Arcandra, Dalam Sebuah Kesimpulan

Halo guys,

Bagaimana kabarnya time line sosmed anda hari ini? Apakah masih seputar kewarganegaraan ganda Arcandra Tahar, ex-menteri ESDM yang hanya menjabat 20 hari saja? Kalau masih, artinya anda memang eksis atau melek sosmed. Selamat.

Disini saya  ingin meyimpulkan dari beragam timeline media sosial soal Arcandra ini dari kompas, kompasiana, blog hingga situs baru pencuri perhatian, seword.com. Dan juga komentar dari seluruh kawan yang tergabung dalam paguyuban fesbuk, WhatsApp dan Line.

Pertama, Arcandra tentu bukan sosok sembarang, punya tiga hak paten yang di akui di Amerika hingga memiliki passport Amerika tentulah istimewa, jadi kalau untuk seorang Arcandra, administrasi negara dibilang terlewat soal dwi kewarganegaraan, saya kok masih rancu.

Kenapa? Untuk posisi menteri ESDM yang kita tahu, krusialnya minta ampun hingga Presiden terus memundurkan jadwal reshuffle, ada dua concern-nya: Membawa pulang Sri Mulyani dan meminta seorang Arcandra untuk kembali ke Indonesia. Meminta Arcandra, untuk menjabat menteri, ESDM lagi, itu tidaklah sama dengan ketika ibu saya meminta saya pulang karena kelamaan main kelereng. Beda, bukan hal sederhana.

Intelijen pasti sudah bergerak kesana. Jika di katakan BIN tidak tahu, sangat aneh karena pemilik hak paten di negara lain biasanya sudah memiliki dwi kewarganegaraan karena kapabilitas yang di akui.

Jadi point pertama, intelijen kemungkinan sudah tahu bahwa Arcandra punya dwi kewarganegaraan, tetapi di by pass dengan asumsi akan di bereskan secepatnya sebelum atau setelah pelantikan. Toh pada akhirnya Arcandra mengakui sudah menyerahkan passport Amerikanya sebelum pulang ke Indonesia.

Ini bukan hal rumit bagi Presiden. Secara UU, kasus ini memang terdapat kesalahan, karena seseorang yang melepas kewarganegaraan asing harus sedikitnya 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut untuk tinggal di Indonesia. Tapi, Presiden bisa memerintahkan secara khusus Menkumham untuk memberesi masalah ini.

Pemerintah bisa mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dengan alasan kondisi yang memaksa. Sayangnya, berita ini ter-blow-up lebih dulu. Ini masuk ke point kedua.

Kedua, siapa yang mem-blow-up berita ini? hanya dari media viral (fesbuk, wa dan line) kasus ini ter-blow-up. Seperti yang sudah beredar, bahwa Arcandra terkait dengan bisnis skema pengembangan blok Masela, karena Petroengineering, perusahaan Archandra di Amerika merupakan konsultan yang menghitung ulang skema blok Masela setelah interupsi dari Ex-Menko Maritim Rizal Ramli. Ingatkan bahwa ketika itu Presiden meminta agar blok Masela dihitung ulang? Nah, sebagai konsultan menghitung ulang inilah tempat dimana Arcandra mulai masuk ke ring 1 istana.

Keputusan ini jelas mengagetkan Shell dan Inpex, yang satu operator offshore blok masela dan yang satu lagi adalah broker. Shell dan Inpex yang sedari awal sudah pede dengan skema offshore harus menghitung ulang dari awal. Resikonya bagi mereka banyak, biaya development yang mengembang, waktu yang molor dan resiko perhitungan yang bisa saja meleset. Satu lagi yang utama: kepentingan, baik politik ataupun finansial.

Jadi yang kedua, bisa ditarik benang merah; blow-up berita Arcandra dihembusan oleh pihak yang berlawanan dengan skema onshore. Anda bisa menebak dari mana arahnya. Dengan memanfaatkan para haters Presiden Jokowi yang masih belum move on juga, hal ini menjadi sangat mudah. Tidak tanggung-tanggung, Presiden dianggap melanggar undang-undang, dan buntutnya adalah tuntutan pemakzulan/impeachement.

Skema runtutan yang sudah bisa ditebak dari awal. Mudah saja: Bagaimana cara berita ini berhembus dan siapa pihak yang menyuarakan impeachment. Bisa ditebak kan? Bisa laah..

Ketiga, keputusan cepat Presiden. Disini terlihat Presiden merasa galau. Di satu sisi, amat sangat mungkin BIN yang membisikkan data Arcandra meminta Presiden tidak perlu khawatir, karena ini bisa mereka selesaikan. Dari sini, Presiden Jokowi yang memang sudah ngebet pengin reshuflle tidak ambil pusing lagi, Arcandra pun di lantik.

Eh, data Arcandra (yang seharusnya di jaga rahasia oleh BIN) malah bocor ke media, janggal? Ya, kenapa data rahasia itu bisa bocor? Seyogyanya cuma intelijen di atas BIN yang mampu membocorkan data ini – tidak mungkin sekelas Jonru-, dan yang pasti badan intelijen juga. Intel vs Intel terjadi.

Siapa itu? Ada yang bilang Amerika atau Inggris pemilik saham Shell, ya bisa saja, karena operasi seperti ini tentu bukan operasi sembarangan. Tetapi saya tidak ambil peduli, yang pasti BIN kebobolan. Menyadari hal itu AM Hendropriono sebagai dedengkot BIN tiba-tiba langsung meluncurkan twitter yang membela Arcandra secara progresif, padahal saat itu Presiden belum mengindikasi akan mencopot Arcandra.

Tetapi langkah cepat di ambil Presiden, Arcandra di berhentikan. Jika di permainan catur, lebih baik mengorbankan satu benteng daripada perdana menteri atau raja yang akan mati. Arcandra memang benteng, benteng penjaga skema onshore agar tetap berjalan dengan tujuan memenuhi kebutuhan gas kita yang semakin hari semakin defisit dan tidak di ganggu oleh tikus dan monyet bangsa ini.

Para haters masih berteriak, katanya diberhentikan Arcandra semakin menyempurnakan kesalahan administrasi Presiden, well apapun yang dilakukan Presiden, haters tetap pada cita-citanya, pemakzulan! Jika Archandra tidak dicopot, mereka pun toh tetap menyudutkan bahwa Presiden melanggar UU, di copot pun demikian.

Mereka tidak bisa berpikir bahwa pemakzulan bukanlah seperti mencopot pak RT lalu ganti baru. Anda harus menghadapi konstitusi dan juga rakyat yang mendukung pemerintahan, dan ini banyak! Karena pemakzulan haruslah berlatar belakang tindakan kesalahan maha berat: Penghianatan negara, pembunuhan rakyat (genosida), kediktatoran dan korupsi berat seperti pada 1998, dsb.

Belum pernah ada pemakzulan / impeachment karena kesalahan administrasi yang setelah itu diperbaiki. Nah, dari sini masuk point 4.

Apa itu? Point 4 adalah Arcandra kembali menjadi menteri, ini sangat terbuka karena sejatinya menyelesaikan masalah administrasi kewarganegaraan bukan hal yang sulit, apalagi ada rekomendasi Negara, sekali lagi.. rekomendasi Negara! Entah revisi UU atau Pengganti UU seperti yang dijelaskan di atas.

Mengamankan kondisi ESDM setelah carut marut pada masa Sudirman Said adalah yang terpenting, dan tokoh non parpol seperti Arcandra patut ditunggu kontribusinya.

Oya, lalu soal izin Freeport bagaimana? Sudah dijelaskan oleh banyak pihak bahwa izin Freeport sudah diatur dalam nota kesepahaman di tahun 2014 zaman pemerintahan SBY. Dan selama Freeport memenuhi syarat-syarat dari pemerintah Indonesia, diantaranya pembangunan smelter, divestasi saham sebesar 30% hingga 2019 dll.

Jadi, jangan galau soal Freeport, siapapun Presiden dan menteri ESDMnya, izin doi tetap bakal di perpanjang karena Freeport toh terus memenuhi kewajibannya, contohnya smelter yang masih dalam pembangunnan di Gresik dan yang sudah soft opening di Ketapang. Di bawah ini daftar pembangunan smelter 2016.

2016_06_16-14_43_02_a8811a452193b4d467f5f32d02cf9a4c

So, Arcandra bukan soal Freeport, Arcandra adalah soal integritas energi dan sumber daya Indonesia yang harus di kelola profesional, dan Arcandra patut ditunggu gebrakannya, gebrakan salah satu putra terbaik bangsa yang bernafas di luar negeri, harus kita bawa kembali ke bumi pertiwi.

Salam merdeka!

35 Kunci Sukses di Usia Muda ala Billy Boen, Young On Top

a madeandi's life

Kunci Sukses

Saya membaca bukunya Mas Billy Boen, penggagas Young on Top, tentang 35 Kunci Sukses di Usia Muda. Bukunya keren dan sudah pernah saya twit sebelumnya. Buku ini bagus karena mengandung tips yang tidak saja inspiratif tetapi juga praktis sifatnya. Saya rekomendasikan anak muda membaca buku ini. Membaca buku ini seperti membaca banyak buku bersama Billy Boen dan belajar dari banyak tokoh besar karena banyak kutipan. Berikut 35 tips sukses di usia muda ala Billy Boen.

View original post 2,049 more words

Sudah dibilang, Risma Tidak Akan Ke Jakarta!

Ibu Tri Rismaharini pasti ke Jakarta? Ah, itu sih bukan berita baru. Risma pasti ke Jakarta setidaknya sebulan sekali, selain beliau memang rajin sowan ke ibune cah-cah Megawati Soekarnoputri, juga terkait dengan perekonomian Jakarta-Surabaya. Lho?

Apalagi kalau bukan soal jilbab, utamanya jilbab syar’i. Seperti khalayak ketahui bahwa Thamrin City secara tidak tertulis dinobatkan sebagai pusat jilbab se-Asia Tenggara. Surabaya sebagai kota nomor 2 teramai se-Indonesia pasti memiliki sisi ekonomis sebagai ladang pemasaran.

Sayangnya, inilah yang tidak disadari oleh para kimcil-kimcil kekinian yang mengaku sebagai pemeluk garis keras ke-syar’ian. Wah weh woh ketika berorasi di fesbuk namun mingkem ketika diajak debat mana ayat yang dipakai, lha ternyata doi lebih sibuk buat meme ketimbang kajian..jawaban akhirnya: ya pokoknya gitu. Titik. Wah modyar! Gimana mau bicara ekonomi.

Dari sisi ekonomi rakyat, jangan ditanya ramainya masyarakat Surabaya. Dari mulai warung Jawa Timuran hingga mudik. Surabaya bukan lagi cuma kota pahlawan, tapi juga kota bisnis. Jika kata orang gubernur Jakarta itu harus orang yang keras, blak blakan dan tanpa tedeng aling-aling, begitu pula dengan Surabaya. Poros Jakarta-Surabaya sudah kadung terjalin erat.

Surabaya yang sekarang bersih ini bukan tanpa hasil jika Risma cuma pah-poh. Lho serius ini, Risma mampu menguasai permasalahan kota, Surabaya itu termasuk kota yang luas, masalahnya buanyak, dari tata kota hingga pelacuran. Dolly lho..yang sudah melegenda mampu di gasrak sama Risma, terlepas dari jualan tangis gak mutu ala acara TV nya Uya Kuya, tapi ini patut di apresiasi. Surabaya bisa berubah.

Maka apa hitung-hitungan politik terbaik bagi Risma saat ini? Ayo ngopi dulu, ngudut sebentar untuk merumuskan masalah negara ini.

Gini gaes..

Mengutip Putut EA, Risma ini bukan Jokowi yang berlatar belakang pengusaha, bukan pula Ahok yang pengusaha lalu masuk partai dan birokrasi. Risma adalah seorang birokrat sejati, punya loyalitas dan integritas, bukan tipe oportunis yang nekat dan ambil resiko.

Alangkah berat bagi PDIP yang malu-malu kucing tapi terkencing-kencing dalam menggarap calon gubernur DKI nanti, lha siapa lagi yang mau di calonkan? Wis, sudah, anda jangan sebut namanya Bung Yusril, Andi Malarangeng, atau bahkan Ahmad Dhani. Menyebut mereka anda sama saja memberi peluang PHP bagi mereka, ngerti PHP? Sudah nonton AADC2? Tahu gimana rasanya Cinta di PHP-in sama Rangga sekian ratus purnama? Tahu kan? Nah..makanya jangan, sakit.

PDIP mau ke ahok, eh kok ya riwueh sendiri, plegak pleguk penuh keraguan dan kepekewuhan. Mirip kalau kita tiba-tiba satu lift berdua dengan calon mertua..awkward bro.

Gini..yang ini kok rasanya seperti cowok TTM-an yang mau nembak cewek, tapi karena ragu dan bimbang akhirnya si cewek bosan dan memilih lebih dekat ke cowok lain. Tapi eits tunggu dulu..si cewek ini diam-diam masih berharap si cowok tadi beraksi, datang kerumahnya dan bilang ke bapak si cewek. “Om, saya mau lamar anak om, kita nikah 5 bulan lagi” ..Jegeeerr.

Lhadalah, dasar cowo kebanyakan gengsi, bukannya ngelamar, eh malah pedekate dengan cewek lain, selain niatnya membuat si cewek tadi cemburu juga buat jaga-jaga. Ya jaga-jaga kalau seandainya di tolak. Who knows? Always prepare for the worst.

Nah, Risma adalah si cewek lain tadi sedangkan Ahok adalah si cewek utama. Risma adalah korban si cowok PDIP yang tajir, gengsi, namun ragu dan bimbang. Sok kaya dan punya pengaruh, padahal selalu bawa KTP bapaknya kemana-mana, kepedean dikira si cewek utama bakal termehek-mehek ngemis cintanya..eh malah dibuat galau ala alay, terus nulis di fesbuk “lagi galau nich gaes, plis ngertiin aku donk, aku tuch sayang kamu”.

Risma tahu dia jadi pelampiasan permainan cinta. Risma ibarat cewek bening, nehik bagi dia kalau cuma jadi “ban serep”. Enggak lah yau, bargaining Risma jelas, kuat, punya prestasi, loyal, dicintai rakyatnya, terkenal, punya elektabilitas, followers jutaan tanpa harus ber-highly highly di depan Donald Trumph

Bagi Risma yang seorang birokrat, Jatim 1 lebih menarik, lebih terjangkau tanpa harus menjadi cewek kedua. Tanpa harus termehek mengikuti alur drama PDIP-Ahok yang terilhami sinetron Uttaran. Risma tahu, baginya bersimbiosis mutualisme dengan Ahok jauh lebih menguntungkan kedepannya ketimbang ber-kontra saat ini.

Terutama menyoal hal yang bersifat sensitif satu ini: Risma adalah tokoh yang dianggap jujur, jujur di Indonesia selalu punya musuh, dan musuh ini sudah terlihat di depan matanya, musuh yang ingin beliau minggat dari Surabaya, dan tentu dari Jatim 1. Ini diterangkan sendiri oleh Risma:

“Aku tahu lah ada yang emang ingin pergi ke Jakarta supaya aku tidak nyaingi di Jawa Timur, ada yang pengin aku ke Jakarta supaya aku dapat apa, gitu kan. Selama ini aku ketat lalu mereka tidak bisa apa,” Kata Risma seperti dilansir Detik.com

Tersambung dengan ucapan Risma, belakangan ini muncul Jaklovers (Jakarta Love Risma), seperti Teman Ahok, Jaklver merupakan netizen baru penggiat dukungan Risma untuk Jakarta. Jakarta yang lagi sakit butuh pemimpin seperti Risma, katanya.

Tapi sayangnya, ujug-ujug membuat perkumpulan, pas menghadap yang didukung, eh kok malah ditolak, lho ada apa ini? Aktif di media online membuat kita harus kritis, siapa yang ada di balik itu?

Cukup dari satu orang Jaklovers yang ngotot pengen bertemu Risma tapi ditolak tadi, ya Neno Warisman, penggiat Jaklovers yang juga kader PKS, sekali lagi Pe Ka Es. Naaah, untuk yang ini akan di bahas lebih lanjut saja ya gaes..saya belum mau komentar.

Tapi ada lagi satu yang lucu. Risma ini kok rasanya..rasanya lho ini, sadar diri. Kalau dirinya maju, akan menjadi bulan-bulanan meme fans syariah sejati. Apalagi kalau bukan menyoal pro-kontra pemimpin wanita. Wow, lho kok?

Gini gaes, untuk membandingkan dua hal, harus apple to apple, jangan apple to kesemek, ini adagium wajib. Kalau Ahok di nyinyiri dan di tolak karena dia non muslim, artinya para fans syariah sejati pun harus berkoar menolak Risma dengan alasan pemimpin perempuan itu dilarang.

Dasarnya pun ada:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisaa’: 34)

“Dan kalau Kami bermaksud menjadikan Rasul itu dari golongan malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki.” (QS. Al-An’aam: 9)

Dan banyak lagi, lebih jelasnya bisa disimak disini: Bolehkah wanita menjadi pemimpin

Arah saya jelas. Jika dibalik Jaklovers itu betul adalah PKS, maka sangat lucu bagi para fans Syar’i  yang tinggal di negara Pancasila ini yang justru kebanyakan adalah juga fans berat PKS untuk mendukung Risma. Lebih lucu lagi dimana calon terkuat DKI rupanya adalah Ahok dan Risma, mau gunakan ayat yang mana? Konsistensi soal agama akan dipertanyakan. Weleh weleh, kalau yang ini saya harus ngikik di pojokan.

Pasti akan menarik jika Risma akhirnya menerima pinangan PDIP dan dorongan Jaklovers. Tapi kok ya sulit rasanya. Dan saya yakin, bu Risma tidak akan ke Jakarta, setidaknya dalam waktu dekat ini, karena Surabaya sebagai kota Pahlawan pasti akan sibuk habis-habisan menggelar acara tujuh belasan.

Mungkin setelah tujuh belasan beliau akan ke Jakarta, untuk borong jilbab.