disana bisa seharga 1,5 gram emas, sayuran sekali masak seharga kita masak lebaran di Indonesia.

Antrian mengular 4-5 jam hanya untuk mendapatkan air dan beras. Itu di Caracas, ibukota Venezuela. Inflasi meningkat ratusan ribu persen, bisa melonjak menjadi 1 juta persen.

Elimar bercerita, masalah negaranya timbul akibat sekian banyak konflik. Pertama, soal minyak, Venezuela adalah negara yang sangat-sangat mengandalkan minyak dan tidak men-divestasikan bisnisnya di sektor lain. Ketika harga minyak jatuh, boom..!

Kok gitu, Timur Tengah pun mayoritas dari minyak, tapi ketika harga minyak jatuh, gak gitu-gitu amat? Yup, ini yang kedua, ujarnya. Venezuela menganut sistem sosialis yang saat ini menjadi biang kerok.

“Venezuela kaya minyak? Iya, tapi tidak kaya teknologi”

Maksudnya? Sosialis membuat negaranya menasionalisasikan seluruh aktifitas perminyakan, tanpa memberi ruang sedikitpun bagi investor (asing) untuk melakukan exploitasi. Bagus sih niatnya, tapi tanpa didukung teknologi yang memadai, minyak di Venezuela hanya menjadi cadangan.

“Tidak ada knowledge transfer disitu” Sambungnya.

Saya termenung, memandangi kaos Eli bergambar Cubitus warna biru usang. Saya jadi membuka kembali lembaran lama, dimana ketika era awal 2000an, Hugo Chaves begitu dielu-elukan oleh rakyat Venezuela karena sikap revolusionernya, terutama ketika revolusi Bolivarian.

November 2000, Chaves mengeluarkan Undang-Undang Ley Habilitante, dari bahasa Spanyol yang artinya “Memungkinkan bertindak”. dimana UU ini memungkinkan Chaves untuk mengeluarkan dekrit, yang mana dari dekrit ini menghasilkan 49 UU yang sangat pro rakyat.

Salah satunya adalah UU reformasi agraria, dimana pemerintah membatasi kepemilikan tanah dari swasta, tuan tanah dan cukong-cukong tanah besar, dan dialokasikan untuk kepentingan petani, dimiliki negara.

Yang lebih gila lagi, UU reformasi minyak. Minyak sebagai pendapatan utama Venezuela di reformasi, di berlakukan pajak tinggi untuk asing, dari 16,6% ke 30%. Tidak tanggung-tanggung, dua kali lipat lebih.

Dari UU ini bisa ditebak, siapa yang kebakaran jenggot? Jelas para oposisi yang perutnya sudah gendut.

Chaves seperti bola liar bagi oposisi kapitalis. Ujungnya adalah percobaan kudeta, April 2002. Tapi gagal, rakyat berpihak pada Chaves, Chaves pun semakin pede dengan konsep Sosialis (tadinya tidak 100% sosialis).

Tapi dari sejarah itu, kita tahu bahwa Sosialis di dunia tidak pernah bobo nyenyak. Venezuela beda dengan China, dimana China sumber ekonominya buanyak. Dari mulai pentol korek sampai Turbine pembangkit listrik. Venezuela? Nol besar.

Seorang bahkan berkata, jika seluruh bangsa dunia dimusnahkan dan tinggal China, maka China pun tetap dapat hidup sendiri.

Venezuela tidak. Tapi Chaves tetap nekat, sayangnya tanpa pondasi ekonomi yang kuat. Minyak menyumbang 90% pendapatan negara.

Ya, Venezuela meletakkan telur dalam satu keranjang.

Batagor dipiringnya mulai habis, Eli memesan teh botol, dan saya kopi hitam. Saya bertanya, Artinya negaramu sangat rapuh? Ya, sangat rapuh. Jawabnya.

“Bahkan sekedar produk pertanian pun langka, warga kenyang disubsidi, sehingga malas kerja keras. Barang black market sangat laris, orang lebih suka hisap ganja ketimbang bertanam. Ini masuk yang ketiga” Ujarnya sambil mulai membuka bungkus rokok menthol.

“Yang ketiga..buat apa menanam padi, lahan milik pemerintah, kita menggarap lalu dijual dengan harga dari pemerintah, lah kita dapat apa? Hanya kurang dari 5% saja lahan kita yang ditanami, lebih enak beli jadi. Import” Ujarnya ringan.

Artinya, disisi lain, UU reformasi agraria Chaves berbalik bagai bumerang, oke di awal, tidak oce di akhir.

Venezuela menghadapi titik riskan menjelang krisis, selain pondasi ekonomi yang rapuh, ditambah lagi hutang membelit yang hanya bisa di bayar dengan minyak. Begitu harga minyak drop, bayar hutang ya pakai cadangan devisa, terus-terusan, ya kolaps.

Dihantam perang dagang China-Amerika, ya mewek, mewek darah. Belum lagi tekanan oposisi yang berisik ditunggangi Amerika, percobaan kudeta terhadap Maduro berkali-kali. Capek, kapan kerjanya.

Dan isu ketahanan pangan baru digemborkan akhir-akhir ini, ketika warga harus mengantri berjam-jam. Terlambat. Trumph keburu pasang perangkap ini itu, sosialis harus enyah dari dunia, ladang minyak dikuasai US, itu petuah Trumph.

Lawan Amerika cuma satu, dan satu-satunya saat ini, China. Russia? Beresin dulu internal deh, gitu mungkin kata Trumph.

Indonesia?

“Negaramu itu surga sob, di Jakarta, semua orang sibuk, jalan macet, tidak ada yang nongkrong. disini (Bandung) pun begitu, Mahasiswa lalu lalang, proyek banyak, data ekonomi dan yang kulihat realitasnya sama. Dari kereta ku lihat padi menguning, lahan sangat luas” Ujar Elimar.

“Disana, menghisap tembakau ini seperti mimpi..apalagi ngopi” Sambungnya, wangi menthol pun berkelebat di udara.

“Tapi..semangat Chaves yang tetap kami pegang, semangat revolusi, entah sampai kapan..”

Malam hari, saya dan klobot nongkrong di teras rumah, kopi dan kretek menemani. Dua barang remeh yang entah kenapa malam ini menjadi seharga emas.

“Bot, andaikan Indonesia krisis seperti Venezuela, harga naik gila-gilaan, kau di PHK, lalu Ningsih minta putus, tindakanmu apa bot?”

Klobot bingung, dia mungkin berpikir saya kesurupan, tapi pantang baginya tidak menjawab pertanyaan saya. Sambil menyeruput kopi hitam yang sudah mendingin, Klobot menjawab diplomatis.

“Ya cari Ningsih yang lain mas..” Ujarnya datar.

Indahnya negeriku.

 

*Di posting pertama kali di Headline Kompasiana.

Advertisements

Ngobrol Anak Jaksel, Alami atau Gaya?

blok-m-square

“Lo tadi beli charger harganya berapa?”

Anak Jakpus: “Lima puluh ribu”

Anak Jaktim: “Mapuluh rebu”

Anak Jakbar: “Goban”

Anak Jaksel: “Hmm..around fifty thousand gitu deh..”

Percakapan di atas sedang menjadi viral belakangan ini, bukan lagi anak Bekasi yang diledek karena letak kotanya di luar planet bumi, but anak Jakarta Selatan yang menjadi bahan bully akibat pencampuran bahasa (mixing) yang -menurut mereka- menjadi lucu.

Kenapa sih kalian? Saya sebagai ex anak Jakarta Selatan (25 tahun saya di Jaksel, tepatnya di Bintaro – but that’s not Bintaro Tangsel ya, please note) agak sedikit terusik jiwanya.

Gini ya guys, Jakarta Selatan itu sedari dulu tidak diragukan lagi merupakan tempat paling heits se-Jakarta, even di Indonesia. Coba kalian sebut tempat mana yang gak heits di Jaksel? Since di era 70an, 80an, 90an untill now?

Dari mulai Pondok Indah, yang dulu basic-nya tempat pemukiman warga Pondok Pinang, di bebaskan oleh PT Metropolitan Kentjana (Ciputra and the gank) dan fokus ke develop elite residence dari tahun 1970 sampai 1980an.

Agak melipir sedikit dari PI, kita ketemu sama daerah Bintaro. Look at there, mana ada tipe rumah RSS disitu? Apalagi sampai susah selonjor, ih gak ada story ya buat anak Jaksel.

Agak kesana lagi dari PI, kita ketemu kawasan Radio Dalam yang dulunya tempat kongkownya anak muda yang baru pulang dugem, dan literally betah nongkrong di sate padang Salero Ajo.

Lurus lagi, ketemu kawasan Gandaria yang rindang, which is banyak pohon dan sure, lebih adem. Disinilah cikal bakal Soto Kudus Blok M yang legendaris.

Mau kesana-an lagi, masuk ke kawasan Blok M, Melawai hingga Senopati. Siapa orang Indonesia yang gak tahu Blok M sih?, which is itu tempat crazy heits sampai masuk komik Lupus, dan tempat nongkrong Jeep CJ 7 di masa jayanya. Ingat lagu Denny Malik yang “Jalan-Jalan Sore”? Nah..

Apalagi Senopati, nih ya sekarang aja kalo kita mau go to Tendean di weekend, kita absolutely kena macet di Senopati. Padahal stuck karena banyaknya mobil yang parkir di kiri-kanan jalan.

Emang ada apa disitu? Duh, difficult ya kalo jelasin ke orang yang belum pernah ke Jaksel. Itu kiri kanan isinya restoran yang nyaris semua high class. Bahkan kita mandatory dress-up kalau mau makan di salah satu resto disana.

Belum lagi Kemang, daerah yang awalnya adalah daerah persawahan penghasil susu yang di make-up menjadi kawasan elite setara Kuta atau Seminyak, Bali.

Kemang, yang diambil dari nama buah seperti mangga dengan bau harum namun agak asam itu, berpredikat daerah expatriat. Banyak bule. Gak heran kalau gaya hidup dan bahasa tentunya, ter-influence dari kehidupan di Kemang ini.

Itu baru sebagian kecil dari Jaksel guys. Jadi dari segi kelas aja itu beda’. Beda’ banget. Belum lagi si Ahmad Dhani yang dulu georgeous banget soal music ini, create song Dewa 19 yang title-nya “Selatan Jakarta”. Only South Jakarta, karena Selatan Jakarta memang membekas.

Kota Selatan Jakarta yang rindang dengan udara lebih fresh. Compare deh kalau hari minggu pagi, habis dari Bekasi masuk tol Jorr, terus exit Pondok Indah menyusuri Selatan Jakarta sampai di SCBD, breakfast di Bubur Ayam Tebet depan McD. Itu kayak kamu abis keringetan di Metro Mini terus mandi air dingin.

Dari history, dulu Jaksel-lah dimana tempat kursus bahas Inggris mulai jadi favorit, dari mulai English First (EF), LB LIA, Oxford hingga Wall Street. Ketika Jakarta lain belum ada, Jaksel sudah exist duluan.

Belum lagi sekolah yang basically program learning-nya kurikulum dari luar, seperti Jakarta International School (JIS) yang mana pertama kalinya ada di Tarogong, dekat Pondok Indah situ.

So which is hal-hal diatas tadi memang membuat anak Selatan itu lebih improve di sisi bahasa dari anak Jakarta lainnya. Seriously people.

Jadi memang gak bisa disalahin ataupun diledek kalau anak Selatan itu more..gimana gitu..emang nature-nya demikian. Bahasa sangat identik dengan kondisi lingkungan.

Kalian mau ke Jakarta Barat? Silahkan berjibaku di area Daan Mogot dan sekitarnya. Paling Kembangan atau Puri Indah yang rada sedap dipandang, mall-nya Taman Anggrek it’s ok lah plus Central Park.

Jakarta Timur? Pinggiran BKT situ? Atau di Pondok Kopi side to side sama daerah pabrik -pabrik di Cakung atau ya..maaf..maaf nih, Bekasi? Ya silahkan sih.

Jakart Pusat okelah, karena dulunya juga tempat elit di Menteng. Tapi ya situ-situ aja. Untung aja Jakpus punya Monas dan dekat dengan Istana Negara, lagipula Jakpus jadi tempat paling fragile kalau ada demo atau kerusuhan.

Jakarta Utara, melipir dikit kena bau fish dan udang yang kadang segar kadang enggak. Belum lagi kondisi jalanan yang harus tabah iman karena sering main ci-luk-ba sama truk gandeng yang sebelahnya ada ojek online mau nyalip. Ya Allah, berikan hambamu panadol.

Jakarta Selatan? Hmm..that’s heaven guys. Jadi jelas ya, kalo perkara bahasa yang di mixing tadi adalah style yang alami, tidak dibuat untuk keren-kerenan. Bahasa, terkait dengan kondisi sosial dan lingkungan. Istilah baru nih: “Keminggris official”.

Menurut Muhardis (2013). Bahasa memiliki hubungan erat dengan sistem sosial masyarakat tempat bahasa tersebut dipakai. Sebagai sistem sosial, tentunya ada beberapa aspek yang melatarbelakangi seseorang dalam berbahasa. Faktor usia, tingkat pendidikan, keadaan ekonomi, serta lingkungan tempat tinggal merupakan faktor penentu seseorang berbahasa.

Jadi clear ya, kenapa di tulisan ini dibuka dengan menjelaskan kondisi Jakarta Selatan itu seperti apa. Supaya kalian gak gumunan, baru di mixing Inggris aja pada ribut.

Jadi, Jaksel itu sepert…Byuuurrr…

“Klobottt, bangunn….kerjaaa!!!” Terdengar suara keadilan seorang emak-emak yang membangunkan…

…..Dan kemudian saya terbangun, baru sadar, kretek ketengan dan kopi sachet yang di beli bersama Ningsih semalam sudah habis..pantas aku mimpi agak aneh malam ini, Duh…elite? Elite mbah mu!

*2018. Dari pinggir Banjir Kanal Timur, bukan di Selatan Jakarta.

Hari Gini, Uang 100 Ribu Bisa Buat Beli Apa Sih?

Uang seratus ribu hari gini bisa beli apasih?

Sejatinya, pertanyaan itu sungguh terasa menyakitkan, terutama bagi Klobot dan Ningsih, dua sejoli yang masih tahap pencarian jati diri dan nafkah diri.

Bagi dua sejoli itu, pertanyaan tersebut terasa sangat sombong, sangat tidak proletar mewakili kasta yang sedang mereka jalani ini.

Hari itu Klobot mendapat uang dari hasil ojek online. Untuk kategori motor, mendapat uang sehari seratus ribu adalah hasil yang cukup baik. Dan niat hari itu, Klobot ingin menyenangkan Ningsih, kekasihnya.

Karena Klobot juga masih menabung untuk masa depannya dengan Ningsih, akhirnya Klobot bertekad, hari itu hanya seratus ribu saja jatah nya bersama Ningsih.

Apa yang bisa dilakukan Klobot?

1. Beli pulsa

Meskipun hidup pas-pasan cenderung minus, namun baik Klobot maupun Ningsih adalah generasi milenial yang jaman now banget. So, kuota adalah harga mati.

Klobot pun mampir ke kios pulsa, membeli kartu perdana seharga sepuluh ribu dengan bonus internet 1 gb plus video gratis. saya tidak mau mencantumkan merknya karena saya memang tidak di endorse.

Sekali aktif, smartphone Klobot yang kelas rendah itupun ber-cengkling ria. Dengan tangkas Klobot pun menghubungi Ningsih via whatsapp.

“Ass ninglop, ningsih mylop, jalan-jalan yuk”

“Ih, emang kamu punya duit mas?”

“Ya punya lah, untuk kamu jangankan duit, jantung aja ku kasih..”

“Halah, gombal mukiyo”

“Tapi kamu mau kan?”

“hooh, jemput ya”

“Osiyap mylop”

2. Beli Bensin

Setelah ajakan jalan-jalan bersambut, saatnya memastikan event penjemputan jantung hati berlangsung beres, salah satunya bensin harus terisi, minimal..ya minimal tidak sampai 1:3. 1 km=3x dorong.

Untuk itu, Klobot membawa motor yang juga alat pencari rezekinya itu ke POM bensin terdekat, isi premium.

“Mas, isi sepuluh ribu ya”

“Siyap, dari nol ya mas”

“Iya, memang dari nol mas, seperti hubungan saya dan ningsih, kami memulai semua dari nol” Ujar Klobot sambil menyisir rambutnya yang basah kena sisa air wudhu.

Mas-mas pom bensin pun melongo.

3. Kuliner

Sisa uang dikantong masih ada 80 ribu. Setelah Klobot bertemu Ningsih, mereka pun lapar. Dengan uang yang ada Klobot memastikan bahwa acara lunch akan berlangsung seru.

Mereka pun masuk ke restoran ayam geprek. 15 ribu dengan nasi. Sengaja Klobot mengajak Ningsih ke resto ini, selain murah, refill nasi putih disini gratis.

“Hufft haaah…pedes ya yank..”

“iya mas..huuh haah..tapi enak ya..huu haaa..ih itu bibirmu sampe merah gitu mas..huuh..haah huuff..”

“Aah..ini tandanya aku lagi pengen yankk huuhh…haah..pengen nganuu..”

“ihh…pengen apaa??…dasar ngeress..huuh”

“lhoo..kok ngeres siih..huufftt, maksudnyaaa ku pengen es teh maniss..”

“Oalahhh..ngomong tho mas, liat ni aku bawa es teh manis buat kita berdua..haah..huuh..” Ningsih pun mengeluarkan termos kecil yang sedari tadi berada di dalam tas.

“Wah memang pacar spesialis ngirit kamu yank…pengertian, mantapp..”

“Bukan ngirit mas, tapi smart..huuff haaah..”

4. Piknik

Selanjutnya adalah piknik, menurut Klobot tampat tujuan haruslah cantik dan murah. Hasil pencarian google mengarahkan Klobot dan Ningsih ke Lapangan Banteng, kebetulan disana sedang berlangsung pameran flora dan fauna.

Berangkatlah mereka kesana, kaget karena ternyata mereka hanya bayar parkir motor. 3 jam sepuluh ribu saja.

Di sana, mereka bercengkrama, saling mengucap apa yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Suasana lapangan banteng yang tentrem, cantik dan bersih melengkapi sore mereka. Tak lupa mereka membeli es krim 5000an yang tak jauh dari sana.

Azan Magrib pun berkumandang dari Masjid Istiqlal. Klobot pun bangkit, menggandeng tangan Ningsih, mengajaknya pulang.

5. Belanja

Sebelum sampai rumah, Ningsih mengajak Klobot ke mart terdekat rumahnya. Mereka membeli bawang, tomat dan cabai, masing-masing 1/2 ons saja plus telor ayam 2 biji. Sisa kembalian masih bisa dibelikan kretek ketengan.

Sampai dirumah, dua sejoli itu mulai memasak nasi goreng, harum bau nasi goreng sederhana itu cukup membuat suasana meriah sekaligus syahdu.

Selepas makan, Ningsih mendekati Klobot, manja bersandar di bahunya, hari sudah cukup larut.

“Mas, Ningsih bahagia sekali hari ini..bisa seharian sama mas. Baidewei mas, tadi uang seharian kita habis berapa ya?” Ningsih bertanya bijak dalam posisinya sebagai calon istri yang cakap mengatur keuangan.

“Ah, murah aja yank..seratus ribu sudah sama kretek ku ini”

“Yang bener mas? Trus..kok kemarin aku denger klo ada politikus yang bilang, klo seratus ribu cuma dapet bawang dan tomat mas?”

Mendapat pertanyaan kelas berat seperti itu Klobot pun terdiam, dia tak pernah baca berita ekonomi apalagi politik. Pria jangkung dengan tangan kasar penuh urat itu lantas menghisap kreteknya dalam-dalam dan menghembuskannya dalam bingkai O. Matanya nanar menerawang ke arah rembulan malam, dan kemudian menjawab datar..

“mungkin blio kurang pacaran..”

*di posting pertama kali di KOMPASIANA